Kamis, 23 Februari 2017

Skenario Kemarin

Dan pesan via WhatsApp darinya bertubi-tubi. Karena fokusku semalam di beberapa grup dan japrian beserta rapat yang dadakan, kuurungkan diri untuk segera menanggapi. Mengulur waktu hingga urusanku terhadap yang lainnya terselesaikan dengan rapi. Ah, tapi sebenarnya tidak seperti biasanya. Segala obrolan yang berawal darinya, biasanya pasti kususul dengan balasan yang segera.



Sehingga tak jarang, perbincangan dengannya mencair tanpa sekat, dekat dan bersahabat. Ini yang sering membuatku sering menelan rindu hingga candu. Meski tak pernah lisanku mengaku, ada jeda dan ruang khusus yang menjadikan rindu beradu meski dari jarak jauh. Selalu ada ungkapan penyejuk hati darinya meski tanpa temu. Tepat saat hati tersusupi rindu terbungkus gengsi dan ke-jaim-an yang mengakar dari dulu. Dan tak mengelak, kubatin kepercayaan yang lekat; doa yang ditanam diam-diam ada peng-aminan dari Malaikat.


Kemarin, seperti biasa. Kebiasaannya yang tak asing bagiku. Selalu menghampiri dengan pendekatan yang berbeda dengan saudari lainnya. Ia sodorkan sebungkus plastik berukuran mini. Di dalamnya ada dua ekor ikan cupang kecil. Berkali-kali kutolak, paksaan darinya tidak membuatku terenyuh. Bahkan, beberapa menit terjadi tarik menarik ketika aku beranjak pergi. Ah, maksudku hanya ingin menakar sekuat apa ia tangguh dengan penolakanku. 


Sepertinya seru jika mendapatinya tak terbawa rasa karena luka. Ada banyak pasangan mata yang menyaksikan. Tentu, di antara mata-mata itu ada yang harus meredam cemburu. Tapi akhirnya ia luka. Tersirat dalam kalimat japriannya.

Malam ini pun aku menerima pesan protes itu; dari 22 saudari, dari mereka yang cemburu. Tak terima. Begitu ungkap mereka. Karena perlakuanku terhadapnya selalu berbeda. Hingga yang cemburu berpesan; ingin pula dicintai sebagaimana aku mencintai dia yang selalu mendapatkan perhatian dalam jumlah di atas ala kadarnya. Melebihi dekat yang semestinya. Ah, cemburu memang bukan masalah baru. Tapi aku punya alasan kenapa bersikap begitu.

Sejujurnya, aku selalu senang dengan caranya mendekati. Caranya bertahan. Atau caranya dalam membersamaiku. Karena memang, tak banyak yang bertahan dalam menyabariku. Banyak yang berguguran pada akhirnya, seperti yang lalu-lalu. Karena memang, perihal kedekatan dan kenyamanan hati, aku adalah seorang yang selalu selektif dalam memilih. Bisa disebut perfeksionis paling akut. 

Hanya yang benar-benar sesuai standarisasilah yang akan menjadi orang terdekatku, setelah kuuji dengan kasat mata bagi yang merasa. Entahlah, terkadang kunamai ini penyakit terparahku selain stadium yang menghinggapi setahun belakangan. Tapi ini bukan sombong yang menyakitkan di hati. Hanya takaran versi penyeleksian seperti para ulama dan tabi'in tabi'at. Aku terobsesi membentuk ukhuwah seperti Nabi terkhusus bersama Abu Bakar.

Kisah dengannya, bisa disebut ukhuwah seumur jagung. Belum berbilang tahun. 
Tapi yang menjadikan beda adalah seolah aku telah menemukannya di beberapa tahun belakangan. 
Seolah aku menemukan sosok yang memang kucari. Seakan tersampaikan; dia seperti bagian dari diriku yang kurang lengkap. Entah bagian yang mana. Barangkali, Allah sedang mengajarkanku tentang reaktif dan membuang jauh kecuekkan dalam berukhuwah. Membiasakan romantis yang mengeratkan muamalah terhadap sesama. Sama seperti romantisnya Rosul dan para sahabat. 
Saat menangis bahkan tertawa. Allah sedang mentarbiyahku terhadap mozaik di atas.

Semalam pesan yang kucerna sebagai prolog pembahasan perkara ukhuwah adalah jangan memperlakukan orang lain seperti aku memperlakukannya. Pesan itu singkat memang. Sedikit sukses menjadikan ubun-ubunku kambuh berdenyut. Membuatku ingin membela diri, namun akhirnya menyederhanakan yang kupilih. Ya. Mungkin karena syaraf di otakku terlanjur bereaksi, jadilah semua pesan darinya yang berujung minta dimaafkan kuabaikan. 

Statement sebelum akhiran, ia bertanya; Kazi udah gamau lagi ya berukhuwah sama aku? Disusul emoticon yang tak bisa ku tebak apakah sesuai dengan isi hatinya. Kemudian kupinta jangan memikirkan hal yang ia tanyakan. Lalu dibalas olehnya; Aku perlunya iya atau tidak?.

Tak bergeming. Kalimatnya mengajakku memaknai ukhuwah yang sebenarnya. Apakah sesederhana itu menjawab ya atau tidaknya. Bukankah dengan menjawab "tidak" akan berefek pada teguran sang Nabi, tidak akan masuk surga orang-orang yang memutuskan tali silaturahmi." Dalam ukhuwah bukankah ada tali yang harus disambung. Berukhuwah artinya bersilaturahim. Merajut kasih, menyambung sayang. Atau bagaimana dengan jawaban "ya?". Bukankah ini adalah jawaban yang harusnya retoris buatnya? Tak perlu kujawab namun harusnya ada kesan yang terasa di imannya. Atau barangkali, rasa ukhuwah dengan caraku memang tak ada kesan dan rasanya, bahkan hanya menuai kecurigaan; apakah serius atau tidak dalam menyayanginya?. Ah, yang karena Allah memang selalu dituntut untuk jeli dan sesuai standarisasi nabi. Berat? Begitulah ukhuwah yang seharusnya. Bukan ringan dalam kata-kata semata. Ada tuntutan di dalamnya. 

Rasanya terlalu egois saat memintanya bersabar dan bertahan untuk tetap membersamaiku dengan segala perlakuan yang jauh dari penunaian hak ukhuwah. Dengan caraku mencintainya seperti mencintai diriku sendiri dengan ketidakpedulian, ketegasan bukankah itu menyakitkan buatnya?. Mungkin lambat laun diapun akan menyerah. Sementara aku, telah memasang ikhlas melepasnya jika memang saatnya. Menitipkannya pada ukhuwah yang menjaganya dari luka. Menjadikannya tumbuh dan berkah dalam dakwah.

Rasanya terlalu cepat untuk kuakui, bahwa memang saudari seperti dia yang menjadikan umur rasa sakit stadiumku sedikit pulih. 

Rasanya terlalu egois, saat kuharap darinya agar bisa mengerti perihal suka dan tak sukaku, saat sedih dan gembiraku tanpa kuberitahu.

Bersamanya seolah diri dicintai lebih. Peka yang ia tak mengerti apa maknanya, sesungguhnya sedang terealisasi. Lewat aksinya yang menjadikan hati bergumam lirih dan berterima kasih. 

Pernah, saat tembok tidak nyaman untuk aku bersandar, ia memilih bergeser dan memberi tempatnya untuk kududuki. Sikapnya membuktikan itsar demi kenyamananku.

Pernah, aku terharu membatin doa, saat di sebuah agenda, tiba-tiba disuguhkannya secangkir teh, tepat saat _maagh_ku kambuh dan tak ada yang tahu dalam jiwa aku mengeluh tak berdaya. Surprise. Allah selalu menghantarkan kebaikan melalui tangan tulusnya.

Pernah, ia meminta agar sakitku dilimpahkan kepadanya. Bukankah ini seperti pesan nabi, Saat yang lain sakit, bagian yang lain merasa ikut sakit.?

Pernah, ia meminta agar aku pindah ke rumahnya. Tidak perlu tinggal di sepetak kosan. 

Bukankah ini seperti kisah Utsman dan kaum Anshar?


Pernah ia sering mengakui, bahwa selalu mencari-cari kehadiranku di sebuah agenda manakala tak terlihat aku berada di sana. Menanyai kabarku, memastikan aku baik-baik saja. Hingga berpesan agar rehat.

Paling berkesan di antara semua yang tak tersebut adalah aku selalu suka dengan paksaannya. Seperti pesan seorang Murabbi; "Saudari yang memaksamu hingga kau terpaksa mengikuti paksaannya selama itu kebaikan adalah saudari yang harus kau syukuri keberadaannya. Karena sebenarnya, caranya memaksa adalah bukti ia menyayangimu dengan tulus." Dan aku memang selalu menyukai orang-orang tulus.

Aku selalu berprinsip. Ukhuwah itu tersebab dari ikhtiar dalam memperjuangkannya. Agaknya bohong jika tanpa perjuangan akan terbentuk kedekatan. Jika pada akhirnya kedekatan dengannya semakin dekat, akan kuakui, dialah yang disebut pejuang ukhuwah dalam hal ini. Sehingga seringnya, aku hanya sebagai pelengkap dalam skenarioNya.


Jika pada akhirnya babak ukhuwah harus berakhir sebelum sampai hingga Jannah, semoga kebersamaan yang pernah ada tak menjadikan kaku dalam muamalah di kemudian hari.


KarenaNya, kuakui pula satu hal: 
Akupun mencintaimu dik, karena Allah. 'Abadan 'abadaa. Meski kau sering egois dalam robithohku, wajah dan namamu selalu berlarian ke arahku mengalahkan nama dan wajah saudari lainnya. Tetap saja, Allahlah yang paling mengikat kita seperti katamu.


****


*Tulisan ini ditulis akan berefek pada beberapa kemungkinan setelahnya;

1. Ukhuwah makin akrab
2. Ukhuwah sederhana seperti kebanyakan. Berjalan seperti biasa pada umumnya, tanpa kekhususan. 



24 Febr 2017, Jumat

Anw, hanya iman karena Allah yang bisa mengakrabkan.

Minggu, 19 Februari 2017

Bagiku,


Kau tanya, apa artimu bagiku?

Begini,
Kamu adalah himpunan X dan Y yang jika digabung menjadi persamaan kuadrat yang berakar. Beranak pinak menjadi kebaikan, sederet dengan kosakata latin dari dulu-dulu; sisi kali sisi, kubus dengan kubus, seruang, sama tegak, meski kadang bersudut karena tak sama rasa dan tinggi,  yang hanya berhadapan kokoh dengan keimanan.

Sehingga, liniernya jadi kesimpulan mutlak atas premis-premis khusus; Ukhuwah Islamiyah
Iya. Kamu begitu di mataku. 
Sehingga, capek tidaknya, Tak perlu kau tanya, sejauh apa untuk bertahan bersamamu di sepetak amanah yang kita jejaki. Sepanjang apa kesabaran yang ingin kubentangkan. 
Karena akhirnyaCinta dan kesetiaanmulah yang memapah rasa pecundangku saat ingin berpaling..

#Tsahaha



Hi !



Hi, Salam ukhuwah.
Tugas baruku adalah menjadi pendengar yang baik buat seseorang yang diterapi dokter agar selalu
berbicara, membaca, dan menulis.
Supaya syaraf otaknya tidak melemah. Agar tertolong dari kata kritis dan akut.
Dan tentu, obsesi nekadnya dalam hal fastabiqul Khoirot tersalurkan.

Aku akan selalu berwarna MERAH untuknya. Tetap tegak dalam sikap penolakannya.
Karena dia hanya nyaman di sisi yang tak peduli dengan kecuekkannya.

Aku, akan terus MERAH seperti maunya.
Seperti senangnya menyembunyikan HITAM gejolak tak berdayanya, menggelorakan BIRU di hari-harinya.

Tetap sedia saat ia menghampiri dengan memendam gemuruh rasa perjuangan yang katanya bercita-rasa syurga.
Aku Hikari, bagian terdekatnya.
Salam kenal!
****
Ngomong sama benda mati?
#Giladong 
Efek baru ngeh, yang ngasih boneka udah nitip namain bonekanya Hikari. Wkw. 

Autumn in November

Aku membaginya menjadi 4 Musim
Tentu mengikuti skenario yang tertakdir dariMu.
Tak jauh beda pada November sebelumnya yang kau takdirkan untukku.

Musim pertama, 
Kau ikat hatiku dengan pekan-pekan bernuansa CINTA seperti yang ku tulis untuk penamaannya.
Banyak orderan sayang dan reaksi cinta yang terbalas dari mereka, hamba-hambaMu. 
Manis. Menghujam ke dada. Ucapan hingga tindakan. 
Agaknya Engkau paling tahu; Bahwa aku terlalu gengsi menebar cinta sana-sini.


Musim ke dua, 
Kunamai ia petualangan dan berjuang ala aku. 
Nekad sedikit dan mencoba lari dari zona biasaku; Ranah yang membawaku pada aturan-aturan, dan koridor berkorban untuk orang-orang. Banting setir. 
Kurubah haluan, terbang lebih tinggi dan mengejar mimpi seperti obsesiku. 
Surprise. Di sana tertulis nilai ikhtiarku: Finlandia, LULUS!. 

Musim ketiga, 
Adalah DITOLAK kunamai ia. 
Berlusin-lusin rakaat dan beribu bait doa, tetap saja.
Ditolak dengan kata-kata dan sikap lebih menyayat pada akhirnya. 
Tsiqohlah, titahnya. Ikhlaslah, pesannya.
Tak direstui bahkan tak diberi ridho. 
Allah, sesaknya tidak meneteskan bulir bening. 
Tapi darah. Tertekan dan kecewa, ada. 
Tapi lagi-lagi, dakwah selalu menghibur. 
Toh, aku memang musafir. 
Musafir yang sedang belajar menggenggam dunia di tanganku, bukan di hatiku,

Dulu hingga sekarang, dalam kondisi begini aku paling suka mendiamkan dan meredam. 
Kunamai ia musim Katarsis. Begitu di pekan ke Empat kujalani.
Diterapi dengan rentetan Hijaiyah yang bersambung-sambung dalam diksi paling sempurna: tilawah.
Ternyata tak cukup, adalagi yang harus diperjuangkan: ikhlas namanya. 
Pekan penjemputan yang dadakan: Kullu nafsin dzaaiqotul maut.
Yang kucintaipun, tempatku paling rela membuka diri, Kau panggil Ia.
Agaknya, Kau hanya meninggalkan diriMu saja untukku berkesah..

Tersadar. 
Segala apa-apa yang bukan milikku, memang bukan milikku, meski sedaya upaya aku memperjuangkannya.
Maka di sinilah letak halawatul iman itu paling besar peranannya; bersabar dalam uji..

Katarsis :')


































Aku pernah katakan pada-Mu
Aku terluka.
Aku terluka atas ujian-Mu
Karena bagiku, ujian ini tidak hanya melukaiku
Tapi mereka juga, yang terlalu mengharapku.
Mengharap agar aku mencintai dengan sepenuh hati;
Apa-apa yang tak pernah terlintas di hatiku untuk menaruh cinta.

Pernah pula kukatakan padaMu, bolehkah akhiri saja rasa nyeri ini?

Aku manusia-Mu ya Rabb.
Maka sangat manusiawi aku merasa terluka atas takdir-Mu yang sulit ini
Tapi aku tak pernah marah pada-Mu
Tidak pernah!
Aku tak pernah berpikir akan membenci-Mu
Engkau tahu sampai detik aku menghadap-Mu
Masih mengharap-Mu,Ya Rabbku
Mencoba menumpahkan segala harap, takut, dan cinta hanya pada-Mu

Bukan aku tak memahami bahwa semua itu pasti baik untukku dan untuk mereka
Bukan karena aku tidak terima goresan cerita dari-Mu

Aku hanya sedang bercerita
Tentang aku,
yang hanyalah manusia-Mu
yang sangat manusiawi bercerita pada-Mu tentang kesulitanku
yang sangat manusiawi mengeluhkan lukaku

Allah-ku, aku telah bercerita pada-Mu.



"Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, 
Yaa Rabbku.." 
(Maryam:4)

Aku kan mencintaimu. Tahu tidak?



Dan sebenarnya dik, untuk melepasmu,
Aku hanya butuh berbijak rasa, menanam ribuan hektar ladang Semangka. 
Kemudian pesta panen sendirian tanpa butuh disapa. 
Tak perlu menemaniku dengan triliyun retorika, toh begini caraku memulihkan luka.
Tentu saja setelah merayu sang Maha
Menuntaskan pengaduan dari sujud ke sujud. 
Melemah ngarai air mata dari tengadah ke tengadah yang tak bisa tumpah.
Maaf bukan terlalu keras melembutkan hati hingga basah.
Kau kira ini pelampiasan?Bisa jadi. 

Tapi bagaimanapun, kami titipkan penjagaanmu pada Allah. 
Jika kau hilang arah, kembalilah. 
Kami mendekapmu dalam doa, dipapah dalam sepi, dirangkul dalam obsesi; 
Masih mengharapmu kembali.
Jika sungkan, ada kereta ukhuwah yang parkir di gerbang Robithoh dengan sedia.
Maka berkabarlah, karena kau saudara kandung dalam dakwah:"

Ontime!

Belajar dari berbagai peristiwa, orang, bahkan seluruh perangkat yang diciptakan Allah di muka bumi ini, sudahlah menjadi keharusan. Bukankah Allah sudah pesankan tentang perumpamaan-perumpamaan yang diserakkanNya di bumi ini? Dan siapakah yang dapat mengambil hikmah? Tentu saja mereka yang dianugrahiNya pemikiran yang tidak pasif. “Afalaaya’kiluun? Apakah kamu tidak berfikir? Begitu tanyaNya. Seharusnya pertanyaan itu menjadi hentakan yang menyebabkan bangun, bukan lelap.Tamparan atas kezholiman yang kadang-kadang membiasa dan memanis.

Plak!
Rasanya pasti sakit jika tertampar, apalagi jika tamparan itu begitu keras. Tapi ada hal yang patut disyukuri atas tamparan dan rasa sakit tersebut. Setidaknya, rasa sakit itu mengindikasikan bahwa sel neuron sakit kita masih berfungsi baik memberi sinyal; ada anggota tubuh kita yang sedang sakit dan perlu segera diatasi untuk disembuhkan.

Seperti hari ini, niatku yang menyengaja tidak ontime sebuah acara terwujud rapi. Alasannya (rasional menurutku, dan kalaupun terlambat ada kemungkinan dimaklumi) bahwa aku bosan menjadi seorang “penunggu” orang2 telat dan agenda ini dadakan kuterima infonya. 
Langsung saja teguran itu memanah hatiku. 
Tepat sasaran. Berdenyut ke ubun-ubun. 
Malu. Sungguh memalukan. 
Menjadi golongan orang2 yang datang “terlambat”.

Apakah sudah langka muslim di jagat ini yang bias dijadikan teladan terkait waktu?! Atau memang sudah tidak ada?! ”Ana heran. “Ana heran dengan ikhwah zaman sekarang. Apakah antum hanya menjadi pejuang yang datang dengan tergopoh-gopoh setelah saudaranya sekarat menantinya? Afwan akh, afwan ukh, ana otw. Acaranya sudah mulai belum ya? “begitukan kebanyakan ikhwah zaman sekarang? Antum Murabbi akh, ukh. Profil Murabbi seperti apa yang sedang antum sandang?! Zholim antum akh, zhalim antum ukh !”.

Jleb! Kalimat itu menohok relung jiwaku. Seperti terhempas dari bangunan tingkat tinggi.
Zholim. Astaghfirullah aku termasuk kategori zholim tersengaja. Tak diragukan kehinaannya.

Belajar dari rasa “menzholimi”. Sungguh, betapa diri kita masih harus dididik dengan keras agar lebih bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik. 
Apapun alasannya, telat tetaplah telat, yang itu berarti: telah mendzolimi saudaranya yang hadir lebih tepat waktu. kecuali syar'i kendalanya. Masya Allah, betapa kadang-kadang “keteladan” itu penting untuk sering disuarakan dan bahkan berazzam untuk konsisten ditampilkan. 
Banyak cara, hanya saja alasan kita masalah waktu terlalu klasik.
Menyesal. Tiba-tiba kusesali kesengajaaku, astaghfirullah. Padahal dulu pernah menjadi golongan orang2 yang hadir tepat waktu seperti mereka-mereka yang beruntung hari ini.

Kagum. Aku memang selalu kagum kepada orang-orang yang ontime selain orang-orang dermawan.

Bercermin. Karena setidaknya dengan kewarasan aku menyadari bahwa waktu yang diamanahkan banyak cacatnya olehku. Orang, seperti apapun kepribadiannya secara samar dan terang-terangan memang selalu jadi cermin. Itu fitrah. 
Melihat seseorang yang banyak hafalannya, kita mungkin ingat dengan hafalan kita yang minimalis. Melihat seorang saudari dengan gaya kedermawanannya, kitapun mungkin langsung ingat dengan kebakhilan kita. 
Melihat orang yang tepat waktu,seperti mereka yang hadir di acara kali ini otakkupun langsung mikir. Kenapa dia bisa?!. Akupun mencurigai diriku dan manajemen waktu yang kupunya. 
Kusesali keberantakannya. Begitulah mungkin kekuatan “keimanan” menyampaikan aura mereka padaku maupun orang lain yang seperti kata Nabi SAW, “seseorang yang ketika orang lain melihatnya, akan mengingatkan pada Allah”. Terpana. Dan kira-kira kalau melihatku, orang bawaannya ingat apa ya…? –__–!

Mungkin perlu menangisi kezholiman kita yang kalau dihitung2 ternyata penzholiman terkait waktu sudah sejak dahulu ‘membiasanya’. Mumpung masih di dunia; tempat yang insyaa Allah masih diterimanya taubat. Sensasi menangis ini bukan hanya milik mereka yang konon melankolis. Siapapun, yang kalau Allah telah takdirkan hatinya untuk tersentuh, merasa, tergugah, Maka ia kan menitiskan lembaran-lembaran bening itu atas kesalahannya, kealpaannya.
Karena setidaknya, menangis dan menyesali itu mengindikasikan hati kecilnya masih berfungsi baik untuk jujur mengenali mana yang perlu dikoreksi atas dirinya. Mana ‘sakit jiwa’ yang perlu tindakan penyembuhan segera. Kan repot kalau suatu waktu tabiat ke tidak tepat-an kita terhadap masalah waktu beregenerasi. Diam-diam ditiru.

SerambiMekkah,
#EdisiKampusMurabbiSetengahHari
#TemuKangenParaMurabbi

Maka,

Menyederhanakan dan Memaklumi
Artinya, berhati samudera untuk setiap perlakuan yang dirasa menyakiti. 
Maka sederhanakanlah.
Artinya, berlapang dada untuk perlakuan khilaf yang disengaja. 
Maka maklumilah.

Terimakasih atas kehadiran yang menyegarkan iman.
Terimakasih untuk keterlambatan yang beradab.
Terimakasih, untuk ketidakhadiran dengan tanpa kabar yang mengajarkan kesabaran dan keluasan maaf. 




Perbanyaklah istighfar supaya terampuni kesengajaan..

Arah(an) PULANG

Ini kali kedua aku lewati jalan ini. Yang pertama? Ya saat berangkat tadi. Sampai pertigaan besar aku bingung. Ini harusnya belok kanan apa kiri. Sedangkan derasnya hujan menghalau ingatan. Padahal biasanya aku punya daya navigasi yang bagus kalau jalan sendirian. Apalagi sekedar menghafal jalan pulang.

Dua lelaki duduk di emperan toko sebelah kiriku. Salah satunya seperti menangkap bingungku yang memaku di tepian, lantas memberi isyarat pada temannya semacam “Hei lihat. Sepertinya orang itu bingung.” Memang iya aku bingung, lantas kutanya kemana arah jalan pulangku. “O, kesana mba. Sanaa teruuus.” Bersahutan mereka menjawab sambil memberi isyarat belok kanan. Oke, motor hadiah dari Ayah melaju lagi.

Jalanan naik turun khas pegunungan. Kadang bingung ini tanah atau aspal. Oh ternyata aspal yang tercover genangan air kecoklatan serupa warna tanah. Semakin suram dan seram dengan kilatan petir serta dentuman guruh di langit.

Sepi. Kebanyakan area persawahan. Hanya sesekali ada kendaraan dari arah berlawanan. Ada dua orang pejalan kaki yang kutemui di jalan yang sepi. Satu, bapak yang berjalan sambil ‘nyunggi kawul’ (bahasa Indonesia yang pas apa ya). Mungkin untuk pakan ternaknya. Dua, bapak tua yang berjalan sambil membawa arit (sabit). Keduanya sama, berjalan santai dan pelan, tidak terburu. Seperti menikmati langkahnya yang basah.

Perjalanan terasa berat. Hujan benar-benar deraaasss. Tetes-tetesnya di wajah seperti menusuk-nusuk. Anggap saja refleksi wajah ya. Hari mulai gelap, mata minus dan silinder dipadankan dengan lensa yang terus buram diguyur hujan. Remang-remang pandangan. Belum lagi sorot lampu kendaraan yang berpapasan menambah keburaman yang serius dalam sekian detik. Silaunya memaksa mengurangi kecepatan. Komplit sudah.

Bingung sungguh bingung. Mana masih jauh, sekitar 10 kilometer. Apalagi si bocah di dalam lindungan jas hujan mulai gusar. Kedinginan. Karena meskipun pakai jas hujan kami tetap kebasahan. Kuhibur dia dengan lafal surat Luqman, surat yang dia hafal. Meski tidak mau meniru, lumayan dia dengar. Barangkali bisa sedikit menenangkan.

Tetiba terlintas ingatan bahwa bocah ini bocah pejuang. Dia menemaniku (kami; 5 bersaudara) di masa-masa perjuangan di awal rumah tanpa ayah dan bunda. Masa-masa keemasan tumbuh kembangnya, masa pra sekolah hingga bersekolah. Masa mengenalkan padanya alfabeta hingga makna abjad dan Hijaiyah. Masa mengenalkan padanya bermuamalah dengan tetangga. 
Di masa sakit, sulit, dan ngirit. Dan dia, bocah dalam lindungan jas hujan ini tetap enjoy di segala suasana. Ketika rumah kami sangatlah sederhana, dia sering ‘menghilang’ keluyuran kemana-mana. Yang disasar biasanya rumah tetangga. Pernah bingung nyari, ternyata dia lagi asyik sama mbah-mbah di depan toko. Umurnya sekitar tiga setengah tahun waktu itu dan dia suka sekali menyapa tetangga.

Dia yang selalu menemaniku dari usia 3,5thn. Menemani hangout, liqo, organisasi, syuro, sampai bekerja sampingan sepulang sekolah. Sekarangpun paling banyak terbuka apa2 ke aku, ketimbang bunda. Semua keluh pribadi dan apa-apanya paling banyak ke aku. Ngomong-ngomong, bagaimanalah para ummahat bisa meneladani para sahabat nabi yang kalau bermajlis adabnya seolah-olah ada burung di kepalanya (anteeng, ora useeek ae). Lha wong ummahat itu ya, bisa banget liqo atau pengajian sambil kejar-kejaran dan ‘petak umpet’ sama bocah.

Dan bocah ini, sampai hari ini hujan-hujanan begini, dia yang ada bersamaku. Baru kali ini dia merengek dalam perjalanan. Pasti dirasa sangat dingin dan melelahkan. Tiba-tiba dia berkata "kak maaf aku tadi main aja.” Loh? Memang tadi hujan sempat agak reda di lokasi tapi dia masih asyik main tidak mau pulang. And now she feels guilty? Oh no, I said not ur fault.

Kurang sekitar tiga kilo lagi perjalanan, dia kembali merengek, mau pecah tangisnya. Ya Allah, seorang dia tak kan sebegitu tertekan kalau tidak sangat kewalahan. Sepanjang sisa jarak kutenangkan “Sabar ya dek, sudah mau sampai ko.” Tentu saja. Jarak yang kita tempuh selalu mendekatkan kita pada tujuan. Itu berarti semakin ‘sudah mau sampai’.

Sampai di rumah beberapa menit sebelum adzan magrib. Badannya gemetar kedinginan dan menangis. Oh dear. Thanks for being my super girl. Perjalanan kita akan lebih panjang lagi nanti. Selalulah kuat.

Petang disambut sayup adzan bersahutan. Mengagungkan Sang Pencipta, mengingatkan kita untuk kembali menghadap-Nya. Karena dalam setiap perjalanan kita selalu ingin kembali pulang. Maka sejauh dan seberat apapun perjalanan, kita harus terus berjalan untuk pulang. Dan adzan selalu mengingatkan, kemana harusnya kita menempuh jalan pulang.

Seketika aku terbangun, ah mimpi dia lagi. Langit-langit kabin pesawat bernama Citilink masih sedia kala. Semua manusia terlelap di atas awan. Ngecek handpone. Oh iya, sepanjang aku mengudara selama ini, tak pernah melanggar aturan. Termasuk sungkan menyalakan handpone ketika take off hingga landing. tapi buktinya, sekarang aku nekad. kunyalakan handpone, pesan masuk, ternyata kabar kemarin berlanjut: beliau masih dirawat di RS. Belum ada progress apa-apa selain tubuh lunglai itu. Syafakillah dek. Doa dari jauh memang tak seperti sentuhan fisik ketika dekat.

Allah. Janjiku kemarin memang pulang untuk menemanimu, tapi bagaimalah, agaknya ditunda dulu. Bukankah kita sedang melanjutkan risalah Rosul tercinta? Kamu harus segera bangun dek. 
Dan kita kembali bercerita, tentang Thariq bin Ziyad. Tentang Abdullah bin Umar junior. 
Tentang kamu. Kamu yang mulai terlihat sepertiku; mencintai dan mengagumi para muharrik peradaban itu. Atau Tentang sepenggal tafsir Adh-Duha, insyaa Allah.


Dek, sehat ya.
I know, sebenarnya ini arah(an) untuk pulang sejenak, tapi bukankah kadang kita terlalu kaget dengan alur skenario yang dibelokkan di tengah pentas yang kita perankan? 
Sekarang, pulangku bukan untuk urusan pribadi dan keluarga. Tak bertemu juga.
Tapi kau pasti tahu dek, sehatlah..

Namanya NAMA yang Baik

Pada zaman saya kuliah (kaya lampau amat ya?!), pada salah satu sesi mata kuliah Bimbingan Konseling kelompok, kami diminta oleh dosen pengampu mata kuliah untuk membuat nama sifat dari nama panggilan kita. Ketentuannya, nama sifat diambil dari nama panggilan kita dengan ditambahi kata sifat (boleh positif atau negatif) yang mempunyai huruf awal sama dengan nama panggilan kita. Ribet amat sih! Gini lho maksudnya, misal: nama teman saya Agustinus, jadi nama sifatnya harus berawalan huruf “A”, Agus Atraktif, begitu. Atau alternatif lainnya, tiap huruf akhiran nama disusul dengan kata sifat apapun.



Saat itu, kami menemukan banyak kelucuan dari nama sifat teman-teman (dan saya juga) di kelas. Ada yang cuocok banget sama karakter orangnya, misalnya teman saya: Ajri Asertif, pas banget nama sifat dengan karakter dia yang memang asertif. Tapi lucunya, ada juga beberapa orang yang saking sulitnya cari nama sifat untuk huruf depannya paling ya, dia –dengan teganya- memberi nama sifat negatif pada namanya sendiri. Ada juga yang –dengan kasus yang sama, sulit cari kata sifat yang pas dengan huruf awal, hehehe- milih pakai bahasa asing untuk nama sifatnya, mulai bahasa Maluku, NTT, Aceh. Jawa, Inggris, sampai Perancis (iya ga ya?!).


Sebuah ‘pemaksaan’ yang positif saya rasa, sekaligus sedikit mengindikasikan konsep diri masing-masing. Nah, sama halnya dengan teman saya yang bingung cari nama sifat, saya juga begitu. Sebanyak apa coba kata sifat berawalan huruf “Z” untuk Ziah, yang familiar dengan koleksi vocabularies saya? Saya benar-benar sulit menemukannya. Bukan karena tidak kreatif (padahal emg ga kreatif), tapi ada rasa malu, tau diri, dan ga pantas pas nemu nama sifat yang cocok. Halah zi, ngaku2 banget sih, batin saya. Akhirnya teman2 sekelompok menangkap sinyal kebingungan saya. Jadilah mereka berdiskusi memberi nama yang tepat buat saya. Mereka pakai kata sifat konyol yang katanya cocok untuk saya; Ziahiperaktif (hah?!) -_-



Tapi di kemudian waktu saya nemu kata yang lebih positif: Ziahelper, Ziahebat, dll, tentu ada maksud di balik ke-Pd-an saya begini. Next time kita bercerita. Insyaa Allah. Haha. Nah! Mata kuliah yang sederhana inilah salah satu kegiatan yang sangat berkesan dan banyak bermakna bagi proses tumbuh kembang saya.



Saya sungguh banyak menemukan self and others understanding dari makul ini. Nama sifat ini salah satunya. Ada sebuah logoterapi yang saya temukan dari kegiatan ini. Kami sedang belajar mempersepsi diri, sebisa mungkin menemukan karakter sifat yang memang pas dengan kepribadian kita. Hm, atau paling tidak, kami sedang belajar mempositifkan diri, menjembatani antara kondisi dan harapan.



Misal, iya sih Ziah ini anaknya rada-rada hiperaktif, paling ga betah nunggu dosen bercerita panjang lebar mengurai materi, suka mengonsumsi keisengan dan menjahili teman yang duduk di dekatnya. Apapun, sehingga timbul suasana gaduh karena ulahnya. Paling doyan izin keluar masuk kelas untuk wudhu, paling rakus masalah bertanya dan menjawab dosen sampai teman-temannya manyun optimum. Haha. Paling demen jadi tutor sebaya aka sok-sok-an jadi asisten dosen pas dosen ga berkabar. Dan satu lagi, paling lahap mengerjakan UAS dan UTS dengan waktu tercepat tanpa mikir lama, untuk kasus yang satu ini, alasannya ga lain ga bukan supaya bisa segera keluar kelas, menghadiri rapat, bertemu orang-orang penting atau bertemu adik-adik kesayangan, mengobati lelah; membina. Haha.Tapi serasa tak tega menamai diri sendiri begitu, kesannya lebih condong pada negatif (karena hiperaktivity adalah perilaku abnormal dalam makul BK Abnormal yang saya ikuti).



Maka saya berusaha menemukan kata sifat yang kira-kira lebih positif dan enak didengar. Jikapun ternyata kata sifat itu tidak cocok atau kurang pas dengan kondisi saya, biarlah dengannya saya berharap dan berdoa agar menjadi nyata. Inilah yang saya sebut sebagai sebentuk doa, berdoa dengan cara saya, hehe.


Jika ada pepatah mengatakan “apalah arti sebuah nama?” wah, akan saya jawab “SANGAT BERARTI!”. Pertama, karena saya adalah muslimah yang pernah belajar tentang betapa pentingnya memberi nama yang baik pada anak serta memberi panggilan/ sebutan yang baik pula pada saudara/ orang lain. Nama adalah doa, begitu haditsnya.



Sebagaimana Rosulullah sering memberi nama kunyah (julukan) yang penuh doa pada para sahabat yang nama aslinya kurang memiliki arti bagus. Kedua, karena saya juga belajar sedikit tentang psikologi, betapa pemberian label pada seseorang itu mempunyai arti penting dalam perkembangan dan pembentukan konsep diri seseorang.



Ada banyak cerita nyata mengagumkan yang pernah saya baca tentang ini, tapi akan terlampau panjang diuraikan lagi. Intinya: *panggil dan sebutlah dengan kata-kata positif.*

“…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…” (Al Hujurat: 11)



Maasyaa Allah, Allah dan Rosulullah telah mengajarkan lebih dulu sebelum saya belajar makul BK di atas. Memang kadang kita perlu pendekatan model lain agar lebih “ngena” sebuah pembelajaran.


Nah! Bermula dari bangku kuliah, menguatlah keusilan saya (yang sudah lama bermula sebenarnya) untuk memberi nama pada banyak hal, terutama orang-orang yang saya penting untuk menamainya. Keusilan saya tidak berhenti sampai di situ. Berikutnya saya jadi gemar memberi nama sifat pada list contact di HP saya. Tentu saja bukan karena saya menganggap nama asli mereka kurang bagus, hanya saja ingin berkreasi gitu. Terlebih lagi terselip sebuah niatan semoga nama sifat ini menjadi kenyataan atau menguatkan kebaikan yang sudah ada pada mereka. Dan faktor khusus lainnya adalah saya hanya ingin mencoba mengingat-ingat dengan cara saya. Dalam dakwah, kita butuh pendekatan taaruf yang bermakna.


Menjembatani antara kondisi dan harapan, adalah dengan DO’A. Dan bagi saya, memberi nama sifat adalah salah satu cara BERDOA. Besok-besok kalau ada waktu, insyaa Allah saya ceritakan tentang penamaan sifat yang pernah saya lakukan dan menghantarkan saudari-saudari saya berhijrah, bahkan menjadi Muallaf.


Semuanya berawal dari petunjuk Allah dan paksaan Murabbiyah yang menjerumuskan saya untuk kuliah di PPG dan dapet kekhususan belajar BK. Hehe. Saya berani menjamin, kuliah BK itu asik banget! Insya Allah. Apalagi psikologi, dan paling cakep ya Sains (teutep) tapi di balik semua prodi, paling istimewa tiada dua ya mempelajari ilmu jadi Murabbi dan Kaderisasi. Sering terlintas dipikiran, sepertinya sebuah mimpi harus saya tambah; mendirikan yayasan/lembaga khusus/sekolah khusus Murabbi dan KADERISASI. (Mulai ga nyambung).



Baiklah, kalau Hasan Al-Banna bercita-cita untuk Mesir, saya bercita-cita untuk Pembinaan Ummat. Pengkaderan Ummat. Udah itu aja. Simpan  Sains, mari ikhtiar jadi Soko Guru Peradaban Islam yang inspiratif. Whehee.

Serumpun yang menguatkan: Daakwah dan Ukhuwah


Adalah satu hal yang sama antara aku dan dia. Saat kami harus menemui takdir yang sebenarnya tidak kami ingini, biasanya dalam situasi begitu, dakwah yang menghibur kami.
Sejak zaman SMA, dalam hal amanah dan dakwah, kami memiliki cita-cita dan obsesi yang sama; Menjadi pelayan Allah, bersaudari dalam sulit dan lapang, dekat dan jauh, saling berwasiat dan waris-mewarisi, hingga salah satu di antara kami atau keduanya dipanggil Allah. 
Kesannya ekspresif. Tapi tak mengapa. Toh, lewat inilah ukhuwahku dan dia tertaut hingga kini. Selalu terhubung dalam berbagai kondisi dan situasi. Saat yang sakit adalah tubuhku, namun yang tumpah adalah air matanya. Begitu sebaliknya, meski lagi-lagi tak pernah dalam episode ukhuwah aku menangis di depannya, namun bagian sakit atas sakitnya, terasai pula oleh indera imanku. 


Dulu, saat pertama mengetahui aku harus pergi ke pertengahan negeri ini, berada jauh dari kampung halaman dan orang-orang tercinta, membentang jarak gunung dan samudera, membakti diri pada agama, menunaikan tugas yg sebenarnya jauh dari passionku: Jadi Guru. Saat-saat itu yang menghiburku adalah kalimatnya bahwa: “Di tanah manapun kita berpijak, itu bumi Allah juga. Ladang amal dan dakwah kita. Niatkan semuanya untuk ibadah.”


Alhamdulillah, benar Allah mempertemukanku dengan banyak kebaikan. Temanya dakwah tentu. Aku mendapatkan teman-teman dan guru-guru yang sholih, keren, inspiratif. Ku temukan ‘Onta-onta merah’ yang investatif, menyibukkan diriku dengan melahap puluhan buku, aktif dalam kegiatan dan berkecimpung di sebuah perhimpunan. Dakwah yang menghibur. Bukan koleksi gadget, bukan tumpukan uang, bukan hangout karaoke-an seperti pelampiasan beberapa orang. Allah menghadirkan nuansa-nuansa dakwah untuk menguatkan agar sabar bertahan dalam perantauan, menentramkan hati di tengah semrawut dan sumpeknya hiruk pikuk duniawi yang harus ditekuni.



Begitupun dia. Dulu, jelang akhir masa putih abu-abu, cita-cita dan obsesinya selesai SMA adalah MENIKAH. Aku memang keberatan dulunya. Secara mimpi, ada hal yang kan segera terhijab. Secara kedekatan dalam ukhuwah, mungkin aku harus rela berbagi atau mendapatkan waktu sisa karena yang utama tentu baktinya terhadap suami. Tidak terima. Rasanya terlalu muda dan masa depan akan sampai di batas itu, pikirku. Aku yang obsesif, idealis dan perfeksionis memandang pilihannya tidak berkelas. Bukankah menyelesaikan studi, melompati cita-cita, berpetualang adalah hal yang paling menarik daripada memilih menikah dini?


Bagaimanapun, kami saling menghormati keputusan masing-masing diri. Dia punya prinsip, pun aku juga. Saat meninggi ego, biasanya kami akan ditengahi obsesi yang kami pilih sedari mula; menjadi pelayan Allah dalam misi apapun. Meski qodarullahnya, peta masa depannya berubah haluan. Ia dituntut untuk melanjutkan akademik dan meng-antrikan harapan menikah. Tentu, karena ia terlahir dari keluarga yang penuh dinamika. Bertolak belakang denganku atas takdir Allah yang apa-apa, keluarga bukan jadi kendala.



Dia punya pandangan yang mulia, yang belakangan kuketahui akhirnya kenapa ingin menikah. Simpelnya, ia ingin segera mendidik anak-anak yang kelak ia bisa titipkan untuk Allah. Menjadi Mujahid Mujahidah dakwah seperti Al-Khansa. Meski demikian, ia taati ke dua orang tuanya. Maka lanjutlah ia bersekolah hingga di titik ini; sedang menempuh gelar S2nya. Obat hati yang sama atas ujiannya; dakwah selalu menghibur. Dulu pesanku terhadapnya; tak mengapa, toh selama orientasinya adalah dakwah, kelak di bangku perkuliahan kau akan temukan jawaban, kenapa Allah belum mengabulkan harapanmu. Lagi-lagi, dakwah. 

Dan aku, semester 1 kuliah profesi guru, bad mood saja rasanya. Sudah berazzam juga ingin resign. Muak dan merasa dipaksa. Karena cita-citaku adalah murni menjadi Saintis negarawan. yang lewatnya aku bebas bereksprimen. Berkarya dan menemukan. Salah satunya, aku ingin menemukan sesuatu yang lewatnya dapat aku sumbangkan untuk negeri-negeri seiman. Negeri-negeri yang terluka. Tapi sejalan dengan waktu, ada hal spesial yg menawanku: dakwah dan ukhuwah. Aku mencintai organisasi dakwah di jurusan dan fakultasku, dan mencintai orang-orangnya. Lalu setelah open mind tentang guru, lama-lama aku menyadari ini adalah profesi yang lumayan untukku, banyak berpengaruh terhadap progres diriku. Maka betahlah aku di sana hingga gelar profesi itu kuraih. Mendalami jurusanku dan menekuni aktivitas amanah di jurusan dan fakultas.


Diapun, di ujung sana sedang berjuang dengan baktinya. Ternyata sama sepertiku; diminta tsiqoh atas amanah-amanah yang begitu sering untuk ditolak. Dia dengan taatnya, tentu ikhtiarkupun sama. Hingga tulisan ini diketik, teringat percakapan dengannya via wa sore tadi. Seperti biasa, tugas ukhuwah antara kami adalah saling mengingatkan. Tak terbatas jarak yang memisahkan, ada ikatan yang mengabarkan. Bahwa kadang, ada di antara kami yang sedang butuh dikuatkan. Saat yang satunya bergemuruh meredam remuk, yang lainnya hadir sebagai penyejuk.



Sore ini, kumaknai ulang ujian Allah atas diri: Barangkali, apa-apa yang terhempas dari ikatan, akan ditautkan dengan ikatan baru lainnya. Di titik itu, sekiranya melepas semua yang dicinta adalah orientasinya dakwah semata, niscaya manisnya tak memberatkan rasa. Oh Allah, barangkali, amanah yang dikira mata batin seberat Tursina, ternyata hanya secuil tetes penyebab terdidiknya diri..


Lalu sekarang apa? Sekarang, jikapun aku mengingkari takdir karena gagal mendapatkan kesempatan yang aku cita-citakan, belum diizinkan memilih apa-apa yang kupetakan, maka sebenarnya hati kecilku sudah bisa berujar lega. Dulu kamu kehilangan beberapa hal yang kamu inginkan, dan ternyata Allah lah yg menjelaskan kemudian, kenapa kamu dipilihkan yang itu. Allah akan hadirkan penghibur hati yg menentramkan. Dan biasanya itu adalah tentang dakwah.


Passion itu yang rasanya membuat hidup tambah semangat, tambah optimis dan husnudzon. Semisal contohnya gini. Aku sebenarnya ingin bermasa depan di Jogja, membangun mimpi dan lifemap di sana. Tapi bagaimana jika ternyata besok, bulan depan, atau taun depan Allah menghadiahiku takdir di kota/tempat yg tak kuharapkan? Pasti ada rasa segan untuk berpindah haluan, mengubah urutan mimpi atau bahkan menghapusnya sama sekali.



That’s a pity u know, melepas mimpi itu pedih sekali. Inilah yang kubilang dakwah yang menghibur kami. Satu hal yang insyaa Allah mampu menyemangati kami untuk survive: Plan dakwah. Sekarang pun, meski kami belum tau pasti takdir kami, kami sudah membuat rencana-rencama jika ternyata harus mengubah haluan. Menata ulang urutan cita-cita, mempersiapkan anak-anak tangga menuju mimpi-mimpi kami.



Inilah hidup. Saat mimpimu harus berubah karena takdir Allah, ikhlaslah. At least nikmatilah prosesnya menuju ikhlas. Toh masuk surga itu banyak jalannya. Jadi jangan terlampau sedih saat salah satu dari mimpi-mimpimu hilang. Seperti cerita yg lalu-lalu, biasanya Allah akan datangkan penghibur hati yg menentramkanmu. dan biasanya itu adalah tentang dakwah. Sungguh, nikmat Allah itu luas..



DENGAR DULU

Frankly speaking. Aku terkesan. Pernah, saat hati ingin mengutarakan keluh, justru urung menjadi luruh. Ingin meniru, tapi selalu saja ada yang ingin didengar lebih dulu. Jika begitu, batin tak sungkan untuk mengaku; baiklah, itu bagianmu. Itu hakmu ingin didengar dan diperhatikan. Seringnya begitu. Mungkin ada tempat lain yang harus kutuju dalam perih dan hal keluh untuk mengadu.

Kisah hari ini. Lagi, menemukan pelajaran baru. Siang ini, rutinitas sedikit santai bebas tanpa paksa. Orderan syuro hanya beberapa, tentu sorenya. Rentetan binaan pun lowong dari agenda.
Ritmenya sedikit pelan, maka bersenang-senanglah (harusnya?). Tapi egois sekali ya? Haha. 
Seba'da bertemu dosen pembimbing tadi, 20 menit konsultasi perangkat uji kinerja bernama sertifikasi, me-rekap belasan lembaran nilai sana-sini, diakhiri basa-basi ala aku yang sejujurnya, tidak penuh dari hati. Tanya kabar beliau, sekilas wajahnya sedikit lelah dan kusut. 
Bertingkah peka, seolah-olah. 
Tapi, memang. Apa yang terlihat dalam mata awamku, tertangkap pula dari bilik hatiku. 
Membuatku tak urung melanjutkan tanya, bagaimana kondisinya. Duduk di sebelahnya, seolah menganggapnya kawan lama. Padahal, siapalah aku (?).

Berawal dari iseng ini, berlanjut qodoya (read: curhat) 2 jam kurang lebihnya. 
Perdana! Seorang aku menjadi pendengar yang baik untuk seseorang seperti ia. 
Diberi kesempatan mengenal lebih luas, ia yang mumpuni dalam sebuah bidang studi bernama strategi pendidikan masa kini. Sesepuh berilmu yang dianggap killer di mata mahasiswa sebuah prodi. Beliau bercerita banyak hal. Perjalanan suksesnya, jalan panjang meniti kariernya, kabar keluarga dan anak cucunya, harapan masa depannya, hingga jatuh bangunnya yang tertakdir di hari-harinya.

Tak kalah menariknya, adalah dua bola mata di balik lensa cekung itu mengaliri lembaran bening, merayap hebat. Kukira ini Dejavu. Pernah aku berimajinasi, bagaimana kelak jika ada orang penting yang kukagumi wibawanya, yang kusegani ilmu-ilmunya, yang kuprasangkai ketegarannya, suatu ketika meminta petuahku, atau meminta waktuku berbincang perih dan hal dalam takdir yang dititinya. Apa yang bisa kuperbuat, dari seorang aku yang jauh dari kata mengenal asam garam kehidupan? Sebut saja kekanakan. Apa yang harus kulakukan? Sesiap apakah aku mengulurkan tangan terhadapnya?

***
Sesungguhnya ada satu bagian menarik yang kemudian kusadari. Dulu, ada bidang ilmu yang memang tak lama kutekuni, 2 tahun kurun waktu dalam masanya. Bekal kelak mendidik di ujung pelosok negeri perbatasan sebuah wilayah, barangkali. Bimbingan dan konseling namanya. Tentang peran seorang helper yang pertama-tama dibutuhkan konseli. Mendampingi. Mendampingi saja dulu, karena tidak selalu seorang konseli itu butuh diselesaikan masalahnya.

Kadang mereka hanya butuh katarsis, kelegaan. Dengan adanya seseorang yang menemani, membersamai, dan mendengarkannya, ia merasa lega, berkurang beban jiwanya. 
Meskipun sebenarnya belum tentu membantu, belum memberikan solusi atas beban masalahnya. 
Namun kehadirannya saja sudah memberikan efek terapeutik, melegakan!

Seperti para supporter sepak bola, yang dibutuhkan oleh pemain untuk hadir dalam pertandingannya.
Tidak butuh dibantu menendang bola, karena itu malah bisa menjadi masalah (ingat kasusnya Hendri Mulyadi, hehe). Para pemain itu hanya butuh kehadiran para supporternya untuk berteriak padanya memberi semangat, untuk melambai-lambaikan ayunan tangan dan sorak sorainya, sekedar menyampaikan pada para pemain: “Kami ada di sini, Bro. bersemangatlah, lakukan yang terbaik! Kami di sini untukmu, mendukungmu, mendoakanmu, sepenuhnya hadir untukmu. Kami akan bersorai untuk kemenanganmu!.

Begitulah. Bahwa tidak semua orang yang memiliki masalah itu butuh seseorang yang bisa menyelesaikan masalahnya. Kadang mereka hanya butuh didampingi untuk menghadapi masalahnya, agar ia yakin, ada banyak orang mengalami hal yang sama dengannya, ada banyak orang bersamanya ketika ia harus menghadapi suatu peristiwa.

Tersadar..
Dalam dialog dan komunikasi kita dengan tiap-tiap yang berjiwa, sentuhan gerak ataupun bahasa, sesungguhnya selalu dibebani salah satu di antara beberapa;

Bahwa, siapapun dia yang berkata dan bertindak dari hati, dipenuhi ruhiy bukan hanya mengandalkan apa yang dibisiki fikriy, maka insyaa Allah perkataan lisannya benar-benar jatuh ke hati. Namun jika tertolak, bertanyalah kita; kenapa ada jiwa yang menolak pesan yang padahal terasa (telah) dibungkus dengan cinta?
Di mana letak salahnya?




*********
Rawamangun, 22 Nov 16