Kaderisasi.
Jika dipertanyakan kenapa takdir membuatku berada di sana, entahlah akupun
tidak tahu barang sepersenpun. Secara kualifikasi dalam mengkader, tentulah aku
tak punya.
Jika peran Kaderisasi adalah sebagai jantung
sebuah organisasi. Maka bisa kupastikan bahwa
aku tidaklah tepat untuk berada di sana. Tapi lagi-lagi, di atas yang
berpengetahuan masih ada yang berpengetahuan. Artinya sekalipun aku mengetahui
kualifikasi, kapasitas dan kapabilitasku yang sungguh jauh dari sosoknya sang
kader, ada yang lebih tahu diriku melebihi
dari tahunya aku akan diriku sendiri. Aku pasrah. Mencoba bergerak sesuai
dengan koridor yang semestinya.
Jika
tsiqoh bagian dari mahar ke Surga, maka itulah yang sedang kuikhtiarkan.
Jangan
ditanya bagaimana aku harus bertahan, atau apa bahagianya menjadi sosok yang
mengepalai sebuah departemen bernama KADERISASI. Karena jelas, tabiat dakwah
pastilah selalu beriringan. Disapa kecewa pernah. Diajak berdialog dengan
terluka juga sering atau bertengkar dengan dinamika juga tak jarang. Bahkan berdamai dengan sabaran juga berkali-kali.
Apakah
ini sebuah keluhan? Mungkin iya. Atau kalaupun dianggap sebagai hal yang wajar
juga terserah
Yang
pasti senja ini, takdir memutuskan & mengajakku bermain-main dengan ekspresi
emosi di jalan pulangku.
Semakin
kuhitung dan pilih-pilih siapakah yang layak mendengar luapan “sampah” yang
menyesak di dadaku, ternyata aku tak punya. Ahya, aku hanya punya Allah. Maka
diiringi sesenggukan dengan airmata berlinang-linang mengadulah aku padaNya.
Wahai Rabb yang menguasai setiap
jiwa.
Disaat aku kian mengerti tabiat
dakwah ini,
Disaat aku mengerti kenapa aku
ditakdirkan dibarisan ini
Disaat aku paham akan fungsiku
dalam amanah ini,
Duhai Rabbku, akupun semakin
menyadari bahwa aku terlalu cengeng.
Kau hadapkan aku dengan staff-staff
yang banyak, namun jumlah banyak tidaklah membuat amanah ini
tertunaikan sebagaimana mestinya.
Aku silau akan jumlah yang banyak ya Rabb.
Kau hadirkan dihari-hariku
orang-orang hebat, lalu kebersamaan kami dinamakan “Berukhuwah” tapi ternyata
dinamakan ukhuwah hanyalah akibat dari iman.
Dan iman hanyalah tersebab sebuah “kepahaman”.
Aku
tak bisa menuntut lebih saat kerja-kerja dakwah ini memberatkan pundak, ternyata konsep keberjamaahan hanya terkadang bersimpul sebagai konsep semata.
Kutanyai
diriku apakah ia mengerti adanya Alqiyadha dan Aljundiyah?
Dadaku
kian menyesak meminta haknya sebagai jundi.
Hah??! Tidakkah diriku terlalu
egois jika demikian?
Lalu
kutanyai diriku lagi:
Apa
yang kau tangiskan? dan apa yang kau sedihkan?
Apakah
kau sedang berdakwah tanpa keikhlasan?
Apakah
dakwahmu itu dilandasi dengan jiwa yang lapang karena ujian,
Tidak menyempit karena problematika dakwah
Kenapa
menuntut lebih kalau yang kau beri tidak sepadan?
Kenapa
tidak memaafkan saudarimu yang melukaimu?
Apakah
kau terlalu cemen menjadi sosok pemaaf?
Ah tidak, siapa bilang. Aku senang jika
menjadi sosok pemaaf.
Tapi yang sedang membuat airmata bercucuran adalah jika
mengingat sesosok wajah yang kutemui sore tadi. Masam ekspresinya. Ketus nada
bicaranya. Sinis kritikannya.
Apa yang salah? Kuingat-ingat lagi apakah
mutabaahku jelek hari ini? Tidak ternyata.
Tilawah sudah, Qiyamullail sudah,
infaq sudah dll juga sudah.
Whats wrong? Imannya siapakah yang sedang camping?
Kenapa moment ini terulang?
Entahlah, betapa meluaskan pemakluman itu
kadang-kadang tidak gampang
terlebih kepada orang yang diharap sudah paham.
Tapi ternyata dikatakan paham hanya ada pada peng-aplikasi-an dan setelah berilmu tentunya..
::Dalam
Syuro, 29 April 2015::
Tidak ada komentar:
Posting Komentar