Jumat, 03 Juni 2016

Pelajaran darinya, dari sana :)

09 Maret 2016; Tentang Penerimaan
Lapangkanlah hatimu. Lapang selapang Sabana. 
Sekalipun di sana ada gajah, harimau, jerapah. Sabana itu akan tetap terlihat luas.
Tetapi jika hatimu sempit, lebih sempit dari kamar tidur, 
jangankan gajah, seekor ayam akan membuatnya sempit.


Luaskanlah hatimu. Luas, seluas Samudera.
Sebanyak apapun sampah masuk dari muara sungai-sungai, ia kan tetap jernih.
Tetapi jika hatimu sempit, sesempit air dalam gelas;
 jangankan sampah dari sungai, setetes dari tinta akan membuatnya kotor.


Bukankah dulu obsesimu untuk bersekolah jauh-jauh dari kampung halaman, jauh dari ibu, ayah, saudaramu.
Bukankah dulu pilihanmu, menanggung bila ada resiko dikemudian harinya?
Ingatkah dulu ketika ibundamu, ayahmu, keluargamu semuanya tak kuasa memadamkan api semangatmu yang meminta supaya diziinkan untuk merantau?
Nikmatilah..




23 Maret 2016; Wisuda & Pakaian Taqwa
Tepat, sebelum wisuda S1nya, sang anak bercerita, tentang euphoria kawan-kawannya menyambut momen wisuda. Berjuta-juta dana. Tidak tanggung-tanggung, ada yang meminta dikirimkan dari kampung, dan yang di kampung menguras tulang-belulangnya ngutang ke tetangga. Duh, miris. Karena konon, wisuda itu adalah momen sakral sepanjang usia perjalanan menjadi penuntut ilmu; S1.

Si Anak terus bercerita lewat telepon genggamnya. Si Ibu masih diam menyimak tenang. Hening disusul kalam; Lalu anandaku, bagaimana denganmu? “Anakmu ini tidak merasakan apa-apa. Kosoong. Sedih dan gembirapun tak ada. Bagaimana ini? 
Tanya sang anak memelas. “Berangkatlah, nikmati momennya. Pergilah dengan pakaian taqwamu”. Tegas sang Ibu.

Dari seberang Pulau jawa ini, suara ibu terpeluk dengan rindunya. Duuh, harusnya kau di sini Bunda, menyertaiku. Basah


*Dengan sedikit dramatisasi bahasa



Penghujung Mei; Tentang pulang

Telah banyak terkabar, tentang orang-orang yang mewakafkan dirinya di jalan Allah.
Mereka tak suka mengejar dunia, tetapi seringkali dunia yang mendatanginya.
Mudah sekali bagi Allah melimpahi hambaNya, melampaui batas logika matematis manusia.
Mereka, orang-orang yang suka berniaga dengan Allah: mereka membaktikan diri untuk menolong agamaNya, tanpa mengharap upah, namun Allah selalu bertubi-tubi memberinya rizki.

::Pulanglah, jika memang kau tidak meninggalkan beban di tempatmu tumbuh



Awal Juni: Ia Rindu


Ia mengadu. Lewat tulisan. Bukan telepon apalagi langsung temu. Tulisannya singkat. Banyak koma dan titiknya. Aku kira, pesan itu bukan buatku. Tepatnya buat adikku yang bersamanya di ujung pulau sana.


Aku kira sejenis gurauan karena aku memilih tak pulang.
Aku kira ia bercanda, karena 2 pekan terakhir aku tak berkabar. Ia aku kira ia salah kirim.
“Naak, anakku. Anakku. Bagaimana kabarmu hari ini? Kepalamu masih sering kambuh?
Sahur nanti bangunkan bunda ya. Masak buat sahurnya sederhana saja. Kita Tahajjut bersama juga, kamu imam ya
".

Ia rindu. Begitu caranya selalu merinduku. Sederhana. Tapi aku selalu tersanjung dibuatnya.
Ia rindu, aku tahu itu, dan ini Romadhon pertamaku nantinya di rantau orang. 
Begitulah. Kutahu ketiadaanku betapa mengiris ruang rindunya. Akan tak ada yang membangunkan sahurnya. Memasakinya makanan. Mengunjungi ia dan suaminya. Berbuka di rumahnya. Atau membangunkan adik-adikku di malam-malam qiyamul lail. Berdiri bersama dingin, berempat. Ia berempat. Tanpanya dan ayah. Tanpa Abang seperti tahun-tahun belakangan. Hanya berempat.
Kali ini, akupu tak ada. 

Ia pasti lebih dulu memendam pilu karena rindu. 
Atau barangkali kelu karena tak bisa menunaikan kewajibannya sebagai Ibu untuk adik-adikku. 
Tak bisa lagi membersamai sahur-sahur kamu. Tak lagi bisa memasaki kami hidangan sepanjang hari. Tak bisa mesra tersenyum buat kami.


Sekarang dan 6 tahun yang lalu ia punya kewajiban baru. Kami harus mengertikannya. Terutama aku. Mengikhlaskannya dan memintanya menjadi istri terbaik bagi ayah baru.


Dulu pesanku, jadilah Ibu yang menginspirasi dan dicintai bagi saudara-saudari baru kami. 
Aku ingatbetul pesan itu. diucapkan dari batin yang menahan kelu. perih. tangis dipendam agar tak menggugu. Lalu di titik ini kusadari betul, telah kehilangan ia. 

Ah, hidup memang terkadang selalu dinamis. 
Kemarin banyak hari-hari yang dihabiskan untuk tertawa bersama. 
Bermanja, mengadu dan bercerita. 
Agaknya Allah telah memilih kami dengan jeli atas takdir ini. Haha. 
Hanya perlu menguat-nguatkan lutut untuk berdiri, itulah ikhtiar kami. 
Menertawakan takdir pun agaknya penting daripada harus menangis dan mengemis-ngemis pundak.


Alhamdulillah, 'alaa kulli hal. 
Di fase ini, aku tetap mengagumniya.
Ibu pertama yang selalu menginspirasi.. :')




Tidak ada komentar:

Posting Komentar