Masih di hari yang sama.
Saat kita kembali terjaga dalam lelap. Menyeka dengan tangan-tangan kita sendiri tiap tetesan air mata dari kantung pelupuk kornea. Tak berdaya, tentu saja ada.
Atau seringkali sombong tak ingin mencari-cari pundak untuk menenangkan gejolak jiwa. Bukan. Karena kita selalu tahu, Allah selalu harus didahului bercurah keluh dalam mengadu.
Nyaman, tenang.
Begitulah obsesi kita seringkali.
Bukan sok dewasa, beginilah nyatanya. Kita terlalu terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. Allah, ma'anaa.
Saat November akan segera berlalu, bulan yang sama akan menghampiri. Entah, entah cerita apalagi yang telah kering di lauh mahfuzhNya untuk kita.
Entah peran apalagi yang kan kita lakoni.
Ini tahun yang tak asing bagi kita. Aromanya, semerbaknya, wanginya, sengatnya, bahkan gugurnya.
Jatuh, tertolak, ditinggalkan, dipisahkan: semua berujung pada penyadaran. Bahwa kita sedang berjalan di jalan TARBIYAH.
Setiap tikungannya selalu ada TARBIYAH di dalamnya.
Setiap dinamikanya, ada pendewasaan yang berkeping serupa Amoeba; membelah antara terima dan tak terima. Ikhlaslah.
Siapkan diri-diri kita.
Lebih siap lagi. Entah untuk perpisahan (lagi) kah?, perceraiannya mereka lagi, atau amanah jiwa-jiwa baru untuk disentuh dan dijaga.
Kita mungkin merasa sakit yang kesekian kalinya. Meremukkan sanubari. Meraung dalam sepi. Terhempas dari segala mimpi-mimpi. Atau, dijodohkan dengan takdir yang bertolak dari ingin-inginnya kita. Atau bahkan, kau bisa mendahuluiku dalam ajal. Mungkin juga aku yang akan mendahuluimu menghadapNya. Begitulah. Tiada yang tahu siapa yang lebih dulu. Itulah kenapa, kita tak perlu terlalu mendalam dalam hal cinta jika bukan karenaNya. Tak perlu. Sederhana saja. Agar lebih berdaya jika terpisah. Agar lebih rela karena merasa tak punya kenangan.
Begitu. Membiasakan diri kita sebagai "musafir" itu penting. Singgah, bukan untuk berlama-lama dan memiliki. Belajarlah. Bersiaplah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar