Sabtu, 07 November 2015

Karena Kita adalah Sang Da'i




Setiap muslim adalah aktivis dakwah, kesehariannya sudah seharusnya tak lepas dari aktivitas mengajak ataupun menyeru. Karena ia adalah da'i sebelum jadi apapun.


Ingatkah kita kepada sang Rasul sebelum mengemban risalah kenabian, ia adalah sosok pemikir berat akan kondisi ummat di sekitarnya? Memang, Mekkah saat itu dilingkupi kejahiliaan yang maha. Dan tak terperi bathin sang Rasul ikut bersedih terhadap kondisi Mekkah saat itu. Maka, menyendirilah beliau. Berpikir. Merenung. Bilangan tahun dilalui, untuk memikirkan kondisi ummat yang menjadi-jadi.


Tibalah amanah wahyu Illahi menyentak tafakkurnya beliau. Berat, sampai-sampai tulangnya gemetar karena takut. Tiadalah ia tahu, bahwa amanah akan segera disematkan dipundaknya. Ia pulang, dipeluk kebingungan, dicekam ketakutan. Ia menyeret langkah meninggalkan tempat penyendirian, disambut sang istri,

"Tidak, bergembiralah. Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan membuat engkau kecewa. Engkau adalah seorang yang suka menyambung silaturahim, membantu yang lemah, menolong yang sengsara, menghormati tamu, dan membela yang berdiri di atas kebenaran".


Ya, Muhammad menemui takdirnya sebagai Rasul. Ia bingung dan tak mengerti mulanya. Tak tahu harus berbuat apa. Hingga Allah menyerukan,
"Wahai orang yang berselimut, bangunlah. Lalu berilah peringatan..." (Al-Mudatsir:1-2)


Sungguh, merupakan ungkapan agung yang menakutkan, membangkitkan beliau dari zona nyaman kehangatan rumah nan tenang untuk terjun dalam samudera luas di tengah-tengah realitas kehidupan manusia yang penuh goncangan dan terpaan badai. Berat. Dakwah beliau berat.


Berjuang sendiri, kemudian berjamaah sembunyi-sembunyi, lalu berjaya dalam terang-terangan sebagaimana jayanya penolakan dan penindasan kepadanya dan pengikutnya kala itu. Namun beliau tsabat (teguh). Hingga kita mewarisi nikmat Islam saat ini.


Lalu bagaimana dengan kita hari ini?
Hanya sebagai penerus saja terkadang merasa sok menderita.
Hanya sebagai sesorang yang dimintai mempersembahkan satu "bata" untuk bangunan dakwah saja masih enggan.
Sok sibuk. Terkadang berdalih zhalim bila menerima amanah. Berkilah tak paham akan dakwah. Berargumen ngasal tak memiliki kawan juang.


Bukankah dakwah ini masih selalu memberikan kita ruang untuk tumbuh berkembang dan belajar bila tak paham?
Bukankah, akan menjadi zhalim hanya ketika kadar jiddiyah kita mengemban amanah minimalis? Allah tahu ukuran mampu atau tidaknya kita. Allah tahu kapasitas dan kapabiltas kita. Allah lebih dulu tahu dari kita yang sok tahu.


Bukankah, Allah masih Maha Baik atas titipanNya; memberikan kita Khadijah yang berkata, "jangan takut, amanah tak pernah salah pundak. Hei percayalah Allah selalu membersamaimu."

Atau Khadijah yang selalu solutif menawarkan bantuan, "jika kau kepayahan, jangan sungkan berbagi beban denganku, insyaa Allah amanah ini, amal jama'i ini akan ringan."

Cool bukan?


Maka, karena kita adalah da'i sebelum jadi apapun,
".... Bangunlah, lalu berilah peringatan...". (Al-Mudatsir: 2)


Berdakwalah, terimalah amanah itu, persiapkan diri-diri kita. Agar beban sebagai da'i teriringi dengan kemanisan iman. Ditopang tsabat bersama spiritualitas yang menyala.


::Terinsiprasi dari D'Salim Tarbawi; "Ketika Rasulullah menerima Amanah"::

*Jazakillah Ikvinia, sudah menyunting tulisan ini dengan telaten. Minta Surga ya sama Allah hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar