Akhowat ini, belum lama aku mengenalnya. Jika Nabi pernah menganjurkan untuk mengenal kawan adalah dengan bermalam atau tidur bersama, bermuamalah, dan bahkan bepergian bersama, maka pasti banyak agenda kebaikan yang telah mewakili semuanya. Di mana letak kesannya? Bukankah saudariku yang lainnyapun pernah di semua lini atas pesan Nabi tadi dalam hal membersamai? Barangkali, setiap agenda yang telah ditunaikan terlewat oleh anjuran Nabi, terlupa. Hanya terlalu sibuk dengan program dakwah dengan terseret menunaikannya. Kesan ukhuwah memang ada, tapi tidak sekadar pesan Nabi, seniat taaruf hingga memahami. Harusnya begitulah Ukhuwah, menyengaja dekat sesuai standarisasi. Belakangan ini, mendapatinya dengan segudang Metamorfosa. Lekat di ingatan atas tumbuh kembangnya. Bagaimana Allah menulis takdir untuknya berhimpun dalam jamaah. Dari terbata-bata hingga berlari paksa. Belajar dan belajar. Merendah dan merendah. Kubahasakan tawadhu namanya. Kupanggil asy-syaja'ah untuk mendoakannya. Lembaran-lembaran ukhuwah mulai berisi babak; melampaui tangga-tangga terendah dalam ukhuwah. Rotasi amanah mulai menghempas keegoisan diri masing-masing jiwa. Kusebut itsar namanya. Dalam lelah dan suka, ia mulai akrab dengan sifat itu. Terkhusus untukku, atau jangan-jangan hanya aku yang merasa? Bukankah ia juga punya saudari lainnya? Terhadap siapapun ia berlaku kata, tak mengurangi penamaanku padanya; itsar dalam bermuamalah.
Dari jauh, sering kuamati ia. Dari dekat, mencoba memahaminya sebagai 'siapa'. Wajah lelah pejuang hidup, begitu kesanku untuknya. Bukan untuk hidupnya saja, tapi untuk kelurganya juga. Menjadi tulang punggung keluarga. Menguras pikiran, membanting perasaan atas anggapan orang-orang; kerja yang tak berkah. Terkadang pulang hingga larut. Membelah diri bersama dakwah. Ah, kerjanya pun bagiku adalah dakwah. Membagi waktu dengan syuro dan amanah. Di tiap lini itu, selalu kudapati ia ada. Dan hebatnya, selalu ada sapa ramah, senyum canda yang ikut serta bertemu saudara saudarinya. Dari dia. Suatu hari ia mengadu. Dan aku senang terlibat di titik ini. Berkesah risau, merasa sedikit kacau. Menurutku, hal wajar. Karena justru jika ia tak bercerita, tentu menjadi beban baru buatku. Kutangkap pesan iman di sana. Kekhawatiran seorang hamba yang beriman. Takut manakala kerja-kerjanya hanya menjadikan Allah tak meliriknya dalam hal berkah. Sedikit penguatan ala aku. Hanya berharap, agar bertahan jika memang orientasinya adalah dakwah. Meski sebenarnya hatiku berat memintanya demikian. Miris dengan kondisi medan juang di sana. Bukan apa-apa, hanya saja terlalu tak ringan resikonya. Mengingat alasannya dalam bertahan, tentu kalimat kelu yang ingin kusampaikan tertahan di ujung batin. Hanya doa dan doa terus yang bisa kuhaturkan. Sembari menyusulnya dengan referensi petuah Nabi; Bertahan demi kebermanfaatan.
Bagaimana tidak, wilayah kerjanya bukan sembarang area aman. Ada perjuangan di sana. Atas apa? Tentu sebagai da'iyah. Untuk siapa? Untuk orang-orang yang belum mengenal Allah. Mengondisikan, atau bahkan menyelamatkan dirinya sendiripun barangkali mengulum air mata. Siapa yang tahu? Aku tak tahu. Sering kubayangkan bagaimana menjadi dia. Pulang dengan badan remuk redam, perasaan tak karuan, mungkin tak jarang ia menangis di perjalanan sendirian. Mungkin membayangkan wajah ibu dan ayahnya, keluarganya, adalah hiburan baginya untuk melanjutkan perjalanan. Siapa tahu kan? Setidaknya kehadirannya dalam jamaah ini mengurai pesan; dia seseorang yang pantas untuk diteladani. Perjuangannya yang kumaksud. Seberat apapun beban hidup, bukan alasan untuk mengalah pada takdir. Berbicara amanah, tentu karena adab dan sambutannya yang menjadikanku percaya memilihnya sebagai 'apa, menjadi siapa, berperan apa'.
Di kemudian hari, sekarang semua tersingkap. Dia selalu mastatho'tum untuk meng-ikhtiari panggilan dakwah. Selalu ada celah untuk menyambut seruan dakwah. Bukan seperti aktivis kebanyakan. Beralasan kerja, berudzur sakit, bertingkah atau hal lainnya yang padahal masih bisa bertadhiyah. Apapun. Belum pernah kutemui ia egois, membuat batin miris teriris. Mengecewakan sih pernah. Haha. Hanya kekecewaan manusia biasa yang terlalu berharap pada saudarinya. Ini letak salahku. Tapi itu tak lama. Tak menunggu musim berganti hingga maaf untuknya menyerta. Maafku menyegera, insyaa Allah. Apapun, dia istimewa karena imannya. Karena caranya bertahan. Caranya menyebar cintapun, salut!
***
Dear, u
Happy millad. Barokallah fii umrik.
Stay strong for your self.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar