Minggu, 19 Februari 2017

DENGAR DULU

Frankly speaking. Aku terkesan. Pernah, saat hati ingin mengutarakan keluh, justru urung menjadi luruh. Ingin meniru, tapi selalu saja ada yang ingin didengar lebih dulu. Jika begitu, batin tak sungkan untuk mengaku; baiklah, itu bagianmu. Itu hakmu ingin didengar dan diperhatikan. Seringnya begitu. Mungkin ada tempat lain yang harus kutuju dalam perih dan hal keluh untuk mengadu.

Kisah hari ini. Lagi, menemukan pelajaran baru. Siang ini, rutinitas sedikit santai bebas tanpa paksa. Orderan syuro hanya beberapa, tentu sorenya. Rentetan binaan pun lowong dari agenda.
Ritmenya sedikit pelan, maka bersenang-senanglah (harusnya?). Tapi egois sekali ya? Haha. 
Seba'da bertemu dosen pembimbing tadi, 20 menit konsultasi perangkat uji kinerja bernama sertifikasi, me-rekap belasan lembaran nilai sana-sini, diakhiri basa-basi ala aku yang sejujurnya, tidak penuh dari hati. Tanya kabar beliau, sekilas wajahnya sedikit lelah dan kusut. 
Bertingkah peka, seolah-olah. 
Tapi, memang. Apa yang terlihat dalam mata awamku, tertangkap pula dari bilik hatiku. 
Membuatku tak urung melanjutkan tanya, bagaimana kondisinya. Duduk di sebelahnya, seolah menganggapnya kawan lama. Padahal, siapalah aku (?).

Berawal dari iseng ini, berlanjut qodoya (read: curhat) 2 jam kurang lebihnya. 
Perdana! Seorang aku menjadi pendengar yang baik untuk seseorang seperti ia. 
Diberi kesempatan mengenal lebih luas, ia yang mumpuni dalam sebuah bidang studi bernama strategi pendidikan masa kini. Sesepuh berilmu yang dianggap killer di mata mahasiswa sebuah prodi. Beliau bercerita banyak hal. Perjalanan suksesnya, jalan panjang meniti kariernya, kabar keluarga dan anak cucunya, harapan masa depannya, hingga jatuh bangunnya yang tertakdir di hari-harinya.

Tak kalah menariknya, adalah dua bola mata di balik lensa cekung itu mengaliri lembaran bening, merayap hebat. Kukira ini Dejavu. Pernah aku berimajinasi, bagaimana kelak jika ada orang penting yang kukagumi wibawanya, yang kusegani ilmu-ilmunya, yang kuprasangkai ketegarannya, suatu ketika meminta petuahku, atau meminta waktuku berbincang perih dan hal dalam takdir yang dititinya. Apa yang bisa kuperbuat, dari seorang aku yang jauh dari kata mengenal asam garam kehidupan? Sebut saja kekanakan. Apa yang harus kulakukan? Sesiap apakah aku mengulurkan tangan terhadapnya?

***
Sesungguhnya ada satu bagian menarik yang kemudian kusadari. Dulu, ada bidang ilmu yang memang tak lama kutekuni, 2 tahun kurun waktu dalam masanya. Bekal kelak mendidik di ujung pelosok negeri perbatasan sebuah wilayah, barangkali. Bimbingan dan konseling namanya. Tentang peran seorang helper yang pertama-tama dibutuhkan konseli. Mendampingi. Mendampingi saja dulu, karena tidak selalu seorang konseli itu butuh diselesaikan masalahnya.

Kadang mereka hanya butuh katarsis, kelegaan. Dengan adanya seseorang yang menemani, membersamai, dan mendengarkannya, ia merasa lega, berkurang beban jiwanya. 
Meskipun sebenarnya belum tentu membantu, belum memberikan solusi atas beban masalahnya. 
Namun kehadirannya saja sudah memberikan efek terapeutik, melegakan!

Seperti para supporter sepak bola, yang dibutuhkan oleh pemain untuk hadir dalam pertandingannya.
Tidak butuh dibantu menendang bola, karena itu malah bisa menjadi masalah (ingat kasusnya Hendri Mulyadi, hehe). Para pemain itu hanya butuh kehadiran para supporternya untuk berteriak padanya memberi semangat, untuk melambai-lambaikan ayunan tangan dan sorak sorainya, sekedar menyampaikan pada para pemain: “Kami ada di sini, Bro. bersemangatlah, lakukan yang terbaik! Kami di sini untukmu, mendukungmu, mendoakanmu, sepenuhnya hadir untukmu. Kami akan bersorai untuk kemenanganmu!.

Begitulah. Bahwa tidak semua orang yang memiliki masalah itu butuh seseorang yang bisa menyelesaikan masalahnya. Kadang mereka hanya butuh didampingi untuk menghadapi masalahnya, agar ia yakin, ada banyak orang mengalami hal yang sama dengannya, ada banyak orang bersamanya ketika ia harus menghadapi suatu peristiwa.

Tersadar..
Dalam dialog dan komunikasi kita dengan tiap-tiap yang berjiwa, sentuhan gerak ataupun bahasa, sesungguhnya selalu dibebani salah satu di antara beberapa;

Bahwa, siapapun dia yang berkata dan bertindak dari hati, dipenuhi ruhiy bukan hanya mengandalkan apa yang dibisiki fikriy, maka insyaa Allah perkataan lisannya benar-benar jatuh ke hati. Namun jika tertolak, bertanyalah kita; kenapa ada jiwa yang menolak pesan yang padahal terasa (telah) dibungkus dengan cinta?
Di mana letak salahnya?




*********
Rawamangun, 22 Nov 16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar