Sabtu, 01 April 2017

RANDOM

Terkadang kita memang tidak membutuhkan banyak telinga untuk berkeluh kesah selagi hati masih bisa menguatkan dirinya sendiri. Bukan karena kita tak butuh orang lain. Namun seringkali ada masalah yang selesai dengan nalar dan keimanan kita sendiri sebelum ia berhasil diutarakan kepada orang lain. Saya memprasangkai orang-orang seperti ini menjadi Empat macam. Pertama, mereka orang yang tertutup. Hanya bercerita seperlunya, terbuka atas kulit luarannya saja. Dan tentu, memaksanya untuk bercerita bukanlah perkara mudah. Belakangan, orang-orang akhirnya menyerah menghadapi mereka. Karena apa? Mereka sudah terbiasa dengan prinsipnya.

Kedua, orang yang sengaja menutupi beban hidupnya. Sesekali mereka terbuka, namun kebanyakan menyimpan secara dalam masalahnya. Mereka akan memilih orang-orang tertentu untuk dipercayai kemudian berbagi. Standarisasi mereka tentu orang-orang yang kapabel serta bertitel cerdas secara ruhiyah. Bukan sembarang orang. Bagi mereka, salah orang dalam mengutarakan kesah hanya menambah perkara yang ada. Itupun, jika masalahnya melampaui titik rumit yang berefek atas maslahat orang lain, maka berceritalah mereka. Atas nama masalah pribadi, dipastikan mereka lebih suka menikmatinya sendiri. Saat yang lainnya menangis, kita sering menyaksikan mereka tertawa. Mereka punya waktu dan tempat khusus untuk mengekspresikan gemuruh jiwanya. Seikhtiar mungkin orang seperti ini lebih dulu mencari solusi dengan cara dan nalarnya. Karena konon, bagi mereka menceritakan beban ke sembarang orang seperti membuka auratnya sendiri. Menyesal pada akhirnya. Lambat laun, orang semacam ini terdidik tangguh dan enjoy dengan ujian hidupnya. Lebih suka menyederhanakan masalahnya dengan menjadi problem solver bagi orang lain.

Ketiga, adalah orang-orang yang tidak mengerti cara membagi bebannya. Tidak mengerti cara menyampaikan keluh kesahnya. Memaksanya untuk bicara perlu teknik menarik. Sebagai sosok yang peduli, kau harus cari cara agar ia tertolong untuk katarsis. Memintanya untuk meluapkan beban lewat tulisan, barangkali bisa dijadikan solusi. Atau, kau perlu membiarkannya sejenak, mengenali titik kenyamanannya dalam berbicara, dan menyabarinya sepanjang tulus tanpa sisa. Percayalah, dia ingin berbagi, namun kehilangan diksi. Percayalah, dia butuh untuk didengar, kau hanya perlu bersabar dengan ikhtiar. Dia ingin sekali bercerita, sesekali ajaklah kemana saja, rihlah misalnya. *Lah?

Keempat, orang sungkanan. Mereka ingin bercerita, namun memilah-milah kondisi dan situasi lingkungan serta orang tempatnya bercerita. Mereka ingin sekali meluapkan beban jiwanya, namun memilih urung karena sungkan melampaui canggung. Jika tidak jeli dan tak peka, orang-orang semacam ini banyak yang tidak tertolong. Sungkan, mereka seolah bisa menyelesaikan bebannya. Padahal belum tentu, melainkan menambah keruh masalah yang ada. Kau akan temui mereka di lingkup sosial dan amanah, mereka acapkali kehilangan eksistensinya. Memilih menepi, hingga tenggelam dan roboh ditimpa masalahnya sendiri. Saat itu kau baru sadar, kau tak sempat memberinya ruang untuk bersandar.

Pada akhirnya, bersahabatpun kita dengan banyak orang, hati akan memilih pada siapa ia berbagi nasib dan membuka diri. Jiwa akan memilah siapa kawan yang paling nyaman untuk mengobati diri. Ia akan mengikuti arah kompas yang digerakkan Allah setelah mengutamakan Rabbnya dalam bercerita. Di sini letak navigasi iman yang bijak dan dewasa. Karena seringkali, kedekatan antara seorang hamba dengan Rabbnya dapat dilihat dari ikhtiarnya membiasakan kening bersimpuh di sajadah. Sujud ke sujud hingga tengadah ke tengadah. Hingga lembaran lembaran mushaf yang dilahap setiap waktunya terasa. Maka mendekatlah, agar perhatianNya lebih istimewa. Kau bisa maknai ini dalam tingkat perhatian khusus dari Allah lewat madah tarbiyah Ma'iyyatullah. Belum ngena? Liqo yang bener coba :p

Qodarullah, saya adalah tipikal yang mewakili semuanya. Bukan besar kepala. Hanya ingin menjelaskan secuplik ke 'diri'an saya yang sering jadi pusat prasangka. Bukan sedang membela diri karena sering tersudutkan atas ketidaktahuan orang lain karena ke'mengapa'an saya. Bukan pula tidak percaya uluran tangan orang lain, bukan tidak ingin membebani orang lain, bukan sungkan, bukan menakar kebisaan orang lain. Jauh dari itu, saya memang lemah untuk tidak menutup diri. Saya tidak Asertif  dalam berbagi beban. Tidak pula ekspresif atas kelukaan saya sebagai hamba biasa. Bukan introvert. Tapi tertantang atas masalah hidup yang ada lalu menyelesaikannya. Hanya terlalu asik menantang ketangguhan orang lain dalam menyabari saya dan selektif memilihnya sebagai kawan terdekat. Sangat dekat. Emang ada yang nanya? XD

Karena benarlah, setelah kesulitan ada kemudahan. Setiap kedukaan bersanding dengan kebahagiaan. Hanya saja, sebagai manusia, kita terlalu sering menyoroti letak perih dan beban yang ada. Terlalu membesarkan luka yang menganga. Menggaraminya dengan sengaja. Tak jarang, menceritakannya dari telinga ke telinga. Menebarkannya dari tiap mata ke mata lainnya. Jika tak didengar, kita begitu mudah terhempas. Padahal siapa yang salah? Seolah-olah, hanya beban kita yang melampaui berat gunung Tursina dan orang lain tidak. Dan parahnya, kita lupa bagaimana caranya tersenyum lagi membagi tawa. Nilai kita di sisi Allah terletak "dari dan bagaimana" cara kita menyelesaikan masalah yang ada. Hendaknya, sikap ini tertanam setiap ujian hidup yang menimpa.

Cerdas. Saya menyebutnya demikian. Bukan saya telah akrab dengan kecerdasan itu. Hanya saja, ingin meng-ikhtiari potensi yang Allah titipkan menghujam di iman saya. Sehingga tak perlu sibuk mencari sandaran hati dan menuntut saudari-saudari yang biasa membersamai. Meskipun nyatanya, saya sering berharap lebih. Hanya harapan sebagai seorang saudari, terlebih jika sosok saudari itu telah menjadi bagian dari diri saya. Namun ujungnya, ingin berkata tolongpun semua diksi kelu di ujung batin. Berat untuk diungkapkan. Minta tolong jangan kapok menyabari saya misalkan, itu terlalu berat. Kesannya seolah sengaja membuat orang lain terpaksa agar bertahan. Padahal bisa jadi 'ia'nya telah jengah. Jika begitu, tak perlu pamit, pergi saja. Haha

Seorang hamba yang dibekali jatah muamalah terhadap sesama, adalah penting untuk mentarbiyah dzatiyah dirinya sendiri perihal mendengar dan bercerita. Mendengar semaksimalnya, bercerita sebatas perlunya. Adalah lucu jika pada akhirnya dalam dialog kita di forum-forum, berdua-dua, serta bersama-sama; berlomba menjadi pembicara. Ada intonasi yang tak senada, saling sahut dan tak maksimal saling sambut. Mungkin kita pernah mendengar suara Katak di tengah hujan. Dari ujung ke ujung, mereka lomba menyuarakan pesan. Dalam Islam kita tidak dididik demikian. Jika kita terobsesi menjadi pembicara yang baik semua, lalu siapakah yang menjadi pendengar? Tembok? Iya. Lalu kepada siapa makna kata yang kita bicarakan tujuannya? Kepada benda mati? Diciptakan dua telinga salah satu fungsinya adalah agar kita memperbanyak dengar daripada bicara. Hikmahnya? Carilah.

Ini sebenarnya mau nulis apa sih? Ga tau juga. Yg jelas bahagia itu bisa disederhanakan. Ga perlu ribet menjelaskan maunya kita atau mau taunya orang lain. Karena Allah telah menakdirkan di hidup kita seorang saudari yang paling peka tanpa kau bercerita. Tak perlu diminta, paling tahu titik jatuh dan lemahmu di batas apa. Selalu ada dekap hangatnya yang menenangkan. Selalu ada rangkul tulusnya yang menguatkan, dan pula, traktirannya yang menyegarkan. Hahaha.

Dear u. Saat jatuh dan tersakiti seperti ini, selalu saja teringat namamu. Doakan, semoga gengsi dan jaimku segera lenyap, supaya tak perlu membatasi jarak darimu yang terbatasi pulau dan samudera. Hingga tak perlu merayakan sepi sendirian. Hingga segera jujur atas rinduku Atau, haruskah aku kembali ke jaman putih abu-abu itu? Zaman yang membuatku lebih abstrak dalam merindu? Zaman yang hanya ada obsesi seimbang antara duniawi dan ukhrawi, bersamamu. 
Kau tahu, di sini sulit mencari penggantimu. Atau memang kornea mataku yang kian sekarat hingga tak jeli kehadiran seseorang yang akhir-akhir ini, mengisi hari-hariku dengan ke-reaktif-annya sebagai saudari? Seseorang yang mulai meluluhkan gunung es dalam diriku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar