Minggu, 05 Maret 2017

Ujian Shiroh

Perjalanan realita aksara kali ini menghantarkanku pada episode memukau atas flash back di beberapa pekan belakangan dalam membina. Sedikit tragis namun berharmoni romantis. 
Tragis, apa yang kuperjuangkan masih nihil hasilnya. Bisa jadi 'amilatunnashibah. Berbuah melelahkan. Romantisnya adalah, belakangan di sepenggal Maghrib berjamaah, sang Imam melantunkan ayat penguat; Alladzi kholaqol mauta wal hayaataa liyabluwakum ayyukum ahsaanu amalaa.

Etah! Hanya sedang diuji. Sejauh apa baik buruknya amalan yang ditekuni. Barangkali salahku di situ. Hingga terisaklah aku pada akhirnya disertai tetesan mimisan yang kuhindari. Bukan perkara terhempasnya atas apa yang ku beri, yang dalam takaran logikaku telah kuikhtiarkan di batas mastatho'tum selama ini. Berburu waktu, tak peduli sakit tak peduli terik, atas nama membina semua penderitaan sering hilang tersapu angin yang membersamai, tapi mencoba melirik dengan mata hati; "duh Zi. Inikah ikhtiarmu selama ini? Hello, jangan-jangan ada yang terlewati. Kau belum merekam pesan siap dari hati binaanmu, bahwa sudah waktunya berilmu mendewasa. Belajar dan belajar. Menebarkannya menyegera, mengharumkannya mengangkasa. Barangkali, obsesimu yang terlalu tinggi. Sampai tak sadar, kau sendiri yang terjatuh ke dasar bumi. Atau, navigasi adab menuntut ilmu belum terwarisi. Sehingga, tak berkesanlah apa yang kau beri selama ini."

Pekan Maret pertama di hari ini. Rentetan tugas berderet rapi. Rutinitas subuh tadi dimulai dengan bergegas kembali ke Jakarta. Berkemas dari tuntutan amanah, hingga tibalah di Bandara Soehatta tepat pukul 12. lewat dua. Tak perlu dibayangkan betapa tersengalnya. Karena niat di hati jangan ada jedah yang terlalu lama, maka dimudahkan pula segala perkaranya. Yaps. Bis Damri arah Rawamangun tersedia tanpa menunggu lama, berangkatlah aku hingga ke tujuan; Kosan Pemuda. 

Perjalanan terik, bapak sopir yang ramah itu paling mahir mengendalikan mesin kemudi. Hingga terbawalah aku ke alam lain bernama intuisi. Menikmati laju turunnya merdu suara Shia dengan Chandelier dalam raungannya yang diputar keras oleh bapak sopir. Then, kau dan aku tegak berdiri melihat hutan yang menjadi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin. Ah, bapak sopir, kita berbeda dalam semua, kecuali dengan cinta. (backsound puisi Soe). Dalam selera musik maksudku. Haha. Okelah, ini tidak penting

Rawamangun mulai semerbak. Siang sebagai latar perjuangan panjang makhluk Allah segala jenis rupa. Karena malam, terlalu bersekat untuk sekedar berdiskusi, rapat hingga mengkaji bagi para Mahasiswa yang hilir mudik memasuki gerbang kampus Hijau aroma Tarbiyah. Di sinilah aku, tertatih-tatih mengejar seorang saudari.

Melihatnya dari kejauhan membuatku urung menikmati langkah kaki yang sedikit berintonasi. Efek sepatu aneh yang belum sempat beli pengganti. -_- Sempat terbesit, mungkin nanti aku harus merubah kebijakan baru; dihalalkan memakai sandal gunung dan sejenisnya, demi kemaslahatan selera para pendaki? Biar sedikit bergengsi, dan menjauhi list iqob bagi para akhowaty. (Hah?)

Setelah salam dan setor wajah sumringah, merekap sedekah versi Rosulullah dengan tersenyum di depan saudari, kami beriringan ke tempat yang sama; MNI. Banyak diskusi seputar dakwah yang dibagi. Ujung obrolan kami tak jauh dari perkara pembinaan dan regenerasi. Aku dan dia, berdiri di titik yang sama. Dan punya obsesi berapi di Fakultas yang kami cintai. 

MNI masih ramai. Dan terlihat banyak yang baru menunaikan sholat ashar. Ahya, ini awal perkuliahan kan ya?. Banyak wajah yang tak kukenal meski banyak yang mengenalku. Maksudnya menyapaku. Tapi tak apa, secicip ujian bagi alumni tua yang disiram santunan ihtirom oleh para pemuda pemudi dengan sebutan kak dan umi. Haha. Gaje!

Menghampiri binaan yang sudah berformasi. Di hati tersusupi rasa teduh dan.... apa ya?. Sayang barangkali. Melihat mereka, rasa lelah efek perjalanan jauh dan nafas tersengal tak terasa. Terlebih terhadap dua orang adik yang ku hampiri di selasar MNI. Sore ini, ada dua lingkaran yang kuisi. Salah satunya, ya mereka ini. Sambil bagi waktu, kuajak mereka masuk MNI, sedikit nego bahwa aku harus bagi diri. Tak keberatan, hanya kesepakatan manis dari pancaran ketaatan. Meski baru berdua, halaqohpun dibuka. Entah, akhir-akhir ini mereka kerap ingin ku dekati. Lebih dekat dari biasanya. Dan ada sayang yang kalau ditakar, sepertinya bertambah pula.

Sementara lingkaran yang satunya telah dibuka, sambil bolak balik dari sebelah ke sebelah, setor materi hingga terakhir penugasan khusus adalah mengkaji ulang materi. Menuliskannya kembali sesuai yang dipahami. Mulai dari Bi'tsah hingga Pemboikotan zaman Rosulullah. Tertangkap pesan kaget dari masing-masing wajah. Dihiasi dengan tawa dan sedikit nego yang manja, tak ada pilihan selain mengikuti seluruh arahan; tidak open book, Googling apalagi. Diskusi tidak boleh, saling taawun juga haram. Haha. Tugas lebih sejam itu akhirnya selesai. Di penghujung waktu yang habispun masih ada yang belum siap mengumpulkan. "Duh dik, kalian seolah sedang mengajarkan, nanti begitulah Zi kalo maut menjemput, tak ada penambahan atau pengurangan waktu. Tidak nego, bahkan tak bisa ralat amal. Kalo waktu habis, ya habis. Jadi beramallah yang benar. Ontime dalam bersegera." 

Ngecek lembaran satu-persatu. Terbaca pesan-pesan unik. Dua lembar yang ku beri ke masing-masing diri, masih ada yang tidak terisi. Ada yang mengakhiri dengan emot dan istighfar, ungkapan cinta, bahkan penyesalan yang memintaku bersabar. Macam-macam. Yang sedikit membuat hati tergesek, jawaban yang ku telusuri masih jauh dari harapan yang seharusnya. Seolah ada Shiroh baru di zamannya Nabi. Misalnya begini, "Pemboikotan itu ya pemberian makan, diperbolehkan makan, pembagian makanan gratis di rumah Khadijah, hingga Rosul menikah dengan banyak wanita dari kaum Quraisy." Ini kan? Ckck

Ada lagi yang menuliskan; "Dakwah sirriyah itu historisnya begini kak, masuk Islamnya Umar bin Khattab, asbabun Nuzul turunnya surat Al Lahab, hingga Dakwah fardiyahnya Rosul terhadap paman-pamannya, termasuk abu Jahal."_ Nah nah, ini ngawur pisan. Tapi aku tersenyum sendiri jadinya. Bagaimana tidak, setiap ujung kalimat, selalu disusul dengan kosa kata interaktif, ada yang masih bertanya; _benar ga ya kak?, CMIIW, kalo ga salah, astaghfirullah, duh parah, dll."

Ada pula yang berkisah, tentang pengangkatan Rosul seperti dongeng sebelum tidur. Tentang masa kecilnya hingga di gua Hira. Masa Rosul jatuh cinta dengan Aisyah hingga menikah. Manis. Tapi jauh dari referensi, dik. Huft-_-!

Lembaran demi lembaran kubaca ulang setibanya di kosan. Dan maasyaa Allahnya memang, apa yang ku sampaikan selama ini belum terlihat dan tertulis di sana dari mayoritas mereka. Di kertas itu. Pahit sih, seperti menelan sekilo pare yang dibeli ke abang-abang Somay. Haha. Tapi mau bagaimana lagi. Setidaknya ada hal yang harus diluaskan, kesabaran namanya. Pemakluman akhirnya. Kalau begini teringat pesan bunda; "Yang manis jangan langsung ditelan. Yang pahit jangan langsung dibuang".

Terkadang kita, ingin orang lain segera tumbuh dengan kadar waktu yang cepat. Padahal bisa jadi, tumbuhnya hanya karena pestisida paksaan semata yang karena tak ingin kita kecewa. Sisi lainnya, ada yang memang menyegerakan tumbuh dan matang mendewasa, tapi barangkali karena faktor karbitan semata. Akhirnya merekalah yang terluka. 

Terkadang kita, terlalu berharap lebih progress orang lain. Dengan dalil yang klasik versi kita, memaksakan kehendak diri atas orang lain. Atau kita sampaikan ketegasan yang menjadikan mereka seolah tersangka dan terdakwah. Bisa jadi memang, niat di hati adalah karena Allah. Tapi mereka yang berjiwa lembut, tidak biasa beradaptasi akhirnya sulit menerima. Maka sadarlah, mungkin rasa cinta yang model begini yang membatasi kapasitas orang lain. Maybe.

Akhirnya merenung-renunglah aku, "apakah Shiroh Rosul serumit ini?" Hingga di akhir kalimat seorang adik manis berpesan; 
"Aku mau belajar lebih kak. Bimbing aku." Ketika buka handpone pun beberapa pesan permohonan maaf terlayangkan. Yang bikin hati sejuk ketika seorang adik menuliskan; "Sepertinya Shiroh ini mengajarkan, bahwa akupun ujian kak, untukmu selaku murabbiku." Tulisnya. "Bukan hanya kamu, dik. Akupun ujian buatmu, jadi memang kita tak hanya sedang belajar Shiroh terdahulu, sekarangpun sedang menyejarahkan Shiroh baru. Bersabarlah".


Malam 1 Maret 2017,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar