Katamu; “Nanti, tolong ingatkan aku saat khilafku
mencederai Islam”.
Kutangkap permohonanmu yang penuh ingin. Tak kujawab, namun kusambut dengan
ekspresi ala aku.
Di sini, kita mulai menyusun lembaran baru.
Putih. Dalam bingkai ukhuwah fillah seperti penamaan
darimu.
Bersih, seperti merk air mineral yang kau bagi
dengan itsar dari pegunungan taaruf;
perjalanannya berkelok namun teduh.
Segar, seperti mengucurnya ke ‘pekaan’mu di setiap
jiwa-jiwa yang kau sentuh dengan bahasa tulus.
Kita mulai menerjemah untaian fase perjalanan dengan
izinNya yang kan kita lalui.
Mungkin sulit, mungkin gampang. Mungkin kan penuh
suka, dan mungkin juga kan penuh luka karena duka.
Lukanya bisa
menyegera hadir seperti berpalingnya pencinta iman ke arah si Musailamah al-kadzab
meski dibawah kuasanya sang Ash Shidiiq
nan santun.
Sulitnya mungkin tak sesulit mewarnai penghuni Thaif
yang congkak meski dengan kelembutan sang Nabi
Gampangnya mungkin tak segampang menyuarakan Islam
dari ‘persembunyian menuju keterkenalan’ lewat lisan lantangnya sang Al Faruq. Tidak gampang.
Mungkin sukanya kan lebih banyak; dari nafas muroqobatullahmu
yang kian mengakar hingga halawatul di imanmu yang kian
menghujam. Bahagia bukan?
Atau sesekali memang kan teruji lewat derita yang
memedih; rasa remuk dibelulangmu, teriris hingga cabik di qalbumu, atau sesenggukan hingga tetes
dari tangismu.
Dari sejarah, kita berkaca. Bahwa tertakdir jalan
ini penuh uji.
Kelak, bersabarlah ya. Seperti pintaNya; Kuatkan
kesabaranmu.
Hanya perlu eratkan iman kepadaNya ,lebih erat lagi.
Bahkan lebih erat dari simpul tali yang mengikat
kaki-kaki kita di sepenggal pagi kemarin.
Lebih taat, setaat
arus sungai yang menderai memuarai tsiqoh.
Selalu menyuburkan rasa getar dan takut kepadaNya, seperti
takutnya BATU-BATU yang berkeping kala tertetes dengan pesona seruan takwa.
Terus bertahan, seperti bertahannya sang GULITA yang
pekat membersamai tahajjut hamba Rabbnya
Dalam dakwah, tak perlu seperti SERANGGA SUNGAI;
tsabat hanya karena medan dakwah bertabur suka dan roboh bila masa duka
menghinggapi. Naudzubillah.
Reminder !
Semoga tetap istiqomah, seistiqomahnya PADI hingga
cahaya islam menjaya.
Tetap sabar, sesabar BUMI menerima luapan emosi yang
menghujaninya
Tak perlu semaunya KILAT; mencahayai namun menakutkan.
Tak perlu seperti GURUH, gaduh yang menjadikan musuh.
Jadi,
Saat kau pinta diingatkan, hindari acuh ya.
Doakan mereka supaya tegar -yang karenaNya- akan
seperti ALARMmu; kau tolak kala ia menepati janjinya setelah kau setel.
Lihatlah ia tetap tabligh dan amanah meski kau
kembali pulas dengan keberpalinganmu. Hehe.
Sore 06 Des 15.
*Sukabumi dalam hujan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar