Manis. Apanya? Awal, tengah, hingga akhir dari skenario sebuah madah. Atas apa? Reaksi binaan terhadap alur dramatisasi yang dibelajarkan. Sukses? Yap. Satu babak. Semua lulus? Belum, semua tertarbiyah lewat dinamika. Ceritanya? Panjang.
Binaanmu investasi dunia akhiratmu. Suka sugesti itu dibanding dengan semboyan: Binaanmu cerminan dirimu. Agaknya terlalu sering kita berkicau hal ihwal risalah dahsyat seorang Murabbi dalam membina yang terkadang berending membinasakan. Nyata hingga maya, dari data bereferensi hingga skenario ber-dramatisasi, di mana-mana kisah perjuangan heroik Murabbi tidak luruh terhasut zaman. Sekarang marilah menyimak sejenak. Membaca perlahan bahwa dalam hal perjuangan, binaanpun ikut ambil peran.
Jika syaikhuna almarhum ust Rahmat Abdullah pernah merindukan binaan yang peka atas lalai dan khilafnya sebagai binaan, maka saya beritahu; Sayapun punya rindu yang sama. Sama seperti Murabbi yang lainnya. Rindu atas binaan yang menangis karena tidak bisa hadir halaqoh. Rindu binaan yang menyesal karena hadir terlambat. Rindu binaan yang adabnya mendahului ilmu. Rindu binaan hadir halaqoh dengan antusias, raut wajah serta menyejarahkan setiap madah lewat catatan. Rindu. Menuntaskan rindu yang ada bukan perkara mudah. Jika rindu terbalas, redalah semua rasa. Jika terhempas, di situ letak manisnya. Loh? Iya. Syaratnya, rindukanlah binaan karena Allah. Rindu tumbuh kembangnya, mekar dan wanginya karena Allah. Jika suatu waktu belum diijabah, yang tersisa hanya sabar. Sabar, anda hanya belum beruntung. Coba bina lagi. Pertama-tama, binalah rasa sendiri. Terakhir, ya pikir mau ngapain lagi. Progress binaanmu adalah hasil dari ikhtiar kreatifitasmu. Bukan daya pikir orang lain. Meneladani kisah orang lain ya perlu.
Terkadang kita perlu pembiaran. Tidak menindaklanjuti sebuah perkara dengan segera. Bukan menunda, bukan menyepelekan, tapi himpunlah semua kekuatan dari sang Maha dengan mengamati, menganalisa, meramu tindakan, serta atur nafas yang mulai terbata-bata. Mungkin menimbulkan prasangka, di situ letak kerjanya. Kerja siapa? Ya Murabbi. Rabu kemarin adalah tuntasnya sebuah misi. Memastikan realisasi sebuah madah tertanam ke hati binaan. Berawal dari hal sepeleh. Pasalnya, beberapa binaan minim menuju lost of ruhul istijabah serta terkesan abai atas panggilan dakwah. Ini penyakit. Menanti dan menanti, inisiatif binaan untuk memperbaiki diri belum terasa. Bahkan, model ukhuwah selintas teori mulai terbaca. Ketsiqohan mulai berubah arah. Buktinya? Masing-masing menunaikan tugas tanpa jadi alarm bagi saudarinya. Heuh. Egois? Tidak juga, toh selamatkan diri terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain. Tapi ko ya, effort nyelamatin saudarinya ga hadir-hadir dari beberapa orang. Mengertikah bahwa hal nyata dalam ukhuwah jama'iyah itu ya ikhtiar mengajak saudarinya menunaikan kewajibannya.
Jadilah actingku kambuh. Sengaja left grup tanpa pamit. Menghitung menit menit yang berlalu. Satu persatu binaan mulai menghubungiku. Menyampaikan seberkas maaf dan untaian penyesalan. Berhari-hari kudiamkan. Sengaja tidak membalas dan membiarkan hingga pesan-pesan itu menumpuk. Ada yang meminta jadwal untuk bertemu, hingga inisiatif mendatangi kosanku. Kali kedua, jelang isya mereka berkunjung setelah kunjungan pertama mereka gagal menemuiku. Membaca ekspresi, menafsir bahasa gerak, menerjemah setiap diksi yang mereka persiapkan, serta menakar makna yang mereka sampaikan adalah yang tertangkap malam itu. Akhir ikhtiar, mereka pulang. Membawa gejolak tanya atas sikapku yang menutupi semua. Sengaja. Menikmati kesan tangis yang mereka tumpahkan. Tangisnya sang binaan. Ah, kalian hanya belum merasakan, bagaimana harus memburu murabbi karena sebuah kekhilafan hingga tidur di depan rumah beliau berjamaah. Tangis itu, bukan hanya airmata. Tapi tangisnya sang binaan yang sesungguhnya. Biarlah malam menyaksikan, bahwa binaan-binaan seperti ini aset masa depan. Muharrikah peradaban. Dan, gantian. Kepulangan mereka sesuatu menyesak di dada. Kenapa? Karena kesan keberjamaahan dalam ukhuwah lagi-lagi belum terasa menyatu. Buktinya, kesalahan dalam lingkup yang dilakukan berjamaah, hanya mengandalkan permohonan maaf yang diwakilkan. Terlepas ahsan atau tidaknya, tetaplah menjadi catatan kecil yang harus disembuhkan. Mengingat mereka adalah generasi yang harus dipersiapkan dengan matang. Sosok-sosok qiyadah di semua lini dakwah.
Pekan berikutnya aku sengaja meminta mereka rehat. Rehat dari rutinitas halaqoh. Kususul dengan pernyataan, barangkali mereka lelah. Pilihan berikutnya, kuserahkan keputusan agar mereka liqo mandiri. Dan ternyata mereka memilih liqo mandiri ketimbang rehat. Wis, ada haru dan senang meskipun tidak membersamai, tapi terlihat jeli dalam memilih. As always, sebelumnya sebagian mereka menyusulku dengan harapan masih liqo bersamaku. Karena malam saat mereka berkunjung, sempat kuutarakan untuk mencarikan Murabbi baru untuk mereka. Tentu kalimat itu seolah menyudutkan kesalahan selaku binaan, tapi bukan itu niatku. Lagian, siapa sih yang tega melepas binaan begitu saja? Menjaring mereka hingga titik ini bukanlah perkara mudah, masing-masing pernah diperjuangkan dengan cerita berbeda. Semua. Tanpa pilih kasih, meskipun mata hati mereka berbeda rasa dalam menanggapi dan merasa. Tak terbalas dengan cinta dari merekapun bukan bencana, itu bukan obsesiku.
Di hari yang sama, aku mengisi binaan yang lainnya. Kusaksikan dari tempat yang tak jauh, mereka liqo mandiri. Sesekali curi-curi pandang, jangan kira tak rindu. Mereka manis. Serius. Haha. Hingga penghujung Maghrib, salah seorang dari mereka menghampiriku dengan sepaket air mata. Air mata penyesalan seorang binaan. Semua ungkapannya tulus. Air mata itu deras disertai sesenggukan. Kesempatanku untuk 'menyusup' ke bilik imannya secara tersirat: bahwa aku rindu sosoknya yang dulu. Secara adab, prioritas, bersikap dan lain sebagainya. Rindu kondisi imannya sebelum mengenal dakwah lebih dalam dan luas. Jadilah kalimatku membuatnya sulit meredakan gejolak tangis itu.
Dan sore ini kutemui mereka dengan alasan pertemuan halaqoh terakhir. Perpisahan. Setelah panjang lebar menyampaikan madah Tarbiyah, pamitlah aku beserta semua kata maaf dalam membersamai di waktu-belakangan ini. Masih acting. Ingin mengeja rasa mereka satu persatu. Sudah sedewasa apa. Ada yang tak urung meneteskan air mata. Ada yang masih bisa tersenyum dan tertawa. Dan hanya ada seorang adik yang menyusul langkah pergiku dengan tangis manjanya. Sengaja tidak mendekapnya. Karena semua skenario ini bukanlah perpisahan. Tapi awal dari pembaharuan. Awal langkah. Awal pemahaman. Awal pemaknaan madah; 'Adamul Inadh dalam dakwah. Madah yang menjadi salah satu penyakit aktivis dakwah hingga kini. Yang siklusnya di kemudian hari menjadi patokan iman dalam bersikap. Menambal yang buruk di masa lalu. Dan tentu, masih aku nahkodanya. Lagian, emang ada Murabbiyah yang mau nerima kamu pas dilepas dariku? *Eh
Dear, shaliha.
I know, sometimes I was annoying and Im sorry. But everything in the past always taste sweet for now. A great lesson we never can go back. Yakan?
*Bigsmile
"Seseorang yang deskripsi hidupnya seperti Puzzle. SeMerah Hitam dan Biru. Sesegar Semangka. Sebanyak Amoeba. Seeksklusif Embun, Serusuh Hujan; Bisasajakan?!".
Jumat, 14 April 2017
Sabtu, 01 April 2017
RANDOM
Terkadang kita memang tidak membutuhkan banyak telinga untuk berkeluh kesah selagi hati masih bisa menguatkan dirinya sendiri. Bukan karena kita tak butuh orang lain. Namun seringkali ada masalah yang selesai dengan nalar dan keimanan kita sendiri sebelum ia berhasil diutarakan kepada orang lain. Saya memprasangkai orang-orang seperti ini menjadi Empat macam. Pertama, mereka orang yang tertutup. Hanya bercerita seperlunya, terbuka atas kulit luarannya saja. Dan tentu, memaksanya untuk bercerita bukanlah perkara mudah. Belakangan, orang-orang akhirnya menyerah menghadapi mereka. Karena apa? Mereka sudah terbiasa dengan prinsipnya.
Kedua, orang yang sengaja menutupi beban hidupnya. Sesekali mereka terbuka, namun kebanyakan menyimpan secara dalam masalahnya. Mereka akan memilih orang-orang tertentu untuk dipercayai kemudian berbagi. Standarisasi mereka tentu orang-orang yang kapabel serta bertitel cerdas secara ruhiyah. Bukan sembarang orang. Bagi mereka, salah orang dalam mengutarakan kesah hanya menambah perkara yang ada. Itupun, jika masalahnya melampaui titik rumit yang berefek atas maslahat orang lain, maka berceritalah mereka. Atas nama masalah pribadi, dipastikan mereka lebih suka menikmatinya sendiri. Saat yang lainnya menangis, kita sering menyaksikan mereka tertawa. Mereka punya waktu dan tempat khusus untuk mengekspresikan gemuruh jiwanya. Seikhtiar mungkin orang seperti ini lebih dulu mencari solusi dengan cara dan nalarnya. Karena konon, bagi mereka menceritakan beban ke sembarang orang seperti membuka auratnya sendiri. Menyesal pada akhirnya. Lambat laun, orang semacam ini terdidik tangguh dan enjoy dengan ujian hidupnya. Lebih suka menyederhanakan masalahnya dengan menjadi problem solver bagi orang lain.
Ketiga, adalah orang-orang yang tidak mengerti cara membagi bebannya. Tidak mengerti cara menyampaikan keluh kesahnya. Memaksanya untuk bicara perlu teknik menarik. Sebagai sosok yang peduli, kau harus cari cara agar ia tertolong untuk katarsis. Memintanya untuk meluapkan beban lewat tulisan, barangkali bisa dijadikan solusi. Atau, kau perlu membiarkannya sejenak, mengenali titik kenyamanannya dalam berbicara, dan menyabarinya sepanjang tulus tanpa sisa. Percayalah, dia ingin berbagi, namun kehilangan diksi. Percayalah, dia butuh untuk didengar, kau hanya perlu bersabar dengan ikhtiar. Dia ingin sekali bercerita, sesekali ajaklah kemana saja, rihlah misalnya. *Lah?
Keempat, orang sungkanan. Mereka ingin bercerita, namun memilah-milah kondisi dan situasi lingkungan serta orang tempatnya bercerita. Mereka ingin sekali meluapkan beban jiwanya, namun memilih urung karena sungkan melampaui canggung. Jika tidak jeli dan tak peka, orang-orang semacam ini banyak yang tidak tertolong. Sungkan, mereka seolah bisa menyelesaikan bebannya. Padahal belum tentu, melainkan menambah keruh masalah yang ada. Kau akan temui mereka di lingkup sosial dan amanah, mereka acapkali kehilangan eksistensinya. Memilih menepi, hingga tenggelam dan roboh ditimpa masalahnya sendiri. Saat itu kau baru sadar, kau tak sempat memberinya ruang untuk bersandar.
Pada akhirnya, bersahabatpun kita dengan banyak orang, hati akan memilih pada siapa ia berbagi nasib dan membuka diri. Jiwa akan memilah siapa kawan yang paling nyaman untuk mengobati diri. Ia akan mengikuti arah kompas yang digerakkan Allah setelah mengutamakan Rabbnya dalam bercerita. Di sini letak navigasi iman yang bijak dan dewasa. Karena seringkali, kedekatan antara seorang hamba dengan Rabbnya dapat dilihat dari ikhtiarnya membiasakan kening bersimpuh di sajadah. Sujud ke sujud hingga tengadah ke tengadah. Hingga lembaran lembaran mushaf yang dilahap setiap waktunya terasa. Maka mendekatlah, agar perhatianNya lebih istimewa. Kau bisa maknai ini dalam tingkat perhatian khusus dari Allah lewat madah tarbiyah Ma'iyyatullah. Belum ngena? Liqo yang bener coba :p
Qodarullah, saya adalah tipikal yang mewakili semuanya. Bukan besar kepala. Hanya ingin menjelaskan secuplik ke 'diri'an saya yang sering jadi pusat prasangka. Bukan sedang membela diri karena sering tersudutkan atas ketidaktahuan orang lain karena ke'mengapa'an saya. Bukan pula tidak percaya uluran tangan orang lain, bukan tidak ingin membebani orang lain, bukan sungkan, bukan menakar kebisaan orang lain. Jauh dari itu, saya memang lemah untuk tidak menutup diri. Saya tidak Asertif dalam berbagi beban. Tidak pula ekspresif atas kelukaan saya sebagai hamba biasa. Bukan introvert. Tapi tertantang atas masalah hidup yang ada lalu menyelesaikannya. Hanya terlalu asik menantang ketangguhan orang lain dalam menyabari saya dan selektif memilihnya sebagai kawan terdekat. Sangat dekat. Emang ada yang nanya? XD
Karena benarlah, setelah kesulitan ada kemudahan. Setiap kedukaan bersanding dengan kebahagiaan. Hanya saja, sebagai manusia, kita terlalu sering menyoroti letak perih dan beban yang ada. Terlalu membesarkan luka yang menganga. Menggaraminya dengan sengaja. Tak jarang, menceritakannya dari telinga ke telinga. Menebarkannya dari tiap mata ke mata lainnya. Jika tak didengar, kita begitu mudah terhempas. Padahal siapa yang salah? Seolah-olah, hanya beban kita yang melampaui berat gunung Tursina dan orang lain tidak. Dan parahnya, kita lupa bagaimana caranya tersenyum lagi membagi tawa. Nilai kita di sisi Allah terletak "dari dan bagaimana" cara kita menyelesaikan masalah yang ada. Hendaknya, sikap ini tertanam setiap ujian hidup yang menimpa.
Cerdas. Saya menyebutnya demikian. Bukan saya telah akrab dengan kecerdasan itu. Hanya saja, ingin meng-ikhtiari potensi yang Allah titipkan menghujam di iman saya. Sehingga tak perlu sibuk mencari sandaran hati dan menuntut saudari-saudari yang biasa membersamai. Meskipun nyatanya, saya sering berharap lebih. Hanya harapan sebagai seorang saudari, terlebih jika sosok saudari itu telah menjadi bagian dari diri saya. Namun ujungnya, ingin berkata tolongpun semua diksi kelu di ujung batin. Berat untuk diungkapkan. Minta tolong jangan kapok menyabari saya misalkan, itu terlalu berat. Kesannya seolah sengaja membuat orang lain terpaksa agar bertahan. Padahal bisa jadi 'ia'nya telah jengah. Jika begitu, tak perlu pamit, pergi saja. Haha
Kedua, orang yang sengaja menutupi beban hidupnya. Sesekali mereka terbuka, namun kebanyakan menyimpan secara dalam masalahnya. Mereka akan memilih orang-orang tertentu untuk dipercayai kemudian berbagi. Standarisasi mereka tentu orang-orang yang kapabel serta bertitel cerdas secara ruhiyah. Bukan sembarang orang. Bagi mereka, salah orang dalam mengutarakan kesah hanya menambah perkara yang ada. Itupun, jika masalahnya melampaui titik rumit yang berefek atas maslahat orang lain, maka berceritalah mereka. Atas nama masalah pribadi, dipastikan mereka lebih suka menikmatinya sendiri. Saat yang lainnya menangis, kita sering menyaksikan mereka tertawa. Mereka punya waktu dan tempat khusus untuk mengekspresikan gemuruh jiwanya. Seikhtiar mungkin orang seperti ini lebih dulu mencari solusi dengan cara dan nalarnya. Karena konon, bagi mereka menceritakan beban ke sembarang orang seperti membuka auratnya sendiri. Menyesal pada akhirnya. Lambat laun, orang semacam ini terdidik tangguh dan enjoy dengan ujian hidupnya. Lebih suka menyederhanakan masalahnya dengan menjadi problem solver bagi orang lain.
Ketiga, adalah orang-orang yang tidak mengerti cara membagi bebannya. Tidak mengerti cara menyampaikan keluh kesahnya. Memaksanya untuk bicara perlu teknik menarik. Sebagai sosok yang peduli, kau harus cari cara agar ia tertolong untuk katarsis. Memintanya untuk meluapkan beban lewat tulisan, barangkali bisa dijadikan solusi. Atau, kau perlu membiarkannya sejenak, mengenali titik kenyamanannya dalam berbicara, dan menyabarinya sepanjang tulus tanpa sisa. Percayalah, dia ingin berbagi, namun kehilangan diksi. Percayalah, dia butuh untuk didengar, kau hanya perlu bersabar dengan ikhtiar. Dia ingin sekali bercerita, sesekali ajaklah kemana saja, rihlah misalnya. *Lah?
Keempat, orang sungkanan. Mereka ingin bercerita, namun memilah-milah kondisi dan situasi lingkungan serta orang tempatnya bercerita. Mereka ingin sekali meluapkan beban jiwanya, namun memilih urung karena sungkan melampaui canggung. Jika tidak jeli dan tak peka, orang-orang semacam ini banyak yang tidak tertolong. Sungkan, mereka seolah bisa menyelesaikan bebannya. Padahal belum tentu, melainkan menambah keruh masalah yang ada. Kau akan temui mereka di lingkup sosial dan amanah, mereka acapkali kehilangan eksistensinya. Memilih menepi, hingga tenggelam dan roboh ditimpa masalahnya sendiri. Saat itu kau baru sadar, kau tak sempat memberinya ruang untuk bersandar.
Pada akhirnya, bersahabatpun kita dengan banyak orang, hati akan memilih pada siapa ia berbagi nasib dan membuka diri. Jiwa akan memilah siapa kawan yang paling nyaman untuk mengobati diri. Ia akan mengikuti arah kompas yang digerakkan Allah setelah mengutamakan Rabbnya dalam bercerita. Di sini letak navigasi iman yang bijak dan dewasa. Karena seringkali, kedekatan antara seorang hamba dengan Rabbnya dapat dilihat dari ikhtiarnya membiasakan kening bersimpuh di sajadah. Sujud ke sujud hingga tengadah ke tengadah. Hingga lembaran lembaran mushaf yang dilahap setiap waktunya terasa. Maka mendekatlah, agar perhatianNya lebih istimewa. Kau bisa maknai ini dalam tingkat perhatian khusus dari Allah lewat madah tarbiyah Ma'iyyatullah. Belum ngena? Liqo yang bener coba :p
Qodarullah, saya adalah tipikal yang mewakili semuanya. Bukan besar kepala. Hanya ingin menjelaskan secuplik ke 'diri'an saya yang sering jadi pusat prasangka. Bukan sedang membela diri karena sering tersudutkan atas ketidaktahuan orang lain karena ke'mengapa'an saya. Bukan pula tidak percaya uluran tangan orang lain, bukan tidak ingin membebani orang lain, bukan sungkan, bukan menakar kebisaan orang lain. Jauh dari itu, saya memang lemah untuk tidak menutup diri. Saya tidak Asertif dalam berbagi beban. Tidak pula ekspresif atas kelukaan saya sebagai hamba biasa. Bukan introvert. Tapi tertantang atas masalah hidup yang ada lalu menyelesaikannya. Hanya terlalu asik menantang ketangguhan orang lain dalam menyabari saya dan selektif memilihnya sebagai kawan terdekat. Sangat dekat. Emang ada yang nanya? XD
Karena benarlah, setelah kesulitan ada kemudahan. Setiap kedukaan bersanding dengan kebahagiaan. Hanya saja, sebagai manusia, kita terlalu sering menyoroti letak perih dan beban yang ada. Terlalu membesarkan luka yang menganga. Menggaraminya dengan sengaja. Tak jarang, menceritakannya dari telinga ke telinga. Menebarkannya dari tiap mata ke mata lainnya. Jika tak didengar, kita begitu mudah terhempas. Padahal siapa yang salah? Seolah-olah, hanya beban kita yang melampaui berat gunung Tursina dan orang lain tidak. Dan parahnya, kita lupa bagaimana caranya tersenyum lagi membagi tawa. Nilai kita di sisi Allah terletak "dari dan bagaimana" cara kita menyelesaikan masalah yang ada. Hendaknya, sikap ini tertanam setiap ujian hidup yang menimpa.
Cerdas. Saya menyebutnya demikian. Bukan saya telah akrab dengan kecerdasan itu. Hanya saja, ingin meng-ikhtiari potensi yang Allah titipkan menghujam di iman saya. Sehingga tak perlu sibuk mencari sandaran hati dan menuntut saudari-saudari yang biasa membersamai. Meskipun nyatanya, saya sering berharap lebih. Hanya harapan sebagai seorang saudari, terlebih jika sosok saudari itu telah menjadi bagian dari diri saya. Namun ujungnya, ingin berkata tolongpun semua diksi kelu di ujung batin. Berat untuk diungkapkan. Minta tolong jangan kapok menyabari saya misalkan, itu terlalu berat. Kesannya seolah sengaja membuat orang lain terpaksa agar bertahan. Padahal bisa jadi 'ia'nya telah jengah. Jika begitu, tak perlu pamit, pergi saja. Haha
Seorang hamba yang dibekali jatah muamalah terhadap sesama, adalah penting untuk mentarbiyah dzatiyah dirinya sendiri perihal mendengar dan bercerita. Mendengar semaksimalnya, bercerita sebatas perlunya. Adalah lucu jika pada akhirnya dalam dialog kita di forum-forum, berdua-dua, serta bersama-sama; berlomba menjadi pembicara. Ada intonasi yang tak senada, saling sahut dan tak maksimal saling sambut. Mungkin kita pernah mendengar suara Katak di tengah hujan. Dari ujung ke ujung, mereka lomba menyuarakan pesan. Dalam Islam kita tidak dididik demikian. Jika kita terobsesi menjadi pembicara yang baik semua, lalu siapakah yang menjadi pendengar? Tembok? Iya. Lalu kepada siapa makna kata yang kita bicarakan tujuannya? Kepada benda mati? Diciptakan dua telinga salah satu fungsinya adalah agar kita memperbanyak dengar daripada bicara. Hikmahnya? Carilah.
Ini sebenarnya mau nulis apa sih? Ga tau juga. Yg jelas bahagia itu bisa disederhanakan. Ga perlu ribet menjelaskan maunya kita atau mau taunya orang lain. Karena Allah telah menakdirkan di hidup kita seorang saudari yang paling peka tanpa kau bercerita. Tak perlu diminta, paling tahu titik jatuh dan lemahmu di batas apa. Selalu ada dekap hangatnya yang menenangkan. Selalu ada rangkul tulusnya yang menguatkan, dan pula, traktirannya yang menyegarkan. Hahaha.
Dear u. Saat jatuh dantersakiti seperti ini, selalu saja teringat namamu. Doakan, semoga gengsi dan jaimku segera lenyap, supaya tak perlu membatasi jarak darimu yang terbatasi pulau dan samudera. Hingga tak perlu merayakan sepi sendirian. Hingga segera jujur atas rinduku Atau, haruskah aku kembali ke jaman putih abu-abu itu? Zaman yang membuatku lebih abstrak dalam merindu? Zaman yang hanya ada obsesi seimbang antara duniawi dan ukhrawi, bersamamu.
Ini sebenarnya mau nulis apa sih? Ga tau juga. Yg jelas bahagia itu bisa disederhanakan. Ga perlu ribet menjelaskan maunya kita atau mau taunya orang lain. Karena Allah telah menakdirkan di hidup kita seorang saudari yang paling peka tanpa kau bercerita. Tak perlu diminta, paling tahu titik jatuh dan lemahmu di batas apa. Selalu ada dekap hangatnya yang menenangkan. Selalu ada rangkul tulusnya yang menguatkan, dan pula, traktirannya yang menyegarkan. Hahaha.
Dear u. Saat jatuh dan
Kau tahu, di sini sulit mencari penggantimu. Atau memang kornea mataku yang kian sekarat hingga tak jeli kehadiran seseorang yang akhir-akhir ini, mengisi hari-hariku dengan ke-reaktif-annya sebagai saudari? Seseorang yang mulai meluluhkan gunung es dalam diriku?
DARI EKSPEDISI KE EKSPEDISI
Benarlah, kalau ingin mengenali saudaramu, hendaklah salah satunya kamu pernah beperjalanan dengannya. Dari perjalanan kita mengenali karakter teman seperjalanan. Ada yang setia memberikan arahan, memperhatikan teman, ada yang suka meninggalkan rombongan, suka ngilang, suka nelat, yang rewel gini gitu, suka ngomel, yang mengeluh kena asap dan macet, atau yang suka bikin atraksi maut di jalanan. Grrh. Penundaan keberangkatan di awal perjalanan saja telah sukses membuatku seyum manyun optimum. Kemarin adalah atraksi motoran paling nekat yang pernah kulakukan. Motoran ber-ekspedisi di wilayah pelosok Medan. Ikhwan-ikhwan gila-gilaan naik motor, kebut-kebutan, menyalip sembarangan, nerabas dan belok-belok ga karuan. Ya Rabb. Ggeregetan. Kadang aku bisa mengimbangi, meski ngos-ngosan juga ngikutin mereka. Tapi lama-lama, lelah juga ngikutin gaya ikhwan. Sampai akhirnya aku ikut menyalip Bus besar dan panjang. Sudah hampir mencapai setengah badan bus aku menyalipnya, si Bus pake acara menyalip kendaraan di depannya pula. Jadilah aku semacam dipepetin ke kanan sama si bus. Mau ngerem ndadak, belakang ada kendaraan. Mau terus nyalip tapi sepertinya aku akan semakin mepet ke kanan atau malah diserempet bus ini. Daripada dijatuhkan, aku menjatuhkan diri ke ruas jalan sebelah kanan. Jadilah aku terlempar dari aspal. Haaaah. Ga kerenn.
Jatuhnya sih emang ga sakit. Sama kaya dijatuhi amanah. Buktinya ga ada lecet sedikitpun di sekujur tubuhku. Termasuk pakaian yang kukenakan. As always, remuknya terpendam. Kepala tepatnya. Jadilah pingsan akhirnya. Darah mimisan kabarnya terus mengalir. Ditindaklanjuti via CT-scan. Daaan, seketika terjaga sepasca pernyataan dokter; harus ditangani dengan bedah. Tentu karena aku punya riwayat sakit di kepalaku. Semacam ada sugesti seruan; bangun. Bersihkan pakaianmu. Berilah peringatan. Sehatlah. (Hah?) Akan panjang perkaranya bila harus berujung klimaks di sini. Sementara ini misi ekspedisi amniyah, tanpa boleh diberitahu dan diketahui siapapun serta untuk apa belum selesai. Kan ga lucu, saat keluarga atau siapapun tau ternyata aku sedang mendekam di sepetak rumah sakit. Gosipnya sih 2 jam perjalanan motoran ke TKP yang dituju, karena itulah aku mau mencoba ikut motoran. Alasan khususnya, ya aku memang lebih hoby motoran daripada kendaraan lainnya. Naik motor itu something special buatku. Apalagi kalau di situasi batin berceloteh. Logika protes dan iman sendu-sedan, jadilah ngebut berpacu. Nyatanya hampir 7 jam kami beperjalanan. Itu sih teorinya 2 jam. Mungkin benar bisa 2 jam dengan catatan: ditempuh dengan kecepatan ekstra, plus tidak dengan rombongan rewel. Eyel-eyelan, bertengkar kecil, saling sebal, yah biasalah. Begitulah kalau amal jama’i, selalu butuh pengorbanan untuk saling bersabar pada saudara.
Di perjalanan, kutemui banyak hikmah manis bergaram (Bener bergaram ko, bukan beragam:p). Pemandangan sepanjang perjalanan menyuarakan kesan. Memasuki sebuah desa, batin dan lisan tawazzun mengumandangkan kuasa Allah. Desa ini, sebut saja taman surga kata warganya. Aneka tumbuhan hingga ternak tumbuh sehat ceria. Buaaah, dan buah dan buah dan buah dan buah dan buah dan buaaaaaaaah serta sayuran aneka rasa ada di sana. Pun petani, berjejer pesta panen di seluruh sudut dan pekarangan desa. Ah, bagaimana dengan surga yaa Rabb, jika pemandangan begini saja sudah membuatku meleleh karena cinta bertemu buah Dikau kelaknya(?)
Sambil mengendarai motor, otakku sibuk berpikir. Di sini ratusan rumah yang kulewati tidak ditemui adanya warga muslim-muslimah. Sedih, ada. Miris, ya begitulah; bergaram. Jarak lima rumah hingga sepuluh rumah selalu dibatasi gereja. Tiap rumah memiliki design tersendiri. Yang menjadikan sama, ada kepala Banteng di tiap atap rumahnya. Hatiku memang bersahabat dengan alamnya. Tapi mati rasa dengan Gereja dan aura keimanan penghuninya. Penghujung jalan, barulah ketemu satu warung yang pemiliknya pake kerudung. Rasanya batin menitik haru. Mungkin begitulah kisah para Mujahidin Palestina dan negara lainnya yang ketika ditawan di dalam penjara, tanpa penerangan cahaya, bertahun-tahun disiksa lalu suatu ketika dari balik terali besi ada yang menyapa salam. Sujud syukurlah sang tawanan sembari sesenggukan berteriak Asma Allah. Tekagetlah seluruh isi penjara. Kenapa, bertahun-tahun sudah tak pernah mendengar kalimat thoyyibah tadi, rindu pastinya. Jika dibandingkan dengan rasa yang kupunya atas apa yang kulihat, barangkali masih jauh. Tapi bersyukurlah yang kubatin akhirnya. Turut membayangkan bagaimana saudari muslimahku ini hidup di tengah mayoritas berbeda dengan akidahnya.
Seketika ingat, dulu di Jakarta pernah nyasar di sebuah desa bersama seorang adik manis. Iya manis. Karena terlalu sering menawarkan diri jadi kawan jalan ke manapun. Saat penat atau saat tak berminat sekalipun. Selalu punya cara agar ukhuwah yang terbatas jadi terbalas. Rasa yang berjarak kian dekat. Manis, karena aku lebih suka dipaksa daripada memaksakan diri. Niatnya mencari Masjid numpang sholat, dan akhirnya nyasar di lorong-lorong, di gang-gang, di jalan-jalan, muter sana sini hingga Anjing milik warga menggonggongi. Di sana, hidup bertetangga puluhan rumah dengan keyakinan yang sama; Nashrani dan seperangkat keimanannya. Kusam dan gersang. Jadilah aku tak betah nyasar di sana (emang nyasar bikin betah? Iya. Kalo temen nyasarnya seru diajak dakwah susah). Kembali ke topik. Di rumah sakit, menginaplah aku beberapa waktu. Semacam panggilan iman dalam bingkai ukhuwah, ketika terjaga kutemui pemandangan gratis. Menurutku, di jagat ini tak ada yang paling romantis saat kau sembunyikan kelu dan batinmu menyimpan gemuruh, ternyata ada sosok-sosok yang tahu dan tidak berpaling meski kau acuh. Lebih tahu perih dan hal dirimu, dan bahkan mengorbankan dirinya untukmu, untuk mencintaimu.
Ada ya ternyata orang-orang seperti ini. Aku menyebut mereka; orang orang tulus meski terhempas. Orang-orang berjiwa besar meski terpapas. Aku, selalu suka cara mereka mencintai. Kehadiran mereka selalu jadi cermin datar yang terlalu besar untuk aku berkaca, memantulkan bayanganku yang kecil tenggelam debu dosa. Memuaskan keimanan jika dibersamai mereka. Asertif dalam keitsaran. Jika ke sesama aktivis saja mereka setangguh ini, bagaimana mereka bertahan ditolak oleh objek dakwah di luar sana? Pasti lebih tangguh, maybe kan? Maka jadilah ruang rawatku disambangi silih berganti mujahid-mujahidah dakwah segala penjuru Indonesia. Jadilah silaturahim. Jadilah menyambung sayang. Jadilah seketika segar dan sehat. Jadilah akhirnya aku harus pulang dadakan ke Aceh hanya karena berkas pengobatanku harus dilampirkan dengan riwayat penyakit lainnya. Membawa catatan kronologis kecelakaan 3 tahun yang lalu. Ah, masalalu memang kadang tidak bisa dihapus sekalian. Selalu ada sebab untuk muncul ke permukaan.
Tak ada pilihan. Misi tidak bisa ditunaikan dengan maksimal, sesuai arahan aku harus pulang. Surprise. Tiba di pekarangan rumah, sepi. Tak ada suara penghuni rumah. Tak ada wajah keluarga. Yang ada hanya wajah ibu paman-paman yang biasa bekerja di rumah. Mereka masih hangat seperti dulu. Dan tentu terkaget dengan wajah pucatku. Kutangkap kekhawatiran mereka, jadilah aku dipapah menuju kamar rehatku. Wangi. Wangi masa lalu maksudku. Rebah sejenak di kasur empuk yang seketika mengingatkanku; Rosulullah terbiasa tidur tanpa alas hingga tubuhnya membekas. Jadilah aku urung merebahkan diri. Lirik angka jam di tanganku, waktuku hanya hari ini, sorenya harus balik lagi ke Medan. Ah, tak sempatkah kau menatap wajah keluarga satu-persatu?
Menyusuri rak buku, di sana ratusan buku tertata rapi. Yang kusuka dari perpustakaan koleksiku adalah lemari yang dikhususkan untuk diary tempo dulu. Jangan harap disini tertulis lembaran melankolis atau kisah roman picisan masa puberitas remajaku. Isinya ratusan lembaran mutaba'ah yaumiyah dan segala quotes tiap evaluasinya. Btw, entah kenapa siapapun yang dekat denganku, pasti kebanyakan hadiah yang diberikan adalah diary. Inilah tumpukannya. Tumpukan Mutaba'ah. Ahaha. Karena boring is bored, berkehendaklah aku menyusuri rumah tetangga. Tadi niat naik motor saja, saat bertemu Paman Abay (yang biasa kerja bantu2 di rumah) di parkiran mobil. "Bunda ga bawa mobil, Paman?" "Engga Zi, Bunda pake mobil dinas." "Ooh." "Ziah mau dianterin?" Oh engga Paman, Ziah mau jalan kaki aja. Motor Ziah diparkir di mana ya?" "Wah, masih dipinjem sama Bang Ridwan, kata Bunda biar pahalanya ngalir ke yang punya.. "Mau dianterin ke sana?" "Jzk paman, mau jalan aja, sambil sapa2 fans. Haha." "Bisa aja, sakit2 masih rakus becanda. Beneran ga mau dianterin?" Gausah Paman, Paman lanjut kerja aja, Ziah mau ke rumah nenek deh. Hehe."
"Bunda kapan pulang?" Dua hari lagi insyaa Allah. Kenapa sayang?" "Gpp, bunda jaga kesehatan ya." Pengen bilang kangen, masih aja jaim. Hahaha. Beliau sibuk. Sibuk kampanye. Handphone kututup saat disapa seorang ibu, bergamis syar'i lengkap dengan kaos kaki. Ummahat bangetlah pokonya mah. Aku lupa siapa, tapi beliau kenal lekat wajahku. "Ini Ziah kan? Maasyaa Allah. Kapan pulang? Amanah di Jkt udah selesai?". Sedikit linglung, secara ditabrak pertanyaan berderet dengan orang yang rasanya baru kenal kemudian pakai nanya amanah segala. Setelah menjawab seperlunya barulah kuketahui ternyata ummahat ini adalah sosok yang dipilih Allah dalam berhidayah. Kita punya kisah menarik tentang Hindun yang jadi musuh dakwah awalnya. Perempuan penebar makar dan perancang skenario terbunuhnya Hamzah ra, singa Allah. Kisah beliau mirip. Next time insyaa Allah kalau sempat kita bercerita. Sekarang beliau adalah Hawariyyun dakwah. Maasyaa Allah pokonya. Inspiring. Murabbi pemegang halaqoh dari Senin hingga Ahad. Kalah deh samakita, saya yang masih ada jatah hari tanpa membina.
Anyway, it’s exciting! Alhamdulillah, perjalanan pulangpun tak kalah seru dan penuh hikmah. Ketemu obek dakwah, memuallafkan seorang saudari, hingga tragedi sakaratul maut di udara (pesawat). Selalu ada pesan dakwah di sana. Aceh-Medan-Semarang-Makassar-Jogja-Ramawangun, kupesankan menjadi saksi. _Bahwa ada sesosok Ziah yang pernah melintasi pelosoknya hanya demi membekali diri ingin menjadi Da'iyah dan Jundi Muttaqin. (Gaya!)
Maret, 2017
Jatuhnya sih emang ga sakit. Sama kaya dijatuhi amanah. Buktinya ga ada lecet sedikitpun di sekujur tubuhku. Termasuk pakaian yang kukenakan. As always, remuknya terpendam. Kepala tepatnya. Jadilah pingsan akhirnya. Darah mimisan kabarnya terus mengalir. Ditindaklanjuti via CT-scan. Daaan, seketika terjaga sepasca pernyataan dokter; harus ditangani dengan bedah. Tentu karena aku punya riwayat sakit di kepalaku. Semacam ada sugesti seruan; bangun. Bersihkan pakaianmu. Berilah peringatan. Sehatlah. (Hah?) Akan panjang perkaranya bila harus berujung klimaks di sini. Sementara ini misi ekspedisi amniyah, tanpa boleh diberitahu dan diketahui siapapun serta untuk apa belum selesai. Kan ga lucu, saat keluarga atau siapapun tau ternyata aku sedang mendekam di sepetak rumah sakit. Gosipnya sih 2 jam perjalanan motoran ke TKP yang dituju, karena itulah aku mau mencoba ikut motoran. Alasan khususnya, ya aku memang lebih hoby motoran daripada kendaraan lainnya. Naik motor itu something special buatku. Apalagi kalau di situasi batin berceloteh. Logika protes dan iman sendu-sedan, jadilah ngebut berpacu. Nyatanya hampir 7 jam kami beperjalanan. Itu sih teorinya 2 jam. Mungkin benar bisa 2 jam dengan catatan: ditempuh dengan kecepatan ekstra, plus tidak dengan rombongan rewel. Eyel-eyelan, bertengkar kecil, saling sebal, yah biasalah. Begitulah kalau amal jama’i, selalu butuh pengorbanan untuk saling bersabar pada saudara.
Di perjalanan, kutemui banyak hikmah manis bergaram (Bener bergaram ko, bukan beragam:p). Pemandangan sepanjang perjalanan menyuarakan kesan. Memasuki sebuah desa, batin dan lisan tawazzun mengumandangkan kuasa Allah. Desa ini, sebut saja taman surga kata warganya. Aneka tumbuhan hingga ternak tumbuh sehat ceria. Buaaah, dan buah dan buah dan buah dan buah dan buah dan buaaaaaaaah serta sayuran aneka rasa ada di sana. Pun petani, berjejer pesta panen di seluruh sudut dan pekarangan desa. Ah, bagaimana dengan surga yaa Rabb, jika pemandangan begini saja sudah membuatku meleleh karena cinta bertemu buah Dikau kelaknya(?)
Sambil mengendarai motor, otakku sibuk berpikir. Di sini ratusan rumah yang kulewati tidak ditemui adanya warga muslim-muslimah. Sedih, ada. Miris, ya begitulah; bergaram. Jarak lima rumah hingga sepuluh rumah selalu dibatasi gereja. Tiap rumah memiliki design tersendiri. Yang menjadikan sama, ada kepala Banteng di tiap atap rumahnya. Hatiku memang bersahabat dengan alamnya. Tapi mati rasa dengan Gereja dan aura keimanan penghuninya. Penghujung jalan, barulah ketemu satu warung yang pemiliknya pake kerudung. Rasanya batin menitik haru. Mungkin begitulah kisah para Mujahidin Palestina dan negara lainnya yang ketika ditawan di dalam penjara, tanpa penerangan cahaya, bertahun-tahun disiksa lalu suatu ketika dari balik terali besi ada yang menyapa salam. Sujud syukurlah sang tawanan sembari sesenggukan berteriak Asma Allah. Tekagetlah seluruh isi penjara. Kenapa, bertahun-tahun sudah tak pernah mendengar kalimat thoyyibah tadi, rindu pastinya. Jika dibandingkan dengan rasa yang kupunya atas apa yang kulihat, barangkali masih jauh. Tapi bersyukurlah yang kubatin akhirnya. Turut membayangkan bagaimana saudari muslimahku ini hidup di tengah mayoritas berbeda dengan akidahnya.
Seketika ingat, dulu di Jakarta pernah nyasar di sebuah desa bersama seorang adik manis. Iya manis. Karena terlalu sering menawarkan diri jadi kawan jalan ke manapun. Saat penat atau saat tak berminat sekalipun. Selalu punya cara agar ukhuwah yang terbatas jadi terbalas. Rasa yang berjarak kian dekat. Manis, karena aku lebih suka dipaksa daripada memaksakan diri. Niatnya mencari Masjid numpang sholat, dan akhirnya nyasar di lorong-lorong, di gang-gang, di jalan-jalan, muter sana sini hingga Anjing milik warga menggonggongi. Di sana, hidup bertetangga puluhan rumah dengan keyakinan yang sama; Nashrani dan seperangkat keimanannya. Kusam dan gersang. Jadilah aku tak betah nyasar di sana (emang nyasar bikin betah? Iya. Kalo temen nyasarnya seru diajak dakwah susah). Kembali ke topik. Di rumah sakit, menginaplah aku beberapa waktu. Semacam panggilan iman dalam bingkai ukhuwah, ketika terjaga kutemui pemandangan gratis. Menurutku, di jagat ini tak ada yang paling romantis saat kau sembunyikan kelu dan batinmu menyimpan gemuruh, ternyata ada sosok-sosok yang tahu dan tidak berpaling meski kau acuh. Lebih tahu perih dan hal dirimu, dan bahkan mengorbankan dirinya untukmu, untuk mencintaimu.
Ada ya ternyata orang-orang seperti ini. Aku menyebut mereka; orang orang tulus meski terhempas. Orang-orang berjiwa besar meski terpapas. Aku, selalu suka cara mereka mencintai. Kehadiran mereka selalu jadi cermin datar yang terlalu besar untuk aku berkaca, memantulkan bayanganku yang kecil tenggelam debu dosa. Memuaskan keimanan jika dibersamai mereka. Asertif dalam keitsaran. Jika ke sesama aktivis saja mereka setangguh ini, bagaimana mereka bertahan ditolak oleh objek dakwah di luar sana? Pasti lebih tangguh, maybe kan? Maka jadilah ruang rawatku disambangi silih berganti mujahid-mujahidah dakwah segala penjuru Indonesia. Jadilah silaturahim. Jadilah menyambung sayang. Jadilah seketika segar dan sehat. Jadilah akhirnya aku harus pulang dadakan ke Aceh hanya karena berkas pengobatanku harus dilampirkan dengan riwayat penyakit lainnya. Membawa catatan kronologis kecelakaan 3 tahun yang lalu. Ah, masalalu memang kadang tidak bisa dihapus sekalian. Selalu ada sebab untuk muncul ke permukaan.
Tak ada pilihan. Misi tidak bisa ditunaikan dengan maksimal, sesuai arahan aku harus pulang. Surprise. Tiba di pekarangan rumah, sepi. Tak ada suara penghuni rumah. Tak ada wajah keluarga. Yang ada hanya wajah ibu paman-paman yang biasa bekerja di rumah. Mereka masih hangat seperti dulu. Dan tentu terkaget dengan wajah pucatku. Kutangkap kekhawatiran mereka, jadilah aku dipapah menuju kamar rehatku. Wangi. Wangi masa lalu maksudku. Rebah sejenak di kasur empuk yang seketika mengingatkanku; Rosulullah terbiasa tidur tanpa alas hingga tubuhnya membekas. Jadilah aku urung merebahkan diri. Lirik angka jam di tanganku, waktuku hanya hari ini, sorenya harus balik lagi ke Medan. Ah, tak sempatkah kau menatap wajah keluarga satu-persatu?
Menyusuri rak buku, di sana ratusan buku tertata rapi. Yang kusuka dari perpustakaan koleksiku adalah lemari yang dikhususkan untuk diary tempo dulu. Jangan harap disini tertulis lembaran melankolis atau kisah roman picisan masa puberitas remajaku. Isinya ratusan lembaran mutaba'ah yaumiyah dan segala quotes tiap evaluasinya. Btw, entah kenapa siapapun yang dekat denganku, pasti kebanyakan hadiah yang diberikan adalah diary. Inilah tumpukannya. Tumpukan Mutaba'ah. Ahaha. Karena boring is bored, berkehendaklah aku menyusuri rumah tetangga. Tadi niat naik motor saja, saat bertemu Paman Abay (yang biasa kerja bantu2 di rumah) di parkiran mobil. "Bunda ga bawa mobil, Paman?" "Engga Zi, Bunda pake mobil dinas." "Ooh." "Ziah mau dianterin?" Oh engga Paman, Ziah mau jalan kaki aja. Motor Ziah diparkir di mana ya?" "Wah, masih dipinjem sama Bang Ridwan, kata Bunda biar pahalanya ngalir ke yang punya.. "Mau dianterin ke sana?" "Jzk paman, mau jalan aja, sambil sapa2 fans. Haha." "Bisa aja, sakit2 masih rakus becanda. Beneran ga mau dianterin?" Gausah Paman, Paman lanjut kerja aja, Ziah mau ke rumah nenek deh. Hehe."
"Bunda kapan pulang?" Dua hari lagi insyaa Allah. Kenapa sayang?" "Gpp, bunda jaga kesehatan ya." Pengen bilang kangen, masih aja jaim. Hahaha. Beliau sibuk. Sibuk kampanye. Handphone kututup saat disapa seorang ibu, bergamis syar'i lengkap dengan kaos kaki. Ummahat bangetlah pokonya mah. Aku lupa siapa, tapi beliau kenal lekat wajahku. "Ini Ziah kan? Maasyaa Allah. Kapan pulang? Amanah di Jkt udah selesai?". Sedikit linglung, secara ditabrak pertanyaan berderet dengan orang yang rasanya baru kenal kemudian pakai nanya amanah segala. Setelah menjawab seperlunya barulah kuketahui ternyata ummahat ini adalah sosok yang dipilih Allah dalam berhidayah. Kita punya kisah menarik tentang Hindun yang jadi musuh dakwah awalnya. Perempuan penebar makar dan perancang skenario terbunuhnya Hamzah ra, singa Allah. Kisah beliau mirip. Next time insyaa Allah kalau sempat kita bercerita. Sekarang beliau adalah Hawariyyun dakwah. Maasyaa Allah pokonya. Inspiring. Murabbi pemegang halaqoh dari Senin hingga Ahad. Kalah deh sama
Anyway, it’s exciting! Alhamdulillah, perjalanan pulangpun tak kalah seru dan penuh hikmah. Ketemu obek dakwah, memuallafkan seorang saudari, hingga tragedi sakaratul maut di udara (pesawat). Selalu ada pesan dakwah di sana. Aceh-Medan-Semarang-Makassar-Jogja-Ramawangun, kupesankan menjadi saksi. _Bahwa ada sesosok Ziah yang pernah melintasi pelosoknya hanya demi membekali diri ingin menjadi Da'iyah dan Jundi Muttaqin. (Gaya!)
Maret, 2017
SESEORANG
"Susah ya Zi, berbuat baik sama kamu."Jawabnya tenang. Entah, kalimat itu sedikit menggesek fokusku. Fokus untuk tidak peduli terhadap tawaran kebaikan orang lain, termasuk dia, yang sore ini memintaku agar bersedia tanpa paksa dihantar olehnya menuju pulang. Lampu lalu lintas cukup tertib dengan jedanya. Semua pengendara transportasi sibuk dengan urusannya; menunggu. Serupa denganku, masih terpaku dengan kalimatnya. Hening tanpa kata di atas sepeda motor miliknya. Diapun sama. Sesekali sayup bersuara, namun tak kutimpali karena suaranya terhempas angin sore yang menyapa."Apa iya, aku menyulitkan orang lain atas kebaikan mereka? Apa iya, menolak tawaran kebaikan orang lain pertanda aku payah dalam hal memudahkan? Jika begitu, ada ratusan orang yang telah kusulitkan sepanjang usia. Ada ribuan kebaikan yang telah kuhempas tanpa merasa berdosa. Atau mungkin pula telah banyak hati yang terluka. Allah, benarkah? Bagaimana dengan alasan yang jadi penguat prinsipku, apakah jadi hujjah atas semuanya?"
Akhowat ini, belum lama aku mengenalnya. Jika Nabi pernah menganjurkan untuk mengenal kawan adalah dengan bermalam atau tidur bersama, bermuamalah, dan bahkan bepergian bersama, maka pasti banyak agenda kebaikan yang telah mewakili semuanya. Di mana letak kesannya? Bukankah saudariku yang lainnyapun pernah di semua lini atas pesan Nabi tadi dalam hal membersamai? Barangkali, setiap agenda yang telah ditunaikan terlewat oleh anjuran Nabi, terlupa. Hanya terlalu sibuk dengan program dakwah dengan terseret menunaikannya. Kesan ukhuwah memang ada, tapi tidak sekadar pesan Nabi, seniat taaruf hingga memahami. Harusnya begitulah Ukhuwah, menyengaja dekat sesuai standarisasi. Belakangan ini, mendapatinya dengan segudang Metamorfosa. Lekat di ingatan atas tumbuh kembangnya. Bagaimana Allah menulis takdir untuknya berhimpun dalam jamaah. Dari terbata-bata hingga berlari paksa. Belajar dan belajar. Merendah dan merendah. Kubahasakan tawadhu namanya. Kupanggil asy-syaja'ah untuk mendoakannya. Lembaran-lembaran ukhuwah mulai berisi babak; melampaui tangga-tangga terendah dalam ukhuwah. Rotasi amanah mulai menghempas keegoisan diri masing-masing jiwa. Kusebut itsar namanya. Dalam lelah dan suka, ia mulai akrab dengan sifat itu. Terkhusus untukku, atau jangan-jangan hanya aku yang merasa? Bukankah ia juga punya saudari lainnya? Terhadap siapapun ia berlaku kata, tak mengurangi penamaanku padanya; itsar dalam bermuamalah.
Dari jauh, sering kuamati ia. Dari dekat, mencoba memahaminya sebagai 'siapa'. Wajah lelah pejuang hidup, begitu kesanku untuknya. Bukan untuk hidupnya saja, tapi untuk kelurganya juga. Menjadi tulang punggung keluarga. Menguras pikiran, membanting perasaan atas anggapan orang-orang; kerja yang tak berkah. Terkadang pulang hingga larut. Membelah diri bersama dakwah. Ah, kerjanya pun bagiku adalah dakwah. Membagi waktu dengan syuro dan amanah. Di tiap lini itu, selalu kudapati ia ada. Dan hebatnya, selalu ada sapa ramah, senyum canda yang ikut serta bertemu saudara saudarinya. Dari dia. Suatu hari ia mengadu. Dan aku senang terlibat di titik ini. Berkesah risau, merasa sedikit kacau. Menurutku, hal wajar. Karena justru jika ia tak bercerita, tentu menjadi beban baru buatku. Kutangkap pesan iman di sana. Kekhawatiran seorang hamba yang beriman. Takut manakala kerja-kerjanya hanya menjadikan Allah tak meliriknya dalam hal berkah. Sedikit penguatan ala aku. Hanya berharap, agar bertahan jika memang orientasinya adalah dakwah. Meski sebenarnya hatiku berat memintanya demikian. Miris dengan kondisi medan juang di sana. Bukan apa-apa, hanya saja terlalu tak ringan resikonya. Mengingat alasannya dalam bertahan, tentu kalimat kelu yang ingin kusampaikan tertahan di ujung batin. Hanya doa dan doa terus yang bisa kuhaturkan. Sembari menyusulnya dengan referensi petuah Nabi; Bertahan demi kebermanfaatan.
Bagaimana tidak, wilayah kerjanya bukan sembarang area aman. Ada perjuangan di sana. Atas apa? Tentu sebagai da'iyah. Untuk siapa? Untuk orang-orang yang belum mengenal Allah. Mengondisikan, atau bahkan menyelamatkan dirinya sendiripun barangkali mengulum air mata. Siapa yang tahu? Aku tak tahu. Sering kubayangkan bagaimana menjadi dia. Pulang dengan badan remuk redam, perasaan tak karuan, mungkin tak jarang ia menangis di perjalanan sendirian. Mungkin membayangkan wajah ibu dan ayahnya, keluarganya, adalah hiburan baginya untuk melanjutkan perjalanan. Siapa tahu kan? Setidaknya kehadirannya dalam jamaah ini mengurai pesan; dia seseorang yang pantas untuk diteladani. Perjuangannya yang kumaksud. Seberat apapun beban hidup, bukan alasan untuk mengalah pada takdir. Berbicara amanah, tentu karena adab dan sambutannya yang menjadikanku percaya memilihnya sebagai 'apa, menjadi siapa, berperan apa'.
Di kemudian hari, sekarang semua tersingkap. Dia selalu mastatho'tum untuk meng-ikhtiari panggilan dakwah. Selalu ada celah untuk menyambut seruan dakwah. Bukan seperti aktivis kebanyakan. Beralasan kerja, berudzur sakit, bertingkah atau hal lainnya yang padahal masih bisa bertadhiyah. Apapun. Belum pernah kutemui ia egois, membuat batin miris teriris. Mengecewakan sih pernah. Haha. Hanya kekecewaan manusia biasa yang terlalu berharap pada saudarinya. Ini letak salahku. Tapi itu tak lama. Tak menunggu musim berganti hingga maaf untuknya menyerta. Maafku menyegera, insyaa Allah. Apapun, dia istimewa karena imannya. Karena caranya bertahan. Caranya menyebar cintapun, salut!
***
Dear, u
Happy millad. Barokallah fii umrik.
Stay strong for your self.
Akhowat ini, belum lama aku mengenalnya. Jika Nabi pernah menganjurkan untuk mengenal kawan adalah dengan bermalam atau tidur bersama, bermuamalah, dan bahkan bepergian bersama, maka pasti banyak agenda kebaikan yang telah mewakili semuanya. Di mana letak kesannya? Bukankah saudariku yang lainnyapun pernah di semua lini atas pesan Nabi tadi dalam hal membersamai? Barangkali, setiap agenda yang telah ditunaikan terlewat oleh anjuran Nabi, terlupa. Hanya terlalu sibuk dengan program dakwah dengan terseret menunaikannya. Kesan ukhuwah memang ada, tapi tidak sekadar pesan Nabi, seniat taaruf hingga memahami. Harusnya begitulah Ukhuwah, menyengaja dekat sesuai standarisasi. Belakangan ini, mendapatinya dengan segudang Metamorfosa. Lekat di ingatan atas tumbuh kembangnya. Bagaimana Allah menulis takdir untuknya berhimpun dalam jamaah. Dari terbata-bata hingga berlari paksa. Belajar dan belajar. Merendah dan merendah. Kubahasakan tawadhu namanya. Kupanggil asy-syaja'ah untuk mendoakannya. Lembaran-lembaran ukhuwah mulai berisi babak; melampaui tangga-tangga terendah dalam ukhuwah. Rotasi amanah mulai menghempas keegoisan diri masing-masing jiwa. Kusebut itsar namanya. Dalam lelah dan suka, ia mulai akrab dengan sifat itu. Terkhusus untukku, atau jangan-jangan hanya aku yang merasa? Bukankah ia juga punya saudari lainnya? Terhadap siapapun ia berlaku kata, tak mengurangi penamaanku padanya; itsar dalam bermuamalah.
Dari jauh, sering kuamati ia. Dari dekat, mencoba memahaminya sebagai 'siapa'. Wajah lelah pejuang hidup, begitu kesanku untuknya. Bukan untuk hidupnya saja, tapi untuk kelurganya juga. Menjadi tulang punggung keluarga. Menguras pikiran, membanting perasaan atas anggapan orang-orang; kerja yang tak berkah. Terkadang pulang hingga larut. Membelah diri bersama dakwah. Ah, kerjanya pun bagiku adalah dakwah. Membagi waktu dengan syuro dan amanah. Di tiap lini itu, selalu kudapati ia ada. Dan hebatnya, selalu ada sapa ramah, senyum canda yang ikut serta bertemu saudara saudarinya. Dari dia. Suatu hari ia mengadu. Dan aku senang terlibat di titik ini. Berkesah risau, merasa sedikit kacau. Menurutku, hal wajar. Karena justru jika ia tak bercerita, tentu menjadi beban baru buatku. Kutangkap pesan iman di sana. Kekhawatiran seorang hamba yang beriman. Takut manakala kerja-kerjanya hanya menjadikan Allah tak meliriknya dalam hal berkah. Sedikit penguatan ala aku. Hanya berharap, agar bertahan jika memang orientasinya adalah dakwah. Meski sebenarnya hatiku berat memintanya demikian. Miris dengan kondisi medan juang di sana. Bukan apa-apa, hanya saja terlalu tak ringan resikonya. Mengingat alasannya dalam bertahan, tentu kalimat kelu yang ingin kusampaikan tertahan di ujung batin. Hanya doa dan doa terus yang bisa kuhaturkan. Sembari menyusulnya dengan referensi petuah Nabi; Bertahan demi kebermanfaatan.
Bagaimana tidak, wilayah kerjanya bukan sembarang area aman. Ada perjuangan di sana. Atas apa? Tentu sebagai da'iyah. Untuk siapa? Untuk orang-orang yang belum mengenal Allah. Mengondisikan, atau bahkan menyelamatkan dirinya sendiripun barangkali mengulum air mata. Siapa yang tahu? Aku tak tahu. Sering kubayangkan bagaimana menjadi dia. Pulang dengan badan remuk redam, perasaan tak karuan, mungkin tak jarang ia menangis di perjalanan sendirian. Mungkin membayangkan wajah ibu dan ayahnya, keluarganya, adalah hiburan baginya untuk melanjutkan perjalanan. Siapa tahu kan? Setidaknya kehadirannya dalam jamaah ini mengurai pesan; dia seseorang yang pantas untuk diteladani. Perjuangannya yang kumaksud. Seberat apapun beban hidup, bukan alasan untuk mengalah pada takdir. Berbicara amanah, tentu karena adab dan sambutannya yang menjadikanku percaya memilihnya sebagai 'apa, menjadi siapa, berperan apa'.
Di kemudian hari, sekarang semua tersingkap. Dia selalu mastatho'tum untuk meng-ikhtiari panggilan dakwah. Selalu ada celah untuk menyambut seruan dakwah. Bukan seperti aktivis kebanyakan. Beralasan kerja, berudzur sakit, bertingkah atau hal lainnya yang padahal masih bisa bertadhiyah. Apapun. Belum pernah kutemui ia egois, membuat batin miris teriris. Mengecewakan sih pernah. Haha. Hanya kekecewaan manusia biasa yang terlalu berharap pada saudarinya. Ini letak salahku. Tapi itu tak lama. Tak menunggu musim berganti hingga maaf untuknya menyerta. Maafku menyegera, insyaa Allah. Apapun, dia istimewa karena imannya. Karena caranya bertahan. Caranya menyebar cintapun, salut!
***
Dear, u
Happy millad. Barokallah fii umrik.
Stay strong for your self.
Minggu, 05 Maret 2017
Getar tanpa Nada,
Dengan mengesakanMu dalam berharap.
Karena kami makin tahu,
Berharap pada manusia, pada sosok maupun kelompok, atau menggantungkan diri pada mereka adalah luka bagi iman kami. Juga kekecewaan yang bertubi.
Dengan mengesakanMu sebagai pemilih da'wah ini,
Karena kami makin tahu,
Berharap pada manusia, pada sosok maupun kelompok, atau menggantungkan diri pada mereka adalah luka bagi iman kami. Juga kekecewaan yang bertubi.
Dengan mengesakanMu sebagai pemilih da'wah ini,
Lalu kami terus melangkah tanpa henti mentarbiyah Ummat ini.
Memperbanyak yang putih dalam jamaah ini
Agar Engkau bersihkan yang hitam dengannya
Atau setidaknya, menjadikan yang hitam itu bagai najis yang tak menodai dua qullah.
Karuniakanlah kami kepekaan agar saudara kami tak perlu berteriak saat menyampaikan cinta dalam nasehatnya
Tapi cukup dengan isyarat mata, raut muka, atau bisik kecil yang menggetarkan..
Memperbanyak yang putih dalam jamaah ini
Agar Engkau bersihkan yang hitam dengannya
Atau setidaknya, menjadikan yang hitam itu bagai najis yang tak menodai dua qullah.
Karuniakanlah kami kepekaan agar saudara kami tak perlu berteriak saat menyampaikan cinta dalam nasehatnya
Tapi cukup dengan isyarat mata, raut muka, atau bisik kecil yang menggetarkan..
-Salim A. Fillah-
Atau, berikanlah kami keluasan sabar dalam membersamai saudari kami.
Atau, berikanlah kami keluasan sabar dalam membersamai saudari kami.
Agar tak perlu sempit saat nasehat terlihat pahit..
Left-------
Ada baiknya memang, menarik diri sejenak. Mengamati sesaat. Ber-jeda sementara. Terkesan membutakan mata, menulikan telinga, mematikan rasa. Selagi di hatimu ada peka, tetap saja kau sendiri yang tersiksa; mendiamkan terlalu lama.
Tapi untuk apa turut serta menyepikan ruh jiwa, hingga berkilah tak terima atas takdir Allah? Untuk apa? Kau bilang, sementara kau butuh waktu meredam gejolak jiwa. Sampai kapan? Sampai Allah berbicara merasuk ke jantung? Atau sampai Allah menggantikanmu dengan yang lebih tangguh? Mau?
Seseringnya kau menularkan apa-apa yang kau kira benar sesuai sunnatullah, selagi di hatimu masih peka, tetap saja kau tersiksa membiarkan terlalu lama. Iya, itu maksudnya. Pengamat yang berguguran di jalan dakwah.
Kau yang mencoba bijak, tetap tegak disaat yang lain terserak. Adakah yang mau menemanimu, di sini? Jika tak ada, tak mengapa. Ada Allah di sisi, percayalah. Tetap melangkah, sambil menunggu yang terlelap, jaga semangat.
Ada pesan buatmu, barangkali berguna.
Kau tahu,
Jika hatimu samudera, sekilo garam tidak akan terasa. Iya. Coba saja. Jangan terlalu banyak merasa hingga kau sendiri yang terluka. Jika pada akhirnya kau tetap terluka, obatilah segera. Jangan biarkan menganga terlalu lama. Karena akan ada bakteri dan virus yang sedia menambah parah. Virus lesu dakwah misalnya. Bakteri perusak jamaah juga ada.
Menurutmu, sekaliber Umar ra kala ditinggal Rosulullah untuk selamanya, tidakkah ia menangis dan tidakkah ia mempercayai takdir yang tertera? Iya, begitu. Umarpun menangis meratap. Umarpun histeris hingga sembab. Hingga sosok yang paling teduh dan terpaut hatinya oleh qodarullah berkata, Muhammad itu hanya seorang Rosul. Maka apakah jika ia mati atau terbunuh kau akan berpaling/murtad? Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sungguh dia telah wafat. Barangsiapa menyembah Allah. Maka Allah kekal. Umarpun terkulai lesuh. Ya, yang dicinta telah pergi. Yang biasa membersamai dipanggil Illahi. Perih. Hingga langit Mekkah mendung sejagat raya membumi.
Maka sebenarnya, kau yang masih tak terima atas kehilangan dan dipisahkan, tidakkah mengerti tentang batas kebersamaan? Tentang perjuangan yang berbeda ladang? Semacam takdir yang tak boleh ditolak. Apalagi tak sanggup kembali bangkit dan bergerak. Padahal kau tau, perjalanan masih panjang. Ada kawan yang butuh dipapah. Ada sahabat yang ingin dibersamai. Tengoklah sejenak ke sebelah, barangkali kawanmu sekarat menunggu uluran. Jelilah, ada kawan di sebelahmu. Sadarlah. Jangan mengingkari takdirNya.
Lapangkanlah hatimu. Lapang selapang Sabana.
Sekalipun di sana ada gajah, harimau, jerapah. Sabana itu akan tetap terlihat luas.
Tetapi jika hatimu sempit, lebih sempit dari kamar tidur, jangankan gajah, seekor ayampun akan membuatnya sempit.
Luaskanlah hatimu. Luas, seluas Samudera.
Sebanyak apapun sampah masuk dari muara sungai-sungai, ia kan tetap jernih.
Tetapi jika hatimu sempit, sesempit air dalam gelas, jangankan sampah dari sungai, setetes dari tinta saakan membuatnya kotor..
Sejatinya, andai kau mau mendidik diri, takkan ada perih yang terlalu perih. Tak kan ada sakit yang terlampau sakit. Semua sesuai takaran sanggupmu. Allah itu, selalu mencintaimu dengan caraNya, kau saja yang tak terbiasa.
Sejatinya memang, tak terim itu hanya sebatas pengertian pahammu. Kau tak terima karena kau tak mau memahami kenapa diberi. Diberi takdir yang meluapkan emosi.
Percayalah, takdir Allah itu menentramkan.
Ikhlaslah atas perpisahan. Biarkan kawanmu melanjutkan perjalanan, toh kau masih bisa menyapanya di kemudian hari. Kau masih bisa merangkulnya dengan sedikit kasta dewasa. Percayalah, kau belum benar-benar kehilangan. Bukan seperti kehilangannya Umar. Jangan sedih.
Tapi untuk apa turut serta menyepikan ruh jiwa, hingga berkilah tak terima atas takdir Allah? Untuk apa? Kau bilang, sementara kau butuh waktu meredam gejolak jiwa. Sampai kapan? Sampai Allah berbicara merasuk ke jantung? Atau sampai Allah menggantikanmu dengan yang lebih tangguh? Mau?
Seseringnya kau menularkan apa-apa yang kau kira benar sesuai sunnatullah, selagi di hatimu masih peka, tetap saja kau tersiksa membiarkan terlalu lama. Iya, itu maksudnya. Pengamat yang berguguran di jalan dakwah.
Kau yang mencoba bijak, tetap tegak disaat yang lain terserak. Adakah yang mau menemanimu, di sini? Jika tak ada, tak mengapa. Ada Allah di sisi, percayalah. Tetap melangkah, sambil menunggu yang terlelap, jaga semangat.
Ada pesan buatmu, barangkali berguna.
Kau tahu,
Jika hatimu samudera, sekilo garam tidak akan terasa. Iya. Coba saja. Jangan terlalu banyak merasa hingga kau sendiri yang terluka. Jika pada akhirnya kau tetap terluka, obatilah segera. Jangan biarkan menganga terlalu lama. Karena akan ada bakteri dan virus yang sedia menambah parah. Virus lesu dakwah misalnya. Bakteri perusak jamaah juga ada.
Menurutmu, sekaliber Umar ra kala ditinggal Rosulullah untuk selamanya, tidakkah ia menangis dan tidakkah ia mempercayai takdir yang tertera? Iya, begitu. Umarpun menangis meratap. Umarpun histeris hingga sembab. Hingga sosok yang paling teduh dan terpaut hatinya oleh qodarullah berkata, Muhammad itu hanya seorang Rosul. Maka apakah jika ia mati atau terbunuh kau akan berpaling/murtad? Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sungguh dia telah wafat. Barangsiapa menyembah Allah. Maka Allah kekal. Umarpun terkulai lesuh. Ya, yang dicinta telah pergi. Yang biasa membersamai dipanggil Illahi. Perih. Hingga langit Mekkah mendung sejagat raya membumi.
Maka sebenarnya, kau yang masih tak terima atas kehilangan dan dipisahkan, tidakkah mengerti tentang batas kebersamaan? Tentang perjuangan yang berbeda ladang? Semacam takdir yang tak boleh ditolak. Apalagi tak sanggup kembali bangkit dan bergerak. Padahal kau tau, perjalanan masih panjang. Ada kawan yang butuh dipapah. Ada sahabat yang ingin dibersamai. Tengoklah sejenak ke sebelah, barangkali kawanmu sekarat menunggu uluran. Jelilah, ada kawan di sebelahmu. Sadarlah. Jangan mengingkari takdirNya.
Lapangkanlah hatimu. Lapang selapang Sabana.
Sekalipun di sana ada gajah, harimau, jerapah. Sabana itu akan tetap terlihat luas.
Tetapi jika hatimu sempit, lebih sempit dari kamar tidur, jangankan gajah, seekor ayampun akan membuatnya sempit.
Luaskanlah hatimu. Luas, seluas Samudera.
Sebanyak apapun sampah masuk dari muara sungai-sungai, ia kan tetap jernih.
Tetapi jika hatimu sempit, sesempit air dalam gelas, jangankan sampah dari sungai, setetes dari tinta saakan membuatnya kotor..
Sejatinya, andai kau mau mendidik diri, takkan ada perih yang terlalu perih. Tak kan ada sakit yang terlampau sakit. Semua sesuai takaran sanggupmu. Allah itu, selalu mencintaimu dengan caraNya, kau saja yang tak terbiasa.
Sejatinya memang, tak terim itu hanya sebatas pengertian pahammu. Kau tak terima karena kau tak mau memahami kenapa diberi. Diberi takdir yang meluapkan emosi.
Percayalah, takdir Allah itu menentramkan.
Ikhlaslah atas perpisahan. Biarkan kawanmu melanjutkan perjalanan, toh kau masih bisa menyapanya di kemudian hari. Kau masih bisa merangkulnya dengan sedikit kasta dewasa. Percayalah, kau belum benar-benar kehilangan. Bukan seperti kehilangannya Umar. Jangan sedih.
Ujian Shiroh
Perjalanan realita aksara kali ini menghantarkanku pada episode memukau atas flash back di beberapa pekan belakangan dalam membina. Sedikit tragis namun berharmoni romantis.
Tragis, apa yang kuperjuangkan masih nihil hasilnya. Bisa jadi 'amilatunnashibah. Berbuah melelahkan. Romantisnya adalah, belakangan di sepenggal Maghrib berjamaah, sang Imam melantunkan ayat penguat; Alladzi kholaqol mauta wal hayaataa liyabluwakum ayyukum ahsaanu amalaa.
Etah! Hanya sedang diuji. Sejauh apa baik buruknya amalan yang ditekuni. Barangkali salahku di situ. Hingga terisaklah aku pada akhirnya disertai tetesan mimisan yang kuhindari. Bukan perkara terhempasnya atas apa yang ku beri, yang dalam takaran logikaku telah kuikhtiarkan di batas mastatho'tum selama ini. Berburu waktu, tak peduli sakit tak peduli terik, atas nama membina semua penderitaan sering hilang tersapu angin yang membersamai, tapi mencoba melirik dengan mata hati; "duh Zi. Inikah ikhtiarmu selama ini? Hello, jangan-jangan ada yang terlewati. Kau belum merekam pesan siap dari hati binaanmu, bahwa sudah waktunya berilmu mendewasa. Belajar dan belajar. Menebarkannya menyegera, mengharumkannya mengangkasa. Barangkali, obsesimu yang terlalu tinggi. Sampai tak sadar, kau sendiri yang terjatuh ke dasar bumi. Atau, navigasi adab menuntut ilmu belum terwarisi. Sehingga, tak berkesanlah apa yang kau beri selama ini."
Pekan Maret pertama di hari ini. Rentetan tugas berderet rapi. Rutinitas subuh tadi dimulai dengan bergegas kembali ke Jakarta. Berkemas dari tuntutan amanah, hingga tibalah di Bandara Soehatta tepat pukul 12. lewat dua. Tak perlu dibayangkan betapa tersengalnya. Karena niat di hati jangan ada jedah yang terlalu lama, maka dimudahkan pula segala perkaranya. Yaps. Bis Damri arah Rawamangun tersedia tanpa menunggu lama, berangkatlah aku hingga ke tujuan; Kosan Pemuda.
Perjalanan terik, bapak sopir yang ramah itu paling mahir mengendalikan mesin kemudi. Hingga terbawalah aku ke alam lain bernama intuisi. Menikmati laju turunnya merdu suara Shia dengan Chandelier dalam raungannya yang diputar keras oleh bapak sopir. Then, kau dan aku tegak berdiri melihat hutan yang menjadi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin. Ah, bapak sopir, kita berbeda dalam semua, kecuali dengan cinta. (backsound puisi Soe). Dalam selera musik maksudku. Haha. Okelah, ini tidak penting
Rawamangun mulai semerbak. Siang sebagai latar perjuangan panjang makhluk Allah segala jenis rupa. Karena malam, terlalu bersekat untuk sekedar berdiskusi, rapat hingga mengkaji bagi para Mahasiswa yang hilir mudik memasuki gerbang kampus Hijau aroma Tarbiyah. Di sinilah aku, tertatih-tatih mengejar seorang saudari.
Melihatnya dari kejauhan membuatku urung menikmati langkah kaki yang sedikit berintonasi. Efek sepatu aneh yang belum sempat beli pengganti. -_- Sempat terbesit, mungkin nanti aku harus merubah kebijakan baru; dihalalkan memakai sandal gunung dan sejenisnya, demi kemaslahatan selera para pendaki? Biar sedikit bergengsi, dan menjauhi list iqob bagi para akhowaty. (Hah?)
Setelah salam dan setor wajah sumringah, merekap sedekah versi Rosulullah dengan tersenyum di depan saudari, kami beriringan ke tempat yang sama; MNI. Banyak diskusi seputar dakwah yang dibagi. Ujung obrolan kami tak jauh dari perkara pembinaan dan regenerasi. Aku dan dia, berdiri di titik yang sama. Dan punya obsesi berapi di Fakultas yang kami cintai.
MNI masih ramai. Dan terlihat banyak yang baru menunaikan sholat ashar. Ahya, ini awal perkuliahan kan ya?. Banyak wajah yang tak kukenal meski banyak yang mengenalku. Maksudnya menyapaku. Tapi tak apa, secicip ujian bagi alumni tua yang disiram santunan ihtirom oleh para pemuda pemudi dengan sebutan kak dan umi. Haha. Gaje!
Menghampiri binaan yang sudah berformasi. Di hati tersusupi rasa teduh dan.... apa ya?. Sayang barangkali. Melihat mereka, rasa lelah efek perjalanan jauh dan nafas tersengal tak terasa. Terlebih terhadap dua orang adik yang ku hampiri di selasar MNI. Sore ini, ada dua lingkaran yang kuisi. Salah satunya, ya mereka ini. Sambil bagi waktu, kuajak mereka masuk MNI, sedikit nego bahwa aku harus bagi diri. Tak keberatan, hanya kesepakatan manis dari pancaran ketaatan. Meski baru berdua, halaqohpun dibuka. Entah, akhir-akhir ini mereka kerap ingin ku dekati. Lebih dekat dari biasanya. Dan ada sayang yang kalau ditakar, sepertinya bertambah pula.
Sementara lingkaran yang satunya telah dibuka, sambil bolak balik dari sebelah ke sebelah, setor materi hingga terakhir penugasan khusus adalah mengkaji ulang materi. Menuliskannya kembali sesuai yang dipahami. Mulai dari Bi'tsah hingga Pemboikotan zaman Rosulullah. Tertangkap pesan kaget dari masing-masing wajah. Dihiasi dengan tawa dan sedikit nego yang manja, tak ada pilihan selain mengikuti seluruh arahan; tidak open book, Googling apalagi. Diskusi tidak boleh, saling taawun juga haram. Haha. Tugas lebih sejam itu akhirnya selesai. Di penghujung waktu yang habispun masih ada yang belum siap mengumpulkan. "Duh dik, kalian seolah sedang mengajarkan, nanti begitulah Zi kalo maut menjemput, tak ada penambahan atau pengurangan waktu. Tidak nego, bahkan tak bisa ralat amal. Kalo waktu habis, ya habis. Jadi beramallah yang benar. Ontime dalam bersegera."
Ngecek lembaran satu-persatu. Terbaca pesan-pesan unik. Dua lembar yang ku beri ke masing-masing diri, masih ada yang tidak terisi. Ada yang mengakhiri dengan emot dan istighfar, ungkapan cinta, bahkan penyesalan yang memintaku bersabar. Macam-macam. Yang sedikit membuat hati tergesek, jawaban yang ku telusuri masih jauh dari harapan yang seharusnya. Seolah ada Shiroh baru di zamannya Nabi. Misalnya begini, "Pemboikotan itu ya pemberian makan, diperbolehkan makan, pembagian makanan gratis di rumah Khadijah, hingga Rosul menikah dengan banyak wanita dari kaum Quraisy." Ini kan? Ckck
Ada lagi yang menuliskan; "Dakwah sirriyah itu historisnya begini kak, masuk Islamnya Umar bin Khattab, asbabun Nuzul turunnya surat Al Lahab, hingga Dakwah fardiyahnya Rosul terhadap paman-pamannya, termasuk abu Jahal."_ Nah nah, ini ngawur pisan. Tapi aku tersenyum sendiri jadinya. Bagaimana tidak, setiap ujung kalimat, selalu disusul dengan kosa kata interaktif, ada yang masih bertanya; _benar ga ya kak?, CMIIW, kalo ga salah, astaghfirullah, duh parah, dll."
Ada pula yang berkisah, tentang pengangkatan Rosul seperti dongeng sebelum tidur. Tentang masa kecilnya hingga di gua Hira. Masa Rosul jatuh cinta dengan Aisyah hingga menikah. Manis. Tapi jauh dari referensi, dik. Huft-_-!
Lembaran demi lembaran kubaca ulang setibanya di kosan. Dan maasyaa Allahnya memang, apa yang ku sampaikan selama ini belum terlihat dan tertulis di sana dari mayoritas mereka. Di kertas itu. Pahit sih, seperti menelan sekilo pare yang dibeli ke abang-abang Somay. Haha. Tapi mau bagaimana lagi. Setidaknya ada hal yang harus diluaskan, kesabaran namanya. Pemakluman akhirnya. Kalau begini teringat pesan bunda; "Yang manis jangan langsung ditelan. Yang pahit jangan langsung dibuang".
Terkadang kita, ingin orang lain segera tumbuh dengan kadar waktu yang cepat. Padahal bisa jadi, tumbuhnya hanya karena pestisida paksaan semata yang karena tak ingin kita kecewa. Sisi lainnya, ada yang memang menyegerakan tumbuh dan matang mendewasa, tapi barangkali karena faktor karbitan semata. Akhirnya merekalah yang terluka.
Terkadang kita, terlalu berharap lebih progress orang lain. Dengan dalil yang klasik versi kita, memaksakan kehendak diri atas orang lain. Atau kita sampaikan ketegasan yang menjadikan mereka seolah tersangka dan terdakwah. Bisa jadi memang, niat di hati adalah karena Allah. Tapi mereka yang berjiwa lembut, tidak biasa beradaptasi akhirnya sulit menerima. Maka sadarlah, mungkin rasa cinta yang model begini yang membatasi kapasitas orang lain. Maybe.
Akhirnya merenung-renunglah aku, "apakah Shiroh Rosul serumit ini?" Hingga di akhir kalimat seorang adik manis berpesan;
"Aku mau belajar lebih kak. Bimbing aku." Ketika buka handpone pun beberapa pesan permohonan maaf terlayangkan. Yang bikin hati sejuk ketika seorang adik menuliskan; "Sepertinya Shiroh ini mengajarkan, bahwa akupun ujian kak, untukmu selaku murabbiku." Tulisnya. "Bukan hanya kamu, dik. Akupun ujian buatmu, jadi memang kita tak hanya sedang belajar Shiroh terdahulu, sekarangpun sedang menyejarahkan Shiroh baru. Bersabarlah".
Malam 1 Maret 2017,
PEKA #1
Saat yang lain tersenyum puas menakbirkan hamdalah, hanya ada satu jiwa yang terkoyak lesu bersahaja. Tangisnya menggugu isak tersuarakan, bahunya berguncang seolah ada beban yang ingin disampaikan. Semua mata beralih padanya melayangkan tanya. "Ada apa? Bukankah harusnya berbesar hati, merayakan bahagia atas pesan Allah di surat AnNashr ini?. Ada apa? Tidakkah kau bahagia? Kenapa berduka di saat yang lain bersuka cita?" Tanya mereka, para sahabat terkasihnya.
"Bagaimana mungkin kan bahagia, bagaimana bisa menggembirakan rasa. Bukankah pesan itu, isyarat tanda bahwa sang Rosul selesai beban dakwahnya membersamai kita? Bukankah Wahyu kan segera terhenti? Bukankah Rosul kan segera menghadap Illahi dalam waktu dekat?" Jawabnya sembari mengusap bening merayap hebat.
Semua sahabat melangitkan mendung dalam hati. Dan dialah Abu Bakar. Yang karena bashirohnya semua tersadar. Ya, Sang kekasih akan segera pergi. Jauuuh, jauh sekali. Terbatasi fisik dan indera. Terhalang jarak dan segalanya. Tawa dan sumringah berubah jadi pilu. Kelu. Tak tersampaikan lewat kata, menangislah akhirnya semua jiwa. Dialah Abu Bakar radhiallahu anhu. Yang Paling peka perasaannya atas Nabi. Yang paling setia membersamai Nabi. Yang paling tahu perih dan hal Nabi. . Andai bumi dan seisinya ditakar perkara setia dan cinta, niscaya dialah yang paling yang berat timbangannya. Begitu kata Nabi. maka tak heran jika Nabi mencintainya di atas lebih, hingga banyak hati hati mengulum lirih, andai aku bisa mengunggulinya.
Maka kitapun merindukannya, merindukan insan-insan yang mengikuti jejaknya.
Sabtu, 04 Maret 2017
Jangan dipaksakan
Akan menjadi luka jika harap sehatmu di tangan manusia, sekalipun kau mencintainya
Akan menjadi kecewa, manakala penawar dari manusia menambah luka lama yang serupa
Bukankah dulu kau pernah patah dengan drama yang sama?
Bukankah dulu kau pernah terhempas dengan skenario ukhuwah yang tak beda?
Bukankah dulu, pernah hadir sesosok yang sepertinya lalu kau terluka karena perginya?
Bukankah dulu kau berjanji, tak tergesa membuka lembaran ukhuwah yang istimewa?
Jadi mengertilah, terlalu sempurna menginginkan persaudaran seperti Harun dan Musa
Terlalu tak pantas menginginkan saudarimu berperan ukhuwah bak Abu Bakar dan Muhammad
Karena sejatinya, mengharap lebih kepada saudarimu hanya menambah luka dalam iman sendiri
Membuat sakit bertambah parah manakala yang dicintai tak menngerti bagaimana menyabarimu..
Jangan dipaksakan, mulailah melepaskan tanpa harus melukai yang tak terpertahankan..
Kamis, 23 Februari 2017
Skenario Kemarin
Dan pesan via WhatsApp darinya bertubi-tubi. Karena fokusku semalam di beberapa grup dan japrian beserta rapat yang dadakan, kuurungkan diri untuk segera menanggapi. Mengulur waktu hingga urusanku terhadap yang lainnya terselesaikan dengan rapi. Ah, tapi sebenarnya tidak seperti biasanya. Segala obrolan yang berawal darinya, biasanya pasti kususul dengan balasan yang segera.

Sehingga tak jarang, perbincangan dengannya mencair tanpa sekat, dekat dan bersahabat. Ini yang sering membuatku sering menelan rindu hingga candu. Meski tak pernah lisanku mengaku, ada jeda dan ruang khusus yang menjadikan rindu beradu meski dari jarak jauh. Selalu ada ungkapan penyejuk hati darinya meski tanpa temu. Tepat saat hati tersusupi rindu terbungkus gengsi dan ke-jaim-an yang mengakar dari dulu. Dan tak mengelak, kubatin kepercayaan yang lekat; doa yang ditanam diam-diam ada peng-aminan dari Malaikat.
Kemarin, seperti biasa. Kebiasaannya yang tak asing bagiku. Selalu menghampiri dengan pendekatan yang berbeda dengan saudari lainnya. Ia sodorkan sebungkus plastik berukuran mini. Di dalamnya ada dua ekor ikan cupang kecil. Berkali-kali kutolak, paksaan darinya tidak membuatku terenyuh. Bahkan, beberapa menit terjadi tarik menarik ketika aku beranjak pergi. Ah, maksudku hanya ingin menakar sekuat apa ia tangguh dengan penolakanku.
Sepertinya seru jika mendapatinya tak terbawa rasa karena luka. Ada banyak pasangan mata yang menyaksikan. Tentu, di antara mata-mata itu ada yang harus meredam cemburu. Tapi akhirnya ia luka. Tersirat dalam kalimat japriannya.
Malam ini pun aku menerima pesan protes itu; dari 22 saudari, dari mereka yang cemburu. Tak terima. Begitu ungkap mereka. Karena perlakuanku terhadapnya selalu berbeda. Hingga yang cemburu berpesan; ingin pula dicintai sebagaimana aku mencintai dia yang selalu mendapatkan perhatian dalam jumlah di atas ala kadarnya. Melebihi dekat yang semestinya. Ah, cemburu memang bukan masalah baru. Tapi aku punya alasan kenapa bersikap begitu.
Sejujurnya, aku selalu senang dengan caranya mendekati. Caranya bertahan. Atau caranya dalam membersamaiku. Karena memang, tak banyak yang bertahan dalam menyabariku. Banyak yang berguguran pada akhirnya, seperti yang lalu-lalu. Karena memang, perihal kedekatan dan kenyamanan hati, aku adalah seorang yang selalu selektif dalam memilih. Bisa disebut perfeksionis paling akut.
Hanya yang benar-benar sesuai standarisasilah yang akan menjadi orang terdekatku, setelah kuuji dengan kasat mata bagi yang merasa. Entahlah, terkadang kunamai ini penyakit terparahku selain stadium yang menghinggapi setahun belakangan. Tapi ini bukan sombong yang menyakitkan di hati. Hanya takaran versi penyeleksian seperti para ulama dan tabi'in tabi'at. Aku terobsesi membentuk ukhuwah seperti Nabi terkhusus bersama Abu Bakar.
Kisah dengannya, bisa disebut ukhuwah seumur jagung. Belum berbilang tahun.
Tapi yang menjadikan beda adalah seolah aku telah menemukannya di beberapa tahun belakangan.
Seolah aku menemukan sosok yang memang kucari. Seakan tersampaikan; dia seperti bagian dari diriku yang kurang lengkap. Entah bagian yang mana. Barangkali, Allah sedang mengajarkanku tentang reaktif dan membuang jauh kecuekkan dalam berukhuwah. Membiasakan romantis yang mengeratkan muamalah terhadap sesama. Sama seperti romantisnya Rosul dan para sahabat.
Saat menangis bahkan tertawa. Allah sedang mentarbiyahku terhadap mozaik di atas.
Semalam pesan yang kucerna sebagai prolog pembahasan perkara ukhuwah adalah jangan memperlakukan orang lain seperti aku memperlakukannya. Pesan itu singkat memang. Sedikit sukses menjadikan ubun-ubunku kambuh berdenyut. Membuatku ingin membela diri, namun akhirnya menyederhanakan yang kupilih. Ya. Mungkin karena syaraf di otakku terlanjur bereaksi, jadilah semua pesan darinya yang berujung minta dimaafkan kuabaikan.
Statement sebelum akhiran, ia bertanya; Kazi udah gamau lagi ya berukhuwah sama aku? Disusul emoticon yang tak bisa ku tebak apakah sesuai dengan isi hatinya. Kemudian kupinta jangan memikirkan hal yang ia tanyakan. Lalu dibalas olehnya; Aku perlunya iya atau tidak?.
Tak bergeming. Kalimatnya mengajakku memaknai ukhuwah yang sebenarnya. Apakah sesederhana itu menjawab ya atau tidaknya. Bukankah dengan menjawab "tidak" akan berefek pada teguran sang Nabi, tidak akan masuk surga orang-orang yang memutuskan tali silaturahmi." Dalam ukhuwah bukankah ada tali yang harus disambung. Berukhuwah artinya bersilaturahim. Merajut kasih, menyambung sayang. Atau bagaimana dengan jawaban "ya?". Bukankah ini adalah jawaban yang harusnya retoris buatnya? Tak perlu kujawab namun harusnya ada kesan yang terasa di imannya. Atau barangkali, rasa ukhuwah dengan caraku memang tak ada kesan dan rasanya, bahkan hanya menuai kecurigaan; apakah serius atau tidak dalam menyayanginya?. Ah, yang karena Allah memang selalu dituntut untuk jeli dan sesuai standarisasi nabi. Berat? Begitulah ukhuwah yang seharusnya. Bukan ringan dalam kata-kata semata. Ada tuntutan di dalamnya.
Rasanya terlalu egois saat memintanya bersabar dan bertahan untuk tetap membersamaiku dengan segala perlakuan yang jauh dari penunaian hak ukhuwah. Dengan caraku mencintainya seperti mencintai diriku sendiri dengan ketidakpedulian, ketegasan bukankah itu menyakitkan buatnya?. Mungkin lambat laun diapun akan menyerah. Sementara aku, telah memasang ikhlas melepasnya jika memang saatnya. Menitipkannya pada ukhuwah yang menjaganya dari luka. Menjadikannya tumbuh dan berkah dalam dakwah.
Rasanya terlalu cepat untuk kuakui, bahwa memang saudari seperti dia yang menjadikan umur rasa sakit stadiumku sedikit pulih.
Rasanya terlalu egois, saat kuharap darinya agar bisa mengerti perihal suka dan tak sukaku, saat sedih dan gembiraku tanpa kuberitahu.
Bersamanya seolah diri dicintai lebih. Peka yang ia tak mengerti apa maknanya, sesungguhnya sedang terealisasi. Lewat aksinya yang menjadikan hati bergumam lirih dan berterima kasih.
Pernah, saat tembok tidak nyaman untuk aku bersandar, ia memilih bergeser dan memberi tempatnya untuk kududuki. Sikapnya membuktikan itsar demi kenyamananku.
Pernah, aku terharu membatin doa, saat di sebuah agenda, tiba-tiba disuguhkannya secangkir teh, tepat saat _maagh_ku kambuh dan tak ada yang tahu dalam jiwa aku mengeluh tak berdaya. Surprise. Allah selalu menghantarkan kebaikan melalui tangan tulusnya.
Pernah, ia meminta agar sakitku dilimpahkan kepadanya. Bukankah ini seperti pesan nabi, Saat yang lain sakit, bagian yang lain merasa ikut sakit.?
Pernah, ia meminta agar aku pindah ke rumahnya. Tidak perlu tinggal di sepetak kosan.
Bukankah ini seperti kisah Utsman dan kaum Anshar?
Pernah ia sering mengakui, bahwa selalu mencari-cari kehadiranku di sebuah agenda manakala tak terlihat aku berada di sana. Menanyai kabarku, memastikan aku baik-baik saja. Hingga berpesan agar rehat.
Paling berkesan di antara semua yang tak tersebut adalah aku selalu suka dengan paksaannya. Seperti pesan seorang Murabbi; "Saudari yang memaksamu hingga kau terpaksa mengikuti paksaannya selama itu kebaikan adalah saudari yang harus kau syukuri keberadaannya. Karena sebenarnya, caranya memaksa adalah bukti ia menyayangimu dengan tulus." Dan aku memang selalu menyukai orang-orang tulus.
Aku selalu berprinsip. Ukhuwah itu tersebab dari ikhtiar dalam memperjuangkannya. Agaknya bohong jika tanpa perjuangan akan terbentuk kedekatan. Jika pada akhirnya kedekatan dengannya semakin dekat, akan kuakui, dialah yang disebut pejuang ukhuwah dalam hal ini. Sehingga seringnya, aku hanya sebagai pelengkap dalam skenarioNya.
Jika pada akhirnya babak ukhuwah harus berakhir sebelum sampai hingga Jannah, semoga kebersamaan yang pernah ada tak menjadikan kaku dalam muamalah di kemudian hari.
KarenaNya, kuakui pula satu hal:
Akupun mencintaimu dik, karena Allah. 'Abadan 'abadaa. Meski kau sering egois dalam robithohku, wajah dan namamu selalu berlarian ke arahku mengalahkan nama dan wajah saudari lainnya. Tetap saja, Allahlah yang paling mengikat kita seperti katamu.
****
*Tulisan ini ditulis akan berefek pada beberapa kemungkinan setelahnya;
1. Ukhuwah makin akrab
2. Ukhuwah sederhana seperti kebanyakan. Berjalan seperti biasa pada umumnya, tanpa kekhususan.
24 Febr 2017, Jumat
Anw, hanya iman karena Allah yang bisa mengakrabkan.
Minggu, 19 Februari 2017
Bagiku,
![]() |
Begini,
Kamu adalah himpunan X dan Y yang jika digabung menjadi persamaan kuadrat yang berakar. Beranak pinak menjadi kebaikan, sederet dengan kosakata latin dari dulu-dulu; sisi kali sisi, kubus dengan kubus, seruang, sama tegak, meski kadang bersudut karena tak sama rasa dan tinggi, yang hanya berhadapan kokoh dengan keimanan.
Kamu adalah himpunan X dan Y yang jika digabung menjadi persamaan kuadrat yang berakar. Beranak pinak menjadi kebaikan, sederet dengan kosakata latin dari dulu-dulu; sisi kali sisi, kubus dengan kubus, seruang, sama tegak, meski kadang bersudut karena tak sama rasa dan tinggi, yang hanya berhadapan kokoh dengan keimanan.
Sehingga, liniernya jadi kesimpulan mutlak atas premis-premis khusus; Ukhuwah Islamiyah.
Iya. Kamu begitu di mataku.
Sehingga, capek tidaknya, Tak perlu kau tanya, sejauh apa untuk bertahan bersamamu di sepetak amanah yang kita jejaki. Sepanjang apa kesabaran yang ingin kubentangkan.
Karena akhirnya, Cinta dan kesetiaanmulah yang memapah rasa pecundangku saat ingin berpaling..
#Tsahaha
Hi !
Autumn in November
Aku membaginya menjadi 4 Musim
Tentu mengikuti skenario yang tertakdir dariMu.
Musim ke dua,
Musim ketiga,
Tersadar.
Tentu mengikuti skenario yang tertakdir dariMu.
Tak jauh beda pada November sebelumnya yang kau takdirkan untukku.
Musim pertama,
Musim pertama,
Kau ikat hatiku dengan pekan-pekan bernuansa CINTA seperti yang ku tulis untuk penamaannya.
Banyak orderan sayang dan reaksi cinta yang terbalas dari mereka, hamba-hambaMu.
Banyak orderan sayang dan reaksi cinta yang terbalas dari mereka, hamba-hambaMu.
Manis. Menghujam ke dada. Ucapan hingga tindakan.
Agaknya Engkau paling tahu; Bahwa aku terlalu gengsi menebar cinta sana-sini.
Musim ke dua,
Kunamai ia petualangan dan berjuang ala aku.
Nekad sedikit dan mencoba lari dari zona biasaku; Ranah yang membawaku pada aturan-aturan, dan koridor berkorban untuk orang-orang. Banting setir.
Kurubah haluan, terbang lebih tinggi dan mengejar mimpi seperti obsesiku.
Surprise. Di sana tertulis nilai ikhtiarku: Finlandia, LULUS!.
Musim ketiga,
Adalah DITOLAK kunamai ia.
Berlusin-lusin rakaat dan beribu bait doa, tetap saja.
Ditolak dengan kata-kata dan sikap lebih menyayat pada akhirnya.
Tsiqohlah, titahnya. Ikhlaslah, pesannya.
Tak direstui bahkan tak diberi ridho.
Tak direstui bahkan tak diberi ridho.
Allah, sesaknya tidak meneteskan bulir bening.
Tapi darah. Tertekan dan kecewa, ada.
Tapi lagi-lagi, dakwah selalu menghibur.
Toh, aku memang musafir.
Musafir yang sedang belajar menggenggam dunia di tanganku, bukan di hatiku,
Dulu hingga sekarang, dalam kondisi begini aku paling suka mendiamkan dan meredam.
Dulu hingga sekarang, dalam kondisi begini aku paling suka mendiamkan dan meredam.
Kunamai ia musim Katarsis. Begitu di pekan ke Empat kujalani.
Diterapi dengan rentetan Hijaiyah yang bersambung-sambung dalam diksi paling sempurna: tilawah.
Ternyata tak cukup, adalagi yang harus diperjuangkan: ikhlas namanya.
Ternyata tak cukup, adalagi yang harus diperjuangkan: ikhlas namanya.
Pekan penjemputan yang dadakan: Kullu nafsin dzaaiqotul maut.
Yang kucintaipun, tempatku paling rela membuka diri, Kau panggil Ia.
Agaknya, Kau hanya meninggalkan diriMu saja untukku berkesah..
Tersadar.
Segala apa-apa yang bukan milikku, memang bukan milikku, meski sedaya upaya aku memperjuangkannya.
Maka di sinilah letak halawatul iman itu paling besar peranannya; bersabar dalam uji..
Katarsis :')
![]() |
Aku pernah katakan pada-Mu
Aku terluka.
Aku terluka atas ujian-Mu
Karena bagiku, ujian ini tidak hanya melukaiku
Tapi mereka juga, yang terlalu mengharapku.
Mengharap agar aku mencintai dengan sepenuh hati;
Aku terluka atas ujian-Mu
Karena bagiku, ujian ini tidak hanya melukaiku
Tapi mereka juga, yang terlalu mengharapku.
Mengharap agar aku mencintai dengan sepenuh hati;
Apa-apa yang tak pernah terlintas di hatiku untuk menaruh cinta.
Pernah pula kukatakan padaMu, bolehkah akhiri saja rasa nyeri ini?
Aku manusia-Mu ya Rabb.
Maka sangat manusiawi aku merasa terluka atas takdir-Mu yang sulit ini
Tapi aku tak pernah marah pada-Mu
Tidak pernah!
Aku tak pernah berpikir akan membenci-Mu
Engkau tahu sampai detik aku menghadap-Mu
Masih mengharap-Mu,Ya Rabbku
Mencoba menumpahkan segala harap, takut, dan cinta hanya pada-Mu
Maka sangat manusiawi aku merasa terluka atas takdir-Mu yang sulit ini
Tapi aku tak pernah marah pada-Mu
Tidak pernah!
Aku tak pernah berpikir akan membenci-Mu
Engkau tahu sampai detik aku menghadap-Mu
Masih mengharap-Mu,Ya Rabbku
Mencoba menumpahkan segala harap, takut, dan cinta hanya pada-Mu
Bukan aku tak memahami bahwa semua itu pasti baik untukku dan untuk mereka
Bukan karena aku tidak terima goresan cerita dari-Mu
Aku hanya sedang bercerita
Tentang aku,
yang hanyalah manusia-Mu
yang sangat manusiawi bercerita pada-Mu tentang kesulitanku
yang sangat manusiawi mengeluhkan lukaku
Allah-ku, aku telah bercerita pada-Mu.
Tentang aku,
yang hanyalah manusia-Mu
yang sangat manusiawi bercerita pada-Mu tentang kesulitanku
yang sangat manusiawi mengeluhkan lukaku
Allah-ku, aku telah bercerita pada-Mu.
"Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu,
Yaa Rabbku.."
(Maryam:4)
Aku kan mencintaimu. Tahu tidak?
![]() |
Aku hanya butuh berbijak rasa, menanam ribuan hektar ladang Semangka.
Kemudian pesta panen sendirian tanpa butuh disapa.
Tak perlu menemaniku dengan triliyun retorika, toh begini caraku memulihkan luka.
Tentu saja setelah merayu sang Maha
Menuntaskan pengaduan dari sujud ke sujud.
Melemah ngarai air mata dari tengadah ke tengadah yang tak bisa tumpah.
Maaf bukan terlalu keras melembutkan hati hingga basah.
Kau kira ini pelampiasan?Bisa jadi.
Tapi bagaimanapun, kami titipkan penjagaanmu pada Allah.
Jika kau hilang arah, kembalilah.
Kami mendekapmu dalam doa, dipapah dalam sepi, dirangkul dalam obsesi;
Masih mengharapmu kembali.
Jika sungkan, ada kereta ukhuwah yang parkir di gerbang Robithoh dengan sedia.
Maka berkabarlah, karena kau saudara kandung dalam dakwah:"
Ontime!
Belajar dari berbagai peristiwa, orang, bahkan seluruh perangkat yang diciptakan Allah di muka bumi ini, sudahlah menjadi keharusan. Bukankah Allah sudah pesankan tentang perumpamaan-perumpamaan yang diserakkanNya di bumi ini? Dan siapakah yang dapat mengambil hikmah? Tentu saja mereka yang dianugrahiNya pemikiran yang tidak pasif. “Afalaaya’kiluun? Apakah kamu tidak berfikir? Begitu tanyaNya. Seharusnya pertanyaan itu menjadi hentakan yang menyebabkan bangun, bukan lelap.Tamparan atas kezholiman yang kadang-kadang membiasa dan memanis.
Plak!
Rasanya pasti sakit jika tertampar, apalagi jika tamparan itu begitu keras. Tapi ada hal yang patut disyukuri atas tamparan dan rasa sakit tersebut. Setidaknya, rasa sakit itu mengindikasikan bahwa sel neuron sakit kita masih berfungsi baik memberi sinyal; ada anggota tubuh kita yang sedang sakit dan perlu segera diatasi untuk disembuhkan.
Seperti hari ini, niatku yang menyengaja tidak ontime sebuah acara terwujud rapi. Alasannya (rasional menurutku, dan kalaupun terlambat ada kemungkinan dimaklumi) bahwa aku bosan menjadi seorang “penunggu” orang2 telat dan agenda ini dadakan kuterima infonya.
Plak!
Rasanya pasti sakit jika tertampar, apalagi jika tamparan itu begitu keras. Tapi ada hal yang patut disyukuri atas tamparan dan rasa sakit tersebut. Setidaknya, rasa sakit itu mengindikasikan bahwa sel neuron sakit kita masih berfungsi baik memberi sinyal; ada anggota tubuh kita yang sedang sakit dan perlu segera diatasi untuk disembuhkan.
Seperti hari ini, niatku yang menyengaja tidak ontime sebuah acara terwujud rapi. Alasannya (rasional menurutku, dan kalaupun terlambat ada kemungkinan dimaklumi) bahwa aku bosan menjadi seorang “penunggu” orang2 telat dan agenda ini dadakan kuterima infonya.
Langsung saja teguran itu memanah hatiku.
Tepat sasaran. Berdenyut ke ubun-ubun.
Malu. Sungguh memalukan.
Menjadi golongan orang2 yang datang “terlambat”.
“Apakah sudah langka muslim di jagat ini yang bias dijadikan teladan terkait waktu?! Atau memang sudah tidak ada?! ”Ana heran. “Ana heran dengan ikhwah zaman sekarang. Apakah antum hanya menjadi pejuang yang datang dengan tergopoh-gopoh setelah saudaranya sekarat menantinya? Afwan akh, afwan ukh, ana otw. Acaranya sudah mulai belum ya? “begitukan kebanyakan ikhwah zaman sekarang? Antum Murabbi akh, ukh. Profil Murabbi seperti apa yang sedang antum sandang?! Zholim antum akh, zhalim antum ukh !”.
Jleb! Kalimat itu menohok relung jiwaku. Seperti terhempas dari bangunan tingkat tinggi.
Zholim. Astaghfirullah aku termasuk kategori zholim tersengaja. Tak diragukan kehinaannya.
Belajar dari rasa “menzholimi”. Sungguh, betapa diri kita masih harus dididik dengan keras agar lebih bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik.
“Apakah sudah langka muslim di jagat ini yang bias dijadikan teladan terkait waktu?! Atau memang sudah tidak ada?! ”Ana heran. “Ana heran dengan ikhwah zaman sekarang. Apakah antum hanya menjadi pejuang yang datang dengan tergopoh-gopoh setelah saudaranya sekarat menantinya? Afwan akh, afwan ukh, ana otw. Acaranya sudah mulai belum ya? “begitukan kebanyakan ikhwah zaman sekarang? Antum Murabbi akh, ukh. Profil Murabbi seperti apa yang sedang antum sandang?! Zholim antum akh, zhalim antum ukh !”.
Jleb! Kalimat itu menohok relung jiwaku. Seperti terhempas dari bangunan tingkat tinggi.
Zholim. Astaghfirullah aku termasuk kategori zholim tersengaja. Tak diragukan kehinaannya.
Belajar dari rasa “menzholimi”. Sungguh, betapa diri kita masih harus dididik dengan keras agar lebih bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik.
Apapun alasannya, telat tetaplah telat, yang itu berarti: telah mendzolimi saudaranya yang hadir lebih tepat waktu. kecuali syar'i kendalanya. Masya Allah, betapa kadang-kadang “keteladan” itu penting untuk sering disuarakan dan bahkan berazzam untuk konsisten ditampilkan.
Banyak cara, hanya saja alasan kita masalah waktu terlalu klasik.
Menyesal. Tiba-tiba kusesali kesengajaaku, astaghfirullah. Padahal dulu pernah menjadi golongan orang2 yang hadir tepat waktu seperti mereka-mereka yang beruntung hari ini.
Kagum. Aku memang selalu kagum kepada orang-orang yang ontime selain orang-orang dermawan.
Bercermin. Karena setidaknya dengan kewarasan aku menyadari bahwa waktu yang diamanahkan banyak cacatnya olehku. Orang, seperti apapun kepribadiannya secara samar dan terang-terangan memang selalu jadi cermin. Itu fitrah.
Menyesal. Tiba-tiba kusesali kesengajaaku, astaghfirullah. Padahal dulu pernah menjadi golongan orang2 yang hadir tepat waktu seperti mereka-mereka yang beruntung hari ini.
Kagum. Aku memang selalu kagum kepada orang-orang yang ontime selain orang-orang dermawan.
Bercermin. Karena setidaknya dengan kewarasan aku menyadari bahwa waktu yang diamanahkan banyak cacatnya olehku. Orang, seperti apapun kepribadiannya secara samar dan terang-terangan memang selalu jadi cermin. Itu fitrah.
Melihat seseorang yang banyak hafalannya, kita mungkin ingat dengan hafalan kita yang minimalis. Melihat seorang saudari dengan gaya kedermawanannya, kitapun mungkin langsung ingat dengan kebakhilan kita.
Melihat orang yang tepat waktu,seperti mereka yang hadir di acara kali ini otakkupun langsung mikir. Kenapa dia bisa?!. Akupun mencurigai diriku dan manajemen waktu yang kupunya.
Kusesali keberantakannya. Begitulah mungkin kekuatan “keimanan” menyampaikan aura mereka padaku maupun orang lain yang seperti kata Nabi SAW, “seseorang yang ketika orang lain melihatnya, akan mengingatkan pada Allah”. Terpana. Dan kira-kira kalau melihatku, orang bawaannya ingat apa ya…? –__–!
Mungkin perlu menangisi kezholiman kita yang kalau dihitung2 ternyata penzholiman terkait waktu sudah sejak dahulu ‘membiasanya’. Mumpung masih di dunia; tempat yang insyaa Allah masih diterimanya taubat. Sensasi menangis ini bukan hanya milik mereka yang konon melankolis. Siapapun, yang kalau Allah telah takdirkan hatinya untuk tersentuh, merasa, tergugah, Maka ia kan menitiskan lembaran-lembaran bening itu atas kesalahannya, kealpaannya.
Karena setidaknya, menangis dan menyesali itu mengindikasikan hati kecilnya masih berfungsi baik untuk jujur mengenali mana yang perlu dikoreksi atas dirinya. Mana ‘sakit jiwa’ yang perlu tindakan penyembuhan segera. Kan repot kalau suatu waktu tabiat ke tidak tepat-an kita terhadap masalah waktu beregenerasi. Diam-diam ditiru.
SerambiMekkah,
#EdisiKampusMurabbiSetengahHari
Mungkin perlu menangisi kezholiman kita yang kalau dihitung2 ternyata penzholiman terkait waktu sudah sejak dahulu ‘membiasanya’. Mumpung masih di dunia; tempat yang insyaa Allah masih diterimanya taubat. Sensasi menangis ini bukan hanya milik mereka yang konon melankolis. Siapapun, yang kalau Allah telah takdirkan hatinya untuk tersentuh, merasa, tergugah, Maka ia kan menitiskan lembaran-lembaran bening itu atas kesalahannya, kealpaannya.
Karena setidaknya, menangis dan menyesali itu mengindikasikan hati kecilnya masih berfungsi baik untuk jujur mengenali mana yang perlu dikoreksi atas dirinya. Mana ‘sakit jiwa’ yang perlu tindakan penyembuhan segera. Kan repot kalau suatu waktu tabiat ke tidak tepat-an kita terhadap masalah waktu beregenerasi. Diam-diam ditiru.
SerambiMekkah,
#EdisiKampusMurabbiSetengahHari
#TemuKangenParaMurabbi
Maka,
Menyederhanakan dan Memaklumi
Artinya, berhati samudera untuk setiap perlakuan yang dirasa menyakiti.
Artinya, berhati samudera untuk setiap perlakuan yang dirasa menyakiti.
Maka sederhanakanlah.
Artinya, berlapang dada untuk perlakuan khilaf yang disengaja.
Artinya, berlapang dada untuk perlakuan khilaf yang disengaja.
Maka maklumilah.
Terimakasih atas kehadiran yang menyegarkan iman.
Terimakasih untuk keterlambatan yang beradab.
Terimakasih, untuk ketidakhadiran dengan tanpa kabar yang mengajarkan kesabaran dan keluasan maaf.
Terimakasih atas kehadiran yang menyegarkan iman.
Terimakasih untuk keterlambatan yang beradab.
Terimakasih, untuk ketidakhadiran dengan tanpa kabar yang mengajarkan kesabaran dan keluasan maaf.
Perbanyaklah istighfar supaya terampuni kesengajaan..
Arah(an) PULANG
Ini kali kedua aku lewati jalan ini. Yang pertama? Ya saat berangkat tadi. Sampai pertigaan besar aku bingung. Ini harusnya belok kanan apa kiri. Sedangkan derasnya hujan menghalau ingatan. Padahal biasanya aku punya daya navigasi yang bagus kalau jalan sendirian. Apalagi sekedar menghafal jalan pulang.
Dua lelaki duduk di emperan toko sebelah kiriku. Salah satunya seperti menangkap bingungku yang memaku di tepian, lantas memberi isyarat pada temannya semacam “Hei lihat. Sepertinya orang itu bingung.” Memang iya aku bingung, lantas kutanya kemana arah jalan pulangku. “O, kesana mba. Sanaa teruuus.” Bersahutan mereka menjawab sambil memberi isyarat belok kanan. Oke, motor hadiah dari Ayah melaju lagi.
Jalanan naik turun khas pegunungan. Kadang bingung ini tanah atau aspal. Oh ternyata aspal yang tercover genangan air kecoklatan serupa warna tanah. Semakin suram dan seram dengan kilatan petir serta dentuman guruh di langit.
Sepi. Kebanyakan area persawahan. Hanya sesekali ada kendaraan dari arah berlawanan. Ada dua orang pejalan kaki yang kutemui di jalan yang sepi. Satu, bapak yang berjalan sambil ‘nyunggi kawul’ (bahasa Indonesia yang pas apa ya). Mungkin untuk pakan ternaknya. Dua, bapak tua yang berjalan sambil membawa arit (sabit). Keduanya sama, berjalan santai dan pelan, tidak terburu. Seperti menikmati langkahnya yang basah.
Perjalanan terasa berat. Hujan benar-benar deraaasss. Tetes-tetesnya di wajah seperti menusuk-nusuk. Anggap saja refleksi wajah ya. Hari mulai gelap, mata minus dan silinder dipadankan dengan lensa yang terus buram diguyur hujan. Remang-remang pandangan. Belum lagi sorot lampu kendaraan yang berpapasan menambah keburaman yang serius dalam sekian detik. Silaunya memaksa mengurangi kecepatan. Komplit sudah.
Bingung sungguh bingung. Mana masih jauh, sekitar 10 kilometer. Apalagi si bocah di dalam lindungan jas hujan mulai gusar. Kedinginan. Karena meskipun pakai jas hujan kami tetap kebasahan. Kuhibur dia dengan lafal surat Luqman, surat yang dia hafal. Meski tidak mau meniru, lumayan dia dengar. Barangkali bisa sedikit menenangkan.
Tetiba terlintas ingatan bahwa bocah ini bocah pejuang. Dia menemaniku (kami; 5 bersaudara) di masa-masa perjuangan di awal rumah tanpa ayah dan bunda. Masa-masa keemasan tumbuh kembangnya, masa pra sekolah hingga bersekolah. Masa mengenalkan padanya alfabeta hingga makna abjad dan Hijaiyah. Masa mengenalkan padanya bermuamalah dengan tetangga.
Dek, sehat ya.
Dua lelaki duduk di emperan toko sebelah kiriku. Salah satunya seperti menangkap bingungku yang memaku di tepian, lantas memberi isyarat pada temannya semacam “Hei lihat. Sepertinya orang itu bingung.” Memang iya aku bingung, lantas kutanya kemana arah jalan pulangku. “O, kesana mba. Sanaa teruuus.” Bersahutan mereka menjawab sambil memberi isyarat belok kanan. Oke, motor hadiah dari Ayah melaju lagi.
Jalanan naik turun khas pegunungan. Kadang bingung ini tanah atau aspal. Oh ternyata aspal yang tercover genangan air kecoklatan serupa warna tanah. Semakin suram dan seram dengan kilatan petir serta dentuman guruh di langit.
Sepi. Kebanyakan area persawahan. Hanya sesekali ada kendaraan dari arah berlawanan. Ada dua orang pejalan kaki yang kutemui di jalan yang sepi. Satu, bapak yang berjalan sambil ‘nyunggi kawul’ (bahasa Indonesia yang pas apa ya). Mungkin untuk pakan ternaknya. Dua, bapak tua yang berjalan sambil membawa arit (sabit). Keduanya sama, berjalan santai dan pelan, tidak terburu. Seperti menikmati langkahnya yang basah.
Perjalanan terasa berat. Hujan benar-benar deraaasss. Tetes-tetesnya di wajah seperti menusuk-nusuk. Anggap saja refleksi wajah ya. Hari mulai gelap, mata minus dan silinder dipadankan dengan lensa yang terus buram diguyur hujan. Remang-remang pandangan. Belum lagi sorot lampu kendaraan yang berpapasan menambah keburaman yang serius dalam sekian detik. Silaunya memaksa mengurangi kecepatan. Komplit sudah.
Bingung sungguh bingung. Mana masih jauh, sekitar 10 kilometer. Apalagi si bocah di dalam lindungan jas hujan mulai gusar. Kedinginan. Karena meskipun pakai jas hujan kami tetap kebasahan. Kuhibur dia dengan lafal surat Luqman, surat yang dia hafal. Meski tidak mau meniru, lumayan dia dengar. Barangkali bisa sedikit menenangkan.
Tetiba terlintas ingatan bahwa bocah ini bocah pejuang. Dia menemaniku (kami; 5 bersaudara) di masa-masa perjuangan di awal rumah tanpa ayah dan bunda. Masa-masa keemasan tumbuh kembangnya, masa pra sekolah hingga bersekolah. Masa mengenalkan padanya alfabeta hingga makna abjad dan Hijaiyah. Masa mengenalkan padanya bermuamalah dengan tetangga.
Di masa sakit, sulit, dan ngirit. Dan dia, bocah dalam lindungan jas hujan ini tetap enjoy di segala suasana. Ketika rumah kami sangatlah sederhana, dia sering ‘menghilang’ keluyuran kemana-mana. Yang disasar biasanya rumah tetangga. Pernah bingung nyari, ternyata dia lagi asyik sama mbah-mbah di depan toko. Umurnya sekitar tiga setengah tahun waktu itu dan dia suka sekali menyapa tetangga.
Dia yang selalu menemaniku dari usia 3,5thn. Menemani hangout, liqo, organisasi, syuro, sampai bekerja sampingan sepulang sekolah. Sekarangpun paling banyak terbuka apa2 ke aku, ketimbang bunda. Semua keluh pribadi dan apa-apanya paling banyak ke aku. Ngomong-ngomong, bagaimanalah para ummahat bisa meneladani para sahabat nabi yang kalau bermajlis adabnya seolah-olah ada burung di kepalanya (anteeng, ora useeek ae). Lha wong ummahat itu ya, bisa banget liqo atau pengajian sambil kejar-kejaran dan ‘petak umpet’ sama bocah.
Dan bocah ini, sampai hari ini hujan-hujanan begini, dia yang ada bersamaku. Baru kali ini dia merengek dalam perjalanan. Pasti dirasa sangat dingin dan melelahkan. Tiba-tiba dia berkata "kak maaf aku tadi main aja.” Loh? Memang tadi hujan sempat agak reda di lokasi tapi dia masih asyik main tidak mau pulang. And now she feels guilty? Oh no, I said not ur fault.
Kurang sekitar tiga kilo lagi perjalanan, dia kembali merengek, mau pecah tangisnya. Ya Allah, seorang dia tak kan sebegitu tertekan kalau tidak sangat kewalahan. Sepanjang sisa jarak kutenangkan “Sabar ya dek, sudah mau sampai ko.” Tentu saja. Jarak yang kita tempuh selalu mendekatkan kita pada tujuan. Itu berarti semakin ‘sudah mau sampai’.
Sampai di rumah beberapa menit sebelum adzan magrib. Badannya gemetar kedinginan dan menangis. Oh dear. Thanks for being my super girl. Perjalanan kita akan lebih panjang lagi nanti. Selalulah kuat.
Petang disambut sayup adzan bersahutan. Mengagungkan Sang Pencipta, mengingatkan kita untuk kembali menghadap-Nya. Karena dalam setiap perjalanan kita selalu ingin kembali pulang. Maka sejauh dan seberat apapun perjalanan, kita harus terus berjalan untuk pulang. Dan adzan selalu mengingatkan, kemana harusnya kita menempuh jalan pulang.
Seketika aku terbangun, ah mimpi dia lagi. Langit-langit kabin pesawat bernama Citilink masih sedia kala. Semua manusia terlelap di atas awan. Ngecek handpone. Oh iya, sepanjang aku mengudara selama ini, tak pernah melanggar aturan. Termasuk sungkan menyalakan handpone ketika take off hingga landing. tapi buktinya, sekarang aku nekad. kunyalakan handpone, pesan masuk, ternyata kabar kemarin berlanjut: beliau masih dirawat di RS. Belum ada progress apa-apa selain tubuh lunglai itu. Syafakillah dek. Doa dari jauh memang tak seperti sentuhan fisik ketika dekat.
Allah. Janjiku kemarin memang pulang untuk menemanimu, tapi bagaimalah, agaknya ditunda dulu. Bukankah kita sedang melanjutkan risalah Rosul tercinta? Kamu harus segera bangun dek.
Dia yang selalu menemaniku dari usia 3,5thn. Menemani hangout, liqo, organisasi, syuro, sampai bekerja sampingan sepulang sekolah. Sekarangpun paling banyak terbuka apa2 ke aku, ketimbang bunda. Semua keluh pribadi dan apa-apanya paling banyak ke aku. Ngomong-ngomong, bagaimanalah para ummahat bisa meneladani para sahabat nabi yang kalau bermajlis adabnya seolah-olah ada burung di kepalanya (anteeng, ora useeek ae). Lha wong ummahat itu ya, bisa banget liqo atau pengajian sambil kejar-kejaran dan ‘petak umpet’ sama bocah.
Dan bocah ini, sampai hari ini hujan-hujanan begini, dia yang ada bersamaku. Baru kali ini dia merengek dalam perjalanan. Pasti dirasa sangat dingin dan melelahkan. Tiba-tiba dia berkata "kak maaf aku tadi main aja.” Loh? Memang tadi hujan sempat agak reda di lokasi tapi dia masih asyik main tidak mau pulang. And now she feels guilty? Oh no, I said not ur fault.
Kurang sekitar tiga kilo lagi perjalanan, dia kembali merengek, mau pecah tangisnya. Ya Allah, seorang dia tak kan sebegitu tertekan kalau tidak sangat kewalahan. Sepanjang sisa jarak kutenangkan “Sabar ya dek, sudah mau sampai ko.” Tentu saja. Jarak yang kita tempuh selalu mendekatkan kita pada tujuan. Itu berarti semakin ‘sudah mau sampai’.
Sampai di rumah beberapa menit sebelum adzan magrib. Badannya gemetar kedinginan dan menangis. Oh dear. Thanks for being my super girl. Perjalanan kita akan lebih panjang lagi nanti. Selalulah kuat.
Petang disambut sayup adzan bersahutan. Mengagungkan Sang Pencipta, mengingatkan kita untuk kembali menghadap-Nya. Karena dalam setiap perjalanan kita selalu ingin kembali pulang. Maka sejauh dan seberat apapun perjalanan, kita harus terus berjalan untuk pulang. Dan adzan selalu mengingatkan, kemana harusnya kita menempuh jalan pulang.
Seketika aku terbangun, ah mimpi dia lagi. Langit-langit kabin pesawat bernama Citilink masih sedia kala. Semua manusia terlelap di atas awan. Ngecek handpone. Oh iya, sepanjang aku mengudara selama ini, tak pernah melanggar aturan. Termasuk sungkan menyalakan handpone ketika take off hingga landing. tapi buktinya, sekarang aku nekad. kunyalakan handpone, pesan masuk, ternyata kabar kemarin berlanjut: beliau masih dirawat di RS. Belum ada progress apa-apa selain tubuh lunglai itu. Syafakillah dek. Doa dari jauh memang tak seperti sentuhan fisik ketika dekat.
Allah. Janjiku kemarin memang pulang untuk menemanimu, tapi bagaimalah, agaknya ditunda dulu. Bukankah kita sedang melanjutkan risalah Rosul tercinta? Kamu harus segera bangun dek.
Dan kita kembali bercerita, tentang Thariq bin Ziyad. Tentang Abdullah bin Umar junior.
Tentang kamu. Kamu yang mulai terlihat sepertiku; mencintai dan mengagumi para muharrik peradaban itu. Atau Tentang sepenggal tafsir Adh-Duha, insyaa Allah.
Dek, sehat ya.
I know, sebenarnya ini arah(an) untuk pulang sejenak, tapi bukankah kadang kita terlalu kaget dengan alur skenario yang dibelokkan di tengah pentas yang kita perankan?
Sekarang, pulangku bukan untuk urusan pribadi dan keluarga. Tak bertemu juga.
Tapi kau pasti tahu dek, sehatlah..
Namanya NAMA yang Baik
Pada zaman saya kuliah (kaya lampau amat ya?!), pada salah satu sesi mata kuliah Bimbingan Konseling kelompok, kami diminta oleh dosen pengampu mata kuliah untuk membuat nama sifat dari nama panggilan kita. Ketentuannya, nama sifat diambil dari nama panggilan kita dengan ditambahi kata sifat (boleh positif atau negatif) yang mempunyai huruf awal sama dengan nama panggilan kita. Ribet amat sih! Gini lho maksudnya, misal: nama teman saya Agustinus, jadi nama sifatnya harus berawalan huruf “A”, Agus Atraktif, begitu. Atau alternatif lainnya, tiap huruf akhiran nama disusul dengan kata sifat apapun.
Saat itu, kami menemukan banyak kelucuan dari nama sifat teman-teman (dan saya juga) di kelas. Ada yang cuocok banget sama karakter orangnya, misalnya teman saya: Ajri Asertif, pas banget nama sifat dengan karakter dia yang memang asertif. Tapi lucunya, ada juga beberapa orang yang saking sulitnya cari nama sifat untuk huruf depannya paling ya, dia –dengan teganya- memberi nama sifat negatif pada namanya sendiri. Ada juga yang –dengan kasus yang sama, sulit cari kata sifat yang pas dengan huruf awal, hehehe- milih pakai bahasa asing untuk nama sifatnya, mulai bahasa Maluku, NTT, Aceh. Jawa, Inggris, sampai Perancis (iya ga ya?!).
Sebuah ‘pemaksaan’ yang positif saya rasa, sekaligus sedikit mengindikasikan konsep diri masing-masing. Nah, sama halnya dengan teman saya yang bingung cari nama sifat, saya juga begitu. Sebanyak apa coba kata sifat berawalan huruf “Z” untuk Ziah, yang familiar dengan koleksi vocabularies saya? Saya benar-benar sulit menemukannya. Bukan karena tidak kreatif (padahal emg ga kreatif), tapi ada rasa malu, tau diri, dan ga pantas pas nemu nama sifat yang cocok. Halah zi, ngaku2 banget sih, batin saya. Akhirnya teman2 sekelompok menangkap sinyal kebingungan saya. Jadilah mereka berdiskusi memberi nama yang tepat buat saya. Mereka pakai kata sifat konyol yang katanya cocok untuk saya; Ziahiperaktif (hah?!) -_-
Tapi di kemudian waktu saya nemu kata yang lebih positif: Ziahelper, Ziahebat, dll, tentu ada maksud di balik ke-Pd-an saya begini. Next time kita bercerita. Insyaa Allah. Haha. Nah! Mata kuliah yang sederhana inilah salah satu kegiatan yang sangat berkesan dan banyak bermakna bagi proses tumbuh kembang saya.
Saya sungguh banyak menemukan self and others understanding dari makul ini. Nama sifat ini salah satunya. Ada sebuah logoterapi yang saya temukan dari kegiatan ini. Kami sedang belajar mempersepsi diri, sebisa mungkin menemukan karakter sifat yang memang pas dengan kepribadian kita. Hm, atau paling tidak, kami sedang belajar mempositifkan diri, menjembatani antara kondisi dan harapan.
Misal, iya sih Ziah ini anaknya rada-rada hiperaktif, paling ga betah nunggu dosen bercerita panjang lebar mengurai materi, suka mengonsumsi keisengan dan menjahili teman yang duduk di dekatnya. Apapun, sehingga timbul suasana gaduh karena ulahnya. Paling doyan izin keluar masuk kelas untuk wudhu, paling rakus masalah bertanya dan menjawab dosen sampai teman-temannya manyun optimum. Haha. Paling demen jadi tutor sebaya aka sok-sok-an jadi asisten dosen pas dosen ga berkabar. Dan satu lagi, paling lahap mengerjakan UAS dan UTS dengan waktu tercepat tanpa mikir lama, untuk kasus yang satu ini, alasannya ga lain ga bukan supaya bisa segera keluar kelas, menghadiri rapat, bertemu orang-orang penting atau bertemu adik-adik kesayangan, mengobati lelah; membina. Haha.Tapi serasa tak tega menamai diri sendiri begitu, kesannya lebih condong pada negatif (karena hiperaktivity adalah perilaku abnormal dalam makul BK Abnormal yang saya ikuti).
Maka saya berusaha menemukan kata sifat yang kira-kira lebih positif dan enak didengar. Jikapun ternyata kata sifat itu tidak cocok atau kurang pas dengan kondisi saya, biarlah dengannya saya berharap dan berdoa agar menjadi nyata. Inilah yang saya sebut sebagai sebentuk doa, berdoa dengan cara saya, hehe.
Jika ada pepatah mengatakan “apalah arti sebuah nama?” wah, akan saya jawab “SANGAT BERARTI!”. Pertama, karena saya adalah muslimah yang pernah belajar tentang betapa pentingnya memberi nama yang baik pada anak serta memberi panggilan/ sebutan yang baik pula pada saudara/ orang lain. Nama adalah doa, begitu haditsnya.
Sebagaimana Rosulullah sering memberi nama kunyah (julukan) yang penuh doa pada para sahabat yang nama aslinya kurang memiliki arti bagus. Kedua, karena saya juga belajar sedikit tentang psikologi, betapa pemberian label pada seseorang itu mempunyai arti penting dalam perkembangan dan pembentukan konsep diri seseorang.
Ada banyak cerita nyata mengagumkan yang pernah saya baca tentang ini, tapi akan terlampau panjang diuraikan lagi. Intinya: *panggil dan sebutlah dengan kata-kata positif.*
“…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…” (Al Hujurat: 11)
Maasyaa Allah, Allah dan Rosulullah telah mengajarkan lebih dulu sebelum saya belajar makul BK di atas. Memang kadang kita perlu pendekatan model lain agar lebih “ngena” sebuah pembelajaran.
Nah! Bermula dari bangku kuliah, menguatlah keusilan saya (yang sudah lama bermula sebenarnya) untuk memberi nama pada banyak hal, terutama orang-orang yang saya penting untuk menamainya. Keusilan saya tidak berhenti sampai di situ. Berikutnya saya jadi gemar memberi nama sifat pada list contact di HP saya. Tentu saja bukan karena saya menganggap nama asli mereka kurang bagus, hanya saja ingin berkreasi gitu. Terlebih lagi terselip sebuah niatan semoga nama sifat ini menjadi kenyataan atau menguatkan kebaikan yang sudah ada pada mereka. Dan faktor khusus lainnya adalah saya hanya ingin mencoba mengingat-ingat dengan cara saya. Dalam dakwah, kita butuh pendekatan taaruf yang bermakna.
Menjembatani antara kondisi dan harapan, adalah dengan DO’A. Dan bagi saya, memberi nama sifat adalah salah satu cara BERDOA. Besok-besok kalau ada waktu, insyaa Allah saya ceritakan tentang penamaan sifat yang pernah saya lakukan dan menghantarkan saudari-saudari saya berhijrah, bahkan menjadi Muallaf.
Semuanya berawal dari petunjuk Allah dan paksaan Murabbiyah yang menjerumuskan saya untuk kuliah di PPG dan dapet kekhususan belajar BK. Hehe. Saya berani menjamin, kuliah BK itu asik banget! Insya Allah. Apalagi psikologi, dan paling cakep ya Sains (teutep) tapi di balik semua prodi, paling istimewa tiada dua ya mempelajari ilmu jadi Murabbi dan Kaderisasi. Sering terlintas dipikiran, sepertinya sebuah mimpi harus saya tambah; mendirikan yayasan/lembaga khusus/sekolah khusus Murabbi dan KADERISASI. (Mulai ga nyambung).
Baiklah, kalau Hasan Al-Banna bercita-cita untuk Mesir, saya bercita-cita untuk Pembinaan Ummat. Pengkaderan Ummat. Udah itu aja. Simpan Sains, mari ikhtiar jadi Soko Guru Peradaban Islam yang inspiratif. Whehee.
Saat itu, kami menemukan banyak kelucuan dari nama sifat teman-teman (dan saya juga) di kelas. Ada yang cuocok banget sama karakter orangnya, misalnya teman saya: Ajri Asertif, pas banget nama sifat dengan karakter dia yang memang asertif. Tapi lucunya, ada juga beberapa orang yang saking sulitnya cari nama sifat untuk huruf depannya paling ya, dia –dengan teganya- memberi nama sifat negatif pada namanya sendiri. Ada juga yang –dengan kasus yang sama, sulit cari kata sifat yang pas dengan huruf awal, hehehe- milih pakai bahasa asing untuk nama sifatnya, mulai bahasa Maluku, NTT, Aceh. Jawa, Inggris, sampai Perancis (iya ga ya?!).
Sebuah ‘pemaksaan’ yang positif saya rasa, sekaligus sedikit mengindikasikan konsep diri masing-masing. Nah, sama halnya dengan teman saya yang bingung cari nama sifat, saya juga begitu. Sebanyak apa coba kata sifat berawalan huruf “Z” untuk Ziah, yang familiar dengan koleksi vocabularies saya? Saya benar-benar sulit menemukannya. Bukan karena tidak kreatif (padahal emg ga kreatif), tapi ada rasa malu, tau diri, dan ga pantas pas nemu nama sifat yang cocok. Halah zi, ngaku2 banget sih, batin saya. Akhirnya teman2 sekelompok menangkap sinyal kebingungan saya. Jadilah mereka berdiskusi memberi nama yang tepat buat saya. Mereka pakai kata sifat konyol yang katanya cocok untuk saya; Ziahiperaktif (hah?!) -_-
Tapi di kemudian waktu saya nemu kata yang lebih positif: Ziahelper, Ziahebat, dll, tentu ada maksud di balik ke-Pd-an saya begini. Next time kita bercerita. Insyaa Allah. Haha. Nah! Mata kuliah yang sederhana inilah salah satu kegiatan yang sangat berkesan dan banyak bermakna bagi proses tumbuh kembang saya.
Saya sungguh banyak menemukan self and others understanding dari makul ini. Nama sifat ini salah satunya. Ada sebuah logoterapi yang saya temukan dari kegiatan ini. Kami sedang belajar mempersepsi diri, sebisa mungkin menemukan karakter sifat yang memang pas dengan kepribadian kita. Hm, atau paling tidak, kami sedang belajar mempositifkan diri, menjembatani antara kondisi dan harapan.
Misal, iya sih Ziah ini anaknya rada-rada hiperaktif, paling ga betah nunggu dosen bercerita panjang lebar mengurai materi, suka mengonsumsi keisengan dan menjahili teman yang duduk di dekatnya. Apapun, sehingga timbul suasana gaduh karena ulahnya. Paling doyan izin keluar masuk kelas untuk wudhu, paling rakus masalah bertanya dan menjawab dosen sampai teman-temannya manyun optimum. Haha. Paling demen jadi tutor sebaya aka sok-sok-an jadi asisten dosen pas dosen ga berkabar. Dan satu lagi, paling lahap mengerjakan UAS dan UTS dengan waktu tercepat tanpa mikir lama, untuk kasus yang satu ini, alasannya ga lain ga bukan supaya bisa segera keluar kelas, menghadiri rapat, bertemu orang-orang penting atau bertemu adik-adik kesayangan, mengobati lelah; membina. Haha.Tapi serasa tak tega menamai diri sendiri begitu, kesannya lebih condong pada negatif (karena hiperaktivity adalah perilaku abnormal dalam makul BK Abnormal yang saya ikuti).
Maka saya berusaha menemukan kata sifat yang kira-kira lebih positif dan enak didengar. Jikapun ternyata kata sifat itu tidak cocok atau kurang pas dengan kondisi saya, biarlah dengannya saya berharap dan berdoa agar menjadi nyata. Inilah yang saya sebut sebagai sebentuk doa, berdoa dengan cara saya, hehe.
Jika ada pepatah mengatakan “apalah arti sebuah nama?” wah, akan saya jawab “SANGAT BERARTI!”. Pertama, karena saya adalah muslimah yang pernah belajar tentang betapa pentingnya memberi nama yang baik pada anak serta memberi panggilan/ sebutan yang baik pula pada saudara/ orang lain. Nama adalah doa, begitu haditsnya.
Sebagaimana Rosulullah sering memberi nama kunyah (julukan) yang penuh doa pada para sahabat yang nama aslinya kurang memiliki arti bagus. Kedua, karena saya juga belajar sedikit tentang psikologi, betapa pemberian label pada seseorang itu mempunyai arti penting dalam perkembangan dan pembentukan konsep diri seseorang.
Ada banyak cerita nyata mengagumkan yang pernah saya baca tentang ini, tapi akan terlampau panjang diuraikan lagi. Intinya: *panggil dan sebutlah dengan kata-kata positif.*
“…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…” (Al Hujurat: 11)
Maasyaa Allah, Allah dan Rosulullah telah mengajarkan lebih dulu sebelum saya belajar makul BK di atas. Memang kadang kita perlu pendekatan model lain agar lebih “ngena” sebuah pembelajaran.
Nah! Bermula dari bangku kuliah, menguatlah keusilan saya (yang sudah lama bermula sebenarnya) untuk memberi nama pada banyak hal, terutama orang-orang yang saya penting untuk menamainya. Keusilan saya tidak berhenti sampai di situ. Berikutnya saya jadi gemar memberi nama sifat pada list contact di HP saya. Tentu saja bukan karena saya menganggap nama asli mereka kurang bagus, hanya saja ingin berkreasi gitu. Terlebih lagi terselip sebuah niatan semoga nama sifat ini menjadi kenyataan atau menguatkan kebaikan yang sudah ada pada mereka. Dan faktor khusus lainnya adalah saya hanya ingin mencoba mengingat-ingat dengan cara saya. Dalam dakwah, kita butuh pendekatan taaruf yang bermakna.
Menjembatani antara kondisi dan harapan, adalah dengan DO’A. Dan bagi saya, memberi nama sifat adalah salah satu cara BERDOA. Besok-besok kalau ada waktu, insyaa Allah saya ceritakan tentang penamaan sifat yang pernah saya lakukan dan menghantarkan saudari-saudari saya berhijrah, bahkan menjadi Muallaf.
Semuanya berawal dari petunjuk Allah dan paksaan Murabbiyah yang menjerumuskan saya untuk kuliah di PPG dan dapet kekhususan belajar BK. Hehe. Saya berani menjamin, kuliah BK itu asik banget! Insya Allah. Apalagi psikologi, dan paling cakep ya Sains (teutep) tapi di balik semua prodi, paling istimewa tiada dua ya mempelajari ilmu jadi Murabbi dan Kaderisasi. Sering terlintas dipikiran, sepertinya sebuah mimpi harus saya tambah; mendirikan yayasan/lembaga khusus/sekolah khusus Murabbi dan KADERISASI. (Mulai ga nyambung).
Baiklah, kalau Hasan Al-Banna bercita-cita untuk Mesir, saya bercita-cita untuk Pembinaan Ummat. Pengkaderan Ummat. Udah itu aja. Simpan Sains, mari ikhtiar jadi Soko Guru Peradaban Islam yang inspiratif. Whehee.
Serumpun yang menguatkan: Daakwah dan Ukhuwah
Adalah satu hal yang sama antara aku dan dia. Saat kami harus menemui takdir yang sebenarnya tidak kami ingini, biasanya dalam situasi begitu, dakwah yang menghibur kami.
Sejak zaman SMA, dalam hal amanah dan dakwah, kami memiliki cita-cita dan obsesi yang sama; Menjadi pelayan Allah, bersaudari dalam sulit dan lapang, dekat dan jauh, saling berwasiat dan waris-mewarisi, hingga salah satu di antara kami atau keduanya dipanggil Allah.
Kesannya ekspresif. Tapi tak mengapa. Toh, lewat inilah ukhuwahku dan dia tertaut hingga kini. Selalu terhubung dalam berbagai kondisi dan situasi. Saat yang sakit adalah tubuhku, namun yang tumpah adalah air matanya. Begitu sebaliknya, meski lagi-lagi tak pernah dalam episode ukhuwah aku menangis di depannya, namun bagian sakit atas sakitnya, terasai pula oleh indera imanku.
Dulu, saat pertama mengetahui aku harus pergi ke pertengahan negeri ini, berada jauh dari kampung halaman dan orang-orang tercinta, membentang jarak gunung dan samudera, membakti diri pada agama, menunaikan tugas yg sebenarnya jauh dari passionku: Jadi Guru. Saat-saat itu yang menghiburku adalah kalimatnya bahwa: “Di tanah manapun kita berpijak, itu bumi Allah juga. Ladang amal dan dakwah kita. Niatkan semuanya untuk ibadah.”
Alhamdulillah, benar Allah mempertemukanku dengan banyak kebaikan. Temanya dakwah tentu. Aku mendapatkan teman-teman dan guru-guru yang sholih, keren, inspiratif. Ku temukan ‘Onta-onta merah’ yang investatif, menyibukkan diriku dengan melahap puluhan buku, aktif dalam kegiatan dan berkecimpung di sebuah perhimpunan. Dakwah yang menghibur. Bukan koleksi gadget, bukan tumpukan uang, bukan hangout karaoke-an seperti pelampiasan beberapa orang. Allah menghadirkan nuansa-nuansa dakwah untuk menguatkan agar sabar bertahan dalam perantauan, menentramkan hati di tengah semrawut dan sumpeknya hiruk pikuk duniawi yang harus ditekuni.
Begitupun dia. Dulu, jelang akhir masa putih abu-abu, cita-cita dan obsesinya selesai SMA adalah MENIKAH. Aku memang keberatan dulunya. Secara mimpi, ada hal yang kan segera terhijab. Secara kedekatan dalam ukhuwah, mungkin aku harus rela berbagi atau mendapatkan waktu sisa karena yang utama tentu baktinya terhadap suami. Tidak terima. Rasanya terlalu muda dan masa depan akan sampai di batas itu, pikirku. Aku yang obsesif, idealis dan perfeksionis memandang pilihannya tidak berkelas. Bukankah menyelesaikan studi, melompati cita-cita, berpetualang adalah hal yang paling menarik daripada memilih menikah dini?
Bagaimanapun, kami saling menghormati keputusan masing-masing diri. Dia punya prinsip, pun aku juga. Saat meninggi ego, biasanya kami akan ditengahi obsesi yang kami pilih sedari mula; menjadi pelayan Allah dalam misi apapun. Meski qodarullahnya, peta masa depannya berubah haluan. Ia dituntut untuk melanjutkan akademik dan meng-antrikan harapan menikah. Tentu, karena ia terlahir dari keluarga yang penuh dinamika. Bertolak belakang denganku atas takdir Allah yang apa-apa, keluarga bukan jadi kendala.
Dia punya pandangan yang mulia, yang belakangan kuketahui akhirnya kenapa ingin menikah. Simpelnya, ia ingin segera mendidik anak-anak yang kelak ia bisa titipkan untuk Allah. Menjadi Mujahid Mujahidah dakwah seperti Al-Khansa. Meski demikian, ia taati ke dua orang tuanya. Maka lanjutlah ia bersekolah hingga di titik ini; sedang menempuh gelar S2nya. Obat hati yang sama atas ujiannya; dakwah selalu menghibur. Dulu pesanku terhadapnya; tak mengapa, toh selama orientasinya adalah dakwah, kelak di bangku perkuliahan kau akan temukan jawaban, kenapa Allah belum mengabulkan harapanmu. Lagi-lagi, dakwah.
Dan aku, semester 1 kuliah profesi guru, bad mood saja rasanya. Sudah berazzam juga ingin resign. Muak dan merasa dipaksa. Karena cita-citaku adalah murni menjadi Saintis negarawan. yang lewatnya aku bebas bereksprimen. Berkarya dan menemukan. Salah satunya, aku ingin menemukan sesuatu yang lewatnya dapat aku sumbangkan untuk negeri-negeri seiman. Negeri-negeri yang terluka. Tapi sejalan dengan waktu, ada hal spesial yg menawanku: dakwah dan ukhuwah. Aku mencintai organisasi dakwah di jurusan dan fakultasku, dan mencintai orang-orangnya. Lalu setelah open mind tentang guru, lama-lama aku menyadari ini adalah profesi yang lumayan untukku, banyak berpengaruh terhadap progres diriku. Maka
Diapun, di ujung sana sedang berjuang dengan baktinya. Ternyata sama sepertiku; diminta tsiqoh atas amanah-amanah yang begitu sering untuk ditolak. Dia dengan taatnya, tentu ikhtiarkupun sama. Hingga tulisan ini diketik, teringat percakapan dengannya via wa sore tadi. Seperti biasa, tugas ukhuwah antara kami adalah saling mengingatkan. Tak terbatas jarak yang memisahkan, ada ikatan yang mengabarkan. Bahwa kadang, ada di antara kami yang sedang butuh dikuatkan. Saat yang satunya bergemuruh meredam remuk, yang lainnya hadir sebagai penyejuk.
Sore ini, kumaknai ulang ujian Allah atas diri: Barangkali, apa-apa yang terhempas dari ikatan, akan ditautkan dengan ikatan baru lainnya. Di titik itu, sekiranya melepas semua yang dicinta adalah orientasinya dakwah semata, niscaya manisnya tak memberatkan rasa. Oh Allah, barangkali, amanah yang dikira mata batin seberat Tursina, ternyata hanya secuil tetes penyebab terdidiknya diri..
Lalu sekarang apa? Sekarang, jikapun aku mengingkari takdir karena gagal mendapatkan kesempatan yang aku cita-citakan, belum diizinkan memilih apa-apa yang kupetakan, maka sebenarnya hati kecilku sudah bisa berujar lega. Dulu kamu kehilangan beberapa hal yang kamu inginkan, dan ternyata Allah lah yg menjelaskan kemudian, kenapa kamu dipilihkan yang itu. Allah akan hadirkan penghibur hati yg menentramkan. Dan biasanya itu adalah tentang dakwah.
Passion itu yang rasanya membuat hidup tambah semangat, tambah optimis dan husnudzon. Semisal contohnya gini. Aku sebenarnya ingin bermasa depan di Jogja, membangun mimpi dan lifemap di sana. Tapi bagaimana jika ternyata besok, bulan depan, atau taun depan Allah menghadiahiku takdir di kota/tempat yg tak kuharapkan? Pasti ada rasa segan untuk berpindah haluan, mengubah urutan mimpi atau bahkan menghapusnya sama sekali.
That’s a pity u know, melepas mimpi itu pedih sekali. Inilah yang kubilang dakwah yang menghibur kami. Satu hal yang insyaa Allah mampu menyemangati kami untuk survive: Plan dakwah. Sekarang pun, meski kami belum tau pasti takdir kami, kami sudah membuat rencana-rencama jika ternyata harus mengubah haluan. Menata ulang urutan cita-cita, mempersiapkan anak-anak tangga menuju mimpi-mimpi kami.
Inilah hidup. Saat mimpimu harus berubah karena takdir Allah, ikhlaslah. At least nikmatilah prosesnya menuju ikhlas. Toh masuk surga itu banyak jalannya. Jadi jangan terlampau sedih saat salah satu dari mimpi-mimpimu hilang. Seperti cerita yg lalu-lalu, biasanya Allah akan datangkan penghibur hati yg menentramkanmu. dan biasanya itu adalah tentang dakwah. Sungguh, nikmat Allah itu luas..
Langganan:
Komentar (Atom)







