Selasa, 08 November 2016

Surga dari SEJUTA ANAK



Sampai di kantin, karena kursi dan meja guru tidak ada yang kosong, jadinya saya nimbrung duduk dengan 4 orang bocah laki-laki. Langsung basa-basi ke mereka seba'da salam dan minta izin untuk nimbrung. Pandangan tertuju ke salah seorang di antara mereka yang tidak makan. Saya tertarik untuk bertanya;

Saya: “Kamu kenapa ga makan?”
Anak 1: “Ngga Bu, saya puasa Kamis.”
Saya: “Oh, good job.”


(Ok, anggep ini sentuhan halus dari Allah: tuh Zi, anak kecil aja inget shoum. Masa kalah sih. Ah Cemen).

Mereka lanjut dialog, saya lanjut nikmatin keduniawiannya saya: makan sate+mendoan. Ga sengaja, finally mau gamau denger bincang hangatnya mereka:

Anak 1: "Gw sih orangnya pengen tau banget. Pengen tau surga itu kaya gimana, neraka itu kaya gimana. Tapi sih Gw gamau masuk neraka. Liat di video abang gw itu gila men, serem Gw. Makanya Gw puasa. Beneran dah.”

(Tetiba, saya feel off sama makanan depan mata. Anak tadi lanjut ngobrol).

Anak 1: "Tapi sih ya, di neraka itu kita ga bakal selamanya juga sampe dosa kita diapus, baru deh masuk surga"


Anak 2: "Nah iya tuh. Gw kasih tau juga ya, kalo nyokap kita masuk neraka, kita anaknya bisa nyelamatin doi ke surga. Tapi kalo kitanya yang masuk neraka, nyokap mah gabisa nyelamatin. Serius Gw. Sumpah"

Anak 3: "Laah apaaan lu. Justru nih ya, di neraka itu kita bakal selamanya di sana cuy.. Eh tapi sih itu kalo lu bukan islam dan durhaka sama bokap nyokap lu..”


Anak 2: "Itu mah iya..


Anak 4: “Gw sih beda mikirnya, cita-cita Gw, ntar kalo punya anak pengennya sejuta anak.


Anak 2,3,4: "Gw juga, banyakin anak pokonya ntar. Biar pas masuk neraka ada anak yang nyelamatin gw..

(Seketika inget sosok Anas bin Malik yang didoakan Nabi Shalallahu 'alayhi wa salam supaya diberi keturunan yang banyak. Benar. Doa Rosul terkabul, di kemudian hari sang Anas memiliki ratusan keturunan)

Saya: Kalian kelas berapa?
Semua anak: "Empaaaat Bu
Saya: "Owh. Abis tuh waktu istirahatnya, masuk sana :D"
Semua anak: Ah elah Ibu!"


----
Mari menyelami hikmah:
Teringat sebuah pertanyaan seorang Murabbiyah, lebih bagus manakah antara 3 hal berikut :
1. Muslim banyak tapi tidak mengerti Islam
2. Muslim sedikit tapi paham Islam
3. Muslim baik dan banyak.
Sontak, semua Mutarobbi memilih poin dua dan tiga.
Sang Murabbiyah tersenyum, lalu bagaimana dengan arahan Rosul:
"Perbanyaklah ummatku, agar aku berbangga dengannya". (HR. Abu Daud & An-Nasai)

Sederhananya, jika kau berjalan seorang diri sebagai orang biasa di tengah sekumpulan orang-orang jahil, dipastikan kau kan diganggu. Akan berbeda jika kau berjalan dengan kawan-kawanmu meski hakikatnya semua kalian bukanlah pendekar, , namun si pengganggu akan enggan untuk mengganggu.

---Apa hubungannya(?). Sebentar, simak dulu.

Sungguh unik keberkahan yang diturunkan Allah kepada wanita-wanita muslimah yang hidup di tengah gempuran perang.


Masih saja Allah percayakan dari rahimnya tercetak anak-anak muslim yang dinantikan peradaban. Palestina misalkan. Sementara, para pembenci Islam masih berjuang mati-matian supaya generasi ini terhenti sebelum menjadi tunas dan bibit. Diadakanlah berbagai program. Diaturlah makar paling keji; terkhusus anak-anak Islam yang terlanjur lahir ke dunia dikotori akhlak dan akidahnya. Semata-mata supaya jauh dari Islam.


Adalagi. Ini siasat paling halus namun menyingkirkan. Dibukalah lembaga-lembaga, dicanangkan peluang bagi anak-anak muslim yang miskin harta dan polos agama. Dididiklah mereka ala bukan agamanya. Direkrut sebanyak-banyaknya semata-mata terjaring dalam satu kesatuan yang tak mengenal agamanya. Murtad!


Ah, itulah siasat paling nyata yang terpampang di depan mata. Subhanallah. Apa daya bagi kita yang ingin menolong tapi tak berpunya. Ingin mencegah tapi tak kuasa. 

Lalu, dengan kondisi begini, bagaimana kita akan membuatnya (Rosulullah) bangga atas banyaknya jumlah kita? Di saat yang sama generasi Islam dipapas dan dihempas sebelum bertunas. Dipatahkan dan ditumbangkan sebelum berkembang.



Sederhananya, mari bercita-cita melahirkan sejuta anak.
Didik anak sendiri, jika punya. Atau anak orang lain, anak tetangga, anak siapa saja. 
Karena ia adalah aset untuk agama yang dibanggakan.
Ia adalah bagian ekspansi dan eksistensi himpunan Muslim yang dirindukan Atau pintasnya, perbanyaklah binaan. Bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, pemerintahan. Maka membinalah, karena membina adalah bagian risalah yang dibanggakannya (Rosulullah)

.
****
Kamis, 27 Okt 2016
Rawamangun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar