1 1. Kemiliteran AD, Januari 2013
Suatu ketika sedang Apel, seorang mahasiwa sebut
saja Z.. Sejak awal ikut pelatihan kemiliteran, perbedaannya sangat menonjol dengan pasukan lainnya. Dia ngotot memakai rok saat mengikuti pelatihan
yang konon pelatihan tersebut hanya bisa diikuti oleh orang-orang yang memakai celana.
Dia juga selalu ke luar barisan atau meninggalkan seluruh aktivitas wajib
ketika adzan sedang berkumandang. Langkahnya santai, hanya mengacungkan tangan
sambil keluar barisan tanpa merasa berdosa. Sering pula ia duduk ketika momen
minum di saat yang lain berdiri, padahal bergerak saja atau memindahkan jaripun
komandan kopasus akan menghardik.
“Z binti fulan! Panggil komandannya
“Siap, Pak!”
“Kenapa kamu tidak memakai seragammu lengkap dan menggantinya dengan rok? Dan
kenapa meninggalkan barisan sebelum selesai kegiatan” bernada sangar.
“Siap, Pak! Prinsip!” tak kalah lantang dan tegas menjawab.
“Kamu kemanakan aturan seluruh kegiatan ini?”
“Siap, Pak! Selama tidak bertentangan dengan prinsip agama saya.”
“Sejauh apa kamu siap menerima resiko atas prinsipmu?”
“Siap, Pak! Saya siap dipulangkan ke daerah saya, ACEH!”
Fabuhitalladzii komandan itu, terdiamlah komandan
itu
2. Taat demi Izzah
Suatu malam, seorang
kakak kelas menghubungi adik kelasnya via medsos bernama WhatsApp;
Kk kelas: “Shaliha, kamu
pasang foto wajahmu di sosmed begini, biar apa?
Adik kelas: “ Afwan kak,
dosen saya membuat peraturan demikian. Dan saya harus taati jika tidak ingin
bermasalah dengan nilai akademik saya. Mempermudah beliau mengenali
mahasiswanya.
Kk kelas: “Apakah
menaatinya lebih menjanjikan daripada menaatiNya? Apakah kau tidak ingin dikenal
Allah dulu?
Adik kelas: “Khoir kak, saya memilih taat
untukNya. Dikenal olehNya
Ngecek2 di sosmed, foto PP udh berganti jadi anime kartun berkerudung, memantau
3 minggu kemudian langsung njapri
adiknya;
Kk kelas: “Bagaimana? Apakah bermasalah dg
dosenmu setelah kau menaati Allahmu?
Adik Kelas: “Aman kak, Alhamdulillah. Izzah
lebih terjaga. Jzk kak..
1. Aksi iman
Pengurus Perguruan
tinggi (PT): “Fulanah, kemarin anda tidak mengikuti seminar, info yang masuk
anda memilih ikut aksi di depan ged Rektorat.
Fulanah: Sayang sekali
pak, tidak benar adanya bahwa saya ikut aksi. Seharian saya di asrama, sakit. Sayang
sekali
Pengurus PT: “Oh begitu
rupanya. Kalau sehat anda ikut aksi ya berarti? Dengar sini, anda itu dibiayai
Negara, harusnya bersyukur, bukannya ikut-ikutan aksi !
Fulanah: “Justru itu
pak. Bentuk syukur saya, membantu menyuarakan rakyat tertindas yang sudah membiayai
pedidikan saya hingga ke jenjang ini. Hitung2 cicilan awal sebelum saya
mengabdi atas kelulusan saya di negeri ini nantinya. Hehe,”.
Pengurus PT: “Kalau
begitu, anda siap menerima dan bertanggung jwab?
Fulanah: “Insyaa Allah
siap pak ! apa yang harus saya tanggung?
Pengurus PT: “Anda
seperti sedang menantang saya. Tapi saya anggap itu tidak benar. Anda hanya
saya minta untuk tidak bercerita ke rekan-rekan anda akan pertemuan ini. Saya
khawatir yang lain akan terpengaruh oleh anda”.
Fulanah: Baik pak
terimakasih, kepada ibu saya pun saya tdk akan bercerita. (Memelankan suara), tapi saya akan menuliskannya sebagai bentuk
momen bersejarah. Assalamu’alaykum pak,
saya pamit.
Baiklah, mari mengambil
hikmah. Cerita di atas hanya salah satu contoh, ketika kita mempertahankan dan
teguh pada prinsip kebenaran (istiqomah), insya Allah, prinsip yang tidak benar
itulah yang akhirnya akan kalah (minimal mengalah).
Dulu ada teman halaqoh
saya, seorang perawat yang curhat tentang peraturan jilbab di instansinya,
murobbiyah saya berkata, “Peraturan tidak logis seperti itu sebenarnya hanya
alasan yang dibuat-buat, hanya karena satu alasan: mereka tidak suka dengan
keimanan kita.”
*Bagai karang di dasar lautan, tak terusik di landaa badaiii (Lukisan Alam, Hijjaz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar