Tapi untuk apa turut serta menyepikan ruh jiwa, hingga berkilah tak terima atas takdir Allah? Untuk apa? Kau bilang, sementara kau butuh waktu meredam gejolak jiwa. Sampai kapan? Sampai Allah berbicara merasuk ke jantung? Atau sampai Allah menggantikanmu dengan yang lebih tangguh? Mau?
Seseringnya kau menularkan apa-apa yang kau kira benar sesuai sunnatullah, selagi di hatimu masih peka, tetap saja kau tersiksa membiarkan terlalu lama. Iya, itu maksudnya. Pengamat yang berguguran di jalan dakwah.
Kau yang mencoba bijak, tetap tegak disaat yang lain terserak. Adakah yang mau menemanimu, di sini? Jika tak ada, tak mengapa. Ada Allah di sisi, percayalah. Tetap melangkah, sambil menunggu yang terlelap, jaga semangat.
Ada pesan buatmu, barangkali berguna.
Kau tahu,
Jika hatimu samudera, sekilo garam tidak akan terasa. Iya. Coba saja. Jangan terlalu banyak merasa hingga kau sendiri yang terluka. Jika pada akhirnya kau tetap terluka, obatilah segera. Jangan biarkan menganga terlalu lama. Karena akan ada bakteri dan virus yang sedia menambah parah. Virus lesu dakwah misalnya. Bakteri perusak jamaah juga ada.
Menurutmu, sekaliber Umar ra kala ditinggal Rosulullah untuk selamanya, tidakkah ia menangis dan tidakkah ia mempercayai takdir yang tertera? Iya, begitu. Umarpun menangis meratap. Umarpun histeris hingga sembab. Hingga sosok yang paling teduh dan terpaut hatinya oleh qodarullah berkata, Muhammad itu hanya seorang Rosul. Maka apakah jika ia mati atau terbunuh kau akan berpaling/murtad? Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sungguh dia telah wafat. Barangsiapa menyembah Allah. Maka Allah kekal. Umarpun terkulai lesuh. Ya, yang dicinta telah pergi. Yang biasa membersamai dipanggil Illahi. Perih. Hingga langit Mekkah mendung sejagat raya membumi.
Maka sebenarnya, kau yang masih tak terima atas kehilangan dan dipisahkan, tidakkah mengerti tentang batas kebersamaan? Tentang perjuangan yang berbeda ladang? Semacam takdir yang tak boleh ditolak. Apalagi tak sanggup kembali bangkit dan bergerak. Padahal kau tau, perjalanan masih panjang. Ada kawan yang butuh dipapah. Ada sahabat yang ingin dibersamai. Tengoklah sejenak ke sebelah, barangkali kawanmu sekarat menunggu uluran. Jelilah, ada kawan di sebelahmu. Sadarlah. Jangan mengingkari takdirNya.
Lapangkanlah hatimu. Lapang selapang Sabana.
Sekalipun di sana ada gajah, harimau, jerapah. Sabana itu akan tetap terlihat luas.
Tetapi jika hatimu sempit, lebih sempit dari kamar tidur, jangankan gajah, seekor ayampun akan membuatnya sempit.
Luaskanlah hatimu. Luas, seluas Samudera.
Sebanyak apapun sampah masuk dari muara sungai-sungai, ia kan tetap jernih.
Tetapi jika hatimu sempit, sesempit air dalam gelas, jangankan sampah dari sungai, setetes dari tinta saakan membuatnya kotor..
Sejatinya, andai kau mau mendidik diri, takkan ada perih yang terlalu perih. Tak kan ada sakit yang terlampau sakit. Semua sesuai takaran sanggupmu. Allah itu, selalu mencintaimu dengan caraNya, kau saja yang tak terbiasa.
Sejatinya memang, tak terim itu hanya sebatas pengertian pahammu. Kau tak terima karena kau tak mau memahami kenapa diberi. Diberi takdir yang meluapkan emosi.
Percayalah, takdir Allah itu menentramkan.
Ikhlaslah atas perpisahan. Biarkan kawanmu melanjutkan perjalanan, toh kau masih bisa menyapanya di kemudian hari. Kau masih bisa merangkulnya dengan sedikit kasta dewasa. Percayalah, kau belum benar-benar kehilangan. Bukan seperti kehilangannya Umar. Jangan sedih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar