Jumat, 14 April 2017

Scaning..

Manis. Apanya? Awal, tengah, hingga akhir dari skenario sebuah madah. Atas apa? Reaksi binaan terhadap alur dramatisasi yang dibelajarkan. Sukses? Yap. Satu babak. Semua lulus? Belum, semua tertarbiyah lewat dinamika. Ceritanya? Panjang.

Binaanmu investasi dunia akhiratmu. Suka sugesti itu dibanding dengan semboyan: Binaanmu cerminan dirimu. Agaknya terlalu sering kita berkicau hal ihwal risalah dahsyat seorang Murabbi dalam membina yang terkadang berending membinasakan. Nyata hingga maya, dari data bereferensi hingga skenario ber-dramatisasi, di mana-mana kisah perjuangan heroik Murabbi tidak luruh terhasut zaman. Sekarang marilah menyimak sejenak. Membaca perlahan bahwa dalam hal perjuangan, binaanpun ikut ambil peran.

Jika syaikhuna almarhum ust Rahmat Abdullah pernah merindukan binaan yang peka atas lalai dan khilafnya sebagai binaan, maka saya beritahu; Sayapun punya rindu yang sama. Sama seperti Murabbi yang lainnya. Rindu atas binaan yang menangis karena tidak bisa hadir halaqoh. Rindu binaan yang menyesal karena hadir terlambat. Rindu binaan yang adabnya mendahului ilmu. Rindu binaan hadir halaqoh dengan antusias, raut wajah serta menyejarahkan setiap madah lewat catatan. Rindu. Menuntaskan rindu yang ada bukan perkara mudah. Jika rindu terbalas, redalah semua rasa. Jika terhempas, di situ letak manisnya. Loh? Iya. Syaratnya, rindukanlah binaan karena Allah. Rindu tumbuh kembangnya, mekar dan wanginya karena Allah. Jika suatu waktu belum diijabah, yang tersisa hanya sabar. Sabar, anda hanya belum beruntung. Coba bina lagi. Pertama-tama, binalah rasa sendiri. Terakhir, ya pikir mau ngapain lagi. Progress binaanmu adalah hasil dari ikhtiar kreatifitasmu. Bukan daya pikir orang lain. Meneladani kisah orang lain ya perlu.

Terkadang kita perlu pembiaran. Tidak menindaklanjuti sebuah perkara dengan segera. Bukan menunda, bukan menyepelekan, tapi himpunlah semua kekuatan dari sang Maha dengan mengamati, menganalisa, meramu tindakan, serta atur nafas yang mulai terbata-bata. Mungkin menimbulkan prasangka, di situ letak kerjanya. Kerja siapa? Ya Murabbi. Rabu kemarin adalah tuntasnya sebuah misi. Memastikan realisasi sebuah madah tertanam ke hati binaan. Berawal dari hal sepeleh. Pasalnya, beberapa binaan minim menuju lost of ruhul istijabah serta terkesan abai atas panggilan dakwah. Ini penyakit. Menanti dan menanti, inisiatif binaan untuk memperbaiki diri belum terasa. Bahkan, model ukhuwah selintas teori mulai terbaca. Ketsiqohan mulai berubah arah. Buktinya? Masing-masing menunaikan tugas tanpa jadi alarm bagi saudarinya. Heuh. Egois? Tidak juga, toh selamatkan diri terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain. Tapi ko ya, effort nyelamatin saudarinya ga hadir-hadir dari beberapa orang. Mengertikah bahwa hal nyata dalam ukhuwah jama'iyah itu ya ikhtiar mengajak saudarinya menunaikan kewajibannya.


Jadilah actingku kambuh. Sengaja left grup tanpa pamit. Menghitung menit menit yang berlalu. Satu persatu binaan mulai menghubungiku. Menyampaikan seberkas maaf dan untaian penyesalan. Berhari-hari kudiamkan. Sengaja tidak membalas dan membiarkan hingga pesan-pesan itu menumpuk. Ada yang meminta jadwal untuk bertemu, hingga inisiatif mendatangi kosanku. Kali kedua, jelang isya mereka berkunjung setelah kunjungan pertama mereka gagal menemuiku. Membaca ekspresi, menafsir bahasa gerak, menerjemah setiap diksi yang mereka persiapkan, serta menakar makna yang mereka sampaikan adalah yang tertangkap malam itu. Akhir ikhtiar, mereka pulang. Membawa gejolak tanya atas sikapku yang menutupi semua. Sengaja. Menikmati kesan tangis yang mereka tumpahkan. Tangisnya sang binaan. Ah, kalian hanya belum merasakan, bagaimana harus memburu murabbi karena sebuah kekhilafan hingga tidur di depan rumah beliau berjamaah. Tangis itu, bukan hanya airmata. Tapi tangisnya sang binaan yang sesungguhnya. Biarlah malam menyaksikan, bahwa binaan-binaan seperti ini aset masa depan. Muharrikah peradaban. Dan, gantian. Kepulangan mereka sesuatu menyesak di dada. Kenapa? Karena kesan keberjamaahan dalam ukhuwah lagi-lagi belum terasa menyatu. Buktinya, kesalahan dalam lingkup yang dilakukan berjamaah, hanya mengandalkan permohonan maaf yang diwakilkan. Terlepas ahsan atau tidaknya, tetaplah menjadi catatan kecil yang harus disembuhkan. Mengingat mereka adalah generasi yang harus dipersiapkan dengan matang. Sosok-sosok qiyadah di semua lini dakwah.


Pekan berikutnya aku sengaja meminta mereka rehat. Rehat dari rutinitas halaqoh. Kususul dengan pernyataan, barangkali mereka lelah. Pilihan berikutnya, kuserahkan keputusan agar mereka liqo mandiri. Dan ternyata mereka memilih liqo mandiri ketimbang rehat. Wis, ada haru dan senang meskipun tidak membersamai, tapi terlihat jeli dalam memilih. As always, sebelumnya sebagian mereka menyusulku dengan harapan masih liqo bersamaku. Karena malam saat mereka berkunjung, sempat kuutarakan untuk mencarikan Murabbi baru untuk mereka. Tentu kalimat itu seolah menyudutkan kesalahan selaku binaan, tapi bukan itu niatku. Lagian, siapa sih yang tega melepas binaan begitu saja? Menjaring mereka hingga titik ini bukanlah perkara mudah, masing-masing pernah diperjuangkan dengan cerita berbeda. Semua. Tanpa pilih kasih, meskipun mata hati mereka berbeda rasa dalam menanggapi dan merasa. Tak terbalas dengan cinta dari merekapun bukan bencana, itu bukan obsesiku.

Di hari yang sama, aku mengisi binaan yang lainnya. Kusaksikan dari tempat yang tak jauh, mereka liqo mandiri. Sesekali curi-curi pandang, jangan kira tak rindu. Mereka manis. Serius. Haha. Hingga penghujung Maghrib, salah seorang dari mereka menghampiriku dengan sepaket air mata. Air mata penyesalan seorang binaan. Semua ungkapannya tulus. Air mata itu deras disertai sesenggukan. Kesempatanku untuk 'menyusup' ke bilik imannya secara tersirat: bahwa aku rindu sosoknya yang dulu. Secara adab, prioritas, bersikap dan lain sebagainya. Rindu kondisi imannya sebelum mengenal dakwah lebih dalam dan luas. Jadilah kalimatku membuatnya sulit meredakan gejolak tangis itu.

Dan sore ini kutemui mereka dengan alasan pertemuan halaqoh terakhir. Perpisahan. Setelah panjang lebar menyampaikan madah Tarbiyah, pamitlah aku beserta semua kata maaf dalam membersamai di waktu-belakangan ini. Masih acting. Ingin mengeja rasa mereka satu persatu. Sudah sedewasa apa. Ada yang tak urung meneteskan air mata. Ada yang masih bisa tersenyum dan tertawa. Dan hanya ada seorang adik yang menyusul langkah pergiku dengan tangis manjanya. Sengaja tidak mendekapnya. Karena semua skenario ini bukanlah perpisahan. Tapi awal dari pembaharuan. Awal langkah. Awal pemahaman. Awal pemaknaan madah; 'Adamul Inadh dalam dakwah. Madah yang menjadi salah satu penyakit aktivis dakwah hingga kini. Yang siklusnya di kemudian hari menjadi patokan iman dalam bersikap. Menambal yang buruk di masa lalu. Dan tentu, masih aku nahkodanya. Lagian, emang ada Murabbiyah yang mau nerima kamu pas dilepas dariku? *Eh

Dear, shaliha.
I know, sometimes I was annoying and Im sorry. But everything in the past always taste sweet for now. A great lesson we never can go back. Yakan?
*Bigsmile

Sabtu, 01 April 2017

RANDOM

Terkadang kita memang tidak membutuhkan banyak telinga untuk berkeluh kesah selagi hati masih bisa menguatkan dirinya sendiri. Bukan karena kita tak butuh orang lain. Namun seringkali ada masalah yang selesai dengan nalar dan keimanan kita sendiri sebelum ia berhasil diutarakan kepada orang lain. Saya memprasangkai orang-orang seperti ini menjadi Empat macam. Pertama, mereka orang yang tertutup. Hanya bercerita seperlunya, terbuka atas kulit luarannya saja. Dan tentu, memaksanya untuk bercerita bukanlah perkara mudah. Belakangan, orang-orang akhirnya menyerah menghadapi mereka. Karena apa? Mereka sudah terbiasa dengan prinsipnya.

Kedua, orang yang sengaja menutupi beban hidupnya. Sesekali mereka terbuka, namun kebanyakan menyimpan secara dalam masalahnya. Mereka akan memilih orang-orang tertentu untuk dipercayai kemudian berbagi. Standarisasi mereka tentu orang-orang yang kapabel serta bertitel cerdas secara ruhiyah. Bukan sembarang orang. Bagi mereka, salah orang dalam mengutarakan kesah hanya menambah perkara yang ada. Itupun, jika masalahnya melampaui titik rumit yang berefek atas maslahat orang lain, maka berceritalah mereka. Atas nama masalah pribadi, dipastikan mereka lebih suka menikmatinya sendiri. Saat yang lainnya menangis, kita sering menyaksikan mereka tertawa. Mereka punya waktu dan tempat khusus untuk mengekspresikan gemuruh jiwanya. Seikhtiar mungkin orang seperti ini lebih dulu mencari solusi dengan cara dan nalarnya. Karena konon, bagi mereka menceritakan beban ke sembarang orang seperti membuka auratnya sendiri. Menyesal pada akhirnya. Lambat laun, orang semacam ini terdidik tangguh dan enjoy dengan ujian hidupnya. Lebih suka menyederhanakan masalahnya dengan menjadi problem solver bagi orang lain.

Ketiga, adalah orang-orang yang tidak mengerti cara membagi bebannya. Tidak mengerti cara menyampaikan keluh kesahnya. Memaksanya untuk bicara perlu teknik menarik. Sebagai sosok yang peduli, kau harus cari cara agar ia tertolong untuk katarsis. Memintanya untuk meluapkan beban lewat tulisan, barangkali bisa dijadikan solusi. Atau, kau perlu membiarkannya sejenak, mengenali titik kenyamanannya dalam berbicara, dan menyabarinya sepanjang tulus tanpa sisa. Percayalah, dia ingin berbagi, namun kehilangan diksi. Percayalah, dia butuh untuk didengar, kau hanya perlu bersabar dengan ikhtiar. Dia ingin sekali bercerita, sesekali ajaklah kemana saja, rihlah misalnya. *Lah?

Keempat, orang sungkanan. Mereka ingin bercerita, namun memilah-milah kondisi dan situasi lingkungan serta orang tempatnya bercerita. Mereka ingin sekali meluapkan beban jiwanya, namun memilih urung karena sungkan melampaui canggung. Jika tidak jeli dan tak peka, orang-orang semacam ini banyak yang tidak tertolong. Sungkan, mereka seolah bisa menyelesaikan bebannya. Padahal belum tentu, melainkan menambah keruh masalah yang ada. Kau akan temui mereka di lingkup sosial dan amanah, mereka acapkali kehilangan eksistensinya. Memilih menepi, hingga tenggelam dan roboh ditimpa masalahnya sendiri. Saat itu kau baru sadar, kau tak sempat memberinya ruang untuk bersandar.

Pada akhirnya, bersahabatpun kita dengan banyak orang, hati akan memilih pada siapa ia berbagi nasib dan membuka diri. Jiwa akan memilah siapa kawan yang paling nyaman untuk mengobati diri. Ia akan mengikuti arah kompas yang digerakkan Allah setelah mengutamakan Rabbnya dalam bercerita. Di sini letak navigasi iman yang bijak dan dewasa. Karena seringkali, kedekatan antara seorang hamba dengan Rabbnya dapat dilihat dari ikhtiarnya membiasakan kening bersimpuh di sajadah. Sujud ke sujud hingga tengadah ke tengadah. Hingga lembaran lembaran mushaf yang dilahap setiap waktunya terasa. Maka mendekatlah, agar perhatianNya lebih istimewa. Kau bisa maknai ini dalam tingkat perhatian khusus dari Allah lewat madah tarbiyah Ma'iyyatullah. Belum ngena? Liqo yang bener coba :p

Qodarullah, saya adalah tipikal yang mewakili semuanya. Bukan besar kepala. Hanya ingin menjelaskan secuplik ke 'diri'an saya yang sering jadi pusat prasangka. Bukan sedang membela diri karena sering tersudutkan atas ketidaktahuan orang lain karena ke'mengapa'an saya. Bukan pula tidak percaya uluran tangan orang lain, bukan tidak ingin membebani orang lain, bukan sungkan, bukan menakar kebisaan orang lain. Jauh dari itu, saya memang lemah untuk tidak menutup diri. Saya tidak Asertif  dalam berbagi beban. Tidak pula ekspresif atas kelukaan saya sebagai hamba biasa. Bukan introvert. Tapi tertantang atas masalah hidup yang ada lalu menyelesaikannya. Hanya terlalu asik menantang ketangguhan orang lain dalam menyabari saya dan selektif memilihnya sebagai kawan terdekat. Sangat dekat. Emang ada yang nanya? XD

Karena benarlah, setelah kesulitan ada kemudahan. Setiap kedukaan bersanding dengan kebahagiaan. Hanya saja, sebagai manusia, kita terlalu sering menyoroti letak perih dan beban yang ada. Terlalu membesarkan luka yang menganga. Menggaraminya dengan sengaja. Tak jarang, menceritakannya dari telinga ke telinga. Menebarkannya dari tiap mata ke mata lainnya. Jika tak didengar, kita begitu mudah terhempas. Padahal siapa yang salah? Seolah-olah, hanya beban kita yang melampaui berat gunung Tursina dan orang lain tidak. Dan parahnya, kita lupa bagaimana caranya tersenyum lagi membagi tawa. Nilai kita di sisi Allah terletak "dari dan bagaimana" cara kita menyelesaikan masalah yang ada. Hendaknya, sikap ini tertanam setiap ujian hidup yang menimpa.

Cerdas. Saya menyebutnya demikian. Bukan saya telah akrab dengan kecerdasan itu. Hanya saja, ingin meng-ikhtiari potensi yang Allah titipkan menghujam di iman saya. Sehingga tak perlu sibuk mencari sandaran hati dan menuntut saudari-saudari yang biasa membersamai. Meskipun nyatanya, saya sering berharap lebih. Hanya harapan sebagai seorang saudari, terlebih jika sosok saudari itu telah menjadi bagian dari diri saya. Namun ujungnya, ingin berkata tolongpun semua diksi kelu di ujung batin. Berat untuk diungkapkan. Minta tolong jangan kapok menyabari saya misalkan, itu terlalu berat. Kesannya seolah sengaja membuat orang lain terpaksa agar bertahan. Padahal bisa jadi 'ia'nya telah jengah. Jika begitu, tak perlu pamit, pergi saja. Haha

Seorang hamba yang dibekali jatah muamalah terhadap sesama, adalah penting untuk mentarbiyah dzatiyah dirinya sendiri perihal mendengar dan bercerita. Mendengar semaksimalnya, bercerita sebatas perlunya. Adalah lucu jika pada akhirnya dalam dialog kita di forum-forum, berdua-dua, serta bersama-sama; berlomba menjadi pembicara. Ada intonasi yang tak senada, saling sahut dan tak maksimal saling sambut. Mungkin kita pernah mendengar suara Katak di tengah hujan. Dari ujung ke ujung, mereka lomba menyuarakan pesan. Dalam Islam kita tidak dididik demikian. Jika kita terobsesi menjadi pembicara yang baik semua, lalu siapakah yang menjadi pendengar? Tembok? Iya. Lalu kepada siapa makna kata yang kita bicarakan tujuannya? Kepada benda mati? Diciptakan dua telinga salah satu fungsinya adalah agar kita memperbanyak dengar daripada bicara. Hikmahnya? Carilah.

Ini sebenarnya mau nulis apa sih? Ga tau juga. Yg jelas bahagia itu bisa disederhanakan. Ga perlu ribet menjelaskan maunya kita atau mau taunya orang lain. Karena Allah telah menakdirkan di hidup kita seorang saudari yang paling peka tanpa kau bercerita. Tak perlu diminta, paling tahu titik jatuh dan lemahmu di batas apa. Selalu ada dekap hangatnya yang menenangkan. Selalu ada rangkul tulusnya yang menguatkan, dan pula, traktirannya yang menyegarkan. Hahaha.

Dear u. Saat jatuh dan tersakiti seperti ini, selalu saja teringat namamu. Doakan, semoga gengsi dan jaimku segera lenyap, supaya tak perlu membatasi jarak darimu yang terbatasi pulau dan samudera. Hingga tak perlu merayakan sepi sendirian. Hingga segera jujur atas rinduku Atau, haruskah aku kembali ke jaman putih abu-abu itu? Zaman yang membuatku lebih abstrak dalam merindu? Zaman yang hanya ada obsesi seimbang antara duniawi dan ukhrawi, bersamamu. 
Kau tahu, di sini sulit mencari penggantimu. Atau memang kornea mataku yang kian sekarat hingga tak jeli kehadiran seseorang yang akhir-akhir ini, mengisi hari-hariku dengan ke-reaktif-annya sebagai saudari? Seseorang yang mulai meluluhkan gunung es dalam diriku?

DARI EKSPEDISI KE EKSPEDISI

Benarlah, kalau ingin mengenali saudaramu, hendaklah salah satunya kamu pernah beperjalanan dengannya. Dari perjalanan kita mengenali karakter teman seperjalanan. Ada yang setia memberikan arahan, memperhatikan teman, ada yang suka meninggalkan rombongan, suka ngilang, suka nelat, yang rewel gini gitu, suka ngomel, yang mengeluh kena asap dan macet, atau yang suka bikin atraksi maut di jalanan. Grrh. Penundaan keberangkatan di awal perjalanan saja telah sukses membuatku seyum manyun optimum. Kemarin adalah atraksi motoran paling nekat yang pernah kulakukan. Motoran ber-ekspedisi di wilayah pelosok Medan. Ikhwan-ikhwan gila-gilaan naik motor, kebut-kebutan, menyalip sembarangan, nerabas dan belok-belok ga karuan. Ya Rabb. Ggeregetan. Kadang aku bisa mengimbangi, meski ngos-ngosan juga ngikutin mereka. Tapi lama-lama, lelah juga ngikutin gaya ikhwan. Sampai akhirnya aku ikut menyalip Bus besar dan panjang. Sudah hampir mencapai setengah badan bus aku menyalipnya, si Bus pake acara menyalip kendaraan di depannya pula. Jadilah aku semacam dipepetin ke kanan sama si bus. Mau ngerem ndadak, belakang ada kendaraan. Mau terus nyalip tapi sepertinya aku akan semakin mepet ke kanan atau malah diserempet bus ini. Daripada dijatuhkan, aku menjatuhkan diri ke ruas jalan sebelah kanan. Jadilah aku terlempar dari aspal. Haaaah. Ga kerenn.

Jatuhnya sih emang ga sakit. Sama kaya dijatuhi amanah. Buktinya ga ada lecet sedikitpun di sekujur tubuhku. Termasuk pakaian yang kukenakan. As always, remuknya terpendam. Kepala tepatnya. Jadilah pingsan akhirnya. Darah mimisan kabarnya terus mengalir. Ditindaklanjuti via CT-scan. Daaan, seketika terjaga sepasca pernyataan dokter; harus ditangani dengan bedah. Tentu karena aku punya riwayat sakit di kepalaku. Semacam ada sugesti seruan; bangun. Bersihkan pakaianmu. Berilah peringatan. Sehatlah. (Hah?) Akan panjang perkaranya bila harus berujung klimaks di sini. Sementara ini misi ekspedisi amniyah, tanpa boleh diberitahu dan diketahui siapapun serta untuk apa belum selesai. Kan ga lucu, saat keluarga atau siapapun tau ternyata aku sedang mendekam di sepetak rumah sakit. Gosipnya sih 2 jam perjalanan motoran ke TKP yang dituju, karena itulah aku mau mencoba ikut motoran. Alasan khususnya, ya aku memang lebih hoby motoran daripada kendaraan lainnya. Naik motor itu something special buatku. Apalagi kalau di situasi batin berceloteh. Logika protes dan iman sendu-sedan, jadilah ngebut berpacu. Nyatanya hampir 7 jam kami beperjalanan. Itu sih teorinya 2 jam. Mungkin benar bisa 2 jam dengan catatan: ditempuh dengan kecepatan ekstra, plus tidak dengan rombongan rewel. Eyel-eyelan, bertengkar kecil, saling sebal, yah biasalah. Begitulah kalau amal jama’i, selalu butuh pengorbanan untuk saling bersabar pada saudara.

Di perjalanan, kutemui banyak hikmah manis bergaram (Bener bergaram ko, bukan beragam:p). Pemandangan sepanjang perjalanan menyuarakan kesan. Memasuki sebuah desa, batin dan lisan tawazzun mengumandangkan kuasa Allah. Desa ini, sebut saja taman surga kata warganya. Aneka tumbuhan hingga ternak tumbuh sehat ceria. Buaaah, dan buah dan buah dan buah dan buah dan buah dan buaaaaaaaah serta sayuran aneka rasa ada di sana. Pun petani, berjejer pesta panen di seluruh sudut dan pekarangan desa. Ah, bagaimana dengan surga yaa Rabb, jika pemandangan begini saja sudah membuatku meleleh karena cinta bertemu buah Dikau kelaknya(?)


Sambil mengendarai motor, otakku sibuk berpikir. Di sini ratusan rumah yang kulewati tidak ditemui adanya warga muslim-muslimah. Sedih, ada. Miris, ya begitulah; bergaram. Jarak lima rumah hingga sepuluh rumah selalu dibatasi gereja. Tiap rumah memiliki design tersendiri. Yang menjadikan sama, ada kepala Banteng di tiap atap rumahnya. Hatiku memang bersahabat dengan alamnya. Tapi mati rasa dengan Gereja dan aura keimanan penghuninya. Penghujung jalan, barulah ketemu satu warung yang pemiliknya pake kerudung. Rasanya batin menitik haru. Mungkin begitulah kisah para Mujahidin Palestina dan negara lainnya yang ketika ditawan di dalam penjara, tanpa penerangan cahaya, bertahun-tahun disiksa lalu suatu ketika dari balik terali besi ada yang menyapa salam. Sujud syukurlah sang tawanan sembari sesenggukan berteriak Asma Allah. Tekagetlah seluruh isi penjara. Kenapa, bertahun-tahun sudah tak pernah mendengar kalimat thoyyibah tadi, rindu pastinya. Jika dibandingkan dengan rasa yang kupunya atas apa yang kulihat, barangkali masih jauh. Tapi bersyukurlah yang kubatin akhirnya. Turut membayangkan bagaimana saudari muslimahku ini hidup di tengah mayoritas berbeda dengan akidahnya.

Seketika ingat, dulu di Jakarta pernah nyasar di sebuah desa bersama seorang adik manis. Iya manis. Karena terlalu sering menawarkan diri jadi kawan jalan ke manapun. Saat penat atau saat tak berminat sekalipun. Selalu punya cara agar ukhuwah yang terbatas jadi terbalas. Rasa yang berjarak kian dekat. Manis, karena aku lebih suka dipaksa daripada memaksakan diri. Niatnya mencari Masjid numpang sholat, dan akhirnya nyasar di lorong-lorong, di gang-gang, di jalan-jalan, muter sana sini hingga Anjing milik warga menggonggongi. Di sana, hidup bertetangga puluhan rumah dengan keyakinan yang sama; Nashrani dan seperangkat keimanannya. Kusam dan gersang. Jadilah aku tak betah nyasar di sana (emang nyasar bikin betah? Iya. Kalo temen nyasarnya seru diajak dakwah susah). Kembali ke topik. Di rumah sakit, menginaplah aku beberapa waktu. Semacam panggilan iman dalam bingkai ukhuwah, ketika terjaga kutemui pemandangan gratis. Menurutku, di jagat ini tak ada yang paling romantis saat kau sembunyikan kelu dan batinmu menyimpan gemuruh, ternyata ada sosok-sosok yang tahu dan tidak berpaling meski kau acuh. Lebih tahu perih dan hal dirimu, dan bahkan mengorbankan dirinya untukmu, untuk mencintaimu.

Ada ya ternyata orang-orang seperti ini. Aku menyebut mereka; orang orang tulus meski terhempas. Orang-orang berjiwa besar meski terpapas. Aku, selalu suka cara mereka mencintai. Kehadiran mereka selalu jadi cermin datar yang terlalu besar untuk aku berkaca, memantulkan bayanganku yang kecil tenggelam debu dosa. Memuaskan keimanan jika dibersamai mereka. Asertif dalam keitsaran. Jika ke sesama aktivis saja mereka setangguh ini, bagaimana mereka bertahan ditolak oleh objek dakwah di luar sana? Pasti lebih tangguh, maybe kan? Maka jadilah ruang rawatku disambangi silih berganti mujahid-mujahidah dakwah segala penjuru Indonesia. Jadilah silaturahim. Jadilah menyambung sayang. Jadilah seketika segar dan sehat. Jadilah akhirnya aku harus pulang dadakan ke Aceh hanya karena berkas pengobatanku harus dilampirkan dengan riwayat penyakit lainnya. Membawa catatan kronologis kecelakaan 3 tahun yang lalu. Ah, masalalu memang kadang tidak bisa dihapus sekalian. Selalu ada sebab untuk muncul ke permukaan.

Tak ada pilihan. Misi tidak bisa ditunaikan dengan maksimal, sesuai arahan aku harus pulang. Surprise. Tiba di pekarangan rumah, sepi. Tak ada suara penghuni rumah. Tak ada wajah keluarga. Yang ada hanya wajah ibu paman-paman yang biasa bekerja di rumah. Mereka masih hangat seperti dulu. Dan tentu terkaget dengan wajah pucatku. Kutangkap kekhawatiran mereka, jadilah aku dipapah menuju kamar rehatku. Wangi. Wangi masa lalu maksudku. Rebah sejenak di kasur empuk yang seketika mengingatkanku; Rosulullah terbiasa tidur tanpa alas hingga tubuhnya membekas. Jadilah aku urung merebahkan diri. Lirik angka jam di tanganku, waktuku hanya hari ini, sorenya harus balik lagi ke Medan. Ah, tak sempatkah kau menatap wajah keluarga satu-persatu?

Menyusuri rak buku, di sana ratusan buku tertata rapi. Yang kusuka dari perpustakaan koleksiku adalah lemari yang dikhususkan untuk diary tempo dulu. Jangan harap disini tertulis lembaran melankolis atau kisah roman picisan masa puberitas remajaku. Isinya ratusan lembaran mutaba'ah yaumiyah dan segala quotes tiap evaluasinya. Btw, entah kenapa siapapun yang dekat denganku, pasti kebanyakan hadiah yang diberikan adalah diary. Inilah tumpukannya. Tumpukan Mutaba'ah. Ahaha. Karena boring is bored, berkehendaklah aku menyusuri rumah tetangga. Tadi niat naik motor saja, saat bertemu Paman Abay (yang biasa kerja bantu2 di rumah) di parkiran mobil. "Bunda ga bawa mobil, Paman?" "Engga Zi, Bunda pake mobil dinas." "Ooh." "Ziah mau dianterin?" Oh engga Paman, Ziah mau jalan kaki aja. Motor Ziah diparkir di mana ya?" "Wah, masih dipinjem sama Bang Ridwan, kata Bunda biar pahalanya ngalir ke yang punya.. "Mau dianterin ke sana?" "Jzk paman, mau jalan aja, sambil sapa2 fans. Haha." "Bisa aja, sakit2 masih rakus becanda. Beneran ga mau dianterin?" Gausah Paman, Paman lanjut kerja aja, Ziah mau ke rumah nenek deh. Hehe."

"Bunda kapan pulang?" Dua hari lagi insyaa Allah. Kenapa sayang?" "Gpp, bunda jaga kesehatan ya." Pengen bilang kangen, masih aja jaim. Hahaha. Beliau sibuk. Sibuk kampanye. Handphone kututup saat disapa seorang ibu, bergamis syar'i lengkap dengan kaos kaki. Ummahat bangetlah pokonya mah. Aku lupa siapa, tapi beliau kenal lekat wajahku. "Ini Ziah kan? Maasyaa Allah. Kapan pulang? Amanah di Jkt udah selesai?". Sedikit linglung, secara ditabrak pertanyaan berderet dengan orang yang rasanya baru kenal kemudian pakai nanya amanah segala. Setelah menjawab seperlunya barulah kuketahui ternyata ummahat ini adalah sosok yang dipilih Allah dalam berhidayah. Kita punya kisah menarik tentang Hindun yang jadi musuh dakwah awalnya. Perempuan penebar makar dan perancang skenario terbunuhnya Hamzah ra, singa Allah. Kisah beliau mirip. Next time insyaa Allah kalau sempat kita bercerita. Sekarang beliau adalah Hawariyyun dakwah. Maasyaa Allah pokonya. Inspiring. Murabbi pemegang halaqoh dari Senin hingga Ahad. Kalah deh sama kita, saya yang masih ada jatah hari tanpa membina.

Anyway, it’s exciting! Alhamdulillah, perjalanan pulangpun tak kalah seru dan penuh hikmah. Ketemu obek dakwah, memuallafkan seorang saudari, hingga tragedi sakaratul maut di udara (pesawat). Selalu ada pesan dakwah di sana. Aceh-Medan-Semarang-Makassar-Jogja-Ramawangun, kupesankan menjadi saksi. _Bahwa ada sesosok Ziah yang pernah melintasi pelosoknya hanya demi membekali diri ingin menjadi Da'iyah dan Jundi Muttaqin. (Gaya!)

Maret, 2017

SESEORANG

"Susah ya Zi, berbuat baik sama kamu."Jawabnya tenang. Entah, kalimat itu sedikit menggesek fokusku. Fokus untuk tidak peduli terhadap tawaran kebaikan orang lain, termasuk dia, yang sore ini memintaku agar bersedia tanpa paksa dihantar olehnya menuju pulang. Lampu lalu lintas cukup tertib dengan jedanya. Semua pengendara transportasi sibuk dengan urusannya; menunggu. Serupa denganku, masih terpaku dengan kalimatnya. Hening tanpa kata di atas sepeda motor miliknya. Diapun sama. Sesekali sayup bersuara, namun tak kutimpali karena suaranya terhempas angin sore yang menyapa."Apa iya, aku menyulitkan orang lain atas kebaikan mereka? Apa iya, menolak tawaran kebaikan orang lain pertanda aku payah dalam hal memudahkan? Jika begitu, ada ratusan orang yang telah kusulitkan sepanjang usia. Ada ribuan kebaikan yang telah kuhempas tanpa merasa berdosa. Atau mungkin pula telah banyak hati yang terluka. Allah, benarkah? Bagaimana dengan alasan yang jadi penguat prinsipku, apakah jadi hujjah atas semuanya?"

Akhowat ini, belum lama aku mengenalnya. Jika Nabi pernah menganjurkan untuk mengenal kawan adalah dengan bermalam atau tidur bersama, bermuamalah, dan bahkan bepergian bersama, maka pasti banyak agenda kebaikan yang telah mewakili semuanya. Di mana letak kesannya? Bukankah saudariku yang lainnyapun pernah di semua lini atas pesan Nabi tadi dalam hal membersamai? Barangkali, setiap agenda yang telah ditunaikan terlewat oleh anjuran Nabi, terlupa. Hanya terlalu sibuk dengan program dakwah dengan terseret menunaikannya. Kesan ukhuwah memang ada, tapi tidak sekadar pesan Nabi, seniat taaruf hingga memahami. Harusnya begitulah Ukhuwah, menyengaja dekat sesuai standarisasi. Belakangan ini, mendapatinya dengan segudang Metamorfosa. Lekat di ingatan atas tumbuh kembangnya. Bagaimana Allah menulis takdir untuknya berhimpun dalam jamaah. Dari terbata-bata hingga berlari paksa. Belajar dan belajar. Merendah dan merendah. Kubahasakan tawadhu namanya. Kupanggil asy-syaja'ah untuk mendoakannya. Lembaran-lembaran ukhuwah mulai berisi babak; melampaui tangga-tangga terendah dalam ukhuwah. Rotasi amanah mulai menghempas keegoisan diri masing-masing jiwa. Kusebut itsar namanya. Dalam lelah dan suka, ia mulai akrab dengan sifat itu. Terkhusus untukku, atau jangan-jangan hanya aku yang merasa? Bukankah ia juga punya saudari lainnya? Terhadap siapapun ia berlaku kata, tak mengurangi penamaanku padanya; itsar dalam bermuamalah.

Dari jauh, sering kuamati ia. Dari dekat, mencoba memahaminya sebagai 'siapa'. Wajah lelah pejuang hidup, begitu kesanku untuknya. Bukan untuk hidupnya saja, tapi untuk kelurganya juga. Menjadi tulang punggung keluarga. Menguras pikiran, membanting perasaan atas anggapan orang-orang; kerja yang tak berkah. Terkadang pulang hingga larut. Membelah diri bersama dakwah. Ah, kerjanya pun bagiku adalah dakwah. Membagi waktu dengan syuro dan amanah. Di tiap lini itu, selalu kudapati ia ada. Dan hebatnya, selalu ada sapa ramah, senyum canda yang ikut serta bertemu saudara saudarinya. Dari dia. Suatu hari ia mengadu. Dan aku senang terlibat di titik ini. Berkesah risau, merasa sedikit kacau. Menurutku, hal wajar. Karena justru jika ia tak bercerita, tentu menjadi beban baru buatku. Kutangkap pesan iman di sana. Kekhawatiran seorang hamba yang beriman. Takut manakala kerja-kerjanya hanya menjadikan Allah tak meliriknya dalam hal berkah. Sedikit penguatan ala aku. Hanya berharap, agar bertahan jika memang orientasinya adalah dakwah. Meski sebenarnya hatiku berat memintanya demikian. Miris dengan kondisi medan juang di sana. Bukan apa-apa, hanya saja terlalu tak ringan resikonya. Mengingat alasannya dalam bertahan, tentu kalimat kelu yang ingin kusampaikan tertahan di ujung batin. Hanya doa dan doa terus yang bisa kuhaturkan. Sembari menyusulnya dengan referensi petuah Nabi; Bertahan demi kebermanfaatan.

Bagaimana tidak, wilayah kerjanya bukan sembarang area aman. Ada perjuangan di sana. Atas apa? Tentu sebagai da'iyah. Untuk siapa? Untuk orang-orang yang belum mengenal Allah. Mengondisikan, atau bahkan menyelamatkan dirinya sendiripun barangkali mengulum air mata. Siapa yang tahu? Aku tak tahu. Sering kubayangkan bagaimana menjadi dia. Pulang dengan badan remuk redam, perasaan tak karuan, mungkin tak jarang ia menangis di perjalanan sendirian. Mungkin membayangkan wajah ibu dan ayahnya, keluarganya, adalah hiburan baginya untuk melanjutkan perjalanan. Siapa tahu kan? Setidaknya kehadirannya dalam jamaah ini mengurai pesan; dia seseorang yang pantas untuk diteladani. Perjuangannya yang kumaksud. Seberat apapun beban hidup, bukan alasan untuk mengalah pada takdir. Berbicara amanah, tentu karena adab dan sambutannya yang menjadikanku percaya memilihnya sebagai 'apa, menjadi siapa, berperan apa'.

Di kemudian hari, sekarang semua tersingkap. Dia selalu mastatho'tum untuk meng-ikhtiari panggilan dakwah. Selalu ada celah untuk menyambut seruan dakwah. Bukan seperti aktivis kebanyakan. Beralasan kerja, berudzur sakit, bertingkah atau hal lainnya yang padahal masih bisa bertadhiyah. Apapun. Belum pernah kutemui ia egois, membuat batin miris teriris. Mengecewakan sih pernah. Haha. Hanya kekecewaan manusia biasa yang terlalu berharap pada saudarinya. Ini letak salahku. Tapi itu tak lama. Tak menunggu musim berganti hingga maaf untuknya menyerta. Maafku menyegera, insyaa Allah. Apapun, dia istimewa karena imannya. Karena caranya bertahan. Caranya menyebar cintapun, salut!

***
Dear, u
Happy millad. Barokallah fii umrik.
Stay strong for your self.









Minggu, 05 Maret 2017

Getar tanpa Nada,

@Ziahbisa
Dengan mengesakanMu dalam berharap.
Karena kami makin tahu,
Berharap pada manusia, pada sosok maupun kelompok, atau menggantungkan diri pada mereka adalah luka bagi iman kami. Juga kekecewaan yang bertubi.

Dengan mengesakanMu sebagai pemilih da'wah ini, 

Lalu kami terus melangkah tanpa henti mentarbiyah Ummat ini.
Memperbanyak yang putih dalam jamaah ini
Agar Engkau bersihkan yang hitam dengannya
Atau setidaknya, menjadikan yang hitam itu bagai najis yang tak menodai dua qullah.


Karuniakanlah kami kepekaan agar saudara kami tak perlu berteriak saat menyampaikan cinta dalam nasehatnya
Tapi cukup dengan isyarat mata, raut muka, atau bisik kecil yang menggetarkan.. 

-Salim A. Fillah-

Atau, berikanlah kami keluasan sabar dalam membersamai saudari kami. 
Agar tak perlu sempit saat nasehat terlihat pahit..

Left-------

Ada baiknya memang, menarik diri sejenak. Mengamati sesaat. Ber-jeda sementara. Terkesan membutakan mata, menulikan telinga, mematikan rasa. Selagi di hatimu ada peka, tetap saja kau sendiri yang tersiksa; mendiamkan terlalu lama.

Tapi untuk apa turut serta menyepikan ruh jiwa, hingga berkilah tak terima atas takdir Allah? Untuk apa? Kau bilang, sementara kau butuh waktu meredam gejolak jiwa. Sampai kapan? Sampai Allah berbicara merasuk ke jantung? Atau sampai Allah menggantikanmu dengan yang lebih tangguh? Mau?

Seseringnya kau menularkan apa-apa yang kau kira benar sesuai sunnatullah, selagi di hatimu masih peka, tetap saja kau tersiksa membiarkan terlalu lama. Iya, itu maksudnya. Pengamat yang berguguran di jalan dakwah.

Kau yang mencoba bijak, tetap tegak disaat yang lain terserak. Adakah yang mau menemanimu, di sini? Jika tak ada, tak mengapa. Ada Allah di sisi, percayalah. Tetap melangkah, sambil menunggu yang terlelap, jaga semangat.

Ada pesan buatmu, barangkali berguna.
Kau tahu,
Jika hatimu samudera, sekilo garam tidak akan terasa. Iya. Coba saja. Jangan terlalu banyak merasa hingga kau sendiri yang terluka. Jika pada akhirnya kau tetap terluka, obatilah segera. Jangan biarkan menganga terlalu lama. Karena akan ada bakteri dan virus yang sedia menambah parah. Virus lesu dakwah misalnya. Bakteri perusak jamaah juga ada.

Menurutmu, sekaliber Umar ra kala ditinggal Rosulullah untuk selamanya, tidakkah ia menangis dan tidakkah ia mempercayai takdir yang tertera? Iya, begitu. Umarpun menangis meratap. Umarpun histeris hingga sembab. Hingga sosok yang paling teduh dan terpaut hatinya oleh qodarullah berkata, Muhammad itu hanya seorang Rosul. Maka apakah jika ia mati atau terbunuh kau akan berpaling/murtad? Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sungguh dia telah wafat. Barangsiapa menyembah Allah. Maka Allah kekal. Umarpun terkulai lesuh. Ya, yang dicinta telah pergi. Yang biasa membersamai dipanggil Illahi. Perih. Hingga langit Mekkah mendung sejagat raya membumi.


Maka sebenarnya, kau yang masih tak terima atas kehilangan dan dipisahkan, tidakkah mengerti tentang batas kebersamaan? Tentang perjuangan yang berbeda ladang? Semacam takdir yang tak boleh ditolak. Apalagi tak sanggup kembali bangkit dan bergerak. Padahal kau tau, perjalanan masih panjang. Ada kawan yang butuh dipapah. Ada sahabat yang ingin dibersamai. Tengoklah sejenak ke sebelah, barangkali kawanmu sekarat menunggu uluran. Jelilah, ada kawan di sebelahmu. Sadarlah. Jangan mengingkari takdirNya.

Lapangkanlah hatimu. Lapang selapang Sabana.
Sekalipun di sana ada gajah, harimau, jerapah. Sabana itu akan tetap terlihat luas.
Tetapi jika hatimu sempit, lebih sempit dari kamar tidur, jangankan gajah, seekor ayampun akan membuatnya sempit.

Luaskanlah hatimu. Luas, seluas Samudera.
Sebanyak apapun sampah masuk dari muara sungai-sungai, ia kan tetap jernih.
Tetapi jika hatimu sempit, sesempit air dalam gelas, jangankan sampah dari sungai, setetes dari tinta saakan membuatnya kotor..

Sejatinya, andai kau mau mendidik diri, takkan ada perih yang terlalu perih. Tak kan ada sakit yang terlampau sakit. Semua sesuai takaran sanggupmu. Allah itu, selalu mencintaimu dengan caraNya, kau saja yang tak terbiasa.

Sejatinya memang, tak terim itu hanya sebatas pengertian pahammu. Kau tak terima karena kau tak mau memahami kenapa diberi. Diberi takdir yang meluapkan emosi.

Percayalah, takdir Allah itu menentramkan.
Ikhlaslah atas perpisahan. Biarkan kawanmu melanjutkan perjalanan, toh kau masih bisa menyapanya di kemudian hari. Kau masih bisa merangkulnya dengan sedikit kasta dewasa. Percayalah, kau belum benar-benar kehilangan. Bukan seperti kehilangannya Umar. Jangan sedih.

Ujian Shiroh

Perjalanan realita aksara kali ini menghantarkanku pada episode memukau atas flash back di beberapa pekan belakangan dalam membina. Sedikit tragis namun berharmoni romantis. 
Tragis, apa yang kuperjuangkan masih nihil hasilnya. Bisa jadi 'amilatunnashibah. Berbuah melelahkan. Romantisnya adalah, belakangan di sepenggal Maghrib berjamaah, sang Imam melantunkan ayat penguat; Alladzi kholaqol mauta wal hayaataa liyabluwakum ayyukum ahsaanu amalaa.

Etah! Hanya sedang diuji. Sejauh apa baik buruknya amalan yang ditekuni. Barangkali salahku di situ. Hingga terisaklah aku pada akhirnya disertai tetesan mimisan yang kuhindari. Bukan perkara terhempasnya atas apa yang ku beri, yang dalam takaran logikaku telah kuikhtiarkan di batas mastatho'tum selama ini. Berburu waktu, tak peduli sakit tak peduli terik, atas nama membina semua penderitaan sering hilang tersapu angin yang membersamai, tapi mencoba melirik dengan mata hati; "duh Zi. Inikah ikhtiarmu selama ini? Hello, jangan-jangan ada yang terlewati. Kau belum merekam pesan siap dari hati binaanmu, bahwa sudah waktunya berilmu mendewasa. Belajar dan belajar. Menebarkannya menyegera, mengharumkannya mengangkasa. Barangkali, obsesimu yang terlalu tinggi. Sampai tak sadar, kau sendiri yang terjatuh ke dasar bumi. Atau, navigasi adab menuntut ilmu belum terwarisi. Sehingga, tak berkesanlah apa yang kau beri selama ini."

Pekan Maret pertama di hari ini. Rentetan tugas berderet rapi. Rutinitas subuh tadi dimulai dengan bergegas kembali ke Jakarta. Berkemas dari tuntutan amanah, hingga tibalah di Bandara Soehatta tepat pukul 12. lewat dua. Tak perlu dibayangkan betapa tersengalnya. Karena niat di hati jangan ada jedah yang terlalu lama, maka dimudahkan pula segala perkaranya. Yaps. Bis Damri arah Rawamangun tersedia tanpa menunggu lama, berangkatlah aku hingga ke tujuan; Kosan Pemuda. 

Perjalanan terik, bapak sopir yang ramah itu paling mahir mengendalikan mesin kemudi. Hingga terbawalah aku ke alam lain bernama intuisi. Menikmati laju turunnya merdu suara Shia dengan Chandelier dalam raungannya yang diputar keras oleh bapak sopir. Then, kau dan aku tegak berdiri melihat hutan yang menjadi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin. Ah, bapak sopir, kita berbeda dalam semua, kecuali dengan cinta. (backsound puisi Soe). Dalam selera musik maksudku. Haha. Okelah, ini tidak penting

Rawamangun mulai semerbak. Siang sebagai latar perjuangan panjang makhluk Allah segala jenis rupa. Karena malam, terlalu bersekat untuk sekedar berdiskusi, rapat hingga mengkaji bagi para Mahasiswa yang hilir mudik memasuki gerbang kampus Hijau aroma Tarbiyah. Di sinilah aku, tertatih-tatih mengejar seorang saudari.

Melihatnya dari kejauhan membuatku urung menikmati langkah kaki yang sedikit berintonasi. Efek sepatu aneh yang belum sempat beli pengganti. -_- Sempat terbesit, mungkin nanti aku harus merubah kebijakan baru; dihalalkan memakai sandal gunung dan sejenisnya, demi kemaslahatan selera para pendaki? Biar sedikit bergengsi, dan menjauhi list iqob bagi para akhowaty. (Hah?)

Setelah salam dan setor wajah sumringah, merekap sedekah versi Rosulullah dengan tersenyum di depan saudari, kami beriringan ke tempat yang sama; MNI. Banyak diskusi seputar dakwah yang dibagi. Ujung obrolan kami tak jauh dari perkara pembinaan dan regenerasi. Aku dan dia, berdiri di titik yang sama. Dan punya obsesi berapi di Fakultas yang kami cintai. 

MNI masih ramai. Dan terlihat banyak yang baru menunaikan sholat ashar. Ahya, ini awal perkuliahan kan ya?. Banyak wajah yang tak kukenal meski banyak yang mengenalku. Maksudnya menyapaku. Tapi tak apa, secicip ujian bagi alumni tua yang disiram santunan ihtirom oleh para pemuda pemudi dengan sebutan kak dan umi. Haha. Gaje!

Menghampiri binaan yang sudah berformasi. Di hati tersusupi rasa teduh dan.... apa ya?. Sayang barangkali. Melihat mereka, rasa lelah efek perjalanan jauh dan nafas tersengal tak terasa. Terlebih terhadap dua orang adik yang ku hampiri di selasar MNI. Sore ini, ada dua lingkaran yang kuisi. Salah satunya, ya mereka ini. Sambil bagi waktu, kuajak mereka masuk MNI, sedikit nego bahwa aku harus bagi diri. Tak keberatan, hanya kesepakatan manis dari pancaran ketaatan. Meski baru berdua, halaqohpun dibuka. Entah, akhir-akhir ini mereka kerap ingin ku dekati. Lebih dekat dari biasanya. Dan ada sayang yang kalau ditakar, sepertinya bertambah pula.

Sementara lingkaran yang satunya telah dibuka, sambil bolak balik dari sebelah ke sebelah, setor materi hingga terakhir penugasan khusus adalah mengkaji ulang materi. Menuliskannya kembali sesuai yang dipahami. Mulai dari Bi'tsah hingga Pemboikotan zaman Rosulullah. Tertangkap pesan kaget dari masing-masing wajah. Dihiasi dengan tawa dan sedikit nego yang manja, tak ada pilihan selain mengikuti seluruh arahan; tidak open book, Googling apalagi. Diskusi tidak boleh, saling taawun juga haram. Haha. Tugas lebih sejam itu akhirnya selesai. Di penghujung waktu yang habispun masih ada yang belum siap mengumpulkan. "Duh dik, kalian seolah sedang mengajarkan, nanti begitulah Zi kalo maut menjemput, tak ada penambahan atau pengurangan waktu. Tidak nego, bahkan tak bisa ralat amal. Kalo waktu habis, ya habis. Jadi beramallah yang benar. Ontime dalam bersegera." 

Ngecek lembaran satu-persatu. Terbaca pesan-pesan unik. Dua lembar yang ku beri ke masing-masing diri, masih ada yang tidak terisi. Ada yang mengakhiri dengan emot dan istighfar, ungkapan cinta, bahkan penyesalan yang memintaku bersabar. Macam-macam. Yang sedikit membuat hati tergesek, jawaban yang ku telusuri masih jauh dari harapan yang seharusnya. Seolah ada Shiroh baru di zamannya Nabi. Misalnya begini, "Pemboikotan itu ya pemberian makan, diperbolehkan makan, pembagian makanan gratis di rumah Khadijah, hingga Rosul menikah dengan banyak wanita dari kaum Quraisy." Ini kan? Ckck

Ada lagi yang menuliskan; "Dakwah sirriyah itu historisnya begini kak, masuk Islamnya Umar bin Khattab, asbabun Nuzul turunnya surat Al Lahab, hingga Dakwah fardiyahnya Rosul terhadap paman-pamannya, termasuk abu Jahal."_ Nah nah, ini ngawur pisan. Tapi aku tersenyum sendiri jadinya. Bagaimana tidak, setiap ujung kalimat, selalu disusul dengan kosa kata interaktif, ada yang masih bertanya; _benar ga ya kak?, CMIIW, kalo ga salah, astaghfirullah, duh parah, dll."

Ada pula yang berkisah, tentang pengangkatan Rosul seperti dongeng sebelum tidur. Tentang masa kecilnya hingga di gua Hira. Masa Rosul jatuh cinta dengan Aisyah hingga menikah. Manis. Tapi jauh dari referensi, dik. Huft-_-!

Lembaran demi lembaran kubaca ulang setibanya di kosan. Dan maasyaa Allahnya memang, apa yang ku sampaikan selama ini belum terlihat dan tertulis di sana dari mayoritas mereka. Di kertas itu. Pahit sih, seperti menelan sekilo pare yang dibeli ke abang-abang Somay. Haha. Tapi mau bagaimana lagi. Setidaknya ada hal yang harus diluaskan, kesabaran namanya. Pemakluman akhirnya. Kalau begini teringat pesan bunda; "Yang manis jangan langsung ditelan. Yang pahit jangan langsung dibuang".

Terkadang kita, ingin orang lain segera tumbuh dengan kadar waktu yang cepat. Padahal bisa jadi, tumbuhnya hanya karena pestisida paksaan semata yang karena tak ingin kita kecewa. Sisi lainnya, ada yang memang menyegerakan tumbuh dan matang mendewasa, tapi barangkali karena faktor karbitan semata. Akhirnya merekalah yang terluka. 

Terkadang kita, terlalu berharap lebih progress orang lain. Dengan dalil yang klasik versi kita, memaksakan kehendak diri atas orang lain. Atau kita sampaikan ketegasan yang menjadikan mereka seolah tersangka dan terdakwah. Bisa jadi memang, niat di hati adalah karena Allah. Tapi mereka yang berjiwa lembut, tidak biasa beradaptasi akhirnya sulit menerima. Maka sadarlah, mungkin rasa cinta yang model begini yang membatasi kapasitas orang lain. Maybe.

Akhirnya merenung-renunglah aku, "apakah Shiroh Rosul serumit ini?" Hingga di akhir kalimat seorang adik manis berpesan; 
"Aku mau belajar lebih kak. Bimbing aku." Ketika buka handpone pun beberapa pesan permohonan maaf terlayangkan. Yang bikin hati sejuk ketika seorang adik menuliskan; "Sepertinya Shiroh ini mengajarkan, bahwa akupun ujian kak, untukmu selaku murabbiku." Tulisnya. "Bukan hanya kamu, dik. Akupun ujian buatmu, jadi memang kita tak hanya sedang belajar Shiroh terdahulu, sekarangpun sedang menyejarahkan Shiroh baru. Bersabarlah".


Malam 1 Maret 2017,