Selasa, 08 November 2016

Begini saja :D

Seakan bisa saja kau menakar rasa cinta
Jika ia hanya perkara rasa, harusnya kau tau kadar relativitasnya
Jika ia perkara logika yang tak nyata, harusnya kau olah menjadi bilangan tak berkoma agar tak pecah-pecah.

Jika masih saja irrasional yang kasat mata, tak mesti pulalah dengan phytagoras kau bangun sisi-sisinya. Atau, sederhanakan saja menjadi Electrolisis dalam sunnatullah: man laa yarham laa yurhaam.

Harusnya kau tak menghilang barang sejenak.
Tak perlu ber-aerodinamika supaya terlihat.
Bila demikian, betapa  Archimedes dalam sebuah ikatan takkan mampu membawanya nyata ke permukaan.

Kau tenggelam bersama kenangan, barangkali tak menjadi apa-apa dan tak punya bayangan
Padahal kau tahu, bahagiamu di liang lahat adalah karena pernah ada yang kau beri dan warisi. 
Lagi-lagi Cinta. Entah itu tuturmu, atau tingkah laku dan budimu.

Bertahan itu hanya perlu menyeimbangkan kadar senyawanya, Karena cinta juga kimia jiwa. 
Yang saling mengikat atau tolak menolak karena ketidaksaman molekulnya.
Gugus chemistrynya penting diperhitungkan. 
Seperti persaksianNya: Bekerjalah kamu maka Allah, Rosul, serta orang2 beriman akan melihat pekerjaanmu".

Cinta artinya sedang menjadi pekerja yang bekerja.
Cinta adalah sifat dari kata kerja atau sebaliknya; Mengerjakan sifat cinta.
Hei, tak perlu memutar otakmu, itu hanya secuplik cinta versiku.

Sekecil apapun, ia tetaplah bilangan partikel-partikel berfomula.
Jadi, manakala takaran cinta dari orang lain terlalu kecil bagimu, itu adalah realita sebuah aksara semesta; hasil yang kau tuai sepadan dengan apa yang kau semai.

Oh, kadang itu bukan menjadi hukum dan aturan baku.
Jadi jangan terlalu percayai itu.
Karena tidak selamanya yang kau semai akan kau tuai.
Tidak selamanya penuai menjadi penyemai.
Atau tidak pula benih selalu dimiliki penyemai dan penuai.
Karena perkara terbalas dan terhempas hanyalah urusanNya yang Maha

Suatu waktu, ada orang lain yang bertengger menikmati hasil peluhmu.
Bahkan tak hanya penikmat, orang lain itupun,
Di masa yang sama diutus sebagai perusak ladang ikhtiarmu.

Jika begitu, biarlah menjadi genetik dari imanmu; segenggam tabah dan ikhlas.
Bahwa di segala kondisi, kau memiliki tradisi tersendiri.
Jika ia luka kau kan bersabar, jika duka kau kan memperbanyak syukur.
Meski bukan kau yang merasai nikmatnya
Sabar adanya seleksi alam yang berlaku demi terfiltrasinya ketulusan niatmu.

Mengerti jualah, bahwa tugas pencinta hanya mewarisi cinta itu dari masa ke masa.
Terus, selama estafeta raganya masih bergulir, tugasnya adalah demikian; meregenesikan cinta.

Itulah cinta. Cinta kalangan awam dariku.
Nikmati saja
Tak perlu menghukum Newton karena gayanya
Haha.

*Dasar curhat, segalanya menginspirasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar