Jumat, 14 April 2017

Scaning..

Manis. Apanya? Awal, tengah, hingga akhir dari skenario sebuah madah. Atas apa? Reaksi binaan terhadap alur dramatisasi yang dibelajarkan. Sukses? Yap. Satu babak. Semua lulus? Belum, semua tertarbiyah lewat dinamika. Ceritanya? Panjang.

Binaanmu investasi dunia akhiratmu. Suka sugesti itu dibanding dengan semboyan: Binaanmu cerminan dirimu. Agaknya terlalu sering kita berkicau hal ihwal risalah dahsyat seorang Murabbi dalam membina yang terkadang berending membinasakan. Nyata hingga maya, dari data bereferensi hingga skenario ber-dramatisasi, di mana-mana kisah perjuangan heroik Murabbi tidak luruh terhasut zaman. Sekarang marilah menyimak sejenak. Membaca perlahan bahwa dalam hal perjuangan, binaanpun ikut ambil peran.

Jika syaikhuna almarhum ust Rahmat Abdullah pernah merindukan binaan yang peka atas lalai dan khilafnya sebagai binaan, maka saya beritahu; Sayapun punya rindu yang sama. Sama seperti Murabbi yang lainnya. Rindu atas binaan yang menangis karena tidak bisa hadir halaqoh. Rindu binaan yang menyesal karena hadir terlambat. Rindu binaan yang adabnya mendahului ilmu. Rindu binaan hadir halaqoh dengan antusias, raut wajah serta menyejarahkan setiap madah lewat catatan. Rindu. Menuntaskan rindu yang ada bukan perkara mudah. Jika rindu terbalas, redalah semua rasa. Jika terhempas, di situ letak manisnya. Loh? Iya. Syaratnya, rindukanlah binaan karena Allah. Rindu tumbuh kembangnya, mekar dan wanginya karena Allah. Jika suatu waktu belum diijabah, yang tersisa hanya sabar. Sabar, anda hanya belum beruntung. Coba bina lagi. Pertama-tama, binalah rasa sendiri. Terakhir, ya pikir mau ngapain lagi. Progress binaanmu adalah hasil dari ikhtiar kreatifitasmu. Bukan daya pikir orang lain. Meneladani kisah orang lain ya perlu.

Terkadang kita perlu pembiaran. Tidak menindaklanjuti sebuah perkara dengan segera. Bukan menunda, bukan menyepelekan, tapi himpunlah semua kekuatan dari sang Maha dengan mengamati, menganalisa, meramu tindakan, serta atur nafas yang mulai terbata-bata. Mungkin menimbulkan prasangka, di situ letak kerjanya. Kerja siapa? Ya Murabbi. Rabu kemarin adalah tuntasnya sebuah misi. Memastikan realisasi sebuah madah tertanam ke hati binaan. Berawal dari hal sepeleh. Pasalnya, beberapa binaan minim menuju lost of ruhul istijabah serta terkesan abai atas panggilan dakwah. Ini penyakit. Menanti dan menanti, inisiatif binaan untuk memperbaiki diri belum terasa. Bahkan, model ukhuwah selintas teori mulai terbaca. Ketsiqohan mulai berubah arah. Buktinya? Masing-masing menunaikan tugas tanpa jadi alarm bagi saudarinya. Heuh. Egois? Tidak juga, toh selamatkan diri terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain. Tapi ko ya, effort nyelamatin saudarinya ga hadir-hadir dari beberapa orang. Mengertikah bahwa hal nyata dalam ukhuwah jama'iyah itu ya ikhtiar mengajak saudarinya menunaikan kewajibannya.


Jadilah actingku kambuh. Sengaja left grup tanpa pamit. Menghitung menit menit yang berlalu. Satu persatu binaan mulai menghubungiku. Menyampaikan seberkas maaf dan untaian penyesalan. Berhari-hari kudiamkan. Sengaja tidak membalas dan membiarkan hingga pesan-pesan itu menumpuk. Ada yang meminta jadwal untuk bertemu, hingga inisiatif mendatangi kosanku. Kali kedua, jelang isya mereka berkunjung setelah kunjungan pertama mereka gagal menemuiku. Membaca ekspresi, menafsir bahasa gerak, menerjemah setiap diksi yang mereka persiapkan, serta menakar makna yang mereka sampaikan adalah yang tertangkap malam itu. Akhir ikhtiar, mereka pulang. Membawa gejolak tanya atas sikapku yang menutupi semua. Sengaja. Menikmati kesan tangis yang mereka tumpahkan. Tangisnya sang binaan. Ah, kalian hanya belum merasakan, bagaimana harus memburu murabbi karena sebuah kekhilafan hingga tidur di depan rumah beliau berjamaah. Tangis itu, bukan hanya airmata. Tapi tangisnya sang binaan yang sesungguhnya. Biarlah malam menyaksikan, bahwa binaan-binaan seperti ini aset masa depan. Muharrikah peradaban. Dan, gantian. Kepulangan mereka sesuatu menyesak di dada. Kenapa? Karena kesan keberjamaahan dalam ukhuwah lagi-lagi belum terasa menyatu. Buktinya, kesalahan dalam lingkup yang dilakukan berjamaah, hanya mengandalkan permohonan maaf yang diwakilkan. Terlepas ahsan atau tidaknya, tetaplah menjadi catatan kecil yang harus disembuhkan. Mengingat mereka adalah generasi yang harus dipersiapkan dengan matang. Sosok-sosok qiyadah di semua lini dakwah.


Pekan berikutnya aku sengaja meminta mereka rehat. Rehat dari rutinitas halaqoh. Kususul dengan pernyataan, barangkali mereka lelah. Pilihan berikutnya, kuserahkan keputusan agar mereka liqo mandiri. Dan ternyata mereka memilih liqo mandiri ketimbang rehat. Wis, ada haru dan senang meskipun tidak membersamai, tapi terlihat jeli dalam memilih. As always, sebelumnya sebagian mereka menyusulku dengan harapan masih liqo bersamaku. Karena malam saat mereka berkunjung, sempat kuutarakan untuk mencarikan Murabbi baru untuk mereka. Tentu kalimat itu seolah menyudutkan kesalahan selaku binaan, tapi bukan itu niatku. Lagian, siapa sih yang tega melepas binaan begitu saja? Menjaring mereka hingga titik ini bukanlah perkara mudah, masing-masing pernah diperjuangkan dengan cerita berbeda. Semua. Tanpa pilih kasih, meskipun mata hati mereka berbeda rasa dalam menanggapi dan merasa. Tak terbalas dengan cinta dari merekapun bukan bencana, itu bukan obsesiku.

Di hari yang sama, aku mengisi binaan yang lainnya. Kusaksikan dari tempat yang tak jauh, mereka liqo mandiri. Sesekali curi-curi pandang, jangan kira tak rindu. Mereka manis. Serius. Haha. Hingga penghujung Maghrib, salah seorang dari mereka menghampiriku dengan sepaket air mata. Air mata penyesalan seorang binaan. Semua ungkapannya tulus. Air mata itu deras disertai sesenggukan. Kesempatanku untuk 'menyusup' ke bilik imannya secara tersirat: bahwa aku rindu sosoknya yang dulu. Secara adab, prioritas, bersikap dan lain sebagainya. Rindu kondisi imannya sebelum mengenal dakwah lebih dalam dan luas. Jadilah kalimatku membuatnya sulit meredakan gejolak tangis itu.

Dan sore ini kutemui mereka dengan alasan pertemuan halaqoh terakhir. Perpisahan. Setelah panjang lebar menyampaikan madah Tarbiyah, pamitlah aku beserta semua kata maaf dalam membersamai di waktu-belakangan ini. Masih acting. Ingin mengeja rasa mereka satu persatu. Sudah sedewasa apa. Ada yang tak urung meneteskan air mata. Ada yang masih bisa tersenyum dan tertawa. Dan hanya ada seorang adik yang menyusul langkah pergiku dengan tangis manjanya. Sengaja tidak mendekapnya. Karena semua skenario ini bukanlah perpisahan. Tapi awal dari pembaharuan. Awal langkah. Awal pemahaman. Awal pemaknaan madah; 'Adamul Inadh dalam dakwah. Madah yang menjadi salah satu penyakit aktivis dakwah hingga kini. Yang siklusnya di kemudian hari menjadi patokan iman dalam bersikap. Menambal yang buruk di masa lalu. Dan tentu, masih aku nahkodanya. Lagian, emang ada Murabbiyah yang mau nerima kamu pas dilepas dariku? *Eh

Dear, shaliha.
I know, sometimes I was annoying and Im sorry. But everything in the past always taste sweet for now. A great lesson we never can go back. Yakan?
*Bigsmile

Tidak ada komentar:

Posting Komentar