Kamis, 23 Februari 2017

Skenario Kemarin

Dan pesan via WhatsApp darinya bertubi-tubi. Karena fokusku semalam di beberapa grup dan japrian beserta rapat yang dadakan, kuurungkan diri untuk segera menanggapi. Mengulur waktu hingga urusanku terhadap yang lainnya terselesaikan dengan rapi. Ah, tapi sebenarnya tidak seperti biasanya. Segala obrolan yang berawal darinya, biasanya pasti kususul dengan balasan yang segera.



Sehingga tak jarang, perbincangan dengannya mencair tanpa sekat, dekat dan bersahabat. Ini yang sering membuatku sering menelan rindu hingga candu. Meski tak pernah lisanku mengaku, ada jeda dan ruang khusus yang menjadikan rindu beradu meski dari jarak jauh. Selalu ada ungkapan penyejuk hati darinya meski tanpa temu. Tepat saat hati tersusupi rindu terbungkus gengsi dan ke-jaim-an yang mengakar dari dulu. Dan tak mengelak, kubatin kepercayaan yang lekat; doa yang ditanam diam-diam ada peng-aminan dari Malaikat.


Kemarin, seperti biasa. Kebiasaannya yang tak asing bagiku. Selalu menghampiri dengan pendekatan yang berbeda dengan saudari lainnya. Ia sodorkan sebungkus plastik berukuran mini. Di dalamnya ada dua ekor ikan cupang kecil. Berkali-kali kutolak, paksaan darinya tidak membuatku terenyuh. Bahkan, beberapa menit terjadi tarik menarik ketika aku beranjak pergi. Ah, maksudku hanya ingin menakar sekuat apa ia tangguh dengan penolakanku. 


Sepertinya seru jika mendapatinya tak terbawa rasa karena luka. Ada banyak pasangan mata yang menyaksikan. Tentu, di antara mata-mata itu ada yang harus meredam cemburu. Tapi akhirnya ia luka. Tersirat dalam kalimat japriannya.

Malam ini pun aku menerima pesan protes itu; dari 22 saudari, dari mereka yang cemburu. Tak terima. Begitu ungkap mereka. Karena perlakuanku terhadapnya selalu berbeda. Hingga yang cemburu berpesan; ingin pula dicintai sebagaimana aku mencintai dia yang selalu mendapatkan perhatian dalam jumlah di atas ala kadarnya. Melebihi dekat yang semestinya. Ah, cemburu memang bukan masalah baru. Tapi aku punya alasan kenapa bersikap begitu.

Sejujurnya, aku selalu senang dengan caranya mendekati. Caranya bertahan. Atau caranya dalam membersamaiku. Karena memang, tak banyak yang bertahan dalam menyabariku. Banyak yang berguguran pada akhirnya, seperti yang lalu-lalu. Karena memang, perihal kedekatan dan kenyamanan hati, aku adalah seorang yang selalu selektif dalam memilih. Bisa disebut perfeksionis paling akut. 

Hanya yang benar-benar sesuai standarisasilah yang akan menjadi orang terdekatku, setelah kuuji dengan kasat mata bagi yang merasa. Entahlah, terkadang kunamai ini penyakit terparahku selain stadium yang menghinggapi setahun belakangan. Tapi ini bukan sombong yang menyakitkan di hati. Hanya takaran versi penyeleksian seperti para ulama dan tabi'in tabi'at. Aku terobsesi membentuk ukhuwah seperti Nabi terkhusus bersama Abu Bakar.

Kisah dengannya, bisa disebut ukhuwah seumur jagung. Belum berbilang tahun. 
Tapi yang menjadikan beda adalah seolah aku telah menemukannya di beberapa tahun belakangan. 
Seolah aku menemukan sosok yang memang kucari. Seakan tersampaikan; dia seperti bagian dari diriku yang kurang lengkap. Entah bagian yang mana. Barangkali, Allah sedang mengajarkanku tentang reaktif dan membuang jauh kecuekkan dalam berukhuwah. Membiasakan romantis yang mengeratkan muamalah terhadap sesama. Sama seperti romantisnya Rosul dan para sahabat. 
Saat menangis bahkan tertawa. Allah sedang mentarbiyahku terhadap mozaik di atas.

Semalam pesan yang kucerna sebagai prolog pembahasan perkara ukhuwah adalah jangan memperlakukan orang lain seperti aku memperlakukannya. Pesan itu singkat memang. Sedikit sukses menjadikan ubun-ubunku kambuh berdenyut. Membuatku ingin membela diri, namun akhirnya menyederhanakan yang kupilih. Ya. Mungkin karena syaraf di otakku terlanjur bereaksi, jadilah semua pesan darinya yang berujung minta dimaafkan kuabaikan. 

Statement sebelum akhiran, ia bertanya; Kazi udah gamau lagi ya berukhuwah sama aku? Disusul emoticon yang tak bisa ku tebak apakah sesuai dengan isi hatinya. Kemudian kupinta jangan memikirkan hal yang ia tanyakan. Lalu dibalas olehnya; Aku perlunya iya atau tidak?.

Tak bergeming. Kalimatnya mengajakku memaknai ukhuwah yang sebenarnya. Apakah sesederhana itu menjawab ya atau tidaknya. Bukankah dengan menjawab "tidak" akan berefek pada teguran sang Nabi, tidak akan masuk surga orang-orang yang memutuskan tali silaturahmi." Dalam ukhuwah bukankah ada tali yang harus disambung. Berukhuwah artinya bersilaturahim. Merajut kasih, menyambung sayang. Atau bagaimana dengan jawaban "ya?". Bukankah ini adalah jawaban yang harusnya retoris buatnya? Tak perlu kujawab namun harusnya ada kesan yang terasa di imannya. Atau barangkali, rasa ukhuwah dengan caraku memang tak ada kesan dan rasanya, bahkan hanya menuai kecurigaan; apakah serius atau tidak dalam menyayanginya?. Ah, yang karena Allah memang selalu dituntut untuk jeli dan sesuai standarisasi nabi. Berat? Begitulah ukhuwah yang seharusnya. Bukan ringan dalam kata-kata semata. Ada tuntutan di dalamnya. 

Rasanya terlalu egois saat memintanya bersabar dan bertahan untuk tetap membersamaiku dengan segala perlakuan yang jauh dari penunaian hak ukhuwah. Dengan caraku mencintainya seperti mencintai diriku sendiri dengan ketidakpedulian, ketegasan bukankah itu menyakitkan buatnya?. Mungkin lambat laun diapun akan menyerah. Sementara aku, telah memasang ikhlas melepasnya jika memang saatnya. Menitipkannya pada ukhuwah yang menjaganya dari luka. Menjadikannya tumbuh dan berkah dalam dakwah.

Rasanya terlalu cepat untuk kuakui, bahwa memang saudari seperti dia yang menjadikan umur rasa sakit stadiumku sedikit pulih. 

Rasanya terlalu egois, saat kuharap darinya agar bisa mengerti perihal suka dan tak sukaku, saat sedih dan gembiraku tanpa kuberitahu.

Bersamanya seolah diri dicintai lebih. Peka yang ia tak mengerti apa maknanya, sesungguhnya sedang terealisasi. Lewat aksinya yang menjadikan hati bergumam lirih dan berterima kasih. 

Pernah, saat tembok tidak nyaman untuk aku bersandar, ia memilih bergeser dan memberi tempatnya untuk kududuki. Sikapnya membuktikan itsar demi kenyamananku.

Pernah, aku terharu membatin doa, saat di sebuah agenda, tiba-tiba disuguhkannya secangkir teh, tepat saat _maagh_ku kambuh dan tak ada yang tahu dalam jiwa aku mengeluh tak berdaya. Surprise. Allah selalu menghantarkan kebaikan melalui tangan tulusnya.

Pernah, ia meminta agar sakitku dilimpahkan kepadanya. Bukankah ini seperti pesan nabi, Saat yang lain sakit, bagian yang lain merasa ikut sakit.?

Pernah, ia meminta agar aku pindah ke rumahnya. Tidak perlu tinggal di sepetak kosan. 

Bukankah ini seperti kisah Utsman dan kaum Anshar?


Pernah ia sering mengakui, bahwa selalu mencari-cari kehadiranku di sebuah agenda manakala tak terlihat aku berada di sana. Menanyai kabarku, memastikan aku baik-baik saja. Hingga berpesan agar rehat.

Paling berkesan di antara semua yang tak tersebut adalah aku selalu suka dengan paksaannya. Seperti pesan seorang Murabbi; "Saudari yang memaksamu hingga kau terpaksa mengikuti paksaannya selama itu kebaikan adalah saudari yang harus kau syukuri keberadaannya. Karena sebenarnya, caranya memaksa adalah bukti ia menyayangimu dengan tulus." Dan aku memang selalu menyukai orang-orang tulus.

Aku selalu berprinsip. Ukhuwah itu tersebab dari ikhtiar dalam memperjuangkannya. Agaknya bohong jika tanpa perjuangan akan terbentuk kedekatan. Jika pada akhirnya kedekatan dengannya semakin dekat, akan kuakui, dialah yang disebut pejuang ukhuwah dalam hal ini. Sehingga seringnya, aku hanya sebagai pelengkap dalam skenarioNya.


Jika pada akhirnya babak ukhuwah harus berakhir sebelum sampai hingga Jannah, semoga kebersamaan yang pernah ada tak menjadikan kaku dalam muamalah di kemudian hari.


KarenaNya, kuakui pula satu hal: 
Akupun mencintaimu dik, karena Allah. 'Abadan 'abadaa. Meski kau sering egois dalam robithohku, wajah dan namamu selalu berlarian ke arahku mengalahkan nama dan wajah saudari lainnya. Tetap saja, Allahlah yang paling mengikat kita seperti katamu.


****


*Tulisan ini ditulis akan berefek pada beberapa kemungkinan setelahnya;

1. Ukhuwah makin akrab
2. Ukhuwah sederhana seperti kebanyakan. Berjalan seperti biasa pada umumnya, tanpa kekhususan. 



24 Febr 2017, Jumat

Anw, hanya iman karena Allah yang bisa mengakrabkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar