Sabtu, 02 Juli 2016

Kau kira

Kau kira, hanya dirimu yang diam-diam berjuang?
Diam-diam mengelus dada?
Diam-diam terseok melanjutkan langkah?
Diam-diam gemetar menahan lelahnya berdiri?
Diam-diam tersenyum dan  menangis sendiri?
Diam-diam ingin didengar?
Diam-diam ingin diperhatikan?
Diam-diam mengernyitkan dahi?
Diam-diam bangun sendiri?
Diam-diam terhempas dan terkapar?

Keliru!
Ada banyak orang yang diam-diam melebihi apa yang kau rasa.
Mereka selalu begitu. Mempercayai takdir langit menyejukkan jiwanya.
Meyakini, bahwa setiap jengkal perihnya perjalanan akan terbayar dengan mahar keikhlasan.
Meredamnya bersama keimanan;
"Bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu".

Itulah mereka.
Diam-diam menikmatinya.
Diam-diam merayakannya dengan kesabaran.
Diam-diam mensyukurinya.

Dan kau?
Selalu menyuarakannya di depan yang tak punya kuasa.
Menyebarkannya dari telinga ke telinga.
Mempertontonkannya dari mata ke mata.
Mengekspresikannya dari rasa ke rasa.
Meng-olah logika ke logika, seakan- akan pembelaanmu benar adanya.


Harusnya kau tahu, sebaik-baik pemahaman adalah memahami ketidak pahaman orang-orang terhadapmu.
Sebaik-baik pemakluman adalah memaklumi masalahmu.
Sebaik-baik penerimaan adalah menerima dengan dada lapang, bahwa kau hanya sedang disayangi dengan uji.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar