Selasa, 08 November 2016

JIKA TAK TERBALAS, JANGAN TERHEMPAS

Kira-kira begitu. Ekspresi Iman yang always on dan available tak kan pernah menjadikan pemiliknya patah kehilangan arah. Sugestinya, keep calm! Toh, tugasmu hanya mengajak dan menyampaikan. Bukan mengawasi ataupun menghakimi tiap perbuatan. 

Memang, kau sudah mengingatkan dengan cara apa? Sudah mengingatkan bagaimana? Seperti pengaduan Nuh AS kah? Yang berjibaku dengan dakwah siang malam, mengingatkan dalam sembunyi maupun terang-terangan. Mengatur strategi yang menguras otak, materi, dan energi. Ah, paling yang kau kuras hanya hati. Ya kan? Kenapa harus kecewa yang kau pelihara? 

Kisah sore ini menjadi lengkap dengan pengaduan mereka: para binaanku.
Pasalnya, misi yang mereka emban sore ini memang diawali syarat-syarat wajib yang harus dipenuhi. Mulai dari kehadiran ala Da'i berdedikasi hingga spiritual yang terisi. 
Nyatanya, ada saja yang membuat hati membatin kelu: kamu tidak ngebut dan maksimal mendoakan mereka supaya jeli akan pintamu. Kira-kira begitu Zi, salah dan lalaimu

Namun bagaimanapun, tak kurang pula syukurku mendapati wajah-wajah pendakwah itu kian tumbuh menyikapi tugas dakwah yang dititipi. Awalnya, binaan yang selusin ini diberi penugasan secara berpasangan. Tentu, tugas dakwah ini adalah amal nyata bentuk ke-risalah-an mereka sebagai hamba yang beriman; mengajak pada kebajikan, melarang pada kemungkaran.

Masing-masing mendapat bagian yang tak dapat dikira ringan. 
Mulailah mereka bekerja, menyusuri jalan yang penuh wilayah-wilayah berproblema; mengingatkan orang untuk menyembah Tuhannya, menyeru menutup aurat bagi muslimah, menanyakan kendala hijrah, mengumpulkan data hamba Allah yang ingin berhalaqoh, hingga mendatangi sekretariat fakultas untuk menemui hidayah, bahkan menghampiri Ummat Rosulullah yang kian jauh dari Rabbnya. 

Bersama kawan jalan, berharap mereka menjadi Musa dan Harun dalam dakwah, atau meneladani Muhammad Saw dan Abu-Bakar di Gua Tsur saat hijrah. Lebih dari itu, sebuah harapan tersisipkan agar tumbuh mendewasa, mekar berakar walau diterjang kedinamikaan.
Tak merasa patah sendirian. Terbekalilah perjalanan sore ini dengan pemaknaan At-Taubah ayat empat puluh, Muzammil ayat sepuluh, hingga Ali-Imron seratus tiga sembilan. 

Kendala yang diembanpun diutarakan. Istana ekspresi rasa terlukis di tiap wajah. 
Mulai dari detak jantung yang tak karuan, hingga mendramai strategi di setiap pendekatanpun, mereka sampaikan. Dari tiap pengaduan, terliput jelas bahwa mengajak pada kebajikan, menyeru orang-orang untuk mencintai keimanan adalah bukan perkara ringan. Ada kesal yang coba ditaham. Amarah yang dipendam. Emosi yang dididik. Bahkan menyederhanakannya menjadi tawa. Celoteh wajah-wajah itu mengingatkan petuah para pendahulu dakwah: Dari dulu, begitulah dakwah.

Jadi, jika tak terbalas, jangan terhempas.


Sama halnya denganku sore tadi. Sembari menunggu mereka, si adik-adik binaan menuntaskan misi, menunggulah aku ke sebuah gedung sebelah MNI (Mesjid Nuru Irfan). Menghitung menit-menit mereka beroprasi dengan mushaf menggelayut di jemari..

Tanpa sengaja, di sebelahku terdengar dialog yang bikin dada bergemuruh panas. Kucoba menahan emosi saat Al-Maidah dikritisi. Katanya: "Gw setuju sama Ahok, meski gw sendiri islam. heran deh, kenapa sih segitunya kita ngebenci Ahok. kan Alqur'an juga ga bakalan hilang esensinya meski Ahok ga sengaja ngomong begituan. sebagai org yang berpendidikan, harusnya kita malu sama do'i. Masa iya, kita yang islam yang katanya cinta damai, malah rusuh banget sama omongan yang (gw yakin) ahok ga sengaja dan ga niat ngomongnya. kita tuh harusnya jadi contoh, yang damai, ga berontak, dikit2 demo, kalo kata bapak gw kita nih agama yang msih perlu dipertanyain rahmatan lil 'alaminnya di mana sih?

Ucapan itu benar-benar menohok ke ulu hati. Berdesing-desing di telinga. hitungan detik menuju dua menit kusiapkan kata-kata yang sesuai bahasa ala mereka. Kusapa dengan salam, lalu kuhaturkan sapaan. Sampai di sini batinku masih berdialog, ayo Zi, orang seperti mereka jangan diperlakukan dengan pelan. Ah, ini suara apasih?, dasar nafsu yang digiriing setan. Aku beristighfar. 

Kuawali prologku dengan analogi tentang Office boy yang sibuk dengan tugasnya di depan kami (mengepel lantai sembari memunguti sampah-sampah mahasiswa yang berserakan meski tidak banyak) dan security yang duduk anteng di kursinya. Lalu kutanyakan, mba, maaf mau nanya, boleh ya? Itu mas yang ngepel ko ga bawelin orang-orang yang nyampah ya? Trus si bapak security tadi ngusir mas2 yang depan kita, itu kenapa mba? jawabnya, lu ga liat mba, tadi itu mas2nya ngerokok, makanya diusir. Mba angkatan berapa? tanyaku berikutnya. "Kita maba.." jawab mereka serentak.

Aku tersenyum, sambil melanjutkan; "Tadi ga sengaja saya nyimak dialognya mba2.. Hehe. 
Mba2, OB dan Bapak Security tadi mirip dengan bahasannya mba2. Si OB ga bawel, karena dia tau itu bukan pelanggaran berat dan masih dimaklumi. Islam rahmatan 'alamin seperti itu mba, kalau mbanya lupa, ada di situ rahmatan lil 'alaminnya ya. Kasus mas2 yang diusir oleh Bapak security adalah wajah islam yang sedang dilecehkan hari ini. Muslim marah karena hak mereka dirampas dan ada orang lain yang bukan bidang bahkan bukan agamanya sok-sok-an mengkritisi Al-Qura'an. Wajar dan wajib marah kalo gini mba. Sama kaya mas2nya yang ngelanggar aturan, wajib diomelin seperti tadi. Saya Ziah Mba, dari FIP angkatan 2012. Kalo kapan2 mau diskusi, saya bisa lowongin waktu, insya Allah." Kutangkap ekspresi tak suka dari salah seorang di antara mereka yang gigih meluap-luapkan curcoalannya tadi. Sementara yang lainnya menghanturkan terimakasih dan menjawab salam penutup dariku dengan setor senyum kosong.  

Ah, Jika tak terbalas, jangan terhempas. Aku berdiri menemui binaanku yang telah menunaikan misi dengan sekujur tubuh lunglai rasa ngilu. Kembali kuredam dengan pertanyaan terhadap binaanku; "Apa yang membuat kalian ringan langkah dan berani melaksanakan tugas tadi? Salah satu jawaban di antara mereka yang menguatkan diri adalah: Ada di Al-Muzzammil ayat 10, kak. Disusul penguatan berikutnya, Laa Tahzaan kak. Innalllahaa maa'anaa, At-taubah:40 
::Surat ini adalah surat yang wajib mereka hafal sebelum melaksanakan misi tadi::


Allaahu, Tsabbit quluubanaa 'alaa da'watik..

UNJ, Rabu 01 Nov 2016

Begini saja :D

Seakan bisa saja kau menakar rasa cinta
Jika ia hanya perkara rasa, harusnya kau tau kadar relativitasnya
Jika ia perkara logika yang tak nyata, harusnya kau olah menjadi bilangan tak berkoma agar tak pecah-pecah.

Jika masih saja irrasional yang kasat mata, tak mesti pulalah dengan phytagoras kau bangun sisi-sisinya. Atau, sederhanakan saja menjadi Electrolisis dalam sunnatullah: man laa yarham laa yurhaam.

Harusnya kau tak menghilang barang sejenak.
Tak perlu ber-aerodinamika supaya terlihat.
Bila demikian, betapa  Archimedes dalam sebuah ikatan takkan mampu membawanya nyata ke permukaan.

Kau tenggelam bersama kenangan, barangkali tak menjadi apa-apa dan tak punya bayangan
Padahal kau tahu, bahagiamu di liang lahat adalah karena pernah ada yang kau beri dan warisi. 
Lagi-lagi Cinta. Entah itu tuturmu, atau tingkah laku dan budimu.

Bertahan itu hanya perlu menyeimbangkan kadar senyawanya, Karena cinta juga kimia jiwa. 
Yang saling mengikat atau tolak menolak karena ketidaksaman molekulnya.
Gugus chemistrynya penting diperhitungkan. 
Seperti persaksianNya: Bekerjalah kamu maka Allah, Rosul, serta orang2 beriman akan melihat pekerjaanmu".

Cinta artinya sedang menjadi pekerja yang bekerja.
Cinta adalah sifat dari kata kerja atau sebaliknya; Mengerjakan sifat cinta.
Hei, tak perlu memutar otakmu, itu hanya secuplik cinta versiku.

Sekecil apapun, ia tetaplah bilangan partikel-partikel berfomula.
Jadi, manakala takaran cinta dari orang lain terlalu kecil bagimu, itu adalah realita sebuah aksara semesta; hasil yang kau tuai sepadan dengan apa yang kau semai.

Oh, kadang itu bukan menjadi hukum dan aturan baku.
Jadi jangan terlalu percayai itu.
Karena tidak selamanya yang kau semai akan kau tuai.
Tidak selamanya penuai menjadi penyemai.
Atau tidak pula benih selalu dimiliki penyemai dan penuai.
Karena perkara terbalas dan terhempas hanyalah urusanNya yang Maha

Suatu waktu, ada orang lain yang bertengger menikmati hasil peluhmu.
Bahkan tak hanya penikmat, orang lain itupun,
Di masa yang sama diutus sebagai perusak ladang ikhtiarmu.

Jika begitu, biarlah menjadi genetik dari imanmu; segenggam tabah dan ikhlas.
Bahwa di segala kondisi, kau memiliki tradisi tersendiri.
Jika ia luka kau kan bersabar, jika duka kau kan memperbanyak syukur.
Meski bukan kau yang merasai nikmatnya
Sabar adanya seleksi alam yang berlaku demi terfiltrasinya ketulusan niatmu.

Mengerti jualah, bahwa tugas pencinta hanya mewarisi cinta itu dari masa ke masa.
Terus, selama estafeta raganya masih bergulir, tugasnya adalah demikian; meregenesikan cinta.

Itulah cinta. Cinta kalangan awam dariku.
Nikmati saja
Tak perlu menghukum Newton karena gayanya
Haha.

*Dasar curhat, segalanya menginspirasi.

DIPILIH


Keteladanan itu perlu untuk ditiru. Bahwasanya diri kita pun, (andai mau menyadari) berhak untuk menjadi teladan.
Lakukan apa yang mesti kita lakukan. Jadikan habbits yang konsisten untuk ditampilkan.


Terkadang sulit memang.
Terlebih tembok raksasa bernama tidak berpengetahuan tinggi menjulang.

Sejatinya, ketika kita berilmu kemudian paham ilmu yang kita miliki, maka berbahagialah. Karena pemahaman selalu menghantarkan pada pengaplikasian. Amal nyata.

Karena berilmu saja tidak cukup disebut sudah beramal. Pahami ilmumu, kemudian susul dengan amal.

Sederhananya begini. Jika kau paham sholat awal waktu adalah lebih sempurna di mata Allah ketimbang engkau menundanya, maka ikhtiarkan menjadi sempurna dalam pemantauanNya. Tak perlu mati-matian menyelesaikan perkara duniawi yang seolah akan segera selesai bila diutamakan.Tak perlu merasa selalu ada deadline untuk umur yang terbatas.


Itupun jika obsesimu ingin terbaik dalam pandanganNya.
Jika tak ingin, wajar saja selama ini panggilan menemuiNya selalu di akhir-akhiri.
Allahu-Akbar: Allah Maha besar.



Bila dibanding dengan keMaha besaranNya, tetap saja perkara duniawi kita kecil. Terlalu kecil bahkan. Itulah kenapa, Sholat adalah hiburan bagi orang-orang yang rindu akan Tuhannya.
Terminal-terminal atas perjalanan kehidupan yang bikin penat dan terasa panjang.


Kesannya agak rumit memang. Jika sholat awal waktu dihadapkan perkara yang bersinggungan karena tak enak hati.Karena rasa takut. Karena sungkan. Karena malu. Atau karena tak berdaya atas aturan manusia.


Setiap orang adalah budak atas sesuatu. Dan sebaik-baik perangai budak adalah menjadikan Allah saja Tuannya. Majikannya. Rajanya. Meyakini hal ini, maka bebaslah kita dari penjajahan manusia dan segala sesuatunya.


Kasus realnya tak jarang seperti ini: pernah kita lebih mementingkan tugas yang diberikan manusia (entah itu dosen, entah itu siapapun) ketimbang menyelesaikan tugas menemuiNya. Kita sungkan untuk mengatakan: nanti akan saya lanjutkan setelah sholat, insyaa Allah.


Kita juga kelu untuk menyampaikan; sudah waktunya sholat, saya izin sholat dulu ya, atau mari kita sholat dulu. Levelnya sekalian menyeru orang lain. Bukan hanya menyelamatkan diri sendiri.


Mengakulah, kita juga pernah kehilangan strategi dan akal jernih sebagai Da'i.
Terbawa alur tugas-tugas bersama tim keberjamaahaan selaku Da'i. Sama-sama terbuai atas waktu yang sedikit. Maka, sering pula kita lalai. Ini namanya saling ketergantungan. Tidak ter-asah untuk inisiatif jadi pemantik. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mereka yang berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Al-Ashr: 2-3.



Padahal sholat awal waktu adalah tanggung jawab masing-masing pribadi.
Bukan tanggung jawab secara kolektif atas diri yang satu dengan diri lainnya.
Kita tak enak hati jika dihadapkan dalam forum yang terus melaju beriringan tunainya dengan panggilan adzan. Padahal penggiatnya adalah sesama Da'i.


Kita tak berani berkata, ayo saudara saudariku, tidak ada keberkahan atas acara ini manakala panggilan Allah tidak kita segerakan. Untuk menyelamatkan diri dengan strategi bisa sholat awal waktu, masih saja kita pengecut. Tak berani hanya karena takut. Sungkan. Nauzubillah.


Barangkali, inilah yang disebut belum memahami. Belum paham, bahwa ada seruan untuk awal waktu menemuiNya di tiap jedah yang Ia tetapkan. Belum paham, bahwa celakalah orang-orang yang sholat. Yaitu orang-orang yang lalai akan sholatnya. Ini bukan hanya perkara hati lalai ketika sholat, tapi menyia-nyiakan waktu untuk bersegera sholat dengan alasan yang seringkali harusnya masih bisa di-akali.


Begitulah kira-kira tugas orang orang yang ingin ditiru karena obsesinya Mardhatillah. Mengumpulkan poin-poin keberuntungan bernilai Surga. Fastabiqul Khoirot. (sudah berilmu, paham, kemudian melakukan dan mencontohkan).


Menghindari fitnah dari mata yang memandang akan keterlambatan kita sholat awal waktu adalah keharusan. Seminimal tidak ada yang bergumam dan menyatakan : Tuh liat, orang Sholeh aja kaya dia biasa ga masalah sholat di akhir-akhir. Kita boleh dong(?).
Maka jelilah. Pilih yang diutamakan.


*Efek kelu menyaksikan orang-orang sholih yang terlambat sholat ashar sore ini.
06 Nov 2016.

Surga dari SEJUTA ANAK



Sampai di kantin, karena kursi dan meja guru tidak ada yang kosong, jadinya saya nimbrung duduk dengan 4 orang bocah laki-laki. Langsung basa-basi ke mereka seba'da salam dan minta izin untuk nimbrung. Pandangan tertuju ke salah seorang di antara mereka yang tidak makan. Saya tertarik untuk bertanya;

Saya: “Kamu kenapa ga makan?”
Anak 1: “Ngga Bu, saya puasa Kamis.”
Saya: “Oh, good job.”


(Ok, anggep ini sentuhan halus dari Allah: tuh Zi, anak kecil aja inget shoum. Masa kalah sih. Ah Cemen).

Mereka lanjut dialog, saya lanjut nikmatin keduniawiannya saya: makan sate+mendoan. Ga sengaja, finally mau gamau denger bincang hangatnya mereka:

Anak 1: "Gw sih orangnya pengen tau banget. Pengen tau surga itu kaya gimana, neraka itu kaya gimana. Tapi sih Gw gamau masuk neraka. Liat di video abang gw itu gila men, serem Gw. Makanya Gw puasa. Beneran dah.”

(Tetiba, saya feel off sama makanan depan mata. Anak tadi lanjut ngobrol).

Anak 1: "Tapi sih ya, di neraka itu kita ga bakal selamanya juga sampe dosa kita diapus, baru deh masuk surga"


Anak 2: "Nah iya tuh. Gw kasih tau juga ya, kalo nyokap kita masuk neraka, kita anaknya bisa nyelamatin doi ke surga. Tapi kalo kitanya yang masuk neraka, nyokap mah gabisa nyelamatin. Serius Gw. Sumpah"

Anak 3: "Laah apaaan lu. Justru nih ya, di neraka itu kita bakal selamanya di sana cuy.. Eh tapi sih itu kalo lu bukan islam dan durhaka sama bokap nyokap lu..”


Anak 2: "Itu mah iya..


Anak 4: “Gw sih beda mikirnya, cita-cita Gw, ntar kalo punya anak pengennya sejuta anak.


Anak 2,3,4: "Gw juga, banyakin anak pokonya ntar. Biar pas masuk neraka ada anak yang nyelamatin gw..

(Seketika inget sosok Anas bin Malik yang didoakan Nabi Shalallahu 'alayhi wa salam supaya diberi keturunan yang banyak. Benar. Doa Rosul terkabul, di kemudian hari sang Anas memiliki ratusan keturunan)

Saya: Kalian kelas berapa?
Semua anak: "Empaaaat Bu
Saya: "Owh. Abis tuh waktu istirahatnya, masuk sana :D"
Semua anak: Ah elah Ibu!"


----
Mari menyelami hikmah:
Teringat sebuah pertanyaan seorang Murabbiyah, lebih bagus manakah antara 3 hal berikut :
1. Muslim banyak tapi tidak mengerti Islam
2. Muslim sedikit tapi paham Islam
3. Muslim baik dan banyak.
Sontak, semua Mutarobbi memilih poin dua dan tiga.
Sang Murabbiyah tersenyum, lalu bagaimana dengan arahan Rosul:
"Perbanyaklah ummatku, agar aku berbangga dengannya". (HR. Abu Daud & An-Nasai)

Sederhananya, jika kau berjalan seorang diri sebagai orang biasa di tengah sekumpulan orang-orang jahil, dipastikan kau kan diganggu. Akan berbeda jika kau berjalan dengan kawan-kawanmu meski hakikatnya semua kalian bukanlah pendekar, , namun si pengganggu akan enggan untuk mengganggu.

---Apa hubungannya(?). Sebentar, simak dulu.

Sungguh unik keberkahan yang diturunkan Allah kepada wanita-wanita muslimah yang hidup di tengah gempuran perang.


Masih saja Allah percayakan dari rahimnya tercetak anak-anak muslim yang dinantikan peradaban. Palestina misalkan. Sementara, para pembenci Islam masih berjuang mati-matian supaya generasi ini terhenti sebelum menjadi tunas dan bibit. Diadakanlah berbagai program. Diaturlah makar paling keji; terkhusus anak-anak Islam yang terlanjur lahir ke dunia dikotori akhlak dan akidahnya. Semata-mata supaya jauh dari Islam.


Adalagi. Ini siasat paling halus namun menyingkirkan. Dibukalah lembaga-lembaga, dicanangkan peluang bagi anak-anak muslim yang miskin harta dan polos agama. Dididiklah mereka ala bukan agamanya. Direkrut sebanyak-banyaknya semata-mata terjaring dalam satu kesatuan yang tak mengenal agamanya. Murtad!


Ah, itulah siasat paling nyata yang terpampang di depan mata. Subhanallah. Apa daya bagi kita yang ingin menolong tapi tak berpunya. Ingin mencegah tapi tak kuasa. 

Lalu, dengan kondisi begini, bagaimana kita akan membuatnya (Rosulullah) bangga atas banyaknya jumlah kita? Di saat yang sama generasi Islam dipapas dan dihempas sebelum bertunas. Dipatahkan dan ditumbangkan sebelum berkembang.



Sederhananya, mari bercita-cita melahirkan sejuta anak.
Didik anak sendiri, jika punya. Atau anak orang lain, anak tetangga, anak siapa saja. 
Karena ia adalah aset untuk agama yang dibanggakan.
Ia adalah bagian ekspansi dan eksistensi himpunan Muslim yang dirindukan Atau pintasnya, perbanyaklah binaan. Bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, pemerintahan. Maka membinalah, karena membina adalah bagian risalah yang dibanggakannya (Rosulullah)

.
****
Kamis, 27 Okt 2016
Rawamangun.

Menyadari Peran

Bila engkau tak dapat menjadi pohon Pinus di puncak bukit,
Jadilah engkau semak di lembah.
Tak perlu merasa sakit
Paling tidak, jadilah semak kecil paling indah di tepi sungai..
Karena mungkin merasa sulit bagimu menjadi pohon yang permai..

Bila engkau tak dapat menjadi semak,
Jadilah sejumput rumput yang tanak..
Perindahlah sepanjang tepian jalan raya,
Menghiasi jalan setapak dengan ramah,
Menyapa tiap langkah-langkah agar ceria..

Pada akhirnya,
Tidak semua dari kita menjadi Nahkoda..
Ada tugas masing-masing yang harus dilakoni
Ada pekerjaan besar dan ada yang kecil..
Bukan besar atau kecil yang membuat engkau mulia,

Jadilah yang terbaik siapapun engkau adanya
Di washilah dakwah ini kita punya posisi yang berbeda-beda..
Setiap kita memegang amanah dan tanggung jawab yang tidak sama
Masing-masing memiliki peran dan fungsinya sendiri-sendiri..
Maka yang paling baik diantara kitaadalah yang paling baik persembahan amalnya:
Bagi Allah, bagi agama, bagi ummat, dan bagi saudaranya.


Menyadari peran artinya menyadari kapasitas dan fungsi..
Agar tahu diri atas kelemahan dan kelebihan dalam diri.
Saat kau temui dirimu tak sebersinar seperti mereka, tak perlu berkecil hati..

Menyadari peran, artinya sedang membangunkan
Mengingatkan untuk terjaga, atau memaklumi menjadi penjaga.
Jika kau seorang Qiyadhah dalam amanahmu, maka tugasmu tanpa jeda.
Tak ada kata rehat dalam risalahmu.
Tak perlu ramah pada jenuh yang menyapamu.
Tak boleh ada menepi yang kau butuh

Jika kau seorang Jundi, maka tugasmulah membersamai.
Melakukan amal-amal islami tanpa harus ditagih-tagih.
Inisiatif dan ketaatan adalah mahar sebuah perjalanan.
Sebagai penguat dalam kedinamikaan..

Menyadari peran, artinya sedang memetakan kewajiban
Seperti halnya bidang yang kau lakoni;
Jika kau beramanah di sarang Huda. Maka berperanlah selayaknya Huda: Petunjuk bagi setiap jiwa.
Jika kau sendiri saja mudah hilang arah, bagaimana kau menunjukki mereka ke jalan cahaya?
Tetap teguh dan gigihlah dalam taujihmu di lembaran nyata dan Maya.
Agar terbaca pesan dan petunjuk di sana..
Tugasmu pula memupuk-tsaqofah islamiyah..
Lagi-lagi, ini tentang dakwah.

Jika kau jantung dakwah atas ke-Kaderisasi-anmu,
Maka berdetaklah dengan harmonisasi iman.
Tak perlu serabutan, tak perlu merebut tugas kawan.
Tugasmu terus menyuplai daya, menggerakkan yang diam.
Mendampingi yang bingung, menyiasati potensi yang tak terdeteksi.
Terus berdetak tanpa jeda.
Harus ikhlas, karena kerjamu tak selamanya terlihat nyata. Diam-diam kau bekerja.
Menjadi bagian dari dirimu menjadi dai-dai yang tak haus popularitas. Harus ikhlas.
Seperti halnya jantung, tak terlihat namun kau terasa adanya. Lagi-lagi, bukan merebut kerja kawan.


Jika kau seorang Penyiar maka ini pasti kau tak boleh lelah..
Memikirkan kebutuhan muslim-muslimah..
Kerjamu terarah, selalu ada hari-hari yang terperbaharui,
Karena kau adalah pemasok kajian dengan komitmen tinggi..
Bersungguh-sungguh menghidangkan majelis ilmu bagi setiap nurani..
Bertanggung jawab melayani jamaah yang beranekaragam dari hari ke hari..

Jika kau seorang Bendaharawan dakwah, maka berbahagialah..
Bukankah kebutuhan dakwah terjembatani oleh pikiranmu yang tajam?
Kau analisis tiap pos-pos dan lini dakwah yang membutuhkan?
Kau penyalur di tiap anggaran.
Tidak menyulitkan di setiap permintaan dana..
Mungkin berat harus menjadi dirimu yang bermainkan angka.
Ketahuilah, tak banyak orang hebat sepertimu.

Bagaimana denganmu Pemakmur Musholah?
Kaulah bentuk tugas dakwah paling nyata..
Lewatmulah jiwa-jiwa menyegarkan imannya..
Kau tahu kebutuhan yang singgah, kau urusi kesegaran jiwa yang menemuiNya..


Bagaimana denganmu yang bertugas dalam surat-surat dakwah bernama administrasi?
Tak dipungkiri, kejelianmu, bahasa dakwahmu, kerapihan yang kau lakoni
Adalah hal istimewa. Paling hebat dalam perihal tanda-tangan sana-sini,
Tiap tetesan peluhmu, pastikanlah kelelahan yang Lillah..


Betapa bahagia dan bangganya Allah, Islam, ummat, dan sahabat kita ketika melihat setiap diri ini bisa..

Memberikan pengorbanan yang terbesar yang mampu diberikan..
Menunaikan amanah dengan hasil yang terbaik yang mampu kita lakukan
Menghadiri undangan syuro, kajian
Atau agenda lainnya sehingga tidak mengecewakan pengundangnya
Mencurahkan seluruh ide, usul, pemikiran, dan gagasan saat syuro membutuhkannya
Berusaha sekuat tenaga menyelesaikan PR sesuai waktu yang ditentukan bahkan sebelumnya
Memperlihatkan wajah penuh cinta dan kasih sayang yang tulus dan hangat bagi kawan jalannya
Menawarkan bantuan dengan ikhlas pada saudara yang membutuhkan sebelum diminta.


Tiap diri adalah Qiyadhah bagi dirinya sendiri.
Maka, jadilah yang terbaik siapapun engkau adanya..
BerFastabiqul Khoirotlah tanpa jeda..

Selasa, 30 Agustus 2016

Iyes! PINDAH.


Seharian akrab dengan kata menyibukkan diri. Tepatnya pindah kamar. Seharusnya seperti agenda2 yang sudah2; pagi buta hingga malam beraktivitas di luar Asrama. 
Ya meskipun mengorbankan agenda wajib yg ada di asrama, hati masih selalu ngarep supaya Allah ngelirik lembut di saat semua mata memandang 'nekat' karena kabur. Siapa yg nolong agama Allah, maka Allah akan menolong urusannya. Obat hati banget kalo udah inget nih kalam.

Balik ke topik. Ternyata belum bisa ke mana2. Gabisa ketemu orang2 shalih/ha. Badan benar2 ga bisa diajak kompromi meski ngerangkak. Ga nekat nyoba ngerangkak juga sih haha. Meski gitu, masih dikasih 2 kaki utk dipaksain supaya ga kalah. Sepasang mata dan jari2 yang diamanahin supaya sigap alias ruhil istijabah bales pertanyaan/keperluan ummat via medsos. *Dih,  gaya bener ya*


Dari luar kamar, acara 17an heboh benar.  Berbagai lomba dipertontonkan. Lomba tarik tambang, main bola pake terong, dan lain2. Campur baur tuh pria wanitanya. Musik yang memecahkan gendang telinga rasa-rasanya. Sejujurnya, syaraf2 kapala udh protes hebat. Suara histeris bagi yg melampiaskan kelelahannya selama sepekan berturut2 akibat PPL aja udh cukup bikin syarag nyut2an. Anyway, ambil sisi positifnya aja kalo udh gini. Ladang pahala meningkatkan kesabaran. Ya ga?

Sehariannya di asrama ternyata gabisa dimanjain anteng di kasur. Mata ketutup pikiran menerawang. 
Akhirnya memutuskan bangkit. Pindahin barang2 ke kamar sebelah2nya kamar tetangga. Mindahin dari pagi kelarnya jam 20.45 teng. Maasyaa Allah.


Sambil mindahin barang satu2, tetiba inget banyak hal yang terjadi belakangan di kamar ini dan org2 yg ada di dalamnya. 
3 org gadis Kalimantan yang baik2. Terkhusus seorang yang paling lembut hatinya. Paling peka perasaanya. Seorang yg selalu sigap nginfak dan nyumbanyin harta bendanya kalo dikabarin ada agenda kampus yang butuh dana.

Makasih ya udah ngobatin pas sakit. Udah nawarin diri kalo lagi butuh bantuan tanpa diminta. Udah jadi makmum yang sabar dalam berjamaah. paling nurut diajak sholat bareng, puasa sunnah bareng. Paling nerima dilurusin pas keliru. Makasih ya kado2 dan surprise terbaiknya setiap millad. Makasih atas panggilan sayang yang mendewasakan..


Sabtu, 13 Agustus 2016

Special day


12 tahun yang lalu ia berdiri di depan cermin dan berkaca. Tangannya sibuk memainkan kerudungnya sambil senyum-senyum sendiri

Tiba2 wajahnya sumringah,  ada lelaki berwajah teduh menatapnya dalam kaca yang berseru; Putri sholihanya Ayah, hari ini puasakah? Apa balasan dari Allah untuk Ayahnya, kalau anaknya cerdas belajar, rajin mengaji dan suka menghafal?. Semangka yah". Jawabnya mantap sambil bergegas melompat ke arah Ayahnya yang mengulurkannya sebuah kotak terbungkus hadiah. Isinya Mushaf, sepaket buku bacaan, sekerat coklat dan sepotong bisikan; Ziahbisa,  barokallah nak".

Hari ini ia kembali bercermin, di tanggal yang sama, di bulan yang tak berbeda. Mengenang wajah teduh tiada dua. Tapi kaca tak pernah memantulkan wajahnya yang bergumam;
"Ayah juara, nice to meet u. See u insyaa Allah. 
Terimakasih. :') 

*Ditulis dengan sedikit perubahan diksi.

Allahummaghfirlahu warhamhuu wa'fihi wa'fuanhuu. Warhamhu kamaa robbayaani shoghiroh..

Senin, 08 Agustus 2016

Selftalk


Dunia ini memang menawan.
Kata sifat di dalamnya pun beragam; cantik, indah, tampan, shalih, shaliha,  semua ada sebagai sanjungan.
Sementara, kata kerja dan bendanyapun paling sering melalaikan.


Ketahuilah, usia muda yang menjadikanmu lebih menawan adalah perjuangan. Pengorbanan. Ketaatan.
Masa di mana saat yang lain berpangku tangan, kau bermimpi jauh ke depan;
Membina, merekrut, menyiapkan generasi peradaban, bekerja, Memperbaiki diri, memperbaiki ummat, menyumbang batu-bata proyek kebangkitan Islam.

Bukan terlena keshalihan orang-orang. Bukan terbuai dengan kisah cinta halal sepasang insan. Bukan melayang karena disanjung atas amal-amalan. Bukan melankolik atas karya roman picisan. Bukan sibuk menata tampilan fisik agar menarik pas ketemu orang-orang dan selfie-an. Bukan merayu-rayu Tuhan agar jodoh disegerakan.
Bukan berandai-andai segera menyusul ke pelaminan.
Bukan pula tak terima atas kehilangan yang kau sayang.
Dan bukan pula merengek-rengek atas takdir yang digariskan.


Masa mudamu, sebentar.
Masa yang berharga.
Jangan dirusak dengan khayalan kosong.
Jangan dipupuk dengan banyak berkicau dan tertawa-tawa tak karuan dengan tingkah pecicilan.
Lebih dari itu, bebanmu tak sedikit. Bekalmu harus banyak. Tugasmu jangan terserak.
Rugi. Rugi. Rugi.

Ingat ya, di kampus sudah tidak lama! Sudah merekrut berapa orang supaya ngerti agamanya? Udah membina berapa kepala? Skripsi apa kabarnya? Akademik berapa kualitasnya? Lulus mau kapan? Amanah bagaimana kabarnya? bikin kamu berkembang apa bikin menghilang?

Maasyaa Allah. Kagum sama kamu dan list tugas-tugasmu.
Lalu bagaimana dengan hafalan Qur'anmu, bertambah seayat atau berapa juz-an? Tilawah tuntas berapa lembar tiap harinya?
Wawasan pengetahuanmu meluas atau masih bak katak dalam tempurung? Duh kasian, tidak pengapkah? Hehe.
Kalau malam, masih sempat tahajud kan? Tidak balas dendam dengan mendengkur karena lelah seharian?

Keluarga apa kabar?
Ibumu, ayahmu  adikmu, kakakmu, tetanggamu, masyarakatmu? Semua udah diurus belum? Sudah disentuh dan disapa dengan akhlakmu belum? Katamu sedang diproses.
Syukurlah jika demikian.

Wah. Ternyata tanggunganmu banyak ya. Tugasmu seberat gunung Tursina bukan? Kenapa masih nafsu berleha-leha?
Kenapa selalu main rasa dalam menunaikannya?
Kerjain ya. Kerjain dengan ilmu. Dengan logika dan tentu berasa.
Supaya menjadi amal. Bukan ikut-ikutan.



Terimakasih :)

Terimakasih sudah jadi saksi ketulusan seseorang :D


Yang tanpamu, ia pasti itsar meminjamkan sepatunya.
Tanpamu, ia rela menabrak area sekret di Daksin yang gelap seba'da maghrib.
Tanpamu, ia sabar menanti sembari bolak-balik ke rak sepatu ikhwan akhowat.
Tanpamu, ia pasti terlambat pulang ditambah macetnya perjalanan
Tanpamu, waktu rehatnya pasti kemalaman karena terlalu lama menunggu
Tanpamu, aku melanggar adab dan sunnah; berjalan tanpa alas kaki.

Terimakasih ya, sudah jadi perantara kemudahan.

"Dan janganlah kamu lupa kebaikan di antara kamu"
(2: 237)

Sabtu, 23 Juli 2016

Akad Indrii :')


Kusimak tumbuh kembangnya..
Berproses dari musim ke musim hingga mekar.
Hingga ia kokoh berdiri menjadi pundak orang-orang terkasihnya.
Kusebut "pengorbanan" nama keputusannya.


Di sinilah aku, menunaikan hak yang dipintanya.
Melangitkan doa dan menyaksikan hari bahagianya.

Masih lekat di memori;
Caranya menyikapi uji diri
Caranya berdiri di atas kaki sendiri.
Ekpresinya menyembunyikan luka diri.
Caranya mengadu dan menyimpan haru
Caranya menangis dalam isak dan sendu.

Ah, banyak sudut kampus jadi saksi.
Tempatku dan dia saling berbagi
Tempatku dan dia saling temu dan mencari.
Sekedar melepas rindu, merancang masa depan, menghitung batas masa perjuangan, atau mengisi perut yang keroncongan.
Sudut itu, biarlah jadi kenangan untuk esok-esok hari jika perlu.

Membekas pula di hati, kala ia menjadikan diri sebagai teman dekat bercurah hati.
Tempatnya meminta putusan perkara itu dan ini.

Sayangnya yang melimpah, menyejuk di dada.
Terasa jua rasa kasihnya yang terkadang pilih-pilih; ia utamakan diri ini daripada saudari lainnya
Diam-diam, jiwa membatin haru.
Meski merasa tak pantas menerima perlakuan cintanya yang berlebih.

Sekarang dia di sana. Cantik. Senyumnya jelita seperti parasnya.
Balasan Allah atas sabarnya, mempesona di hari akadnya.

Semoga, hari esok Allah selalu menyayanginya. Hingga Jannah.
Diberkahi Allah amalannya
Menjadi pasangan penguat jiwa bagi pendampingnya.
Dititipkan pula keturunan sholih-sholiha penyejuk mata
Untuk agama. Untuk Allah.

Karena ia saudari tulus.
Saudari paling hormat dan santun dalam persaudaraan
Saudari yang selalu membuat hati tersenyum karena ungkapan cintanya saban hari.

Semoga ia masih saja sama.
Tetap istiqomah, seistiqomah panggilan sayangnya padaku. Panggilan saat marah, kesal, kecewa, bahagia yang selalu satu. Tak berubah seperti orang-orang kebanyakan.

Barakallahulakumaa yaa, Indriikuu :')


Senin, 18 Juli 2016

Syafakallah

Semalam dapat pelajaran dari seorang adik. Beliau minta alamat lengkap kakak taukhtinya. Taukhtinya sedang sakit, sudah 4 hari. Iseng nebak, pasti beliau mau ke sana jengukin. Benar ternyata. Dan saya pribadi jadi kelabakan sendiri mencari alamatnya. Blm pernah ke sana juga soalnya, padahal udah bersaudari dengannya sejak 2012 lalu.

Well, mungkin izin Allah beda antara adik ini dan saya. Saya mencari alamatnya satu persatu nanyain ke teman seangkatan. Nanya ke fakultas lain juga.  Japri maupun nanya di grup. Sempet berkali2 salah kirim gegara semalem lagi riweuh di beberapa grup. Hampir nyerah juga. Banyak yang belum tau alamat lengkap beliau.

Sayapun coba ingat2 siapa teman terdekat beliau hingga teman liqonya. Alhamdulillah dapat. Sengaja ga minta bantuan saudari lain buat nyari alamatnya, meski sedikit dikodein awalnya supaya bantu. Haha

Then, saya japrian dg teman liqonya ternyata beliau juga kurang tau dg lengkap. Dapet rekom ke teman lainnya. Pas dihubungi, beliau rekom ke saudari lainnya. Pas ngubungin ke yg direkom, taunya dibales begini *"Yah, kurang tau Ziah, coba kamu hubungi si A, nah si A ini nnti bakal minta  ke si B. Nah si B punya nomer C, dan C pasti tau alamatnya. Eh engga deh kayanya, mungkin si D punya lebih lengkap. Hubungi aja dulu ya via si C. Tapi, aku gapunya nomer si A. Coba kamu hubungi fulanah yaa, fulanah itu temen deketnya si D looh. Hehe.."*

Gubrak! Yaa Allah,  kenapa jadi ribet klimaks begiini sempet saya membatin.
Endingnya, saya dapat juga tuh nomer melalui rekomendasi terakhir. Saya ga persingkat atau akali jadi sederhana rute linknya, karena tetiba tertantang menggunakan saran tadi. Hubungi si A hingga fulanah. You know, niatnya kenalan dan silaturahim. Alhamdulillah misi done. Si Adik dari seberang sana barangkali senang. Semoga, biar dowline pahalan saya nambah, gitu kalkulasinya. Haha.

Seba'da itu saya jadi refleksi pula. Dan agak terharu dengan niat si Adik ini. Sejujurnya sejak di Jakarta saya belum pernah menemukan budaya begini. Budaya yang sudah jadi tradisi di daerah saya, yang kalo denger org sakit terlebih itu saudara seperjuangan, maka dia akan rela menghabiskan waktu berjam2 di perjalanan demi menjenguk saudaranya.

Rata2, org Aceh terkhusus kadernya kalo jenguk org sakit sudah jadi prioritas. Sama seperti hadir HALAQOH.
Ga peduli hujan badai, ga peduli minimnya transportasi, ga peduli jaraknya jauh melewati lembah ngarai, hutan belantara, sungai ataupun samudera luas. Dia akan rela menempuh semuanya hanya ingin menjenguk saudaranya.

Sebenernya simpel, barangkali ini memang budaya di Aceh tapi mengakar di iman2 org2 yg paham. Jadinya bertradisi dari generasi ke generasi. Alhamdulillah. Misal  dia paham tentang pesan Rosulullah yg barangsiapa menjenguk org sakit, maka Allah merahmati perjalanannya dari rumah sampai balik lagi ke rumah. Dan mungkin pula ia ngerti protesnya Allah langsung di hadits qudsi *"Wahai hambaKu, aku sakit tapi kenapa kau tak berada di dekatku?. Dijawab oleh si hamba: Wahai Rabbku, Engkau kan Tuhan, bagaimana Engkau bisa sakit?. Sesungguhnya apabila hambaKu sakit, aku berada di dekatnya".*

Wallahu 'alam. Barangkali, Allah cuma lagi negur dengan halus aja. Khususnya ke saya. Bahwa, syafakillah dan doa aja terkadang bukan sebuah bukti konkret dalam sebuah muamalah. Bukan rukhshah pula atas nama jarak dan waktu yang tak kita punya. Betapa banyak kabar dan peristiwa jarak dan waktu yang terkalahkan oleh sebuah niat dan tekad membaja. Atau, betapa sebuah KETIDAKDEKATAN bukanlah penghalang berenggan-enggan menyambung hak saudari seiman yang terabaikan.


Bahkan kita pun bisa berkaca dari sosok bijak yang terlukai namun tetap berlaku adil dengan sesosok yang belum menjadi kawan. Dialah org yang pertama kali bersegera dan cari tau kala kehilangan perlakuan tak beradab sang lawan kepadanya. Ia mencari-cari, kemanakah perginya sosok yang menyemburkan kepadanya air liur dengan sengaja di saban hari untuknya.
Usut punya usut, si lawan terkapar sakit di rumahnya. Kita tau, karena akhlak penjenguklah yang menjadikannya terkagum-kagum hingga memeluk Islam.

Lalu, ada di mana kita yang sekarang?
Atas nama sibuk, macet, aktivitas yang padat, keluarga yang super ketat pengawasannya jadilah kita generasi
"Syafakillah". Syafakillah untuk jarak dan waktu yang selalu dikeluhkan. Mohon berkabar ya kalau ada apa2. Nah, ini juga sering.

Rasionalnya kan harusnya yang sakit fokus dengan sakitnya. Bukan update diri dan berinfo-info ke yang sehat. Haha, barangkali begitu juga ngurangin rasa sakit ya? Entahlah, yang jelas ini bicara kemanisan iman. Halawatul Iman. Cuma orang2 tertentu yang dizinkan beroleh ini. Semoga nanti, kita pun termasuk bagiannya.

-SFW-

Rabu, 13 Juli 2016

Semangka, jawabannya!


Ada kalanya, aku hanya diam dengan diriku, memendam dengan manis segala rasaku tanpa hendak bercerita pada manusia. Menyederhanakan segala rasaku. Yah, lagi-lagi rasa memang.


Banyak berjalan dan lama hidup semakin banyak hal yang dirasa. Sebuah kaidah indah dari Bunda. Itu tertanam sejak aku mengerti bahasa "peduli" dalam omelannya yang begitu bawel (ups) dan berkali-kali. Ehehe.
Dan bila dipikir-pikir lagi, ada untungnya juga.

Then, inilah yang kumaksud adakalanya. Eh tiba2 Allah mendatangkan penghibur hati dari pesan2 sederhana yang kutangkap dengan mata seorang yang berpikir a.k.a over mikir lalu kuabadikan dengan hati dan jadilah ia mendekam di memoriku. Diam di sana, kemudian membatin syukur. Alhamdulillah. Alhamdulillah, saat hati menyendu, Allah selalu punya cara2 unik dan berkesan menghiburku.


Beginilah cara Allah menghiburku. Entah itu lewat apa yang kulihat dengan sengaja dan sepintas, lewat curcolan dan kicauan dari makhluk yang tak sengaja kusimak  atau pemberian tulus dari seseorang tanpa kuminta.
Inilah senyumku hari ini, lewat pemberian seorang adik yang pernah jujur bahwa aku sosok kakak yang menakutkan baginya (hah?).
-Syukron Nilam, sosok pengamat hebat! :D


::Sejujurnya, arti semangka bagiku salah satunya adalah kembali memaknai surat Al-Mudatssir: 1-7.
Tidak berputus asa dalam memberi peringatan, kembali bangkit, kembali sabar, kembali serius, kembali berdakwah!.
Dan pict ini tepat dikirimkan Allah lewat seorang adik saat hatiku memendam gemuruh rasa perjuangan. Hehe.

Alhamdulullah 'ala kulli hal.

Bercermin

Kau bilang kau mencintainya, Berjanji hidup mulia ataupun mati terhormat bersamanya.
Kau bilang, kala ia dinista oleh musuh-musuhnya kaulah yang berdiri paling depan untuknya.
Kau terobsesi jadi teladan yang pantas membersamainya.
Kau bilang, kau rela mengorbankan segalanya deminya. Deminya.

Tak mengapa menyeret paksa tubuh lelahmu. Tak mengapa mengorbankan usia mudamu.
Tak mengapa terluka dan tersayat membelanya hingga tetes nafas peluhmu menderai-derai.
Kau berjanji akan berdamai dengan segala suka dukamu.
Meski zaman menimpakan kemarahannya padamu.
Meski semua orang-oramg bersepakat mencelamu.

Namun bersamaan, kau tabrak ia dengan maksiatmu.
Kau sakiti ia dengan pembangkangamu.
Kau kecewakan ia dengan ketidaktaatanmu.
Lagi2 kau ingkari ikrar setiamu terhadapnya.
Lagi-lagi, kau abai manakala kau diseru untuk menolongnya dengan semua amalanmu.

Jika begitu,
Rasa malumu, kau kemanakan ia?
Rasa takut kehilangannya, kau apakan ia?
Masihkah kau pantas memperjuangkannya?

Wakafaa billahi syahiidah
Wakafaa billahi 'alimaan
Wa kafaa billahi nashiroh

Pada akhirnya, jalan ini hanya mampu dibersamai oleh orang2 yang bersungguh2.
Orang2 yang mengerti artinya 'dibutuhkan'
Bukan orang-orang yang manja dan banyak mengeluh, apalagi takut susah dan minim pengorbanan.
Menyesallah, jika orang2 itu bukan lagi kita.

Yaa Rabb,
Tsabbits qolby, 'ala da'watik

Minggu, 03 Juli 2016

Menyederhanakan Rasa

Mari menyempurnakan ikhtiar. Membersamainya hingga penghujung.
Memapah segala keluh dan harap tentang problema; rasa bosan, rasa benci, rasa lemah, rasa yang tak layak untuk dirasa.
Rasa yang tak sepadan untuk dipelihara.

Mari memperbanyak pengaduan paling jujur padaNya.
Tentang sakitnya ditolak.
Tentang perihnya pembangkangan.
Tentang adab2 yang semena-mena.
Tentang protes2 yang tak sewajarnya.
Tentang tak kuasanya mengemis ketaatan.
Dan juga adukan tentang ngilunya harus bertahan. Haha.
Lengkapi pula dengan munajat penuh harap,
Tentang makhluk2 titipan yang semoga terus taat. Terjaga. Dipelihara. Disayangi, hingga dicintai di setiap lini ia berada.

Mari menyederhanakannya. Bersama kata maaf paling tulus.
Bersama memaklumi yang paling luas.
Memahami yang paling dalam.
Maka lepaskanlah. Lepaskan dengan mengadu dan bercerita kepadaNya.
Malam ini, karena esok belum pasti milik kita..

-Allohumma innaka tuhibbu 'afuwwu fa'fuanni-

Sabtu, 02 Juli 2016

Kau kira

Kau kira, hanya dirimu yang diam-diam berjuang?
Diam-diam mengelus dada?
Diam-diam terseok melanjutkan langkah?
Diam-diam gemetar menahan lelahnya berdiri?
Diam-diam tersenyum dan  menangis sendiri?
Diam-diam ingin didengar?
Diam-diam ingin diperhatikan?
Diam-diam mengernyitkan dahi?
Diam-diam bangun sendiri?
Diam-diam terhempas dan terkapar?

Keliru!
Ada banyak orang yang diam-diam melebihi apa yang kau rasa.
Mereka selalu begitu. Mempercayai takdir langit menyejukkan jiwanya.
Meyakini, bahwa setiap jengkal perihnya perjalanan akan terbayar dengan mahar keikhlasan.
Meredamnya bersama keimanan;
"Bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu".

Itulah mereka.
Diam-diam menikmatinya.
Diam-diam merayakannya dengan kesabaran.
Diam-diam mensyukurinya.

Dan kau?
Selalu menyuarakannya di depan yang tak punya kuasa.
Menyebarkannya dari telinga ke telinga.
Mempertontonkannya dari mata ke mata.
Mengekspresikannya dari rasa ke rasa.
Meng-olah logika ke logika, seakan- akan pembelaanmu benar adanya.


Harusnya kau tahu, sebaik-baik pemahaman adalah memahami ketidak pahaman orang-orang terhadapmu.
Sebaik-baik pemakluman adalah memaklumi masalahmu.
Sebaik-baik penerimaan adalah menerima dengan dada lapang, bahwa kau hanya sedang disayangi dengan uji.


Selasa, 07 Juni 2016

Finally, Love u

Haha.
Sebuah judul ekspresif sebenarnya. Mengutarakan (ke arah utara) selembar perasaan saat mengetik deretan huruf ini, dan menyelatankan (ke arah selatan) sebuah pikiran yang sejak dulu ternyata telah berhasil mendekam di otakku. Jadilah mungkin sepanjang utara dan selatan itu panjangnya cerita dan cita rasa yang ingin kututurkan (ahiya banget, beginilah rasanya lebay ! ).
Sebenarnya aku hanya ingin mengungkapkan sedikit hal tentang Hujan dan Embun. 
Bahwa keduanya adalah makhluk Allah. Pernahkah kau berpikir bahwa salah satunya berbeda? (gaperludijawab:p). Jikapun sama, kesamaan diantaranya hanya kesamaan kristal-kristal bening dan sifat takdirnya yang sama-sama seperti zat cair.

Hujan. Adalah makhluk Allah yang seringkali membuat suasana menjadi lebih dramatis. 
Makanya kalau di film-film, seringkali ditambahi rain effect sebagai bentuk dramatisir dari adegan yang sedang diperankan, biasanya kalau bukan adegan tragis ya adegan romantis.
Film horror juga ada, misalnya salah satu film yang ditulis, diperankan, dan disutradai oleh SitiFauziahWaruhu dalam “Action Researsch ”. 
Nah, ini full Hujan airmatanya pas adegan revisian plus nyari referensi. Wuahaha. (Canda)

Hujan,
Adalah makhkluk Allah yang terus dirindui manakala tak mendatangi bumi. 
Ia adalah inspirator bagi para penutur dan penyukanya. 
Banyak hal yang disisakan oleh hujan; banjir, sampah, daun berguguran, tanah basah, dingin, hingga kenangan. Cieeh. Dan ia adalah rahmat. Penyubur bumi, penumbuh tanaman. Begitulah takdirnya hujan; disenangi, dikagumi, dirindui.


Jika dianalogikan dan difilosofikan, hujan dan embun seperti dalam dakwah.
Ada beberapa bidang yang kita kenali dalam dakwah kampus.
Di antaranya Siyasih;eksekutif/legislatif misalkan. Hujan bila diibaratkan seperti bidang siyasih seperti bahasanya para mahasiswa; Dikagumi, dielu-elukan, disenangi dan lainnya. 
Euforianya manakala berkonstribusi lewat rangkaian agenda, si siyasih ini sungguh heboh. 
Tenar di panggung dakwah. Suaranya lebih didengar, kebijakannya lebih ditaati. 
Keberadaannya lebih digandrungi. The bestlah kata mereka. 
Akupun suka hujan sebenarnya, apalagi kalau pas kemarau. Haha.

Lalu,

Ingatkaah engkau kepada embun pagi bersahaja, yang menemanimu sebelum cahayaa..(Lettosaid)

Syiar !
Orang-orang buangan adanya di syiar ! Hahhh, apaa??! Tenaaang. Sini ku beritahu, tolong disimak dengan ketawadhuan. Jangan sombong setelahnya, ya?. Dijamin, 100% prediksi ini tidak berlaku bagi yang hatinya berdebu karena pujian:D

Tak pernahkah kau merasa, bahwa syiar itu seperti embun. 
Keberadaannya tak semusim dan tak bermusim. Selalu ada. 
Lihatlah, ia dipesankan selalu ada membasahi ketandusan iman.
(Jika HUJAN tidak menyiraminya, maka EMBUNpun memadai: 265). 
Oh, seolah ia hanya alternatife manakala hujan tiada? Bukan begitu sebenarnya.

Coba kau rasakan dan open your eyes (kalo kata cik Maher).
Bidang syiar, di samping tugasnya “menyiarkan” islam lewat agenda-agendanya yang kadang jarang lirikan orang-orang, sadar atau tidak ia selalu didatangi untuk berbagai kepentingan dan urusan.
Ia tempat bertanya seputar problema. Masalah hati, masalah materi, masalah cinta, hingga masalah remeh temeh yang tak terskip dari kata sepeleh. 
Penyejuk. Oase jiwa yang kerontang.
Di syiar, banyak kutemui pahlawan-pahlawan sunyi. 
Insan-insan yang terus bekerja meski tanpa riuh pikuk tepuk tangan dan gempita oleh pujian. 
Mereka-mereka ini, (dilihat dari kacamata minusku) seperti embun. Merunduk di pucuk-pucuk. 
Terus menebar kebaikan dalam diam dan terang-terangan. Meki ga semuanya juga sih:D

Embun!
Memang tidak seperti hujan yang datang selalu bersamaan saat jatuh ke bumi.
Memang tidak setenar hujan yang ramai sorak-sorai tepuk tangan.
Embun itu bening. Terbebas dari kontaminasi virus maupun bakteri di sekitarnya. 
Orang-orang menganggap, pakaian dakwahnya suci dan mensucikan. Heh, benarkah itu? 
Kamu. Iya kamu, merasa tidak? Jika tidak, segera pakai, biar keren di pandangan Allah. 
Jangan lupa, lengkapi dengan takwa. Karena sebaik-baik pakaian adalah taqwa. Sudah itu saja. Hingga terkaderlah jiwa-jiwa shalih yang terfilterisasi oleh alam dengan berlusin-lusin kepayahan..

Embun itu seringnya selalu sendiri. Sunyi. Bukan esklusif sebenarnya, seperti kata orang-orang.
Ia hanya menyesuaikan diri dengan kondisi, situasi,dan tempat. Sesekali ia ber-uzlah. 
Menyendiri demi kehakikian yang abadi dan mengevaluasi amal-amal diri. #Tsaah
Embun tidak main hajar dan main bantai dalam muamalah dan sosialisasinya ke bumi. 
Ia mengerti batas, atau bisa pula membatasi hehe.
Ia, terus berkarya, sendiri maupun berjamaah. Menjalani tugasnya sebagai hamba. Dan akupun suka Embun2 ini.

Hujan memang menarik hati. Apalagi kalau tahu diri. Dan Embunpun mengesankan, jika sadar peran.
Keduanya diciptakan untuk saling melengkapi. Dibutuhkan untuk sinergisasi kejayaan. Keduanya.
For you, #GenerasiEmbun36 yang bertebaran di setiap lini dakwah. Kagumdeh !

Husnul Khotimah, ya ! ^^
#Latepost



Jumat, 03 Juni 2016

Pelajaran darinya, dari sana :)

09 Maret 2016; Tentang Penerimaan
Lapangkanlah hatimu. Lapang selapang Sabana. 
Sekalipun di sana ada gajah, harimau, jerapah. Sabana itu akan tetap terlihat luas.
Tetapi jika hatimu sempit, lebih sempit dari kamar tidur, 
jangankan gajah, seekor ayam akan membuatnya sempit.


Luaskanlah hatimu. Luas, seluas Samudera.
Sebanyak apapun sampah masuk dari muara sungai-sungai, ia kan tetap jernih.
Tetapi jika hatimu sempit, sesempit air dalam gelas;
 jangankan sampah dari sungai, setetes dari tinta akan membuatnya kotor.


Bukankah dulu obsesimu untuk bersekolah jauh-jauh dari kampung halaman, jauh dari ibu, ayah, saudaramu.
Bukankah dulu pilihanmu, menanggung bila ada resiko dikemudian harinya?
Ingatkah dulu ketika ibundamu, ayahmu, keluargamu semuanya tak kuasa memadamkan api semangatmu yang meminta supaya diziinkan untuk merantau?
Nikmatilah..




23 Maret 2016; Wisuda & Pakaian Taqwa
Tepat, sebelum wisuda S1nya, sang anak bercerita, tentang euphoria kawan-kawannya menyambut momen wisuda. Berjuta-juta dana. Tidak tanggung-tanggung, ada yang meminta dikirimkan dari kampung, dan yang di kampung menguras tulang-belulangnya ngutang ke tetangga. Duh, miris. Karena konon, wisuda itu adalah momen sakral sepanjang usia perjalanan menjadi penuntut ilmu; S1.

Si Anak terus bercerita lewat telepon genggamnya. Si Ibu masih diam menyimak tenang. Hening disusul kalam; Lalu anandaku, bagaimana denganmu? “Anakmu ini tidak merasakan apa-apa. Kosoong. Sedih dan gembirapun tak ada. Bagaimana ini? 
Tanya sang anak memelas. “Berangkatlah, nikmati momennya. Pergilah dengan pakaian taqwamu”. Tegas sang Ibu.

Dari seberang Pulau jawa ini, suara ibu terpeluk dengan rindunya. Duuh, harusnya kau di sini Bunda, menyertaiku. Basah


*Dengan sedikit dramatisasi bahasa



Penghujung Mei; Tentang pulang

Telah banyak terkabar, tentang orang-orang yang mewakafkan dirinya di jalan Allah.
Mereka tak suka mengejar dunia, tetapi seringkali dunia yang mendatanginya.
Mudah sekali bagi Allah melimpahi hambaNya, melampaui batas logika matematis manusia.
Mereka, orang-orang yang suka berniaga dengan Allah: mereka membaktikan diri untuk menolong agamaNya, tanpa mengharap upah, namun Allah selalu bertubi-tubi memberinya rizki.

::Pulanglah, jika memang kau tidak meninggalkan beban di tempatmu tumbuh



Awal Juni: Ia Rindu


Ia mengadu. Lewat tulisan. Bukan telepon apalagi langsung temu. Tulisannya singkat. Banyak koma dan titiknya. Aku kira, pesan itu bukan buatku. Tepatnya buat adikku yang bersamanya di ujung pulau sana.


Aku kira sejenis gurauan karena aku memilih tak pulang.
Aku kira ia bercanda, karena 2 pekan terakhir aku tak berkabar. Ia aku kira ia salah kirim.
“Naak, anakku. Anakku. Bagaimana kabarmu hari ini? Kepalamu masih sering kambuh?
Sahur nanti bangunkan bunda ya. Masak buat sahurnya sederhana saja. Kita Tahajjut bersama juga, kamu imam ya
".

Ia rindu. Begitu caranya selalu merinduku. Sederhana. Tapi aku selalu tersanjung dibuatnya.
Ia rindu, aku tahu itu, dan ini Romadhon pertamaku nantinya di rantau orang. 
Begitulah. Kutahu ketiadaanku betapa mengiris ruang rindunya. Akan tak ada yang membangunkan sahurnya. Memasakinya makanan. Mengunjungi ia dan suaminya. Berbuka di rumahnya. Atau membangunkan adik-adikku di malam-malam qiyamul lail. Berdiri bersama dingin, berempat. Ia berempat. Tanpanya dan ayah. Tanpa Abang seperti tahun-tahun belakangan. Hanya berempat.
Kali ini, akupu tak ada. 

Ia pasti lebih dulu memendam pilu karena rindu. 
Atau barangkali kelu karena tak bisa menunaikan kewajibannya sebagai Ibu untuk adik-adikku. 
Tak bisa lagi membersamai sahur-sahur kamu. Tak lagi bisa memasaki kami hidangan sepanjang hari. Tak bisa mesra tersenyum buat kami.


Sekarang dan 6 tahun yang lalu ia punya kewajiban baru. Kami harus mengertikannya. Terutama aku. Mengikhlaskannya dan memintanya menjadi istri terbaik bagi ayah baru.


Dulu pesanku, jadilah Ibu yang menginspirasi dan dicintai bagi saudara-saudari baru kami. 
Aku ingatbetul pesan itu. diucapkan dari batin yang menahan kelu. perih. tangis dipendam agar tak menggugu. Lalu di titik ini kusadari betul, telah kehilangan ia. 

Ah, hidup memang terkadang selalu dinamis. 
Kemarin banyak hari-hari yang dihabiskan untuk tertawa bersama. 
Bermanja, mengadu dan bercerita. 
Agaknya Allah telah memilih kami dengan jeli atas takdir ini. Haha. 
Hanya perlu menguat-nguatkan lutut untuk berdiri, itulah ikhtiar kami. 
Menertawakan takdir pun agaknya penting daripada harus menangis dan mengemis-ngemis pundak.


Alhamdulillah, 'alaa kulli hal. 
Di fase ini, aku tetap mengagumniya.
Ibu pertama yang selalu menginspirasi.. :')




Yang Istiqomah Tetap Menang!


1   1.  Kemiliteran AD, Januari 2013
Suatu ketika sedang Apel, seorang mahasiwa sebut saja Z.. Sejak awal ikut pelatihan kemiliteran, perbedaannya sangat  menonjol dengan pasukan lainnya. Dia ngotot memakai rok saat mengikuti pelatihan yang konon pelatihan tersebut hanya bisa diikuti oleh orang-orang  yang memakai celana. Dia juga selalu ke luar barisan atau meninggalkan seluruh aktivitas wajib ketika adzan sedang berkumandang. Langkahnya santai, hanya mengacungkan tangan sambil keluar barisan tanpa merasa berdosa. Sering pula ia duduk ketika momen minum di saat yang lain berdiri, padahal bergerak saja atau memindahkan jaripun komandan kopasus akan menghardik. 

“Z binti fulan! Panggil komandannya
“Siap, Pak!”
“Kenapa kamu tidak memakai seragammu lengkap dan menggantinya dengan rok? Dan kenapa meninggalkan barisan sebelum selesai kegiatan” bernada sangar.
“Siap, Pak! Prinsip!” tak kalah lantang dan tegas menjawab.
“Kamu kemanakan aturan seluruh kegiatan ini?”
“Siap, Pak! Selama tidak bertentangan dengan prinsip agama saya.”
“Sejauh apa kamu siap menerima resiko atas prinsipmu?”
“Siap, Pak! Saya siap dipulangkan ke daerah saya, ACEH!”

Fabuhitalladzii komandan itu, terdiamlah komandan itu





2. Taat demi Izzah
Suatu malam, seorang kakak kelas menghubungi adik kelasnya via medsos bernama WhatsApp;
Kk kelas: “Shaliha, kamu pasang foto wajahmu di sosmed begini, biar apa?
Adik kelas: “ Afwan kak, dosen saya membuat peraturan demikian. Dan saya harus taati jika tidak ingin bermasalah dengan nilai akademik saya. Mempermudah beliau mengenali mahasiswanya.
Kk kelas: “Apakah menaatinya lebih menjanjikan daripada menaatiNya? Apakah kau tidak ingin dikenal Allah dulu?
Adik kelas: “Khoir kak, saya memilih taat untukNya. Dikenal olehNya
Ngecek2 di sosmed, foto PP udh berganti jadi anime kartun berkerudung, memantau 3 minggu kemudian  langsung njapri adiknya;
Kk kelas: “Bagaimana? Apakah bermasalah dg dosenmu setelah kau menaati Allahmu?
Adik Kelas: “Aman kak, Alhamdulillah. Izzah lebih terjaga. Jzk kak..




1.      Aksi iman
Pengurus Perguruan tinggi (PT): “Fulanah, kemarin anda tidak mengikuti seminar, info yang masuk anda memilih ikut aksi di depan ged Rektorat.  
Fulanah: Sayang sekali pak, tidak benar adanya bahwa saya ikut aksi. Seharian saya di asrama, sakit. Sayang sekali
Pengurus PT: “Oh begitu rupanya. Kalau sehat anda ikut aksi ya berarti? Dengar sini, anda itu dibiayai Negara, harusnya bersyukur, bukannya ikut-ikutan aksi !
Fulanah: “Justru itu pak. Bentuk syukur saya, membantu menyuarakan rakyat tertindas yang sudah membiayai pedidikan saya hingga ke jenjang ini. Hitung2 cicilan awal sebelum saya mengabdi atas kelulusan saya di negeri ini nantinya. Hehe,”.
Pengurus PT: “Kalau begitu, anda siap menerima dan bertanggung jwab?
Fulanah: “Insyaa Allah siap pak ! apa yang harus saya tanggung?
Pengurus PT: “Anda seperti sedang menantang saya. Tapi saya anggap itu tidak benar. Anda hanya saya minta untuk tidak bercerita ke rekan-rekan anda akan pertemuan ini. Saya khawatir yang lain akan terpengaruh oleh anda”.
Fulanah: Baik pak terimakasih, kepada ibu saya pun saya tdk akan bercerita. (Memelankan suara), tapi saya akan menuliskannya sebagai bentuk momen bersejarah.  Assalamu’alaykum pak, saya pamit.

Baiklah, mari mengambil hikmah. Cerita di atas hanya salah satu contoh, ketika kita mempertahankan dan teguh pada prinsip kebenaran (istiqomah), insya Allah, prinsip yang tidak benar itulah yang akhirnya akan kalah (minimal mengalah).
Dulu ada teman halaqoh saya, seorang perawat yang curhat tentang peraturan jilbab di instansinya, murobbiyah saya berkata, “Peraturan tidak logis seperti itu sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat, hanya karena satu alasan: mereka tidak suka dengan keimanan kita.”

*Bagai karang di dasar lautan, tak terusik di landaa badaiii (Lukisan Alam, Hijjaz)








Minggu, 08 Mei 2016

Prolog KABUR

Entah, ini episode ke seberapa kian kulalui.
Sering terasa ngilu-ngilu dalam getar.
Gigil dalam panas-panas.
Ada yang bilang aku hebat.
Ada yang merasa aku nekad.
Ada yang menuding aku pembangkang.

Kuceritakan pada Dia..
Hatiku sesekali redup. Sesayup kubasuh lagi-lagi lewat wahyuNya.
Kupaksa langkah dengan ruteNya.

Dan inilah, episode sekian kulalui dari kumpulan tahun belakangan..
Menit menit kini bagai saga sore di ujung senja nan gempita oleh gemuruh kilat.
Aku pernah mengemis-ngemis supaya detik ada yang gratiskan..
Aku pernah meraung-raung agar mereka tak keterlaluan menghamburkan waktu.
Kudengar di bilik-bilik, disayat-sayat, di cermin-cermin. 
Di sana ada wajahku
Wajahku yang memancar tawa di depan orang-orang
Suaraku yang terlalu sunyi dari ribuan hati untuk merayu kelu

Dan di sana juga ada semangatku yang memudar pudar. 
Hanya saja orang lain enggan ku beri tahu.
Aku memang pelit. Tak suka berbagi bila di pundakku ada berkilo beban.
Aku hanya menghidari rumit. Ahya, sok kuat tepatnya.
Aku tak terlalu suka warna, namun tikunganku dihujani pelangi
Aku selalu suka dingin, bagai kata orang-orang.
Tapi tetap saja geliatku selalu kepanasan. 
Barangkali aku merasakan sakit
Aku, lebih suka membungkusnya dengan jaket di tengah terik.
Aku hanya tertarik menangis di setiap sujud-sujud.
Merayu-rayuNya supaya tak jatuh. 

Inilah episodeku kesekian, mendesau-desau sedih di pangkuanNya
Meng-iri-iri mereka yang bebas
Berdegup kencang dalam dadaku
Berirama pelan manakala terlepas dari hukuman.
Ya, hukuman.
Aku sering dihukum oleh pandangan manusia
Dan tiada yang lebih sakit melebihi kata-kata

#EdisiAksiAleppo





Senin, 18 April 2016

Apabila

Apabila,
Suatu ketika kau temukan sebuah benih, lalu kau tanam dan rawat.
Bertahun-tahun kau pelihara ia bersama mimpi dan obsesimu.
Berharap Allah memilihmu menjadi washilah terjadinya tumbuh kembangnya,
mendapatkan hidayah melalui ikhtiarmu.
Namun ternyata tidak.
Dikemudian hari, kau temukan ia tumbuh bahkan subur saat disentuh tangan lain.
Dipenuhi oleh Allah lewat orang lain, bukan lewat dirimu.
Mengertilah, itu hanya sebentuk ujian keikhlasan; tentang rasa, niat, dan laku di setiap kata. 
Hehe. Sabar ya. Tidak perlu mengerutkan kening:p
#ElusDadaAja
#MasihBanyakBenihLain
#AyoRangkul&Bina
#IkhtiarLagiAja

Jumat, 15 April 2016

Eh, Space kita Gedhe nih :P


Saat cinta mengelus rindu #tsaah

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita hanya mengisi waktu dengan cerita
Mengenang, dan hanya itu
Yg kita punya


Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Kita mengenang masa depan kebersamaan
Kemana cinta kan berakhir
Di saat tak ada akhir
-Ust. Annis Matta-
 

Senin, 28 Maret 2016

Bisa jadi, bukan hanya kau yang terluka..

Dalam setiap muamalah kita dengan setiap insan, selalu ada tragedi yang menghubungkan di dalamnya. Tragedi sederhana hingga  tragedi yang syarat penuh makna. Setiap interaksi antara kita dan saudara kita, selalu ada ujian di dalamnya. Maka benarlah, setiap diri adalah ujian bagi diri-diri lainnya.  Dari ujian kesabaran hingga ujian pemakluman. Berada di titik pemakluman hanyalah bentuk dari kumpulan2 kesabaran dan ketegaran. Dan tak mungkin sia-sia andai berdiri di titik pemakluman tersebut. Pemakluman itu bertetangga dengan ke itsaran. Karena itsar mengutamakan saudaranya melebihi dirinya sendiri, sudah tentu ini ujiannya kesabaran. Mengutamakan memberi pemakluman meski diri menahan keterlukaan. Karena jalan tempuh dalam kesabaran itu sendiri adalah janjiNya yang akan terus membersamai; Innallaha ma’ashshobiriin.  Maukah engkau bersabar? Meski kau luka sekalipun.

Pahamilah, setiap kesalahan adalah kesalahan pada masanya. Namun di masa kemudian, ia adalah pelajaran . Marilah meresapi sebuah makna. Dalam tragedi, jangan sangka yang terluka hanya orang yang tersakiti. Tapi yang menyakiti pun, terluka.  Dia terluka oleh kesalahannya. Dia terluka oleh beban rasa bersalah. Dia terluka oleh sesal yang kadang masih saja menyesak. Yang kadang tak cukup lega dengan kemaafaan yang ia terima. Karena bisa jadi dia sendiri tak mudah memaafkan dirinya sendiri.
Barangkali, ia menganggap itu adalah hukuman atas kesalahannya. Sama halnya kisah haru biru dari seorang budak yang awalnya ditakdirkan menentang islam. Ketika membaca shiroh pertaubaatanya, maasyaa Allah hati siapa yang takkan tergugu merasai perasaannya menemui orang yang pernah ia lukai dengan strategi dan makarnya. Ini memang tentang luka yang pernah ia torehkan dalam sejarah peradaban islam dan membekas di hati sang kekasihnya Allah, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Bagaimana gelisahnya ia kala harus menghadap Rosulullah dan menyatakan taubatnya. Dalam hati ia bahkan telah pasrah, Muhammad pasti membunuhku. Namun lihatlah, ia tetap memberanikan diri. Meski praduga menyelubungi hatinya.
Ahya, kita tak mungkin lupa bagaimana Rosulullah pernah menangis atas meninggalnya sang singa Allah; Hamzah bin Abdul Muthalib di tangan budak ini. Kita juga ikut merasakan betapa kehilangannya kita atas Hamzah, salah satu paman yang selalu ada untuk Muhammad di waktu sulit dan melarat sekalipun. Paman yang membuat Muhammad Saw disegani oleh kafir2 Quraisy kala itu. Kita juga jangan lupa, bagaimana jasad syahid Hamzah dibawa ke hadapan Rasululllah tanpa jantung. Dadahnya dibelah dan organel jantungnya dikunyah lahap mulutnya Hindun yang mengiming-imingi kemerdekaan bagi  budak tadi andai ia berhasil membunuh Hamzah. Ya dia berhasil. Ini prestasi bagi seorang budak. Betapa banyak yang tak lihai sepertinya. Betapa ratusan orang yang jadi pesaingnya dalam membunuh Hamzah ra berdecak kagum. Bersorak sorai.  Singa Allah tumbang di tangan budak. Bukan di tangan bangsawan. Ia berhasil. Ia merdeka setelahnya. Hindun bersuka cita. Balas dendamnya untuk Hamzah, paman Rosulullah yang pernah membunuh anak dan suaminya di perang Badar terlampiaskan. Ia puas. Bahagia. Rasulullah terluka.
Tapi lihatlah. Lihat dan renungilah cara bersikap seorang muslim yang terluka. Inilah yang si budak tadi dapatkan dari teladan sepanjang zaman. Tak ada dendam. Terluka iya, namun mampu memaafkan.   Yang dia dapati dari manusia mulia bernama Muhammad; “Pergilah engkau, jangan sampai aku melihatmu lagi.” Rosulullah memaafkannya, membebaskannya, membiarkannya pergi, tanpa luka bahkan tanpa sedikitpun celaan. Juga saat dia berhasil menombak Musailamah Al Kadzab dalam perang, berat nafasnya ia berkata, “Tombak inilah dulu yang membunuh sebaik-baik manusia: Hamzah bin Abdul Mutholib, kini tombak ini menghabisi manusia paling jahat zaman ini: Musailamah Al Kadzab”. Tombak itu menembus jantung manusia yang mengaku nabi di Era kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Derai air matanya dan keharuan menyesaki dadanya, terduduk bersandar dalam lamunan hingga ia tertidur. Ketika bangun, ia berteriak lantang kegirangan, “Allahuakbar, Allahuakbar!” Ia bercerita pada para sahabat yang heran melihatnya, bahwa seseorang menemuinya dalam mimpi, memeluk dan menciumnya, serta ia katakan bahwa ia akan bersamanya di surga.
Siapakah yang menemuinya dalam mimpi itu?


Dialah Hamzah bin Abdul Muthalib! orang yang terkapar syahid dengan ujung tombaknya. Hwuaaaa, menangislah. Menemani si mantan budak ini yang menangis haru. Merasai ke jantungmu, bahwa rasa bersalahnya benar2 rasa bersalahnya mukmin sejati. Dialah Wahsy ra. Yang akan sesurga dengan Hamzah kelak.

Begitulah. Rasul kita bukan sembarang orang. Meneladaninya dalam memaafkan adalah perlu. Karena apalah dan siapalah kita ini yang merasa layak dan berhak menghakimi kebersalahan orang2 atas diri kita. Andai terluka, cukuplah bekasnya disapu dengan memaafkan dan mengikhlaskan. Jika tak cukup dan hati masih saja terasa sempit, maka lapangkan dengan janji-janjiNya yang pasti.  Pulangkanlah sifat diri yang merasa benar kepangkuanNya. Mintalah hati yang tidak sombong. Tirulah ucapan Yusuf Aalaihiisalam’ Sesungguhnya aku tidak menyatakan diiriku terlepas dari kesalahan. Karena nafsu itu selalu mengajak pada keburukan. Kecuali nafsu yang dirahmati Allah. Sekaliber Yusuf yang pernah dilukai oleh saudara kandungnya saja mampu memaafkan. Bagaimana dengan kita? Kita bukan Nabi atau orang yang shalih sekali memang. Tapi semoga kita adalah orang yang bersegera pada saranNya; memaafkan meski terluka.
Bgitulah, andai kau terluka, ingatlah bahwa dia saudaramu, selalu akan begitu sedari mula hingga akhirnya. Jikapun pernah ada perkara, semoga tidak jauh lebih penting dari persaudaraanmu dan dia. Bagaimanalah kau dan dia mau meninggi ego, bahkan para sahabat terbaik pun, Abu Bakar dan Umar ra…pernah berseteru. Ketersinggungan yang menegang hingga Umar tak membuka pintu untuk panggilan Abu Bakar. Hingga membuat Abu Bakar tergopoh-gopoh mendatangi Rosulullah dan dengan cemas mengadu “Wahai Rosulullah…Umar tidak memaafkanku.”

Begitulah, gelisahnya hati yang merasa bersalah.

Maka apalah kita ini.

Resapilah jalan juangmu dengannya. Dia saudaramu, selalu akan begitu sedari mula hingga akhirnya. Semoga itu surga. Jangan menambah bebannya karena lambatnya pemaafanmu. Jangan. Segerakanlah memaafkannya. Jangan tangguhkan. Karena dia saudaramu. Saudara juangmu. Saudara yang kalian pernah bercita-cita menjadi pelayan Allah..
#DasarCurhat! Segalanya jadi ibroh.