Rabu, 29 April 2015

Protes

Kaderisasi. Jika dipertanyakan kenapa takdir membuatku berada di sana, entahlah akupun tidak tahu barang sepersenpun. Secara kualifikasi dalam mengkader, tentulah aku tak punya.

Jika peran Kaderisasi adalah sebagai jantung sebuah organisasi. Maka bisa  kupastikan bahwa aku tidaklah tepat untuk berada di sana. Tapi lagi-lagi, di atas yang berpengetahuan masih ada yang berpengetahuan. Artinya sekalipun aku mengetahui kualifikasi, kapasitas dan kapabilitasku yang sungguh jauh dari sosoknya sang kader, ada yang lebih tahu diriku melebihi dari tahunya aku akan diriku sendiri. Aku pasrah. Mencoba bergerak sesuai dengan koridor yang semestinya.

Jika tsiqoh bagian dari mahar ke Surga, maka itulah yang sedang kuikhtiarkan. 
Jangan ditanya bagaimana aku harus bertahan, atau apa bahagianya menjadi sosok yang mengepalai sebuah departemen bernama KADERISASI. Karena jelas, tabiat dakwah pastilah selalu beriringan. Disapa kecewa pernah. Diajak berdialog dengan terluka juga sering atau bertengkar dengan dinamika juga tak jarang. Bahkan berdamai dengan sabaran juga berkali-kali.

Apakah ini sebuah keluhan? Mungkin iya. Atau kalaupun dianggap sebagai hal yang wajar juga terserah
Yang pasti senja ini, takdir memutuskan & mengajakku bermain-main dengan ekspresi emosi di jalan pulangku.
Semakin kuhitung dan pilih-pilih siapakah yang layak mendengar luapan “sampah” yang menyesak di dadaku, ternyata aku tak punya. Ahya, aku hanya punya Allah. Maka diiringi sesenggukan dengan airmata berlinang-linang mengadulah aku padaNya.

Wahai Rabb yang menguasai setiap jiwa.
Disaat aku kian mengerti tabiat dakwah ini,
Disaat aku mengerti kenapa aku ditakdirkan dibarisan ini
Disaat aku paham akan fungsiku dalam amanah ini,
Duhai Rabbku, akupun semakin menyadari bahwa aku terlalu cengeng.
Kau hadapkan aku dengan staff-staff yang banyak, namun jumlah banyak tidaklah membuat amanah ini tertunaikan sebagaimana mestinya. 
Aku silau akan jumlah yang banyak ya Rabb.
Kau hadirkan dihari-hariku orang-orang hebat, lalu kebersamaan kami dinamakan “Berukhuwah” tapi ternyata dinamakan ukhuwah hanyalah akibat dari iman. 
Dan iman  hanyalah tersebab sebuah “kepahaman”.

Aku tak bisa menuntut lebih saat kerja-kerja dakwah ini memberatkan pundak, ternyata konsep keberjamaahan hanya terkadang bersimpul sebagai konsep semata.
Kutanyai diriku apakah ia mengerti adanya Alqiyadha dan Aljundiyah?
Dadaku kian menyesak meminta haknya sebagai jundi. 
Hah??! Tidakkah diriku terlalu egois jika demikian?
Lalu kutanyai diriku lagi:

Apa yang kau tangiskan? dan apa yang kau sedihkan?
Apakah kau sedang berdakwah tanpa keikhlasan?
Apakah dakwahmu itu dilandasi dengan jiwa yang lapang karena ujian,
Tidak menyempit karena problematika dakwah
Kenapa menuntut lebih kalau yang kau beri tidak sepadan?
Kenapa tidak memaafkan saudarimu yang melukaimu?
Apakah kau terlalu cemen menjadi sosok pemaaf? 

Ah tidak, siapa bilang. Aku senang jika menjadi sosok pemaaf. 
Tapi yang sedang membuat airmata bercucuran adalah jika mengingat sesosok wajah yang kutemui sore tadi. Masam ekspresinya. Ketus nada bicaranya. Sinis kritikannya. 
Apa yang salah? Kuingat-ingat lagi apakah mutabaahku jelek hari ini? Tidak ternyata. 
Tilawah sudah, Qiyamullail sudah, infaq sudah dll juga sudah. 
Whats wrong? Imannya siapakah yang sedang camping? 
Kenapa moment ini terulang?
Entahlah, betapa meluaskan pemakluman itu kadang-kadang tidak gampang
terlebih kepada orang yang diharap sudah paham. 
Tapi ternyata dikatakan paham hanya ada pada peng-aplikasi-an dan setelah berilmu tentunya..

::Dalam Syuro, 29 April 2015::

Tidak ada komentar:

Posting Komentar