Rabu, 09 Desember 2015

NgeSave


Katamu; “Nanti, tolong ingatkan aku saat khilafku mencederai Islam”.
Kutangkap permohonanmu yang penuh  ingin. Tak kujawab, namun kusambut dengan ekspresi ala aku.

Di sini, kita mulai menyusun lembaran baru.
Putih. Dalam bingkai ukhuwah fillah seperti penamaan darimu.
Bersih, seperti merk air mineral yang kau bagi dengan itsar dari pegunungan taaruf; perjalanannya berkelok namun teduh.

Segar, seperti mengucurnya ke ‘pekaan’mu di setiap jiwa-jiwa yang kau sentuh dengan bahasa tulus.
Kita mulai menerjemah untaian fase perjalanan dengan izinNya yang kan kita lalui.
Mungkin sulit, mungkin gampang. Mungkin kan penuh suka, dan mungkin juga kan penuh luka karena duka.

Lukanya  bisa menyegera hadir seperti berpalingnya pencinta iman ke arah si Musailamah al-kadzab meski dibawah kuasanya sang Ash Shidiiq nan santun.
Sulitnya mungkin tak sesulit mewarnai penghuni Thaif yang congkak meski dengan kelembutan sang Nabi

Gampangnya mungkin tak segampang menyuarakan Islam dari ‘persembunyian menuju keterkenalan’ lewat lisan lantangnya sang Al Faruq. Tidak gampang.

Mungkin sukanya kan lebih banyak; dari nafas muroqobatullahmu yang kian mengakar hingga halawatul di imanmu yang kian menghujam. Bahagia bukan?

Atau sesekali memang kan teruji lewat derita yang memedih; rasa remuk dibelulangmu, teriris hingga cabik  di qalbumu, atau sesenggukan hingga tetes dari tangismu.

Dari sejarah, kita berkaca. Bahwa tertakdir jalan ini penuh uji.
Kelak, bersabarlah ya. Seperti pintaNya; Kuatkan kesabaranmu.
Hanya perlu eratkan iman kepadaNya ,lebih erat lagi.

Bahkan lebih erat dari simpul tali yang mengikat kaki-kaki kita di sepenggal pagi kemarin.
Lebih taat, setaat  arus sungai yang menderai memuarai tsiqoh.

Selalu menyuburkan rasa getar dan takut kepadaNya, seperti takutnya BATU-BATU yang berkeping kala tertetes dengan pesona seruan takwa.

Terus bertahan, seperti bertahannya sang GULITA yang pekat  membersamai tahajjut  hamba Rabbnya

Dalam dakwah, tak perlu seperti SERANGGA SUNGAI; tsabat hanya karena medan dakwah bertabur suka dan roboh bila masa duka menghinggapi. Naudzubillah.

Reminder !
Semoga tetap istiqomah, seistiqomahnya PADI hingga cahaya islam menjaya.
Tetap sabar, sesabar BUMI menerima luapan emosi yang menghujaninya
Tak perlu semaunya KILAT; mencahayai namun menakutkan.
Tak perlu seperti GURUH, gaduh yang menjadikan musuh.


Jadi,
Saat kau pinta diingatkan, hindari acuh ya.
Doakan mereka supaya tegar -yang karenaNya- akan seperti ALARMmu; kau tolak kala ia menepati janjinya setelah kau setel.
Lihatlah ia tetap tabligh dan amanah meski kau kembali pulas dengan keberpalinganmu.  Hehe. 


Sore 06 Des 15.
*Sukabumi dalam hujan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar