Selasa, 07 Juni 2016

Finally, Love u

Haha.
Sebuah judul ekspresif sebenarnya. Mengutarakan (ke arah utara) selembar perasaan saat mengetik deretan huruf ini, dan menyelatankan (ke arah selatan) sebuah pikiran yang sejak dulu ternyata telah berhasil mendekam di otakku. Jadilah mungkin sepanjang utara dan selatan itu panjangnya cerita dan cita rasa yang ingin kututurkan (ahiya banget, beginilah rasanya lebay ! ).
Sebenarnya aku hanya ingin mengungkapkan sedikit hal tentang Hujan dan Embun. 
Bahwa keduanya adalah makhluk Allah. Pernahkah kau berpikir bahwa salah satunya berbeda? (gaperludijawab:p). Jikapun sama, kesamaan diantaranya hanya kesamaan kristal-kristal bening dan sifat takdirnya yang sama-sama seperti zat cair.

Hujan. Adalah makhluk Allah yang seringkali membuat suasana menjadi lebih dramatis. 
Makanya kalau di film-film, seringkali ditambahi rain effect sebagai bentuk dramatisir dari adegan yang sedang diperankan, biasanya kalau bukan adegan tragis ya adegan romantis.
Film horror juga ada, misalnya salah satu film yang ditulis, diperankan, dan disutradai oleh SitiFauziahWaruhu dalam “Action Researsch ”. 
Nah, ini full Hujan airmatanya pas adegan revisian plus nyari referensi. Wuahaha. (Canda)

Hujan,
Adalah makhkluk Allah yang terus dirindui manakala tak mendatangi bumi. 
Ia adalah inspirator bagi para penutur dan penyukanya. 
Banyak hal yang disisakan oleh hujan; banjir, sampah, daun berguguran, tanah basah, dingin, hingga kenangan. Cieeh. Dan ia adalah rahmat. Penyubur bumi, penumbuh tanaman. Begitulah takdirnya hujan; disenangi, dikagumi, dirindui.


Jika dianalogikan dan difilosofikan, hujan dan embun seperti dalam dakwah.
Ada beberapa bidang yang kita kenali dalam dakwah kampus.
Di antaranya Siyasih;eksekutif/legislatif misalkan. Hujan bila diibaratkan seperti bidang siyasih seperti bahasanya para mahasiswa; Dikagumi, dielu-elukan, disenangi dan lainnya. 
Euforianya manakala berkonstribusi lewat rangkaian agenda, si siyasih ini sungguh heboh. 
Tenar di panggung dakwah. Suaranya lebih didengar, kebijakannya lebih ditaati. 
Keberadaannya lebih digandrungi. The bestlah kata mereka. 
Akupun suka hujan sebenarnya, apalagi kalau pas kemarau. Haha.

Lalu,

Ingatkaah engkau kepada embun pagi bersahaja, yang menemanimu sebelum cahayaa..(Lettosaid)

Syiar !
Orang-orang buangan adanya di syiar ! Hahhh, apaa??! Tenaaang. Sini ku beritahu, tolong disimak dengan ketawadhuan. Jangan sombong setelahnya, ya?. Dijamin, 100% prediksi ini tidak berlaku bagi yang hatinya berdebu karena pujian:D

Tak pernahkah kau merasa, bahwa syiar itu seperti embun. 
Keberadaannya tak semusim dan tak bermusim. Selalu ada. 
Lihatlah, ia dipesankan selalu ada membasahi ketandusan iman.
(Jika HUJAN tidak menyiraminya, maka EMBUNpun memadai: 265). 
Oh, seolah ia hanya alternatife manakala hujan tiada? Bukan begitu sebenarnya.

Coba kau rasakan dan open your eyes (kalo kata cik Maher).
Bidang syiar, di samping tugasnya “menyiarkan” islam lewat agenda-agendanya yang kadang jarang lirikan orang-orang, sadar atau tidak ia selalu didatangi untuk berbagai kepentingan dan urusan.
Ia tempat bertanya seputar problema. Masalah hati, masalah materi, masalah cinta, hingga masalah remeh temeh yang tak terskip dari kata sepeleh. 
Penyejuk. Oase jiwa yang kerontang.
Di syiar, banyak kutemui pahlawan-pahlawan sunyi. 
Insan-insan yang terus bekerja meski tanpa riuh pikuk tepuk tangan dan gempita oleh pujian. 
Mereka-mereka ini, (dilihat dari kacamata minusku) seperti embun. Merunduk di pucuk-pucuk. 
Terus menebar kebaikan dalam diam dan terang-terangan. Meki ga semuanya juga sih:D

Embun!
Memang tidak seperti hujan yang datang selalu bersamaan saat jatuh ke bumi.
Memang tidak setenar hujan yang ramai sorak-sorai tepuk tangan.
Embun itu bening. Terbebas dari kontaminasi virus maupun bakteri di sekitarnya. 
Orang-orang menganggap, pakaian dakwahnya suci dan mensucikan. Heh, benarkah itu? 
Kamu. Iya kamu, merasa tidak? Jika tidak, segera pakai, biar keren di pandangan Allah. 
Jangan lupa, lengkapi dengan takwa. Karena sebaik-baik pakaian adalah taqwa. Sudah itu saja. Hingga terkaderlah jiwa-jiwa shalih yang terfilterisasi oleh alam dengan berlusin-lusin kepayahan..

Embun itu seringnya selalu sendiri. Sunyi. Bukan esklusif sebenarnya, seperti kata orang-orang.
Ia hanya menyesuaikan diri dengan kondisi, situasi,dan tempat. Sesekali ia ber-uzlah. 
Menyendiri demi kehakikian yang abadi dan mengevaluasi amal-amal diri. #Tsaah
Embun tidak main hajar dan main bantai dalam muamalah dan sosialisasinya ke bumi. 
Ia mengerti batas, atau bisa pula membatasi hehe.
Ia, terus berkarya, sendiri maupun berjamaah. Menjalani tugasnya sebagai hamba. Dan akupun suka Embun2 ini.

Hujan memang menarik hati. Apalagi kalau tahu diri. Dan Embunpun mengesankan, jika sadar peran.
Keduanya diciptakan untuk saling melengkapi. Dibutuhkan untuk sinergisasi kejayaan. Keduanya.
For you, #GenerasiEmbun36 yang bertebaran di setiap lini dakwah. Kagumdeh !

Husnul Khotimah, ya ! ^^
#Latepost



Tidak ada komentar:

Posting Komentar