Sabtu, 28 Januari 2017

Cermin Rasa




Pada akhirnya kita rasakan, kesedihan terdalam dari hati seorang Murabbi,
ialah menyaksikan;

Binaannya tumbuh tanpa mekar
Berakar tanpa daya untuk menjulang
Rimbun namun tak berdaya guna
Berputik tak menjadi bunga
Berbuah tapi kecut rasa
Tertiup angin gamang dan gugur


Termaknai pula, bahwa hidayah tetaplah Allah yang punya.
Tak terbeli dengan sentuhan yang berkali kali.
Tak terbayar dengan pengorbanan yang seringkali.
Dibalik itu, Murabbi yang tulus selalu menggandeng sabar dengan ikhlas.
Mendampingi tegar dengan ikhtiar.

Seiring jalannya takdir langit, mari terus membersamai binaan, 
Meluruskan niat setulus-tulusnya ketulusan
Mari menjadi binaan yang peka sentuhan
Sadar siraman cinta sang Murabbi; Agar segera mekar, 
wangi, semerbak ke taman-taman yang dirindu peradaban..
Karena benar, ujaran Murabbi peradaban;

Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan.
Aku rindu zaman ketika seorang binaan MENANGIS karena tak bisa hadir di liqo’.
Aku rindu zaman, hadir liqo adalah kebutuhan, dan terlambat adalah kelalaian



---

Selamat serius Membina.

Semangat untuk dibina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar