Minggu, 19 Februari 2017

Arah(an) PULANG

Ini kali kedua aku lewati jalan ini. Yang pertama? Ya saat berangkat tadi. Sampai pertigaan besar aku bingung. Ini harusnya belok kanan apa kiri. Sedangkan derasnya hujan menghalau ingatan. Padahal biasanya aku punya daya navigasi yang bagus kalau jalan sendirian. Apalagi sekedar menghafal jalan pulang.

Dua lelaki duduk di emperan toko sebelah kiriku. Salah satunya seperti menangkap bingungku yang memaku di tepian, lantas memberi isyarat pada temannya semacam “Hei lihat. Sepertinya orang itu bingung.” Memang iya aku bingung, lantas kutanya kemana arah jalan pulangku. “O, kesana mba. Sanaa teruuus.” Bersahutan mereka menjawab sambil memberi isyarat belok kanan. Oke, motor hadiah dari Ayah melaju lagi.

Jalanan naik turun khas pegunungan. Kadang bingung ini tanah atau aspal. Oh ternyata aspal yang tercover genangan air kecoklatan serupa warna tanah. Semakin suram dan seram dengan kilatan petir serta dentuman guruh di langit.

Sepi. Kebanyakan area persawahan. Hanya sesekali ada kendaraan dari arah berlawanan. Ada dua orang pejalan kaki yang kutemui di jalan yang sepi. Satu, bapak yang berjalan sambil ‘nyunggi kawul’ (bahasa Indonesia yang pas apa ya). Mungkin untuk pakan ternaknya. Dua, bapak tua yang berjalan sambil membawa arit (sabit). Keduanya sama, berjalan santai dan pelan, tidak terburu. Seperti menikmati langkahnya yang basah.

Perjalanan terasa berat. Hujan benar-benar deraaasss. Tetes-tetesnya di wajah seperti menusuk-nusuk. Anggap saja refleksi wajah ya. Hari mulai gelap, mata minus dan silinder dipadankan dengan lensa yang terus buram diguyur hujan. Remang-remang pandangan. Belum lagi sorot lampu kendaraan yang berpapasan menambah keburaman yang serius dalam sekian detik. Silaunya memaksa mengurangi kecepatan. Komplit sudah.

Bingung sungguh bingung. Mana masih jauh, sekitar 10 kilometer. Apalagi si bocah di dalam lindungan jas hujan mulai gusar. Kedinginan. Karena meskipun pakai jas hujan kami tetap kebasahan. Kuhibur dia dengan lafal surat Luqman, surat yang dia hafal. Meski tidak mau meniru, lumayan dia dengar. Barangkali bisa sedikit menenangkan.

Tetiba terlintas ingatan bahwa bocah ini bocah pejuang. Dia menemaniku (kami; 5 bersaudara) di masa-masa perjuangan di awal rumah tanpa ayah dan bunda. Masa-masa keemasan tumbuh kembangnya, masa pra sekolah hingga bersekolah. Masa mengenalkan padanya alfabeta hingga makna abjad dan Hijaiyah. Masa mengenalkan padanya bermuamalah dengan tetangga. 
Di masa sakit, sulit, dan ngirit. Dan dia, bocah dalam lindungan jas hujan ini tetap enjoy di segala suasana. Ketika rumah kami sangatlah sederhana, dia sering ‘menghilang’ keluyuran kemana-mana. Yang disasar biasanya rumah tetangga. Pernah bingung nyari, ternyata dia lagi asyik sama mbah-mbah di depan toko. Umurnya sekitar tiga setengah tahun waktu itu dan dia suka sekali menyapa tetangga.

Dia yang selalu menemaniku dari usia 3,5thn. Menemani hangout, liqo, organisasi, syuro, sampai bekerja sampingan sepulang sekolah. Sekarangpun paling banyak terbuka apa2 ke aku, ketimbang bunda. Semua keluh pribadi dan apa-apanya paling banyak ke aku. Ngomong-ngomong, bagaimanalah para ummahat bisa meneladani para sahabat nabi yang kalau bermajlis adabnya seolah-olah ada burung di kepalanya (anteeng, ora useeek ae). Lha wong ummahat itu ya, bisa banget liqo atau pengajian sambil kejar-kejaran dan ‘petak umpet’ sama bocah.

Dan bocah ini, sampai hari ini hujan-hujanan begini, dia yang ada bersamaku. Baru kali ini dia merengek dalam perjalanan. Pasti dirasa sangat dingin dan melelahkan. Tiba-tiba dia berkata "kak maaf aku tadi main aja.” Loh? Memang tadi hujan sempat agak reda di lokasi tapi dia masih asyik main tidak mau pulang. And now she feels guilty? Oh no, I said not ur fault.

Kurang sekitar tiga kilo lagi perjalanan, dia kembali merengek, mau pecah tangisnya. Ya Allah, seorang dia tak kan sebegitu tertekan kalau tidak sangat kewalahan. Sepanjang sisa jarak kutenangkan “Sabar ya dek, sudah mau sampai ko.” Tentu saja. Jarak yang kita tempuh selalu mendekatkan kita pada tujuan. Itu berarti semakin ‘sudah mau sampai’.

Sampai di rumah beberapa menit sebelum adzan magrib. Badannya gemetar kedinginan dan menangis. Oh dear. Thanks for being my super girl. Perjalanan kita akan lebih panjang lagi nanti. Selalulah kuat.

Petang disambut sayup adzan bersahutan. Mengagungkan Sang Pencipta, mengingatkan kita untuk kembali menghadap-Nya. Karena dalam setiap perjalanan kita selalu ingin kembali pulang. Maka sejauh dan seberat apapun perjalanan, kita harus terus berjalan untuk pulang. Dan adzan selalu mengingatkan, kemana harusnya kita menempuh jalan pulang.

Seketika aku terbangun, ah mimpi dia lagi. Langit-langit kabin pesawat bernama Citilink masih sedia kala. Semua manusia terlelap di atas awan. Ngecek handpone. Oh iya, sepanjang aku mengudara selama ini, tak pernah melanggar aturan. Termasuk sungkan menyalakan handpone ketika take off hingga landing. tapi buktinya, sekarang aku nekad. kunyalakan handpone, pesan masuk, ternyata kabar kemarin berlanjut: beliau masih dirawat di RS. Belum ada progress apa-apa selain tubuh lunglai itu. Syafakillah dek. Doa dari jauh memang tak seperti sentuhan fisik ketika dekat.

Allah. Janjiku kemarin memang pulang untuk menemanimu, tapi bagaimalah, agaknya ditunda dulu. Bukankah kita sedang melanjutkan risalah Rosul tercinta? Kamu harus segera bangun dek. 
Dan kita kembali bercerita, tentang Thariq bin Ziyad. Tentang Abdullah bin Umar junior. 
Tentang kamu. Kamu yang mulai terlihat sepertiku; mencintai dan mengagumi para muharrik peradaban itu. Atau Tentang sepenggal tafsir Adh-Duha, insyaa Allah.


Dek, sehat ya.
I know, sebenarnya ini arah(an) untuk pulang sejenak, tapi bukankah kadang kita terlalu kaget dengan alur skenario yang dibelokkan di tengah pentas yang kita perankan? 
Sekarang, pulangku bukan untuk urusan pribadi dan keluarga. Tak bertemu juga.
Tapi kau pasti tahu dek, sehatlah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar