Minggu, 05 Maret 2017

PEKA #1

@Ziahbisa
Saat yang lain tersenyum puas menakbirkan hamdalah, hanya ada satu jiwa yang terkoyak lesu bersahaja. Tangisnya menggugu isak tersuarakan, bahunya berguncang seolah ada beban yang ingin disampaikan. Semua mata beralih padanya melayangkan tanya. "Ada apa? Bukankah harusnya berbesar hati, merayakan bahagia atas pesan Allah di surat AnNashr ini?. Ada apa? Tidakkah kau bahagia? Kenapa berduka di saat yang lain bersuka cita?" Tanya mereka, para sahabat terkasihnya.
"Bagaimana mungkin kan bahagia, bagaimana bisa menggembirakan rasa. Bukankah pesan itu, isyarat tanda bahwa sang Rosul selesai beban dakwahnya membersamai kita? Bukankah Wahyu kan segera terhenti? Bukankah Rosul kan segera menghadap Illahi dalam waktu dekat?" Jawabnya sembari mengusap bening merayap hebat.

Semua sahabat melangitkan mendung dalam hati. Dan dialah Abu Bakar. Yang karena bashirohnya semua tersadar. Ya, Sang kekasih akan segera pergi. Jauuuh, jauh sekali. Terbatasi fisik dan indera. Terhalang jarak dan segalanya. Tawa dan sumringah berubah jadi pilu. Kelu. Tak tersampaikan lewat kata, menangislah akhirnya semua jiwa. Dialah Abu Bakar radhiallahu anhu. Yang Paling peka perasaannya atas Nabi. Yang paling setia membersamai Nabi. Yang paling tahu perih dan hal Nabi. . Andai bumi dan seisinya ditakar perkara setia dan cinta, niscaya dialah yang paling yang berat timbangannya. Begitu kata Nabi. maka tak heran jika Nabi mencintainya di atas lebih, hingga banyak hati hati mengulum lirih, andai aku bisa mengunggulinya.

Maka kitapun merindukannya, merindukan insan-insan yang mengikuti jejaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar