Selasa, 15 Desember 2015

Sejarah Kita


Dulu, saat merindukanmu kami hanya perlu mengingat bahwa kau punya janji untuk kembali; Pulang ke hati kami.
Bila rindu kian menjadi, kami hanya berprasangka kau memang tak harus kembali.
Karena dunia tidak pernah seindah 'tempat' yang sedang kau tempati.
Begitulah naluri dan nalar kecil kami dulunya menjalani perpisahan.
Tak berontak. Tak iri. Tak menangis karena jauh darimu yang berbilang tahun tak kunjung hadir
Tapi tetap saja, kami selalu menunggumu.
Kapanpun kau mau untuk kembali, seperti yang sudah-sudah dan pergi lagi, mencari nafkah membentang samudera, menahkodai pelayaran untuk ummat.

Kami tahu sebenarnya.
Dan kami mendengar pesan takdir yang digariskan untukmu; Tsunami membawa jiwa dan jasadmu bersamanya.
Hanya itu
Dan kami meneruskan hidup 9 tahun tanpamu.
Kami tak marah pada Tuhan.
Karena wanita paruh bayah itu selalu mengajarkan kami ma'iyatullah di setiap deru nafas kami.
Dialah wanita tulus pendamping hidupmu, yang selalu tergaja hanya untuk bermunajat pada Rabbnya, menegarkkan imannya, terisak-isak semoga kami dalam doa untuk kami, anak-anakmu ini menjadi sosok-sosok shalihin-shalihat.
Kami dengar keluhnya di malam-malam bersama rakaatnya.
Tak jarang diam-diam kami menafakuri tiap untaian pengaduannya.
Diam-diam, kami membatin ikrar untuk menjadi penyejuk mata baginya dan bagimu, dunia hingga akhirat. Perlahan, kami terobsesi.

Lalu kami temui takdir saat tarbiyah mendewasakan jiwa-jiwa kami.
Mungkin lewat jerih payahmu mewarisi tauhidullah yang menggema di hati-hati kami.
Berkesan, hingga kami sadari bahwa segalanya memang tak boleh diduakan dari tatapanNya.
Pun dengan perpisahan kami mengerti tak boleh terlalu merintih karena  tak rela.
Harus ikhlas. Harus sabar.
Meluaskan sabar seluas sabana.Menyempitkan ruang protes-protes jiwa.

Tapi ternyata, Allah masih sayang. Kita dipertemukan kembali.
Ada harmoni yang menjadikan mata batin berair atas nada-nadanya.
Mengalun-ngalun hingga menyayat-nyata; perih.
Wanita paling setia dan sholiha itu kau lepas dalam diam.
Tahukah kau, ia hanya memoles ekspresi takdirnya dengan menambah rakaat-rakatnya..
Ia bukanlah wanita yang menuntutmu karena tak rela dicerai dan dimadu.
Kami semakin mengaguminya.
Ibu kami, wanita yang pernah jadi istrimu.
Kami, tak mengerti pengkhianatan. Kami hanya mengerti -qodarullah-
Kami hanya mengerti dan mencoba taat.

Namun tetap saja. kami mencintaimu meski terluka.
Kami menerimamu, meski terkecewakan.
Hingga di sini, di titik ini,
Cinta padamu memuncak dan mengharu-biru semata-mata karenaNya.
Mengenang apa-apa yang pernah kau beri.
Mengingati cinta yang pernah terwarisi di jiwa-jiwa kami.
Kami memahami, saat hati ingin melihat senyummu karena laku kami,
Saat tiap diri-diri kami terluka oleh ragam hikayat dunia, sesekali kami ingin mengadu padamu.
Meluapkan di pangkuanmu.
Merindukan nasehat tulusmu atau sekedar mendengar petuah amarahmu karena kekanak-kanakannya kami.
Tapi, keimanan lagi-lagi bertanya, ada di mana Allah jika begitu??
Bukankah Allah tempat segala sesuatu untuk kembali?.

Kau memang tak mungkin kembali untuk ke dua kalinya. Jadi kali ini kami tak pernah akan menunggumu.
Lewat doa yang tersusun-susun, betapa kami sungguh mengerti kenapa telah jatuh hati padamu.
Betapa kami masih sesekali merasa hadirmu di hari-hari kami.
Dengan kenangan yang rimbun oleh ketulusan.
Setulus tangan kekarmu menyelimuti tubuh kami di antara serbuan nyamuk.
Seharu birunya hati kami kala mengingatimu.
Mengingatmu, hanya itu.
Mengingati kasih sayangmu tak bertepi.
Kala kau berkeliing pasar mencari menu kesukaan kami ketika tak berselera makan.
Meski kami tahu, kau pasti lelah sepulang mencari nafkah.
Dan lebih sering lagi ketika wasiat terakhirmu khusus untukku,
Selalu saja tak mampu terdefinisi dan sulit teraplikasi ;

"Bersabarlah terhadap kehidupan, sayangi adik-adikmu".

Di sini kami mulai merasa, bahwa kamipun ingin sesegeranya menyusulmu. Karena kami juga rindu kepadaNya. Rindu sepetak syurga yang dilingkupi kebahagian hakiki.
Jauh dari omong kosong dunia.
Jauh dari hiruk pikuk yang lena.
Jauh dari tetesan peluh dunia.
Kami pun rindu.
Rindu sekali bertemu denganmu dan Dia yang maha Pengasih..

Ayah, setipis apapun kisah antara kita, namun ia kan tetap jadi kenangan.
KarenaNya, semoga doa kami selalu tercurah kepadamu..


Rabu, 09 Desember 2015

NgeSave


Katamu; “Nanti, tolong ingatkan aku saat khilafku mencederai Islam”.
Kutangkap permohonanmu yang penuh  ingin. Tak kujawab, namun kusambut dengan ekspresi ala aku.

Di sini, kita mulai menyusun lembaran baru.
Putih. Dalam bingkai ukhuwah fillah seperti penamaan darimu.
Bersih, seperti merk air mineral yang kau bagi dengan itsar dari pegunungan taaruf; perjalanannya berkelok namun teduh.

Segar, seperti mengucurnya ke ‘pekaan’mu di setiap jiwa-jiwa yang kau sentuh dengan bahasa tulus.
Kita mulai menerjemah untaian fase perjalanan dengan izinNya yang kan kita lalui.
Mungkin sulit, mungkin gampang. Mungkin kan penuh suka, dan mungkin juga kan penuh luka karena duka.

Lukanya  bisa menyegera hadir seperti berpalingnya pencinta iman ke arah si Musailamah al-kadzab meski dibawah kuasanya sang Ash Shidiiq nan santun.
Sulitnya mungkin tak sesulit mewarnai penghuni Thaif yang congkak meski dengan kelembutan sang Nabi

Gampangnya mungkin tak segampang menyuarakan Islam dari ‘persembunyian menuju keterkenalan’ lewat lisan lantangnya sang Al Faruq. Tidak gampang.

Mungkin sukanya kan lebih banyak; dari nafas muroqobatullahmu yang kian mengakar hingga halawatul di imanmu yang kian menghujam. Bahagia bukan?

Atau sesekali memang kan teruji lewat derita yang memedih; rasa remuk dibelulangmu, teriris hingga cabik  di qalbumu, atau sesenggukan hingga tetes dari tangismu.

Dari sejarah, kita berkaca. Bahwa tertakdir jalan ini penuh uji.
Kelak, bersabarlah ya. Seperti pintaNya; Kuatkan kesabaranmu.
Hanya perlu eratkan iman kepadaNya ,lebih erat lagi.

Bahkan lebih erat dari simpul tali yang mengikat kaki-kaki kita di sepenggal pagi kemarin.
Lebih taat, setaat  arus sungai yang menderai memuarai tsiqoh.

Selalu menyuburkan rasa getar dan takut kepadaNya, seperti takutnya BATU-BATU yang berkeping kala tertetes dengan pesona seruan takwa.

Terus bertahan, seperti bertahannya sang GULITA yang pekat  membersamai tahajjut  hamba Rabbnya

Dalam dakwah, tak perlu seperti SERANGGA SUNGAI; tsabat hanya karena medan dakwah bertabur suka dan roboh bila masa duka menghinggapi. Naudzubillah.

Reminder !
Semoga tetap istiqomah, seistiqomahnya PADI hingga cahaya islam menjaya.
Tetap sabar, sesabar BUMI menerima luapan emosi yang menghujaninya
Tak perlu semaunya KILAT; mencahayai namun menakutkan.
Tak perlu seperti GURUH, gaduh yang menjadikan musuh.


Jadi,
Saat kau pinta diingatkan, hindari acuh ya.
Doakan mereka supaya tegar -yang karenaNya- akan seperti ALARMmu; kau tolak kala ia menepati janjinya setelah kau setel.
Lihatlah ia tetap tabligh dan amanah meski kau kembali pulas dengan keberpalinganmu.  Hehe. 


Sore 06 Des 15.
*Sukabumi dalam hujan


Senin, 30 November 2015

Bisa?

Masih di hari yang sama.
Saat kita kembali terjaga dalam lelap. Menyeka dengan tangan-tangan kita sendiri tiap tetesan air mata dari kantung pelupuk kornea. Tak berdaya, tentu saja ada.
Atau seringkali sombong tak ingin mencari-cari pundak untuk menenangkan gejolak jiwa. Bukan. Karena kita selalu tahu, Allah selalu harus didahului bercurah keluh dalam mengadu.
Nyaman, tenang.
Begitulah obsesi kita seringkali.
Bukan sok dewasa, beginilah nyatanya. Kita terlalu terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. Allah, ma'anaa.

Saat November akan segera berlalu, bulan yang sama akan menghampiri. Entah, entah cerita apalagi yang telah kering di lauh mahfuzhNya untuk kita.
Entah peran apalagi yang kan kita lakoni.


Ini tahun yang tak asing bagi kita. Aromanya, semerbaknya, wanginya, sengatnya, bahkan gugurnya.
Jatuh, tertolak, ditinggalkan, dipisahkan: semua berujung pada penyadaran. Bahwa kita sedang berjalan di jalan TARBIYAH.
Setiap tikungannya selalu ada TARBIYAH di dalamnya.
Setiap dinamikanya, ada pendewasaan yang berkeping serupa Amoeba; membelah antara terima dan tak terima. Ikhlaslah.
Siapkan diri-diri kita.
Lebih siap lagi. Entah untuk perpisahan (lagi) kah?, perceraiannya mereka lagi, atau amanah jiwa-jiwa baru untuk disentuh dan dijaga.


Kita mungkin merasa sakit yang kesekian kalinya. Meremukkan sanubari. Meraung dalam sepi. Terhempas dari segala mimpi-mimpi. Atau, dijodohkan dengan takdir yang bertolak dari ingin-inginnya kita. Atau bahkan, kau bisa mendahuluiku dalam ajal. Mungkin juga aku yang akan mendahuluimu menghadapNya. Begitulah. Tiada yang tahu siapa yang lebih dulu. Itulah kenapa, kita tak perlu terlalu mendalam dalam hal cinta jika bukan karenaNya. Tak perlu. Sederhana saja. Agar lebih berdaya jika terpisah. Agar lebih rela karena merasa tak punya kenangan.
Begitu. Membiasakan diri kita sebagai "musafir" itu penting. Singgah, bukan untuk berlama-lama dan memiliki. Belajarlah. Bersiaplah.


Sabtu, 07 November 2015

Karena Kita adalah Sang Da'i




Setiap muslim adalah aktivis dakwah, kesehariannya sudah seharusnya tak lepas dari aktivitas mengajak ataupun menyeru. Karena ia adalah da'i sebelum jadi apapun.


Ingatkah kita kepada sang Rasul sebelum mengemban risalah kenabian, ia adalah sosok pemikir berat akan kondisi ummat di sekitarnya? Memang, Mekkah saat itu dilingkupi kejahiliaan yang maha. Dan tak terperi bathin sang Rasul ikut bersedih terhadap kondisi Mekkah saat itu. Maka, menyendirilah beliau. Berpikir. Merenung. Bilangan tahun dilalui, untuk memikirkan kondisi ummat yang menjadi-jadi.


Tibalah amanah wahyu Illahi menyentak tafakkurnya beliau. Berat, sampai-sampai tulangnya gemetar karena takut. Tiadalah ia tahu, bahwa amanah akan segera disematkan dipundaknya. Ia pulang, dipeluk kebingungan, dicekam ketakutan. Ia menyeret langkah meninggalkan tempat penyendirian, disambut sang istri,

"Tidak, bergembiralah. Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan membuat engkau kecewa. Engkau adalah seorang yang suka menyambung silaturahim, membantu yang lemah, menolong yang sengsara, menghormati tamu, dan membela yang berdiri di atas kebenaran".


Ya, Muhammad menemui takdirnya sebagai Rasul. Ia bingung dan tak mengerti mulanya. Tak tahu harus berbuat apa. Hingga Allah menyerukan,
"Wahai orang yang berselimut, bangunlah. Lalu berilah peringatan..." (Al-Mudatsir:1-2)


Sungguh, merupakan ungkapan agung yang menakutkan, membangkitkan beliau dari zona nyaman kehangatan rumah nan tenang untuk terjun dalam samudera luas di tengah-tengah realitas kehidupan manusia yang penuh goncangan dan terpaan badai. Berat. Dakwah beliau berat.


Berjuang sendiri, kemudian berjamaah sembunyi-sembunyi, lalu berjaya dalam terang-terangan sebagaimana jayanya penolakan dan penindasan kepadanya dan pengikutnya kala itu. Namun beliau tsabat (teguh). Hingga kita mewarisi nikmat Islam saat ini.


Lalu bagaimana dengan kita hari ini?
Hanya sebagai penerus saja terkadang merasa sok menderita.
Hanya sebagai sesorang yang dimintai mempersembahkan satu "bata" untuk bangunan dakwah saja masih enggan.
Sok sibuk. Terkadang berdalih zhalim bila menerima amanah. Berkilah tak paham akan dakwah. Berargumen ngasal tak memiliki kawan juang.


Bukankah dakwah ini masih selalu memberikan kita ruang untuk tumbuh berkembang dan belajar bila tak paham?
Bukankah, akan menjadi zhalim hanya ketika kadar jiddiyah kita mengemban amanah minimalis? Allah tahu ukuran mampu atau tidaknya kita. Allah tahu kapasitas dan kapabiltas kita. Allah lebih dulu tahu dari kita yang sok tahu.


Bukankah, Allah masih Maha Baik atas titipanNya; memberikan kita Khadijah yang berkata, "jangan takut, amanah tak pernah salah pundak. Hei percayalah Allah selalu membersamaimu."

Atau Khadijah yang selalu solutif menawarkan bantuan, "jika kau kepayahan, jangan sungkan berbagi beban denganku, insyaa Allah amanah ini, amal jama'i ini akan ringan."

Cool bukan?


Maka, karena kita adalah da'i sebelum jadi apapun,
".... Bangunlah, lalu berilah peringatan...". (Al-Mudatsir: 2)


Berdakwalah, terimalah amanah itu, persiapkan diri-diri kita. Agar beban sebagai da'i teriringi dengan kemanisan iman. Ditopang tsabat bersama spiritualitas yang menyala.


::Terinsiprasi dari D'Salim Tarbawi; "Ketika Rasulullah menerima Amanah"::

*Jazakillah Ikvinia, sudah menyunting tulisan ini dengan telaten. Minta Surga ya sama Allah hehe.

Rabu, 19 Agustus 2015

Begini rasanya:D

Di daun yang ikut mengalir lembut
Terbawa Sungai ke Ujung mata
Dan aku mulai takut terbawa Cinta
menghirup rindu yang sesakkan dada



#LettoSaid

Rabu, 29 Juli 2015

KKN

Haaaaai haiiiiiii, selamat menempuh hidup baru:D
BERBAHAGIALAAHH BERBAHAGIALAAAH DENGAN SEBAHAGIA-BAHAGIANYA
menjadi kalangan minoritas, sabraa. sabar ya. ini loooh DAKWAH !

Minggu, 07 Juni 2015

Di tahun cahayamu,


Mungkin dulu pernah kau minta hal ini; dibersamai dan duduk bersama orang-orang Shalih.

Mungkin, kau pernah merayu Rabbmu untuk diberikan kelezatan dalam beramal-amal shalih

Atau mungkin lagi kau pernah membisiki hatimu pada sang Ilahi agar dikuatkan dalam barisan ini..

Satu persatu,
Rabbmupun telah penuhi.
Bersyukurlah, agar ditambahkan nikmat itu

Benarlah, Ia tak pernah kecewakanmu, apalagi menyalahi janji.
Tak pernah. Kaupun sadari itu

Tahukah kau, Allah selalu mencintaimu dengan caraNya.
Membatin saja Ia selalu mendengarmu.

Bersyukurlah, yang dengannya Rabbmu menyukaimu.

Bertumbuh kembanglah dengan ridhaNya.
Tak perlu sedih-sedih.
Ini tahun cahaya bagimu.
Semoga keberkahan, keistimewaan,
SayangNya, cintaNya, dan pertolonganNya selalu tercurah buatmu.

Berbahagialah dan bermanfaatlah untuk semesta..

Be fastabiqul khairot, be UNICK:)


Saturday, Juni 06 th 2015.

Tahun ketiga



Tahun pertama.

Melangkahkan kaki dengan berat.
Berat sekali. Memasrahkan diri pada takdir. Merasa tak sepadan.
Bertolak dari segala harapan.
Tak ada pilihan. That's a pity u know. Melepas mimpi itu pedih sekali.
Pupus dan merasa terhempas.
Jauuh. Jauh sekali hingga Ia berbicara lembut merasuk ke jantung.
Plak! Mungkin sakit bila ditampar:

"Tidaklah pantas laki-laki mukmin dan perempuan mukmin apabila Allah dan Rasulullah sudah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain mereka atas urusan mereka". (Al-ahzab:36)

Betapa sebagai makhluk tak punya kuasa. Jika punya, keterbatasan adalah sebuah keniscayaan. Tersadar.



Tahun ke dua.

Berjalan, sesekali berlari. Tersungkur, jatuh.
Bangun, bangkit.
Sakit sedikit. Hingga sedikit-sedikit sakit. Membukit.
Hingga semua memanis.
Tsiqoh, mempercayai yang terbaik.
Masih saja sama.
Berperan sebagai hamba, yakarena memang hamba=D
Hingga ujian digandakanNya lagi:
Kullu nafsin dzaaiqotul maut.
Final. Fixed.
Yang dijaga demi dakwah, yang didambah tersembahkan untuk dakwah kini terserak. Miris.
Jiwa meraung, batin tersayat.

Tahun ketiga.

Harus memulai dari awal.
Menyadari dan menyadarkan.
Mengubah haluan.
Menegarkan diri,
Menyandarkan harapan pada penggenggam hari.
Memupuk tunas-tunas baru dalam iman.
Merayu hati-hati yang tumbuh dalam luka.
Bersama, membersamai.
Ah, jarak pula yang membatasinya.

Memberi izin diri menikmati lelah.
Harus nikmat!
Sampai jiwa-jiwa titipan itu terbekali jejak sang Nabi.
Sulit memang.
Membentang samudra raya,
Doa-doa semakin menggebunya.
Akhir ikhtiar,
Hingga dibatas ini,
Terbayar dengan surya di ufuk Serambi Mekah; Mereka terbingkai dengan Tarbiyah. Subhanallah.

Jiwa-jiwa itu kembali beriman dengan segenggam tabah.
Selesai?
Belum.
Ada tuntutan baru dengan memburu strategi untuk dicintai; jadi GURU.
Bukan ilmuan atau saintis. Haha

Syaratnya harus segera dilunasi:
--:: Skripsi!

Rabu, 27 Mei 2015

Ahahahahaa:::


Yesterday, di Kelas temen deketku mengadu (curhat) padaku. Biasalah urusan hati, emang aku banget dah tong sampahnya dia. Haha. Trus nyangkut-nyangkut deh kita ngomongin sesuatu. “Kayak kisahnya Azzam dan Anna ya…blablabla…”kata temanku itu. Kalau kataku, “lebih mirip kisahnya Fahri dan Nurul “AAC”. Hooo, terserahlah apa kata lu dan apa kata gw. Owh ya. Setelahnya, aku jadi ingat sesuatu. Nyadar gak, kisah cinta ala Kang Habiburrahman Elshirazy tu mesti deh, ada beberapa karakter kisah yang menggemaskan. Dua diantaranya yang kuperhatikan selalu ada dalam kisah cinta ala Kang Abik adalah:
1.     Bahwa laki-laki sholih itu, kisahnya selalu dipinang/dilamar. Fahri AAC, dipinang sama Omnya Aisya. Azzam KCB di’minta’ oleh ayahnya Anna. Ealah, ternyata Bang Samsul DMC juga dilamar papanya Vivi. Coba pikir, kenapa kira-kira alur kisah cinta Kang Abik sering begitu? Hmmm, semacam mengindikasikan mindset beliau bahwa ikhwan sholih itu aset, harus segera diambil tuh rezeki. Ngarang banged gw! Sotoy.
2.     Mesti wes…selalu ada cerita ketlisipan alias kelewatan alias keduluan. Nurul, kelewatan untuk menyampaikan perasaannya pada Fahri, ealah, ternyata sudah dipinang si Fahri-nya. Si Azzam, ealah, keduluan Furqon ternyata, teman dekatnya sendiri malah. Parah! Haha. Si Zizi (bukan gw pastinya, haha) yang naksir Samsul (Dalam Mihrab Cinta) keduluan keluarganya Vivi pula… hufffft! Kata temenku, di Bumi Cinta begitu juga ceritanya, aku sih belum baca bukan pencinta novel soale, hehehe. Oalah Pak, Pak…kenapa musti begitu kisah cintamu…! Tapi ternyata cerita-cerita macam itu benar-benar terjadi dalam kisah nyata lhow. Bahkan ada yang lebih dramatis dibanding kisah-kisah yang sudah ditulis Kang Abik.Hoooo? Masa siii? Iya, tunggu deh aku setorin kisahku ntar ke Kang Abik buat dibikin novel, ntar judulnya: “Just Like a Saintis Negarawan (Emang Muslim Negarawan!) :Ketika Takdir Cinta (read: revisi) Begitu Ruwetnya” *ganyambung? Biarin!* hehehehehe.
Sudahlah, segera tinggalkan postingan gaje inih, persiapkan diri sesiap mungkin dan pantaskan diri sepantas mungkin ::mrggg::  karena apa, karena Ramadhan sudekat!. *alaaaah kaya ada yang baca ajahhaha*

Sabtu, 16 Mei 2015

Dariku,

Hei, berasa tidak?
Jelang dua kali pekan berganti silih.
Rindu ini makin semenggebunya.
Salahmu, tak terlalu peduli dengan diamku.
Harusnya kau tau, sepekan adalah janji untuk temu.
Egois ya??
Harusnya tidak ya:p
Kau kan tahu, ini temu untuk bermutu, bersepakat dan berlomba untuk taat.

Kau tau dik, kau dan mereka adalah istimewa, hingga aku sebegininya memendam.

Memang tak biasa mengumbar cinta
Pun tak suka mengobral basa-basi.
Terlalu gengsi bilang 'kangen dan sayang'. Haha. Dasar!
Tidak sedang marah sih,
Hanya sedikit memendam kecewa. Haha.

Sudahlah, ini ada hadiah buatmu:

Dituturkan dalam hening, dilafazkan dengan sendu,
Wajahmu beradu
Melintas batas di garis tipis Keimanan yang menyala,

Ya Raaabb..,

"Lapangkanlah dadanya dengan limpahan 
Iman dan keindahan tawakkal kepadaMu,
Hidupkanlah ia dengan pengenalan padaMu,
Da wafatkanlah ia dalam keadaan syahiid di JalanMu..".


.....

Rabu, 13 Mei 2015

Ayat penguat hati !


Kenapa menjadi pemimpin orang yang bertakwa itu penting ya, sehingga harus dimintakan dalam sebuah doa untuk pasangan dan keturunan kita…?

“Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama” (yaa Allah, karuniakanlah kepada pasangan-pasangan kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa)


Sembari merenung aku ingat masalah-masalah di dakwah kampus. Iya ya, repot memang kalau punya jundi rewel, susah diatur, susah taat, berbuat menyimpang atau bahkan melanggar larangan Allah.
Repot! Sungguh merepotkan qiyadah dan menghambat progresivitas dakwah. Nah, bener lah kalau begitu, salah satu kenikmatan yang diberikan Allah kepada seorang qiyadah/pemimpin adalah memiliki jundi-jundi muttaqiin, orang-orang yang bertakwa/taat. Tentu saja taat pada Allah dan Rosulullah menjadi modal pertama. Orang yang bertakwa itu, insyaa Allah akan lurus. Lurus hatinya, pikirannya, lisannya, dan perbuatannya. Jikapun dalam khilafnya ia menyimpang, insya Allah akan mudah pula diluruskan. Insyaa Allah.


Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami“. (Thaahaa: 25-35)


*efekbutuhkawanJalanyangBener.

Rabu, 29 April 2015

Protes

Kaderisasi. Jika dipertanyakan kenapa takdir membuatku berada di sana, entahlah akupun tidak tahu barang sepersenpun. Secara kualifikasi dalam mengkader, tentulah aku tak punya.

Jika peran Kaderisasi adalah sebagai jantung sebuah organisasi. Maka bisa  kupastikan bahwa aku tidaklah tepat untuk berada di sana. Tapi lagi-lagi, di atas yang berpengetahuan masih ada yang berpengetahuan. Artinya sekalipun aku mengetahui kualifikasi, kapasitas dan kapabilitasku yang sungguh jauh dari sosoknya sang kader, ada yang lebih tahu diriku melebihi dari tahunya aku akan diriku sendiri. Aku pasrah. Mencoba bergerak sesuai dengan koridor yang semestinya.

Jika tsiqoh bagian dari mahar ke Surga, maka itulah yang sedang kuikhtiarkan. 
Jangan ditanya bagaimana aku harus bertahan, atau apa bahagianya menjadi sosok yang mengepalai sebuah departemen bernama KADERISASI. Karena jelas, tabiat dakwah pastilah selalu beriringan. Disapa kecewa pernah. Diajak berdialog dengan terluka juga sering atau bertengkar dengan dinamika juga tak jarang. Bahkan berdamai dengan sabaran juga berkali-kali.

Apakah ini sebuah keluhan? Mungkin iya. Atau kalaupun dianggap sebagai hal yang wajar juga terserah
Yang pasti senja ini, takdir memutuskan & mengajakku bermain-main dengan ekspresi emosi di jalan pulangku.
Semakin kuhitung dan pilih-pilih siapakah yang layak mendengar luapan “sampah” yang menyesak di dadaku, ternyata aku tak punya. Ahya, aku hanya punya Allah. Maka diiringi sesenggukan dengan airmata berlinang-linang mengadulah aku padaNya.

Wahai Rabb yang menguasai setiap jiwa.
Disaat aku kian mengerti tabiat dakwah ini,
Disaat aku mengerti kenapa aku ditakdirkan dibarisan ini
Disaat aku paham akan fungsiku dalam amanah ini,
Duhai Rabbku, akupun semakin menyadari bahwa aku terlalu cengeng.
Kau hadapkan aku dengan staff-staff yang banyak, namun jumlah banyak tidaklah membuat amanah ini tertunaikan sebagaimana mestinya. 
Aku silau akan jumlah yang banyak ya Rabb.
Kau hadirkan dihari-hariku orang-orang hebat, lalu kebersamaan kami dinamakan “Berukhuwah” tapi ternyata dinamakan ukhuwah hanyalah akibat dari iman. 
Dan iman  hanyalah tersebab sebuah “kepahaman”.

Aku tak bisa menuntut lebih saat kerja-kerja dakwah ini memberatkan pundak, ternyata konsep keberjamaahan hanya terkadang bersimpul sebagai konsep semata.
Kutanyai diriku apakah ia mengerti adanya Alqiyadha dan Aljundiyah?
Dadaku kian menyesak meminta haknya sebagai jundi. 
Hah??! Tidakkah diriku terlalu egois jika demikian?
Lalu kutanyai diriku lagi:

Apa yang kau tangiskan? dan apa yang kau sedihkan?
Apakah kau sedang berdakwah tanpa keikhlasan?
Apakah dakwahmu itu dilandasi dengan jiwa yang lapang karena ujian,
Tidak menyempit karena problematika dakwah
Kenapa menuntut lebih kalau yang kau beri tidak sepadan?
Kenapa tidak memaafkan saudarimu yang melukaimu?
Apakah kau terlalu cemen menjadi sosok pemaaf? 

Ah tidak, siapa bilang. Aku senang jika menjadi sosok pemaaf. 
Tapi yang sedang membuat airmata bercucuran adalah jika mengingat sesosok wajah yang kutemui sore tadi. Masam ekspresinya. Ketus nada bicaranya. Sinis kritikannya. 
Apa yang salah? Kuingat-ingat lagi apakah mutabaahku jelek hari ini? Tidak ternyata. 
Tilawah sudah, Qiyamullail sudah, infaq sudah dll juga sudah. 
Whats wrong? Imannya siapakah yang sedang camping? 
Kenapa moment ini terulang?
Entahlah, betapa meluaskan pemakluman itu kadang-kadang tidak gampang
terlebih kepada orang yang diharap sudah paham. 
Tapi ternyata dikatakan paham hanya ada pada peng-aplikasi-an dan setelah berilmu tentunya..

::Dalam Syuro, 29 April 2015::

Sabtu, 25 April 2015

Ganti !

Seketika yang tak mudah kembali ke sedia kala

Sebegitu tercabik menoreh mendalam tak terperih,
Memupus asa yang mulai menyala.

Merunduk, yang tak mungkin taat dalam takluk teorinya si Hamba, tapi harus taat.
Oh. Adakah cara bagaimana harusnya tak bersekarat.

Seketika, semua roboh di depan mata.

Seketika, durasi hidup seakan berhenti berdenyut dan mencabik-cabik, meneriak tak berdaya. Huahhhhhhiks.
Oh, My eS-Ka-er-i-P-eS-i :"(