"Seseorang yang deskripsi hidupnya seperti Puzzle. SeMerah Hitam dan Biru. Sesegar Semangka. Sebanyak Amoeba. Seeksklusif Embun, Serusuh Hujan; Bisasajakan?!".
Selasa, 15 Desember 2015
Sejarah Kita
Dulu, saat merindukanmu kami hanya perlu mengingat bahwa kau punya janji untuk kembali; Pulang ke hati kami.
Bila rindu kian menjadi, kami hanya berprasangka kau memang tak harus kembali.
Karena dunia tidak pernah seindah 'tempat' yang sedang kau tempati.
Begitulah naluri dan nalar kecil kami dulunya menjalani perpisahan.
Tak berontak. Tak iri. Tak menangis karena jauh darimu yang berbilang tahun tak kunjung hadir
Tapi tetap saja, kami selalu menunggumu.
Kapanpun kau mau untuk kembali, seperti yang sudah-sudah dan pergi lagi, mencari nafkah membentang samudera, menahkodai pelayaran untuk ummat.
Kami tahu sebenarnya.
Dan kami mendengar pesan takdir yang digariskan untukmu; Tsunami membawa jiwa dan jasadmu bersamanya.
Hanya itu
Dan kami meneruskan hidup 9 tahun tanpamu.
Kami tak marah pada Tuhan.
Karena wanita paruh bayah itu selalu mengajarkan kami ma'iyatullah di setiap deru nafas kami.
Dialah wanita tulus pendamping hidupmu, yang selalu tergaja hanya untuk bermunajat pada Rabbnya, menegarkkan imannya, terisak-isak semoga kami dalam doa untuk kami, anak-anakmu ini menjadi sosok-sosok shalihin-shalihat.
Kami dengar keluhnya di malam-malam bersama rakaatnya.
Tak jarang diam-diam kami menafakuri tiap untaian pengaduannya.
Diam-diam, kami membatin ikrar untuk menjadi penyejuk mata baginya dan bagimu, dunia hingga akhirat. Perlahan, kami terobsesi.
Lalu kami temui takdir saat tarbiyah mendewasakan jiwa-jiwa kami.
Mungkin lewat jerih payahmu mewarisi tauhidullah yang menggema di hati-hati kami.
Berkesan, hingga kami sadari bahwa segalanya memang tak boleh diduakan dari tatapanNya.
Pun dengan perpisahan kami mengerti tak boleh terlalu merintih karena tak rela.
Harus ikhlas. Harus sabar.
Meluaskan sabar seluas sabana.Menyempitkan ruang protes-protes jiwa.
Tapi ternyata, Allah masih sayang. Kita dipertemukan kembali.
Ada harmoni yang menjadikan mata batin berair atas nada-nadanya.
Mengalun-ngalun hingga menyayat-nyata; perih.
Wanita paling setia dan sholiha itu kau lepas dalam diam.
Tahukah kau, ia hanya memoles ekspresi takdirnya dengan menambah rakaat-rakatnya..
Ia bukanlah wanita yang menuntutmu karena tak rela dicerai dan dimadu.
Kami semakin mengaguminya.
Ibu kami, wanita yang pernah jadi istrimu.
Kami, tak mengerti pengkhianatan. Kami hanya mengerti -qodarullah-
Kami hanya mengerti dan mencoba taat.
Namun tetap saja. kami mencintaimu meski terluka.
Kami menerimamu, meski terkecewakan.
Hingga di sini, di titik ini,
Cinta padamu memuncak dan mengharu-biru semata-mata karenaNya.
Mengenang apa-apa yang pernah kau beri.
Mengingati cinta yang pernah terwarisi di jiwa-jiwa kami.
Kami memahami, saat hati ingin melihat senyummu karena laku kami,
Saat tiap diri-diri kami terluka oleh ragam hikayat dunia, sesekali kami ingin mengadu padamu.
Meluapkan di pangkuanmu.
Merindukan nasehat tulusmu atau sekedar mendengar petuah amarahmu karena kekanak-kanakannya kami.
Tapi, keimanan lagi-lagi bertanya, ada di mana Allah jika begitu??
Bukankah Allah tempat segala sesuatu untuk kembali?.
Kau memang tak mungkin kembali untuk ke dua kalinya. Jadi kali ini kami tak pernah akan menunggumu.
Lewat doa yang tersusun-susun, betapa kami sungguh mengerti kenapa telah jatuh hati padamu.
Betapa kami masih sesekali merasa hadirmu di hari-hari kami.
Dengan kenangan yang rimbun oleh ketulusan.
Setulus tangan kekarmu menyelimuti tubuh kami di antara serbuan nyamuk.
Seharu birunya hati kami kala mengingatimu.
Mengingatmu, hanya itu.
Mengingati kasih sayangmu tak bertepi.
Kala kau berkeliing pasar mencari menu kesukaan kami ketika tak berselera makan.
Meski kami tahu, kau pasti lelah sepulang mencari nafkah.
Dan lebih sering lagi ketika wasiat terakhirmu khusus untukku,
Selalu saja tak mampu terdefinisi dan sulit teraplikasi ;
"Bersabarlah terhadap kehidupan, sayangi adik-adikmu".
Di sini kami mulai merasa, bahwa kamipun ingin sesegeranya menyusulmu. Karena kami juga rindu kepadaNya. Rindu sepetak syurga yang dilingkupi kebahagian hakiki.
Jauh dari omong kosong dunia.
Jauh dari hiruk pikuk yang lena.
Jauh dari tetesan peluh dunia.
Kami pun rindu.
Rindu sekali bertemu denganmu dan Dia yang maha Pengasih..
Ayah, setipis apapun kisah antara kita, namun ia kan tetap jadi kenangan.
KarenaNya, semoga doa kami selalu tercurah kepadamu..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar