Minggu, 19 Februari 2017

Serumpun yang menguatkan: Daakwah dan Ukhuwah


Adalah satu hal yang sama antara aku dan dia. Saat kami harus menemui takdir yang sebenarnya tidak kami ingini, biasanya dalam situasi begitu, dakwah yang menghibur kami.
Sejak zaman SMA, dalam hal amanah dan dakwah, kami memiliki cita-cita dan obsesi yang sama; Menjadi pelayan Allah, bersaudari dalam sulit dan lapang, dekat dan jauh, saling berwasiat dan waris-mewarisi, hingga salah satu di antara kami atau keduanya dipanggil Allah. 
Kesannya ekspresif. Tapi tak mengapa. Toh, lewat inilah ukhuwahku dan dia tertaut hingga kini. Selalu terhubung dalam berbagai kondisi dan situasi. Saat yang sakit adalah tubuhku, namun yang tumpah adalah air matanya. Begitu sebaliknya, meski lagi-lagi tak pernah dalam episode ukhuwah aku menangis di depannya, namun bagian sakit atas sakitnya, terasai pula oleh indera imanku. 


Dulu, saat pertama mengetahui aku harus pergi ke pertengahan negeri ini, berada jauh dari kampung halaman dan orang-orang tercinta, membentang jarak gunung dan samudera, membakti diri pada agama, menunaikan tugas yg sebenarnya jauh dari passionku: Jadi Guru. Saat-saat itu yang menghiburku adalah kalimatnya bahwa: “Di tanah manapun kita berpijak, itu bumi Allah juga. Ladang amal dan dakwah kita. Niatkan semuanya untuk ibadah.”


Alhamdulillah, benar Allah mempertemukanku dengan banyak kebaikan. Temanya dakwah tentu. Aku mendapatkan teman-teman dan guru-guru yang sholih, keren, inspiratif. Ku temukan ‘Onta-onta merah’ yang investatif, menyibukkan diriku dengan melahap puluhan buku, aktif dalam kegiatan dan berkecimpung di sebuah perhimpunan. Dakwah yang menghibur. Bukan koleksi gadget, bukan tumpukan uang, bukan hangout karaoke-an seperti pelampiasan beberapa orang. Allah menghadirkan nuansa-nuansa dakwah untuk menguatkan agar sabar bertahan dalam perantauan, menentramkan hati di tengah semrawut dan sumpeknya hiruk pikuk duniawi yang harus ditekuni.



Begitupun dia. Dulu, jelang akhir masa putih abu-abu, cita-cita dan obsesinya selesai SMA adalah MENIKAH. Aku memang keberatan dulunya. Secara mimpi, ada hal yang kan segera terhijab. Secara kedekatan dalam ukhuwah, mungkin aku harus rela berbagi atau mendapatkan waktu sisa karena yang utama tentu baktinya terhadap suami. Tidak terima. Rasanya terlalu muda dan masa depan akan sampai di batas itu, pikirku. Aku yang obsesif, idealis dan perfeksionis memandang pilihannya tidak berkelas. Bukankah menyelesaikan studi, melompati cita-cita, berpetualang adalah hal yang paling menarik daripada memilih menikah dini?


Bagaimanapun, kami saling menghormati keputusan masing-masing diri. Dia punya prinsip, pun aku juga. Saat meninggi ego, biasanya kami akan ditengahi obsesi yang kami pilih sedari mula; menjadi pelayan Allah dalam misi apapun. Meski qodarullahnya, peta masa depannya berubah haluan. Ia dituntut untuk melanjutkan akademik dan meng-antrikan harapan menikah. Tentu, karena ia terlahir dari keluarga yang penuh dinamika. Bertolak belakang denganku atas takdir Allah yang apa-apa, keluarga bukan jadi kendala.



Dia punya pandangan yang mulia, yang belakangan kuketahui akhirnya kenapa ingin menikah. Simpelnya, ia ingin segera mendidik anak-anak yang kelak ia bisa titipkan untuk Allah. Menjadi Mujahid Mujahidah dakwah seperti Al-Khansa. Meski demikian, ia taati ke dua orang tuanya. Maka lanjutlah ia bersekolah hingga di titik ini; sedang menempuh gelar S2nya. Obat hati yang sama atas ujiannya; dakwah selalu menghibur. Dulu pesanku terhadapnya; tak mengapa, toh selama orientasinya adalah dakwah, kelak di bangku perkuliahan kau akan temukan jawaban, kenapa Allah belum mengabulkan harapanmu. Lagi-lagi, dakwah. 

Dan aku, semester 1 kuliah profesi guru, bad mood saja rasanya. Sudah berazzam juga ingin resign. Muak dan merasa dipaksa. Karena cita-citaku adalah murni menjadi Saintis negarawan. yang lewatnya aku bebas bereksprimen. Berkarya dan menemukan. Salah satunya, aku ingin menemukan sesuatu yang lewatnya dapat aku sumbangkan untuk negeri-negeri seiman. Negeri-negeri yang terluka. Tapi sejalan dengan waktu, ada hal spesial yg menawanku: dakwah dan ukhuwah. Aku mencintai organisasi dakwah di jurusan dan fakultasku, dan mencintai orang-orangnya. Lalu setelah open mind tentang guru, lama-lama aku menyadari ini adalah profesi yang lumayan untukku, banyak berpengaruh terhadap progres diriku. Maka betahlah aku di sana hingga gelar profesi itu kuraih. Mendalami jurusanku dan menekuni aktivitas amanah di jurusan dan fakultas.


Diapun, di ujung sana sedang berjuang dengan baktinya. Ternyata sama sepertiku; diminta tsiqoh atas amanah-amanah yang begitu sering untuk ditolak. Dia dengan taatnya, tentu ikhtiarkupun sama. Hingga tulisan ini diketik, teringat percakapan dengannya via wa sore tadi. Seperti biasa, tugas ukhuwah antara kami adalah saling mengingatkan. Tak terbatas jarak yang memisahkan, ada ikatan yang mengabarkan. Bahwa kadang, ada di antara kami yang sedang butuh dikuatkan. Saat yang satunya bergemuruh meredam remuk, yang lainnya hadir sebagai penyejuk.



Sore ini, kumaknai ulang ujian Allah atas diri: Barangkali, apa-apa yang terhempas dari ikatan, akan ditautkan dengan ikatan baru lainnya. Di titik itu, sekiranya melepas semua yang dicinta adalah orientasinya dakwah semata, niscaya manisnya tak memberatkan rasa. Oh Allah, barangkali, amanah yang dikira mata batin seberat Tursina, ternyata hanya secuil tetes penyebab terdidiknya diri..


Lalu sekarang apa? Sekarang, jikapun aku mengingkari takdir karena gagal mendapatkan kesempatan yang aku cita-citakan, belum diizinkan memilih apa-apa yang kupetakan, maka sebenarnya hati kecilku sudah bisa berujar lega. Dulu kamu kehilangan beberapa hal yang kamu inginkan, dan ternyata Allah lah yg menjelaskan kemudian, kenapa kamu dipilihkan yang itu. Allah akan hadirkan penghibur hati yg menentramkan. Dan biasanya itu adalah tentang dakwah.


Passion itu yang rasanya membuat hidup tambah semangat, tambah optimis dan husnudzon. Semisal contohnya gini. Aku sebenarnya ingin bermasa depan di Jogja, membangun mimpi dan lifemap di sana. Tapi bagaimana jika ternyata besok, bulan depan, atau taun depan Allah menghadiahiku takdir di kota/tempat yg tak kuharapkan? Pasti ada rasa segan untuk berpindah haluan, mengubah urutan mimpi atau bahkan menghapusnya sama sekali.



That’s a pity u know, melepas mimpi itu pedih sekali. Inilah yang kubilang dakwah yang menghibur kami. Satu hal yang insyaa Allah mampu menyemangati kami untuk survive: Plan dakwah. Sekarang pun, meski kami belum tau pasti takdir kami, kami sudah membuat rencana-rencama jika ternyata harus mengubah haluan. Menata ulang urutan cita-cita, mempersiapkan anak-anak tangga menuju mimpi-mimpi kami.



Inilah hidup. Saat mimpimu harus berubah karena takdir Allah, ikhlaslah. At least nikmatilah prosesnya menuju ikhlas. Toh masuk surga itu banyak jalannya. Jadi jangan terlampau sedih saat salah satu dari mimpi-mimpimu hilang. Seperti cerita yg lalu-lalu, biasanya Allah akan datangkan penghibur hati yg menentramkanmu. dan biasanya itu adalah tentang dakwah. Sungguh, nikmat Allah itu luas..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar