Minggu, 19 Februari 2017

Ontime!

Belajar dari berbagai peristiwa, orang, bahkan seluruh perangkat yang diciptakan Allah di muka bumi ini, sudahlah menjadi keharusan. Bukankah Allah sudah pesankan tentang perumpamaan-perumpamaan yang diserakkanNya di bumi ini? Dan siapakah yang dapat mengambil hikmah? Tentu saja mereka yang dianugrahiNya pemikiran yang tidak pasif. “Afalaaya’kiluun? Apakah kamu tidak berfikir? Begitu tanyaNya. Seharusnya pertanyaan itu menjadi hentakan yang menyebabkan bangun, bukan lelap.Tamparan atas kezholiman yang kadang-kadang membiasa dan memanis.

Plak!
Rasanya pasti sakit jika tertampar, apalagi jika tamparan itu begitu keras. Tapi ada hal yang patut disyukuri atas tamparan dan rasa sakit tersebut. Setidaknya, rasa sakit itu mengindikasikan bahwa sel neuron sakit kita masih berfungsi baik memberi sinyal; ada anggota tubuh kita yang sedang sakit dan perlu segera diatasi untuk disembuhkan.

Seperti hari ini, niatku yang menyengaja tidak ontime sebuah acara terwujud rapi. Alasannya (rasional menurutku, dan kalaupun terlambat ada kemungkinan dimaklumi) bahwa aku bosan menjadi seorang “penunggu” orang2 telat dan agenda ini dadakan kuterima infonya. 
Langsung saja teguran itu memanah hatiku. 
Tepat sasaran. Berdenyut ke ubun-ubun. 
Malu. Sungguh memalukan. 
Menjadi golongan orang2 yang datang “terlambat”.

Apakah sudah langka muslim di jagat ini yang bias dijadikan teladan terkait waktu?! Atau memang sudah tidak ada?! ”Ana heran. “Ana heran dengan ikhwah zaman sekarang. Apakah antum hanya menjadi pejuang yang datang dengan tergopoh-gopoh setelah saudaranya sekarat menantinya? Afwan akh, afwan ukh, ana otw. Acaranya sudah mulai belum ya? “begitukan kebanyakan ikhwah zaman sekarang? Antum Murabbi akh, ukh. Profil Murabbi seperti apa yang sedang antum sandang?! Zholim antum akh, zhalim antum ukh !”.

Jleb! Kalimat itu menohok relung jiwaku. Seperti terhempas dari bangunan tingkat tinggi.
Zholim. Astaghfirullah aku termasuk kategori zholim tersengaja. Tak diragukan kehinaannya.

Belajar dari rasa “menzholimi”. Sungguh, betapa diri kita masih harus dididik dengan keras agar lebih bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik. 
Apapun alasannya, telat tetaplah telat, yang itu berarti: telah mendzolimi saudaranya yang hadir lebih tepat waktu. kecuali syar'i kendalanya. Masya Allah, betapa kadang-kadang “keteladan” itu penting untuk sering disuarakan dan bahkan berazzam untuk konsisten ditampilkan. 
Banyak cara, hanya saja alasan kita masalah waktu terlalu klasik.
Menyesal. Tiba-tiba kusesali kesengajaaku, astaghfirullah. Padahal dulu pernah menjadi golongan orang2 yang hadir tepat waktu seperti mereka-mereka yang beruntung hari ini.

Kagum. Aku memang selalu kagum kepada orang-orang yang ontime selain orang-orang dermawan.

Bercermin. Karena setidaknya dengan kewarasan aku menyadari bahwa waktu yang diamanahkan banyak cacatnya olehku. Orang, seperti apapun kepribadiannya secara samar dan terang-terangan memang selalu jadi cermin. Itu fitrah. 
Melihat seseorang yang banyak hafalannya, kita mungkin ingat dengan hafalan kita yang minimalis. Melihat seorang saudari dengan gaya kedermawanannya, kitapun mungkin langsung ingat dengan kebakhilan kita. 
Melihat orang yang tepat waktu,seperti mereka yang hadir di acara kali ini otakkupun langsung mikir. Kenapa dia bisa?!. Akupun mencurigai diriku dan manajemen waktu yang kupunya. 
Kusesali keberantakannya. Begitulah mungkin kekuatan “keimanan” menyampaikan aura mereka padaku maupun orang lain yang seperti kata Nabi SAW, “seseorang yang ketika orang lain melihatnya, akan mengingatkan pada Allah”. Terpana. Dan kira-kira kalau melihatku, orang bawaannya ingat apa ya…? –__–!

Mungkin perlu menangisi kezholiman kita yang kalau dihitung2 ternyata penzholiman terkait waktu sudah sejak dahulu ‘membiasanya’. Mumpung masih di dunia; tempat yang insyaa Allah masih diterimanya taubat. Sensasi menangis ini bukan hanya milik mereka yang konon melankolis. Siapapun, yang kalau Allah telah takdirkan hatinya untuk tersentuh, merasa, tergugah, Maka ia kan menitiskan lembaran-lembaran bening itu atas kesalahannya, kealpaannya.
Karena setidaknya, menangis dan menyesali itu mengindikasikan hati kecilnya masih berfungsi baik untuk jujur mengenali mana yang perlu dikoreksi atas dirinya. Mana ‘sakit jiwa’ yang perlu tindakan penyembuhan segera. Kan repot kalau suatu waktu tabiat ke tidak tepat-an kita terhadap masalah waktu beregenerasi. Diam-diam ditiru.

SerambiMekkah,
#EdisiKampusMurabbiSetengahHari
#TemuKangenParaMurabbi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar