Minggu, 19 Februari 2017

Namanya NAMA yang Baik

Pada zaman saya kuliah (kaya lampau amat ya?!), pada salah satu sesi mata kuliah Bimbingan Konseling kelompok, kami diminta oleh dosen pengampu mata kuliah untuk membuat nama sifat dari nama panggilan kita. Ketentuannya, nama sifat diambil dari nama panggilan kita dengan ditambahi kata sifat (boleh positif atau negatif) yang mempunyai huruf awal sama dengan nama panggilan kita. Ribet amat sih! Gini lho maksudnya, misal: nama teman saya Agustinus, jadi nama sifatnya harus berawalan huruf “A”, Agus Atraktif, begitu. Atau alternatif lainnya, tiap huruf akhiran nama disusul dengan kata sifat apapun.



Saat itu, kami menemukan banyak kelucuan dari nama sifat teman-teman (dan saya juga) di kelas. Ada yang cuocok banget sama karakter orangnya, misalnya teman saya: Ajri Asertif, pas banget nama sifat dengan karakter dia yang memang asertif. Tapi lucunya, ada juga beberapa orang yang saking sulitnya cari nama sifat untuk huruf depannya paling ya, dia –dengan teganya- memberi nama sifat negatif pada namanya sendiri. Ada juga yang –dengan kasus yang sama, sulit cari kata sifat yang pas dengan huruf awal, hehehe- milih pakai bahasa asing untuk nama sifatnya, mulai bahasa Maluku, NTT, Aceh. Jawa, Inggris, sampai Perancis (iya ga ya?!).


Sebuah ‘pemaksaan’ yang positif saya rasa, sekaligus sedikit mengindikasikan konsep diri masing-masing. Nah, sama halnya dengan teman saya yang bingung cari nama sifat, saya juga begitu. Sebanyak apa coba kata sifat berawalan huruf “Z” untuk Ziah, yang familiar dengan koleksi vocabularies saya? Saya benar-benar sulit menemukannya. Bukan karena tidak kreatif (padahal emg ga kreatif), tapi ada rasa malu, tau diri, dan ga pantas pas nemu nama sifat yang cocok. Halah zi, ngaku2 banget sih, batin saya. Akhirnya teman2 sekelompok menangkap sinyal kebingungan saya. Jadilah mereka berdiskusi memberi nama yang tepat buat saya. Mereka pakai kata sifat konyol yang katanya cocok untuk saya; Ziahiperaktif (hah?!) -_-



Tapi di kemudian waktu saya nemu kata yang lebih positif: Ziahelper, Ziahebat, dll, tentu ada maksud di balik ke-Pd-an saya begini. Next time kita bercerita. Insyaa Allah. Haha. Nah! Mata kuliah yang sederhana inilah salah satu kegiatan yang sangat berkesan dan banyak bermakna bagi proses tumbuh kembang saya.



Saya sungguh banyak menemukan self and others understanding dari makul ini. Nama sifat ini salah satunya. Ada sebuah logoterapi yang saya temukan dari kegiatan ini. Kami sedang belajar mempersepsi diri, sebisa mungkin menemukan karakter sifat yang memang pas dengan kepribadian kita. Hm, atau paling tidak, kami sedang belajar mempositifkan diri, menjembatani antara kondisi dan harapan.



Misal, iya sih Ziah ini anaknya rada-rada hiperaktif, paling ga betah nunggu dosen bercerita panjang lebar mengurai materi, suka mengonsumsi keisengan dan menjahili teman yang duduk di dekatnya. Apapun, sehingga timbul suasana gaduh karena ulahnya. Paling doyan izin keluar masuk kelas untuk wudhu, paling rakus masalah bertanya dan menjawab dosen sampai teman-temannya manyun optimum. Haha. Paling demen jadi tutor sebaya aka sok-sok-an jadi asisten dosen pas dosen ga berkabar. Dan satu lagi, paling lahap mengerjakan UAS dan UTS dengan waktu tercepat tanpa mikir lama, untuk kasus yang satu ini, alasannya ga lain ga bukan supaya bisa segera keluar kelas, menghadiri rapat, bertemu orang-orang penting atau bertemu adik-adik kesayangan, mengobati lelah; membina. Haha.Tapi serasa tak tega menamai diri sendiri begitu, kesannya lebih condong pada negatif (karena hiperaktivity adalah perilaku abnormal dalam makul BK Abnormal yang saya ikuti).



Maka saya berusaha menemukan kata sifat yang kira-kira lebih positif dan enak didengar. Jikapun ternyata kata sifat itu tidak cocok atau kurang pas dengan kondisi saya, biarlah dengannya saya berharap dan berdoa agar menjadi nyata. Inilah yang saya sebut sebagai sebentuk doa, berdoa dengan cara saya, hehe.


Jika ada pepatah mengatakan “apalah arti sebuah nama?” wah, akan saya jawab “SANGAT BERARTI!”. Pertama, karena saya adalah muslimah yang pernah belajar tentang betapa pentingnya memberi nama yang baik pada anak serta memberi panggilan/ sebutan yang baik pula pada saudara/ orang lain. Nama adalah doa, begitu haditsnya.



Sebagaimana Rosulullah sering memberi nama kunyah (julukan) yang penuh doa pada para sahabat yang nama aslinya kurang memiliki arti bagus. Kedua, karena saya juga belajar sedikit tentang psikologi, betapa pemberian label pada seseorang itu mempunyai arti penting dalam perkembangan dan pembentukan konsep diri seseorang.



Ada banyak cerita nyata mengagumkan yang pernah saya baca tentang ini, tapi akan terlampau panjang diuraikan lagi. Intinya: *panggil dan sebutlah dengan kata-kata positif.*

“…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…” (Al Hujurat: 11)



Maasyaa Allah, Allah dan Rosulullah telah mengajarkan lebih dulu sebelum saya belajar makul BK di atas. Memang kadang kita perlu pendekatan model lain agar lebih “ngena” sebuah pembelajaran.


Nah! Bermula dari bangku kuliah, menguatlah keusilan saya (yang sudah lama bermula sebenarnya) untuk memberi nama pada banyak hal, terutama orang-orang yang saya penting untuk menamainya. Keusilan saya tidak berhenti sampai di situ. Berikutnya saya jadi gemar memberi nama sifat pada list contact di HP saya. Tentu saja bukan karena saya menganggap nama asli mereka kurang bagus, hanya saja ingin berkreasi gitu. Terlebih lagi terselip sebuah niatan semoga nama sifat ini menjadi kenyataan atau menguatkan kebaikan yang sudah ada pada mereka. Dan faktor khusus lainnya adalah saya hanya ingin mencoba mengingat-ingat dengan cara saya. Dalam dakwah, kita butuh pendekatan taaruf yang bermakna.


Menjembatani antara kondisi dan harapan, adalah dengan DO’A. Dan bagi saya, memberi nama sifat adalah salah satu cara BERDOA. Besok-besok kalau ada waktu, insyaa Allah saya ceritakan tentang penamaan sifat yang pernah saya lakukan dan menghantarkan saudari-saudari saya berhijrah, bahkan menjadi Muallaf.


Semuanya berawal dari petunjuk Allah dan paksaan Murabbiyah yang menjerumuskan saya untuk kuliah di PPG dan dapet kekhususan belajar BK. Hehe. Saya berani menjamin, kuliah BK itu asik banget! Insya Allah. Apalagi psikologi, dan paling cakep ya Sains (teutep) tapi di balik semua prodi, paling istimewa tiada dua ya mempelajari ilmu jadi Murabbi dan Kaderisasi. Sering terlintas dipikiran, sepertinya sebuah mimpi harus saya tambah; mendirikan yayasan/lembaga khusus/sekolah khusus Murabbi dan KADERISASI. (Mulai ga nyambung).



Baiklah, kalau Hasan Al-Banna bercita-cita untuk Mesir, saya bercita-cita untuk Pembinaan Ummat. Pengkaderan Ummat. Udah itu aja. Simpan  Sains, mari ikhtiar jadi Soko Guru Peradaban Islam yang inspiratif. Whehee.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar