Senin, 18 Juli 2016

Syafakallah

Semalam dapat pelajaran dari seorang adik. Beliau minta alamat lengkap kakak taukhtinya. Taukhtinya sedang sakit, sudah 4 hari. Iseng nebak, pasti beliau mau ke sana jengukin. Benar ternyata. Dan saya pribadi jadi kelabakan sendiri mencari alamatnya. Blm pernah ke sana juga soalnya, padahal udah bersaudari dengannya sejak 2012 lalu.

Well, mungkin izin Allah beda antara adik ini dan saya. Saya mencari alamatnya satu persatu nanyain ke teman seangkatan. Nanya ke fakultas lain juga.  Japri maupun nanya di grup. Sempet berkali2 salah kirim gegara semalem lagi riweuh di beberapa grup. Hampir nyerah juga. Banyak yang belum tau alamat lengkap beliau.

Sayapun coba ingat2 siapa teman terdekat beliau hingga teman liqonya. Alhamdulillah dapat. Sengaja ga minta bantuan saudari lain buat nyari alamatnya, meski sedikit dikodein awalnya supaya bantu. Haha

Then, saya japrian dg teman liqonya ternyata beliau juga kurang tau dg lengkap. Dapet rekom ke teman lainnya. Pas dihubungi, beliau rekom ke saudari lainnya. Pas ngubungin ke yg direkom, taunya dibales begini *"Yah, kurang tau Ziah, coba kamu hubungi si A, nah si A ini nnti bakal minta  ke si B. Nah si B punya nomer C, dan C pasti tau alamatnya. Eh engga deh kayanya, mungkin si D punya lebih lengkap. Hubungi aja dulu ya via si C. Tapi, aku gapunya nomer si A. Coba kamu hubungi fulanah yaa, fulanah itu temen deketnya si D looh. Hehe.."*

Gubrak! Yaa Allah,  kenapa jadi ribet klimaks begiini sempet saya membatin.
Endingnya, saya dapat juga tuh nomer melalui rekomendasi terakhir. Saya ga persingkat atau akali jadi sederhana rute linknya, karena tetiba tertantang menggunakan saran tadi. Hubungi si A hingga fulanah. You know, niatnya kenalan dan silaturahim. Alhamdulillah misi done. Si Adik dari seberang sana barangkali senang. Semoga, biar dowline pahalan saya nambah, gitu kalkulasinya. Haha.

Seba'da itu saya jadi refleksi pula. Dan agak terharu dengan niat si Adik ini. Sejujurnya sejak di Jakarta saya belum pernah menemukan budaya begini. Budaya yang sudah jadi tradisi di daerah saya, yang kalo denger org sakit terlebih itu saudara seperjuangan, maka dia akan rela menghabiskan waktu berjam2 di perjalanan demi menjenguk saudaranya.

Rata2, org Aceh terkhusus kadernya kalo jenguk org sakit sudah jadi prioritas. Sama seperti hadir HALAQOH.
Ga peduli hujan badai, ga peduli minimnya transportasi, ga peduli jaraknya jauh melewati lembah ngarai, hutan belantara, sungai ataupun samudera luas. Dia akan rela menempuh semuanya hanya ingin menjenguk saudaranya.

Sebenernya simpel, barangkali ini memang budaya di Aceh tapi mengakar di iman2 org2 yg paham. Jadinya bertradisi dari generasi ke generasi. Alhamdulillah. Misal  dia paham tentang pesan Rosulullah yg barangsiapa menjenguk org sakit, maka Allah merahmati perjalanannya dari rumah sampai balik lagi ke rumah. Dan mungkin pula ia ngerti protesnya Allah langsung di hadits qudsi *"Wahai hambaKu, aku sakit tapi kenapa kau tak berada di dekatku?. Dijawab oleh si hamba: Wahai Rabbku, Engkau kan Tuhan, bagaimana Engkau bisa sakit?. Sesungguhnya apabila hambaKu sakit, aku berada di dekatnya".*

Wallahu 'alam. Barangkali, Allah cuma lagi negur dengan halus aja. Khususnya ke saya. Bahwa, syafakillah dan doa aja terkadang bukan sebuah bukti konkret dalam sebuah muamalah. Bukan rukhshah pula atas nama jarak dan waktu yang tak kita punya. Betapa banyak kabar dan peristiwa jarak dan waktu yang terkalahkan oleh sebuah niat dan tekad membaja. Atau, betapa sebuah KETIDAKDEKATAN bukanlah penghalang berenggan-enggan menyambung hak saudari seiman yang terabaikan.


Bahkan kita pun bisa berkaca dari sosok bijak yang terlukai namun tetap berlaku adil dengan sesosok yang belum menjadi kawan. Dialah org yang pertama kali bersegera dan cari tau kala kehilangan perlakuan tak beradab sang lawan kepadanya. Ia mencari-cari, kemanakah perginya sosok yang menyemburkan kepadanya air liur dengan sengaja di saban hari untuknya.
Usut punya usut, si lawan terkapar sakit di rumahnya. Kita tau, karena akhlak penjenguklah yang menjadikannya terkagum-kagum hingga memeluk Islam.

Lalu, ada di mana kita yang sekarang?
Atas nama sibuk, macet, aktivitas yang padat, keluarga yang super ketat pengawasannya jadilah kita generasi
"Syafakillah". Syafakillah untuk jarak dan waktu yang selalu dikeluhkan. Mohon berkabar ya kalau ada apa2. Nah, ini juga sering.

Rasionalnya kan harusnya yang sakit fokus dengan sakitnya. Bukan update diri dan berinfo-info ke yang sehat. Haha, barangkali begitu juga ngurangin rasa sakit ya? Entahlah, yang jelas ini bicara kemanisan iman. Halawatul Iman. Cuma orang2 tertentu yang dizinkan beroleh ini. Semoga nanti, kita pun termasuk bagiannya.

-SFW-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar