Jatuhnya sih emang ga sakit. Sama kaya dijatuhi amanah. Buktinya ga ada lecet sedikitpun di sekujur tubuhku. Termasuk pakaian yang kukenakan. As always, remuknya terpendam. Kepala tepatnya. Jadilah pingsan akhirnya. Darah mimisan kabarnya terus mengalir. Ditindaklanjuti via CT-scan. Daaan, seketika terjaga sepasca pernyataan dokter; harus ditangani dengan bedah. Tentu karena aku punya riwayat sakit di kepalaku. Semacam ada sugesti seruan; bangun. Bersihkan pakaianmu. Berilah peringatan. Sehatlah. (Hah?) Akan panjang perkaranya bila harus berujung klimaks di sini. Sementara ini misi ekspedisi amniyah, tanpa boleh diberitahu dan diketahui siapapun serta untuk apa belum selesai. Kan ga lucu, saat keluarga atau siapapun tau ternyata aku sedang mendekam di sepetak rumah sakit. Gosipnya sih 2 jam perjalanan motoran ke TKP yang dituju, karena itulah aku mau mencoba ikut motoran. Alasan khususnya, ya aku memang lebih hoby motoran daripada kendaraan lainnya. Naik motor itu something special buatku. Apalagi kalau di situasi batin berceloteh. Logika protes dan iman sendu-sedan, jadilah ngebut berpacu. Nyatanya hampir 7 jam kami beperjalanan. Itu sih teorinya 2 jam. Mungkin benar bisa 2 jam dengan catatan: ditempuh dengan kecepatan ekstra, plus tidak dengan rombongan rewel. Eyel-eyelan, bertengkar kecil, saling sebal, yah biasalah. Begitulah kalau amal jama’i, selalu butuh pengorbanan untuk saling bersabar pada saudara.
Di perjalanan, kutemui banyak hikmah manis bergaram (Bener bergaram ko, bukan beragam:p). Pemandangan sepanjang perjalanan menyuarakan kesan. Memasuki sebuah desa, batin dan lisan tawazzun mengumandangkan kuasa Allah. Desa ini, sebut saja taman surga kata warganya. Aneka tumbuhan hingga ternak tumbuh sehat ceria. Buaaah, dan buah dan buah dan buah dan buah dan buah dan buaaaaaaaah serta sayuran aneka rasa ada di sana. Pun petani, berjejer pesta panen di seluruh sudut dan pekarangan desa. Ah, bagaimana dengan surga yaa Rabb, jika pemandangan begini saja sudah membuatku meleleh karena cinta bertemu buah Dikau kelaknya(?)
Sambil mengendarai motor, otakku sibuk berpikir. Di sini ratusan rumah yang kulewati tidak ditemui adanya warga muslim-muslimah. Sedih, ada. Miris, ya begitulah; bergaram. Jarak lima rumah hingga sepuluh rumah selalu dibatasi gereja. Tiap rumah memiliki design tersendiri. Yang menjadikan sama, ada kepala Banteng di tiap atap rumahnya. Hatiku memang bersahabat dengan alamnya. Tapi mati rasa dengan Gereja dan aura keimanan penghuninya. Penghujung jalan, barulah ketemu satu warung yang pemiliknya pake kerudung. Rasanya batin menitik haru. Mungkin begitulah kisah para Mujahidin Palestina dan negara lainnya yang ketika ditawan di dalam penjara, tanpa penerangan cahaya, bertahun-tahun disiksa lalu suatu ketika dari balik terali besi ada yang menyapa salam. Sujud syukurlah sang tawanan sembari sesenggukan berteriak Asma Allah. Tekagetlah seluruh isi penjara. Kenapa, bertahun-tahun sudah tak pernah mendengar kalimat thoyyibah tadi, rindu pastinya. Jika dibandingkan dengan rasa yang kupunya atas apa yang kulihat, barangkali masih jauh. Tapi bersyukurlah yang kubatin akhirnya. Turut membayangkan bagaimana saudari muslimahku ini hidup di tengah mayoritas berbeda dengan akidahnya.
Seketika ingat, dulu di Jakarta pernah nyasar di sebuah desa bersama seorang adik manis. Iya manis. Karena terlalu sering menawarkan diri jadi kawan jalan ke manapun. Saat penat atau saat tak berminat sekalipun. Selalu punya cara agar ukhuwah yang terbatas jadi terbalas. Rasa yang berjarak kian dekat. Manis, karena aku lebih suka dipaksa daripada memaksakan diri. Niatnya mencari Masjid numpang sholat, dan akhirnya nyasar di lorong-lorong, di gang-gang, di jalan-jalan, muter sana sini hingga Anjing milik warga menggonggongi. Di sana, hidup bertetangga puluhan rumah dengan keyakinan yang sama; Nashrani dan seperangkat keimanannya. Kusam dan gersang. Jadilah aku tak betah nyasar di sana (emang nyasar bikin betah? Iya. Kalo temen nyasarnya seru diajak dakwah susah). Kembali ke topik. Di rumah sakit, menginaplah aku beberapa waktu. Semacam panggilan iman dalam bingkai ukhuwah, ketika terjaga kutemui pemandangan gratis. Menurutku, di jagat ini tak ada yang paling romantis saat kau sembunyikan kelu dan batinmu menyimpan gemuruh, ternyata ada sosok-sosok yang tahu dan tidak berpaling meski kau acuh. Lebih tahu perih dan hal dirimu, dan bahkan mengorbankan dirinya untukmu, untuk mencintaimu.
Ada ya ternyata orang-orang seperti ini. Aku menyebut mereka; orang orang tulus meski terhempas. Orang-orang berjiwa besar meski terpapas. Aku, selalu suka cara mereka mencintai. Kehadiran mereka selalu jadi cermin datar yang terlalu besar untuk aku berkaca, memantulkan bayanganku yang kecil tenggelam debu dosa. Memuaskan keimanan jika dibersamai mereka. Asertif dalam keitsaran. Jika ke sesama aktivis saja mereka setangguh ini, bagaimana mereka bertahan ditolak oleh objek dakwah di luar sana? Pasti lebih tangguh, maybe kan? Maka jadilah ruang rawatku disambangi silih berganti mujahid-mujahidah dakwah segala penjuru Indonesia. Jadilah silaturahim. Jadilah menyambung sayang. Jadilah seketika segar dan sehat. Jadilah akhirnya aku harus pulang dadakan ke Aceh hanya karena berkas pengobatanku harus dilampirkan dengan riwayat penyakit lainnya. Membawa catatan kronologis kecelakaan 3 tahun yang lalu. Ah, masalalu memang kadang tidak bisa dihapus sekalian. Selalu ada sebab untuk muncul ke permukaan.
Tak ada pilihan. Misi tidak bisa ditunaikan dengan maksimal, sesuai arahan aku harus pulang. Surprise. Tiba di pekarangan rumah, sepi. Tak ada suara penghuni rumah. Tak ada wajah keluarga. Yang ada hanya wajah ibu paman-paman yang biasa bekerja di rumah. Mereka masih hangat seperti dulu. Dan tentu terkaget dengan wajah pucatku. Kutangkap kekhawatiran mereka, jadilah aku dipapah menuju kamar rehatku. Wangi. Wangi masa lalu maksudku. Rebah sejenak di kasur empuk yang seketika mengingatkanku; Rosulullah terbiasa tidur tanpa alas hingga tubuhnya membekas. Jadilah aku urung merebahkan diri. Lirik angka jam di tanganku, waktuku hanya hari ini, sorenya harus balik lagi ke Medan. Ah, tak sempatkah kau menatap wajah keluarga satu-persatu?
Menyusuri rak buku, di sana ratusan buku tertata rapi. Yang kusuka dari perpustakaan koleksiku adalah lemari yang dikhususkan untuk diary tempo dulu. Jangan harap disini tertulis lembaran melankolis atau kisah roman picisan masa puberitas remajaku. Isinya ratusan lembaran mutaba'ah yaumiyah dan segala quotes tiap evaluasinya. Btw, entah kenapa siapapun yang dekat denganku, pasti kebanyakan hadiah yang diberikan adalah diary. Inilah tumpukannya. Tumpukan Mutaba'ah. Ahaha. Karena boring is bored, berkehendaklah aku menyusuri rumah tetangga. Tadi niat naik motor saja, saat bertemu Paman Abay (yang biasa kerja bantu2 di rumah) di parkiran mobil. "Bunda ga bawa mobil, Paman?" "Engga Zi, Bunda pake mobil dinas." "Ooh." "Ziah mau dianterin?" Oh engga Paman, Ziah mau jalan kaki aja. Motor Ziah diparkir di mana ya?" "Wah, masih dipinjem sama Bang Ridwan, kata Bunda biar pahalanya ngalir ke yang punya.. "Mau dianterin ke sana?" "Jzk paman, mau jalan aja, sambil sapa2 fans. Haha." "Bisa aja, sakit2 masih rakus becanda. Beneran ga mau dianterin?" Gausah Paman, Paman lanjut kerja aja, Ziah mau ke rumah nenek deh. Hehe."
"Bunda kapan pulang?" Dua hari lagi insyaa Allah. Kenapa sayang?" "Gpp, bunda jaga kesehatan ya." Pengen bilang kangen, masih aja jaim. Hahaha. Beliau sibuk. Sibuk kampanye. Handphone kututup saat disapa seorang ibu, bergamis syar'i lengkap dengan kaos kaki. Ummahat bangetlah pokonya mah. Aku lupa siapa, tapi beliau kenal lekat wajahku. "Ini Ziah kan? Maasyaa Allah. Kapan pulang? Amanah di Jkt udah selesai?". Sedikit linglung, secara ditabrak pertanyaan berderet dengan orang yang rasanya baru kenal kemudian pakai nanya amanah segala. Setelah menjawab seperlunya barulah kuketahui ternyata ummahat ini adalah sosok yang dipilih Allah dalam berhidayah. Kita punya kisah menarik tentang Hindun yang jadi musuh dakwah awalnya. Perempuan penebar makar dan perancang skenario terbunuhnya Hamzah ra, singa Allah. Kisah beliau mirip. Next time insyaa Allah kalau sempat kita bercerita. Sekarang beliau adalah Hawariyyun dakwah. Maasyaa Allah pokonya. Inspiring. Murabbi pemegang halaqoh dari Senin hingga Ahad. Kalah deh sama
Anyway, it’s exciting! Alhamdulillah, perjalanan pulangpun tak kalah seru dan penuh hikmah. Ketemu obek dakwah, memuallafkan seorang saudari, hingga tragedi sakaratul maut di udara (pesawat). Selalu ada pesan dakwah di sana. Aceh-Medan-Semarang-Makassar-Jogja-Ramawangun, kupesankan menjadi saksi. _Bahwa ada sesosok Ziah yang pernah melintasi pelosoknya hanya demi membekali diri ingin menjadi Da'iyah dan Jundi Muttaqin. (Gaya!)
Maret, 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar