Jumat, 03 Juni 2016

Yang Istiqomah Tetap Menang!


1   1.  Kemiliteran AD, Januari 2013
Suatu ketika sedang Apel, seorang mahasiwa sebut saja Z.. Sejak awal ikut pelatihan kemiliteran, perbedaannya sangat  menonjol dengan pasukan lainnya. Dia ngotot memakai rok saat mengikuti pelatihan yang konon pelatihan tersebut hanya bisa diikuti oleh orang-orang  yang memakai celana. Dia juga selalu ke luar barisan atau meninggalkan seluruh aktivitas wajib ketika adzan sedang berkumandang. Langkahnya santai, hanya mengacungkan tangan sambil keluar barisan tanpa merasa berdosa. Sering pula ia duduk ketika momen minum di saat yang lain berdiri, padahal bergerak saja atau memindahkan jaripun komandan kopasus akan menghardik. 

“Z binti fulan! Panggil komandannya
“Siap, Pak!”
“Kenapa kamu tidak memakai seragammu lengkap dan menggantinya dengan rok? Dan kenapa meninggalkan barisan sebelum selesai kegiatan” bernada sangar.
“Siap, Pak! Prinsip!” tak kalah lantang dan tegas menjawab.
“Kamu kemanakan aturan seluruh kegiatan ini?”
“Siap, Pak! Selama tidak bertentangan dengan prinsip agama saya.”
“Sejauh apa kamu siap menerima resiko atas prinsipmu?”
“Siap, Pak! Saya siap dipulangkan ke daerah saya, ACEH!”

Fabuhitalladzii komandan itu, terdiamlah komandan itu





2. Taat demi Izzah
Suatu malam, seorang kakak kelas menghubungi adik kelasnya via medsos bernama WhatsApp;
Kk kelas: “Shaliha, kamu pasang foto wajahmu di sosmed begini, biar apa?
Adik kelas: “ Afwan kak, dosen saya membuat peraturan demikian. Dan saya harus taati jika tidak ingin bermasalah dengan nilai akademik saya. Mempermudah beliau mengenali mahasiswanya.
Kk kelas: “Apakah menaatinya lebih menjanjikan daripada menaatiNya? Apakah kau tidak ingin dikenal Allah dulu?
Adik kelas: “Khoir kak, saya memilih taat untukNya. Dikenal olehNya
Ngecek2 di sosmed, foto PP udh berganti jadi anime kartun berkerudung, memantau 3 minggu kemudian  langsung njapri adiknya;
Kk kelas: “Bagaimana? Apakah bermasalah dg dosenmu setelah kau menaati Allahmu?
Adik Kelas: “Aman kak, Alhamdulillah. Izzah lebih terjaga. Jzk kak..




1.      Aksi iman
Pengurus Perguruan tinggi (PT): “Fulanah, kemarin anda tidak mengikuti seminar, info yang masuk anda memilih ikut aksi di depan ged Rektorat.  
Fulanah: Sayang sekali pak, tidak benar adanya bahwa saya ikut aksi. Seharian saya di asrama, sakit. Sayang sekali
Pengurus PT: “Oh begitu rupanya. Kalau sehat anda ikut aksi ya berarti? Dengar sini, anda itu dibiayai Negara, harusnya bersyukur, bukannya ikut-ikutan aksi !
Fulanah: “Justru itu pak. Bentuk syukur saya, membantu menyuarakan rakyat tertindas yang sudah membiayai pedidikan saya hingga ke jenjang ini. Hitung2 cicilan awal sebelum saya mengabdi atas kelulusan saya di negeri ini nantinya. Hehe,”.
Pengurus PT: “Kalau begitu, anda siap menerima dan bertanggung jwab?
Fulanah: “Insyaa Allah siap pak ! apa yang harus saya tanggung?
Pengurus PT: “Anda seperti sedang menantang saya. Tapi saya anggap itu tidak benar. Anda hanya saya minta untuk tidak bercerita ke rekan-rekan anda akan pertemuan ini. Saya khawatir yang lain akan terpengaruh oleh anda”.
Fulanah: Baik pak terimakasih, kepada ibu saya pun saya tdk akan bercerita. (Memelankan suara), tapi saya akan menuliskannya sebagai bentuk momen bersejarah.  Assalamu’alaykum pak, saya pamit.

Baiklah, mari mengambil hikmah. Cerita di atas hanya salah satu contoh, ketika kita mempertahankan dan teguh pada prinsip kebenaran (istiqomah), insya Allah, prinsip yang tidak benar itulah yang akhirnya akan kalah (minimal mengalah).
Dulu ada teman halaqoh saya, seorang perawat yang curhat tentang peraturan jilbab di instansinya, murobbiyah saya berkata, “Peraturan tidak logis seperti itu sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat, hanya karena satu alasan: mereka tidak suka dengan keimanan kita.”

*Bagai karang di dasar lautan, tak terusik di landaa badaiii (Lukisan Alam, Hijjaz)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar