Kira-kira begitu. Ekspresi Iman yang always on dan available tak kan pernah menjadikan pemiliknya patah kehilangan arah. Sugestinya, keep calm! Toh, tugasmu hanya mengajak dan menyampaikan. Bukan mengawasi ataupun menghakimi tiap perbuatan.
Memang, kau sudah mengingatkan dengan cara apa? Sudah mengingatkan bagaimana? Seperti pengaduan Nuh AS kah? Yang berjibaku dengan dakwah siang malam, mengingatkan dalam sembunyi maupun terang-terangan. Mengatur strategi yang menguras otak, materi, dan energi. Ah, paling yang kau kuras hanya hati. Ya kan? Kenapa harus kecewa yang kau pelihara?
Kisah sore ini menjadi lengkap dengan pengaduan mereka: para binaanku.
Pasalnya, misi yang mereka emban sore ini memang diawali syarat-syarat wajib yang harus dipenuhi. Mulai dari kehadiran ala Da'i berdedikasi hingga spiritual yang terisi.
Nyatanya, ada saja yang membuat hati membatin kelu: kamu tidak ngebut dan maksimal mendoakan mereka supaya jeli akan pintamu. Kira-kira begitu Zi, salah dan lalaimu.
Namun bagaimanapun, tak kurang pula syukurku mendapati wajah-wajah pendakwah itu kian tumbuh menyikapi tugas dakwah yang dititipi. Awalnya, binaan yang selusin ini diberi penugasan secara berpasangan. Tentu, tugas dakwah ini adalah amal nyata bentuk ke-risalah-an mereka sebagai hamba yang beriman; mengajak pada kebajikan, melarang pada kemungkaran.
Masing-masing mendapat bagian yang tak dapat dikira ringan.
Mulailah mereka bekerja, menyusuri jalan yang penuh wilayah-wilayah berproblema; mengingatkan orang untuk menyembah Tuhannya, menyeru menutup aurat bagi muslimah, menanyakan kendala hijrah, mengumpulkan data hamba Allah yang ingin berhalaqoh, hingga mendatangi sekretariat fakultas untuk menemui hidayah, bahkan menghampiri Ummat Rosulullah yang kian jauh dari Rabbnya.
Bersama kawan jalan, berharap mereka menjadi Musa dan Harun dalam dakwah, atau meneladani Muhammad Saw dan Abu-Bakar di Gua Tsur saat hijrah. Lebih dari itu, sebuah harapan tersisipkan agar tumbuh mendewasa, mekar berakar walau diterjang kedinamikaan.
Tak merasa patah sendirian. Terbekalilah perjalanan sore ini dengan pemaknaan At-Taubah ayat empat puluh, Muzammil ayat sepuluh, hingga Ali-Imron seratus tiga sembilan.
Kendala yang diembanpun diutarakan. Istana ekspresi rasa terlukis di tiap wajah.
Mulai dari detak jantung yang tak karuan, hingga mendramai strategi di setiap pendekatanpun, mereka sampaikan. Dari tiap pengaduan, terliput jelas bahwa mengajak pada kebajikan, menyeru orang-orang untuk mencintai keimanan adalah bukan perkara ringan. Ada kesal yang coba ditaham. Amarah yang dipendam. Emosi yang dididik. Bahkan menyederhanakannya menjadi tawa. Celoteh wajah-wajah itu mengingatkan petuah para pendahulu dakwah: Dari dulu, begitulah dakwah.
Jadi, jika tak terbalas, jangan terhempas.
Sama halnya denganku sore tadi. Sembari menunggu mereka, si adik-adik binaan menuntaskan misi, menunggulah aku ke sebuah gedung sebelah MNI (Mesjid Nuru Irfan). Menghitung menit-menit mereka beroprasi dengan mushaf menggelayut di jemari..
Tanpa sengaja, di sebelahku terdengar dialog yang bikin dada bergemuruh panas. Kucoba menahan emosi saat Al-Maidah dikritisi. Katanya: "Gw setuju sama Ahok, meski gw sendiri islam. heran deh, kenapa sih segitunya kita ngebenci Ahok. kan Alqur'an juga ga bakalan hilang esensinya meski Ahok ga sengaja ngomong begituan. sebagai org yang berpendidikan, harusnya kita malu sama do'i. Masa iya, kita yang islam yang katanya cinta damai, malah rusuh banget sama omongan yang (gw yakin) ahok ga sengaja dan ga niat ngomongnya. kita tuh harusnya jadi contoh, yang damai, ga berontak, dikit2 demo, kalo kata bapak gw kita nih agama yang msih perlu dipertanyain rahmatan lil 'alaminnya di mana sih?
Ucapan itu benar-benar menohok ke ulu hati. Berdesing-desing di telinga. hitungan detik menuju dua menit kusiapkan kata-kata yang sesuai bahasa ala mereka. Kusapa dengan salam, lalu kuhaturkan sapaan. Sampai di sini batinku masih berdialog, ayo Zi, orang seperti mereka jangan diperlakukan dengan pelan. Ah, ini suara apasih?, dasar nafsu yang digiriing setan. Aku beristighfar.
Kuawali prologku dengan analogi tentang Office boy yang sibuk dengan tugasnya di depan kami (mengepel lantai sembari memunguti sampah-sampah mahasiswa yang berserakan meski tidak banyak) dan security yang duduk anteng di kursinya. Lalu kutanyakan, mba, maaf mau nanya, boleh ya? Itu mas yang ngepel ko ga bawelin orang-orang yang nyampah ya? Trus si bapak security tadi ngusir mas2 yang depan kita, itu kenapa mba? jawabnya, lu ga liat mba, tadi itu mas2nya ngerokok, makanya diusir. Mba angkatan berapa? tanyaku berikutnya. "Kita maba.." jawab mereka serentak.
Aku tersenyum, sambil melanjutkan; "Tadi ga sengaja saya nyimak dialognya mba2.. Hehe.
Mba2, OB dan Bapak Security tadi mirip dengan bahasannya mba2. Si OB ga bawel, karena dia tau itu bukan pelanggaran berat dan masih dimaklumi. Islam rahmatan 'alamin seperti itu mba, kalau mbanya lupa, ada di situ rahmatan lil 'alaminnya ya. Kasus mas2 yang diusir oleh Bapak security adalah wajah islam yang sedang dilecehkan hari ini. Muslim marah karena hak mereka dirampas dan ada orang lain yang bukan bidang bahkan bukan agamanya sok-sok-an mengkritisi Al-Qura'an. Wajar dan wajib marah kalo gini mba. Sama kaya mas2nya yang ngelanggar aturan, wajib diomelin seperti tadi. Saya Ziah Mba, dari FIP angkatan 2012. Kalo kapan2 mau diskusi, saya bisa lowongin waktu, insya Allah." Kutangkap ekspresi tak suka dari salah seorang di antara mereka yang gigih meluap-luapkan curcoalannya tadi. Sementara yang lainnya menghanturkan terimakasih dan menjawab salam penutup dariku dengan setor senyum kosong.
Ah, Jika tak terbalas, jangan terhempas. Aku berdiri menemui binaanku yang telah menunaikan misi dengan sekujur tubuh lunglai rasa ngilu. Kembali kuredam dengan pertanyaan terhadap binaanku; "Apa yang membuat kalian ringan langkah dan berani melaksanakan tugas tadi? Salah satu jawaban di antara mereka yang menguatkan diri adalah: Ada di Al-Muzzammil ayat 10, kak. Disusul penguatan berikutnya, Laa Tahzaan kak. Innalllahaa maa'anaa, At-taubah:40
::Surat ini adalah surat yang wajib mereka hafal sebelum melaksanakan misi tadi::
Allaahu, Tsabbit quluubanaa 'alaa da'watik..
UNJ, Rabu 01 Nov 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar