Selasa, 08 November 2016

JIKA TAK TERBALAS, JANGAN TERHEMPAS

Kira-kira begitu. Ekspresi Iman yang always on dan available tak kan pernah menjadikan pemiliknya patah kehilangan arah. Sugestinya, keep calm! Toh, tugasmu hanya mengajak dan menyampaikan. Bukan mengawasi ataupun menghakimi tiap perbuatan. 

Memang, kau sudah mengingatkan dengan cara apa? Sudah mengingatkan bagaimana? Seperti pengaduan Nuh AS kah? Yang berjibaku dengan dakwah siang malam, mengingatkan dalam sembunyi maupun terang-terangan. Mengatur strategi yang menguras otak, materi, dan energi. Ah, paling yang kau kuras hanya hati. Ya kan? Kenapa harus kecewa yang kau pelihara? 

Kisah sore ini menjadi lengkap dengan pengaduan mereka: para binaanku.
Pasalnya, misi yang mereka emban sore ini memang diawali syarat-syarat wajib yang harus dipenuhi. Mulai dari kehadiran ala Da'i berdedikasi hingga spiritual yang terisi. 
Nyatanya, ada saja yang membuat hati membatin kelu: kamu tidak ngebut dan maksimal mendoakan mereka supaya jeli akan pintamu. Kira-kira begitu Zi, salah dan lalaimu

Namun bagaimanapun, tak kurang pula syukurku mendapati wajah-wajah pendakwah itu kian tumbuh menyikapi tugas dakwah yang dititipi. Awalnya, binaan yang selusin ini diberi penugasan secara berpasangan. Tentu, tugas dakwah ini adalah amal nyata bentuk ke-risalah-an mereka sebagai hamba yang beriman; mengajak pada kebajikan, melarang pada kemungkaran.

Masing-masing mendapat bagian yang tak dapat dikira ringan. 
Mulailah mereka bekerja, menyusuri jalan yang penuh wilayah-wilayah berproblema; mengingatkan orang untuk menyembah Tuhannya, menyeru menutup aurat bagi muslimah, menanyakan kendala hijrah, mengumpulkan data hamba Allah yang ingin berhalaqoh, hingga mendatangi sekretariat fakultas untuk menemui hidayah, bahkan menghampiri Ummat Rosulullah yang kian jauh dari Rabbnya. 

Bersama kawan jalan, berharap mereka menjadi Musa dan Harun dalam dakwah, atau meneladani Muhammad Saw dan Abu-Bakar di Gua Tsur saat hijrah. Lebih dari itu, sebuah harapan tersisipkan agar tumbuh mendewasa, mekar berakar walau diterjang kedinamikaan.
Tak merasa patah sendirian. Terbekalilah perjalanan sore ini dengan pemaknaan At-Taubah ayat empat puluh, Muzammil ayat sepuluh, hingga Ali-Imron seratus tiga sembilan. 

Kendala yang diembanpun diutarakan. Istana ekspresi rasa terlukis di tiap wajah. 
Mulai dari detak jantung yang tak karuan, hingga mendramai strategi di setiap pendekatanpun, mereka sampaikan. Dari tiap pengaduan, terliput jelas bahwa mengajak pada kebajikan, menyeru orang-orang untuk mencintai keimanan adalah bukan perkara ringan. Ada kesal yang coba ditaham. Amarah yang dipendam. Emosi yang dididik. Bahkan menyederhanakannya menjadi tawa. Celoteh wajah-wajah itu mengingatkan petuah para pendahulu dakwah: Dari dulu, begitulah dakwah.

Jadi, jika tak terbalas, jangan terhempas.


Sama halnya denganku sore tadi. Sembari menunggu mereka, si adik-adik binaan menuntaskan misi, menunggulah aku ke sebuah gedung sebelah MNI (Mesjid Nuru Irfan). Menghitung menit-menit mereka beroprasi dengan mushaf menggelayut di jemari..

Tanpa sengaja, di sebelahku terdengar dialog yang bikin dada bergemuruh panas. Kucoba menahan emosi saat Al-Maidah dikritisi. Katanya: "Gw setuju sama Ahok, meski gw sendiri islam. heran deh, kenapa sih segitunya kita ngebenci Ahok. kan Alqur'an juga ga bakalan hilang esensinya meski Ahok ga sengaja ngomong begituan. sebagai org yang berpendidikan, harusnya kita malu sama do'i. Masa iya, kita yang islam yang katanya cinta damai, malah rusuh banget sama omongan yang (gw yakin) ahok ga sengaja dan ga niat ngomongnya. kita tuh harusnya jadi contoh, yang damai, ga berontak, dikit2 demo, kalo kata bapak gw kita nih agama yang msih perlu dipertanyain rahmatan lil 'alaminnya di mana sih?

Ucapan itu benar-benar menohok ke ulu hati. Berdesing-desing di telinga. hitungan detik menuju dua menit kusiapkan kata-kata yang sesuai bahasa ala mereka. Kusapa dengan salam, lalu kuhaturkan sapaan. Sampai di sini batinku masih berdialog, ayo Zi, orang seperti mereka jangan diperlakukan dengan pelan. Ah, ini suara apasih?, dasar nafsu yang digiriing setan. Aku beristighfar. 

Kuawali prologku dengan analogi tentang Office boy yang sibuk dengan tugasnya di depan kami (mengepel lantai sembari memunguti sampah-sampah mahasiswa yang berserakan meski tidak banyak) dan security yang duduk anteng di kursinya. Lalu kutanyakan, mba, maaf mau nanya, boleh ya? Itu mas yang ngepel ko ga bawelin orang-orang yang nyampah ya? Trus si bapak security tadi ngusir mas2 yang depan kita, itu kenapa mba? jawabnya, lu ga liat mba, tadi itu mas2nya ngerokok, makanya diusir. Mba angkatan berapa? tanyaku berikutnya. "Kita maba.." jawab mereka serentak.

Aku tersenyum, sambil melanjutkan; "Tadi ga sengaja saya nyimak dialognya mba2.. Hehe. 
Mba2, OB dan Bapak Security tadi mirip dengan bahasannya mba2. Si OB ga bawel, karena dia tau itu bukan pelanggaran berat dan masih dimaklumi. Islam rahmatan 'alamin seperti itu mba, kalau mbanya lupa, ada di situ rahmatan lil 'alaminnya ya. Kasus mas2 yang diusir oleh Bapak security adalah wajah islam yang sedang dilecehkan hari ini. Muslim marah karena hak mereka dirampas dan ada orang lain yang bukan bidang bahkan bukan agamanya sok-sok-an mengkritisi Al-Qura'an. Wajar dan wajib marah kalo gini mba. Sama kaya mas2nya yang ngelanggar aturan, wajib diomelin seperti tadi. Saya Ziah Mba, dari FIP angkatan 2012. Kalo kapan2 mau diskusi, saya bisa lowongin waktu, insya Allah." Kutangkap ekspresi tak suka dari salah seorang di antara mereka yang gigih meluap-luapkan curcoalannya tadi. Sementara yang lainnya menghanturkan terimakasih dan menjawab salam penutup dariku dengan setor senyum kosong.  

Ah, Jika tak terbalas, jangan terhempas. Aku berdiri menemui binaanku yang telah menunaikan misi dengan sekujur tubuh lunglai rasa ngilu. Kembali kuredam dengan pertanyaan terhadap binaanku; "Apa yang membuat kalian ringan langkah dan berani melaksanakan tugas tadi? Salah satu jawaban di antara mereka yang menguatkan diri adalah: Ada di Al-Muzzammil ayat 10, kak. Disusul penguatan berikutnya, Laa Tahzaan kak. Innalllahaa maa'anaa, At-taubah:40 
::Surat ini adalah surat yang wajib mereka hafal sebelum melaksanakan misi tadi::


Allaahu, Tsabbit quluubanaa 'alaa da'watik..

UNJ, Rabu 01 Nov 2016

Begini saja :D

Seakan bisa saja kau menakar rasa cinta
Jika ia hanya perkara rasa, harusnya kau tau kadar relativitasnya
Jika ia perkara logika yang tak nyata, harusnya kau olah menjadi bilangan tak berkoma agar tak pecah-pecah.

Jika masih saja irrasional yang kasat mata, tak mesti pulalah dengan phytagoras kau bangun sisi-sisinya. Atau, sederhanakan saja menjadi Electrolisis dalam sunnatullah: man laa yarham laa yurhaam.

Harusnya kau tak menghilang barang sejenak.
Tak perlu ber-aerodinamika supaya terlihat.
Bila demikian, betapa  Archimedes dalam sebuah ikatan takkan mampu membawanya nyata ke permukaan.

Kau tenggelam bersama kenangan, barangkali tak menjadi apa-apa dan tak punya bayangan
Padahal kau tahu, bahagiamu di liang lahat adalah karena pernah ada yang kau beri dan warisi. 
Lagi-lagi Cinta. Entah itu tuturmu, atau tingkah laku dan budimu.

Bertahan itu hanya perlu menyeimbangkan kadar senyawanya, Karena cinta juga kimia jiwa. 
Yang saling mengikat atau tolak menolak karena ketidaksaman molekulnya.
Gugus chemistrynya penting diperhitungkan. 
Seperti persaksianNya: Bekerjalah kamu maka Allah, Rosul, serta orang2 beriman akan melihat pekerjaanmu".

Cinta artinya sedang menjadi pekerja yang bekerja.
Cinta adalah sifat dari kata kerja atau sebaliknya; Mengerjakan sifat cinta.
Hei, tak perlu memutar otakmu, itu hanya secuplik cinta versiku.

Sekecil apapun, ia tetaplah bilangan partikel-partikel berfomula.
Jadi, manakala takaran cinta dari orang lain terlalu kecil bagimu, itu adalah realita sebuah aksara semesta; hasil yang kau tuai sepadan dengan apa yang kau semai.

Oh, kadang itu bukan menjadi hukum dan aturan baku.
Jadi jangan terlalu percayai itu.
Karena tidak selamanya yang kau semai akan kau tuai.
Tidak selamanya penuai menjadi penyemai.
Atau tidak pula benih selalu dimiliki penyemai dan penuai.
Karena perkara terbalas dan terhempas hanyalah urusanNya yang Maha

Suatu waktu, ada orang lain yang bertengger menikmati hasil peluhmu.
Bahkan tak hanya penikmat, orang lain itupun,
Di masa yang sama diutus sebagai perusak ladang ikhtiarmu.

Jika begitu, biarlah menjadi genetik dari imanmu; segenggam tabah dan ikhlas.
Bahwa di segala kondisi, kau memiliki tradisi tersendiri.
Jika ia luka kau kan bersabar, jika duka kau kan memperbanyak syukur.
Meski bukan kau yang merasai nikmatnya
Sabar adanya seleksi alam yang berlaku demi terfiltrasinya ketulusan niatmu.

Mengerti jualah, bahwa tugas pencinta hanya mewarisi cinta itu dari masa ke masa.
Terus, selama estafeta raganya masih bergulir, tugasnya adalah demikian; meregenesikan cinta.

Itulah cinta. Cinta kalangan awam dariku.
Nikmati saja
Tak perlu menghukum Newton karena gayanya
Haha.

*Dasar curhat, segalanya menginspirasi.

DIPILIH


Keteladanan itu perlu untuk ditiru. Bahwasanya diri kita pun, (andai mau menyadari) berhak untuk menjadi teladan.
Lakukan apa yang mesti kita lakukan. Jadikan habbits yang konsisten untuk ditampilkan.


Terkadang sulit memang.
Terlebih tembok raksasa bernama tidak berpengetahuan tinggi menjulang.

Sejatinya, ketika kita berilmu kemudian paham ilmu yang kita miliki, maka berbahagialah. Karena pemahaman selalu menghantarkan pada pengaplikasian. Amal nyata.

Karena berilmu saja tidak cukup disebut sudah beramal. Pahami ilmumu, kemudian susul dengan amal.

Sederhananya begini. Jika kau paham sholat awal waktu adalah lebih sempurna di mata Allah ketimbang engkau menundanya, maka ikhtiarkan menjadi sempurna dalam pemantauanNya. Tak perlu mati-matian menyelesaikan perkara duniawi yang seolah akan segera selesai bila diutamakan.Tak perlu merasa selalu ada deadline untuk umur yang terbatas.


Itupun jika obsesimu ingin terbaik dalam pandanganNya.
Jika tak ingin, wajar saja selama ini panggilan menemuiNya selalu di akhir-akhiri.
Allahu-Akbar: Allah Maha besar.



Bila dibanding dengan keMaha besaranNya, tetap saja perkara duniawi kita kecil. Terlalu kecil bahkan. Itulah kenapa, Sholat adalah hiburan bagi orang-orang yang rindu akan Tuhannya.
Terminal-terminal atas perjalanan kehidupan yang bikin penat dan terasa panjang.


Kesannya agak rumit memang. Jika sholat awal waktu dihadapkan perkara yang bersinggungan karena tak enak hati.Karena rasa takut. Karena sungkan. Karena malu. Atau karena tak berdaya atas aturan manusia.


Setiap orang adalah budak atas sesuatu. Dan sebaik-baik perangai budak adalah menjadikan Allah saja Tuannya. Majikannya. Rajanya. Meyakini hal ini, maka bebaslah kita dari penjajahan manusia dan segala sesuatunya.


Kasus realnya tak jarang seperti ini: pernah kita lebih mementingkan tugas yang diberikan manusia (entah itu dosen, entah itu siapapun) ketimbang menyelesaikan tugas menemuiNya. Kita sungkan untuk mengatakan: nanti akan saya lanjutkan setelah sholat, insyaa Allah.


Kita juga kelu untuk menyampaikan; sudah waktunya sholat, saya izin sholat dulu ya, atau mari kita sholat dulu. Levelnya sekalian menyeru orang lain. Bukan hanya menyelamatkan diri sendiri.


Mengakulah, kita juga pernah kehilangan strategi dan akal jernih sebagai Da'i.
Terbawa alur tugas-tugas bersama tim keberjamaahaan selaku Da'i. Sama-sama terbuai atas waktu yang sedikit. Maka, sering pula kita lalai. Ini namanya saling ketergantungan. Tidak ter-asah untuk inisiatif jadi pemantik. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mereka yang berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Al-Ashr: 2-3.



Padahal sholat awal waktu adalah tanggung jawab masing-masing pribadi.
Bukan tanggung jawab secara kolektif atas diri yang satu dengan diri lainnya.
Kita tak enak hati jika dihadapkan dalam forum yang terus melaju beriringan tunainya dengan panggilan adzan. Padahal penggiatnya adalah sesama Da'i.


Kita tak berani berkata, ayo saudara saudariku, tidak ada keberkahan atas acara ini manakala panggilan Allah tidak kita segerakan. Untuk menyelamatkan diri dengan strategi bisa sholat awal waktu, masih saja kita pengecut. Tak berani hanya karena takut. Sungkan. Nauzubillah.


Barangkali, inilah yang disebut belum memahami. Belum paham, bahwa ada seruan untuk awal waktu menemuiNya di tiap jedah yang Ia tetapkan. Belum paham, bahwa celakalah orang-orang yang sholat. Yaitu orang-orang yang lalai akan sholatnya. Ini bukan hanya perkara hati lalai ketika sholat, tapi menyia-nyiakan waktu untuk bersegera sholat dengan alasan yang seringkali harusnya masih bisa di-akali.


Begitulah kira-kira tugas orang orang yang ingin ditiru karena obsesinya Mardhatillah. Mengumpulkan poin-poin keberuntungan bernilai Surga. Fastabiqul Khoirot. (sudah berilmu, paham, kemudian melakukan dan mencontohkan).


Menghindari fitnah dari mata yang memandang akan keterlambatan kita sholat awal waktu adalah keharusan. Seminimal tidak ada yang bergumam dan menyatakan : Tuh liat, orang Sholeh aja kaya dia biasa ga masalah sholat di akhir-akhir. Kita boleh dong(?).
Maka jelilah. Pilih yang diutamakan.


*Efek kelu menyaksikan orang-orang sholih yang terlambat sholat ashar sore ini.
06 Nov 2016.

Surga dari SEJUTA ANAK



Sampai di kantin, karena kursi dan meja guru tidak ada yang kosong, jadinya saya nimbrung duduk dengan 4 orang bocah laki-laki. Langsung basa-basi ke mereka seba'da salam dan minta izin untuk nimbrung. Pandangan tertuju ke salah seorang di antara mereka yang tidak makan. Saya tertarik untuk bertanya;

Saya: “Kamu kenapa ga makan?”
Anak 1: “Ngga Bu, saya puasa Kamis.”
Saya: “Oh, good job.”


(Ok, anggep ini sentuhan halus dari Allah: tuh Zi, anak kecil aja inget shoum. Masa kalah sih. Ah Cemen).

Mereka lanjut dialog, saya lanjut nikmatin keduniawiannya saya: makan sate+mendoan. Ga sengaja, finally mau gamau denger bincang hangatnya mereka:

Anak 1: "Gw sih orangnya pengen tau banget. Pengen tau surga itu kaya gimana, neraka itu kaya gimana. Tapi sih Gw gamau masuk neraka. Liat di video abang gw itu gila men, serem Gw. Makanya Gw puasa. Beneran dah.”

(Tetiba, saya feel off sama makanan depan mata. Anak tadi lanjut ngobrol).

Anak 1: "Tapi sih ya, di neraka itu kita ga bakal selamanya juga sampe dosa kita diapus, baru deh masuk surga"


Anak 2: "Nah iya tuh. Gw kasih tau juga ya, kalo nyokap kita masuk neraka, kita anaknya bisa nyelamatin doi ke surga. Tapi kalo kitanya yang masuk neraka, nyokap mah gabisa nyelamatin. Serius Gw. Sumpah"

Anak 3: "Laah apaaan lu. Justru nih ya, di neraka itu kita bakal selamanya di sana cuy.. Eh tapi sih itu kalo lu bukan islam dan durhaka sama bokap nyokap lu..”


Anak 2: "Itu mah iya..


Anak 4: “Gw sih beda mikirnya, cita-cita Gw, ntar kalo punya anak pengennya sejuta anak.


Anak 2,3,4: "Gw juga, banyakin anak pokonya ntar. Biar pas masuk neraka ada anak yang nyelamatin gw..

(Seketika inget sosok Anas bin Malik yang didoakan Nabi Shalallahu 'alayhi wa salam supaya diberi keturunan yang banyak. Benar. Doa Rosul terkabul, di kemudian hari sang Anas memiliki ratusan keturunan)

Saya: Kalian kelas berapa?
Semua anak: "Empaaaat Bu
Saya: "Owh. Abis tuh waktu istirahatnya, masuk sana :D"
Semua anak: Ah elah Ibu!"


----
Mari menyelami hikmah:
Teringat sebuah pertanyaan seorang Murabbiyah, lebih bagus manakah antara 3 hal berikut :
1. Muslim banyak tapi tidak mengerti Islam
2. Muslim sedikit tapi paham Islam
3. Muslim baik dan banyak.
Sontak, semua Mutarobbi memilih poin dua dan tiga.
Sang Murabbiyah tersenyum, lalu bagaimana dengan arahan Rosul:
"Perbanyaklah ummatku, agar aku berbangga dengannya". (HR. Abu Daud & An-Nasai)

Sederhananya, jika kau berjalan seorang diri sebagai orang biasa di tengah sekumpulan orang-orang jahil, dipastikan kau kan diganggu. Akan berbeda jika kau berjalan dengan kawan-kawanmu meski hakikatnya semua kalian bukanlah pendekar, , namun si pengganggu akan enggan untuk mengganggu.

---Apa hubungannya(?). Sebentar, simak dulu.

Sungguh unik keberkahan yang diturunkan Allah kepada wanita-wanita muslimah yang hidup di tengah gempuran perang.


Masih saja Allah percayakan dari rahimnya tercetak anak-anak muslim yang dinantikan peradaban. Palestina misalkan. Sementara, para pembenci Islam masih berjuang mati-matian supaya generasi ini terhenti sebelum menjadi tunas dan bibit. Diadakanlah berbagai program. Diaturlah makar paling keji; terkhusus anak-anak Islam yang terlanjur lahir ke dunia dikotori akhlak dan akidahnya. Semata-mata supaya jauh dari Islam.


Adalagi. Ini siasat paling halus namun menyingkirkan. Dibukalah lembaga-lembaga, dicanangkan peluang bagi anak-anak muslim yang miskin harta dan polos agama. Dididiklah mereka ala bukan agamanya. Direkrut sebanyak-banyaknya semata-mata terjaring dalam satu kesatuan yang tak mengenal agamanya. Murtad!


Ah, itulah siasat paling nyata yang terpampang di depan mata. Subhanallah. Apa daya bagi kita yang ingin menolong tapi tak berpunya. Ingin mencegah tapi tak kuasa. 

Lalu, dengan kondisi begini, bagaimana kita akan membuatnya (Rosulullah) bangga atas banyaknya jumlah kita? Di saat yang sama generasi Islam dipapas dan dihempas sebelum bertunas. Dipatahkan dan ditumbangkan sebelum berkembang.



Sederhananya, mari bercita-cita melahirkan sejuta anak.
Didik anak sendiri, jika punya. Atau anak orang lain, anak tetangga, anak siapa saja. 
Karena ia adalah aset untuk agama yang dibanggakan.
Ia adalah bagian ekspansi dan eksistensi himpunan Muslim yang dirindukan Atau pintasnya, perbanyaklah binaan. Bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, pemerintahan. Maka membinalah, karena membina adalah bagian risalah yang dibanggakannya (Rosulullah)

.
****
Kamis, 27 Okt 2016
Rawamangun.

Menyadari Peran

Bila engkau tak dapat menjadi pohon Pinus di puncak bukit,
Jadilah engkau semak di lembah.
Tak perlu merasa sakit
Paling tidak, jadilah semak kecil paling indah di tepi sungai..
Karena mungkin merasa sulit bagimu menjadi pohon yang permai..

Bila engkau tak dapat menjadi semak,
Jadilah sejumput rumput yang tanak..
Perindahlah sepanjang tepian jalan raya,
Menghiasi jalan setapak dengan ramah,
Menyapa tiap langkah-langkah agar ceria..

Pada akhirnya,
Tidak semua dari kita menjadi Nahkoda..
Ada tugas masing-masing yang harus dilakoni
Ada pekerjaan besar dan ada yang kecil..
Bukan besar atau kecil yang membuat engkau mulia,

Jadilah yang terbaik siapapun engkau adanya
Di washilah dakwah ini kita punya posisi yang berbeda-beda..
Setiap kita memegang amanah dan tanggung jawab yang tidak sama
Masing-masing memiliki peran dan fungsinya sendiri-sendiri..
Maka yang paling baik diantara kitaadalah yang paling baik persembahan amalnya:
Bagi Allah, bagi agama, bagi ummat, dan bagi saudaranya.


Menyadari peran artinya menyadari kapasitas dan fungsi..
Agar tahu diri atas kelemahan dan kelebihan dalam diri.
Saat kau temui dirimu tak sebersinar seperti mereka, tak perlu berkecil hati..

Menyadari peran, artinya sedang membangunkan
Mengingatkan untuk terjaga, atau memaklumi menjadi penjaga.
Jika kau seorang Qiyadhah dalam amanahmu, maka tugasmu tanpa jeda.
Tak ada kata rehat dalam risalahmu.
Tak perlu ramah pada jenuh yang menyapamu.
Tak boleh ada menepi yang kau butuh

Jika kau seorang Jundi, maka tugasmulah membersamai.
Melakukan amal-amal islami tanpa harus ditagih-tagih.
Inisiatif dan ketaatan adalah mahar sebuah perjalanan.
Sebagai penguat dalam kedinamikaan..

Menyadari peran, artinya sedang memetakan kewajiban
Seperti halnya bidang yang kau lakoni;
Jika kau beramanah di sarang Huda. Maka berperanlah selayaknya Huda: Petunjuk bagi setiap jiwa.
Jika kau sendiri saja mudah hilang arah, bagaimana kau menunjukki mereka ke jalan cahaya?
Tetap teguh dan gigihlah dalam taujihmu di lembaran nyata dan Maya.
Agar terbaca pesan dan petunjuk di sana..
Tugasmu pula memupuk-tsaqofah islamiyah..
Lagi-lagi, ini tentang dakwah.

Jika kau jantung dakwah atas ke-Kaderisasi-anmu,
Maka berdetaklah dengan harmonisasi iman.
Tak perlu serabutan, tak perlu merebut tugas kawan.
Tugasmu terus menyuplai daya, menggerakkan yang diam.
Mendampingi yang bingung, menyiasati potensi yang tak terdeteksi.
Terus berdetak tanpa jeda.
Harus ikhlas, karena kerjamu tak selamanya terlihat nyata. Diam-diam kau bekerja.
Menjadi bagian dari dirimu menjadi dai-dai yang tak haus popularitas. Harus ikhlas.
Seperti halnya jantung, tak terlihat namun kau terasa adanya. Lagi-lagi, bukan merebut kerja kawan.


Jika kau seorang Penyiar maka ini pasti kau tak boleh lelah..
Memikirkan kebutuhan muslim-muslimah..
Kerjamu terarah, selalu ada hari-hari yang terperbaharui,
Karena kau adalah pemasok kajian dengan komitmen tinggi..
Bersungguh-sungguh menghidangkan majelis ilmu bagi setiap nurani..
Bertanggung jawab melayani jamaah yang beranekaragam dari hari ke hari..

Jika kau seorang Bendaharawan dakwah, maka berbahagialah..
Bukankah kebutuhan dakwah terjembatani oleh pikiranmu yang tajam?
Kau analisis tiap pos-pos dan lini dakwah yang membutuhkan?
Kau penyalur di tiap anggaran.
Tidak menyulitkan di setiap permintaan dana..
Mungkin berat harus menjadi dirimu yang bermainkan angka.
Ketahuilah, tak banyak orang hebat sepertimu.

Bagaimana denganmu Pemakmur Musholah?
Kaulah bentuk tugas dakwah paling nyata..
Lewatmulah jiwa-jiwa menyegarkan imannya..
Kau tahu kebutuhan yang singgah, kau urusi kesegaran jiwa yang menemuiNya..


Bagaimana denganmu yang bertugas dalam surat-surat dakwah bernama administrasi?
Tak dipungkiri, kejelianmu, bahasa dakwahmu, kerapihan yang kau lakoni
Adalah hal istimewa. Paling hebat dalam perihal tanda-tangan sana-sini,
Tiap tetesan peluhmu, pastikanlah kelelahan yang Lillah..


Betapa bahagia dan bangganya Allah, Islam, ummat, dan sahabat kita ketika melihat setiap diri ini bisa..

Memberikan pengorbanan yang terbesar yang mampu diberikan..
Menunaikan amanah dengan hasil yang terbaik yang mampu kita lakukan
Menghadiri undangan syuro, kajian
Atau agenda lainnya sehingga tidak mengecewakan pengundangnya
Mencurahkan seluruh ide, usul, pemikiran, dan gagasan saat syuro membutuhkannya
Berusaha sekuat tenaga menyelesaikan PR sesuai waktu yang ditentukan bahkan sebelumnya
Memperlihatkan wajah penuh cinta dan kasih sayang yang tulus dan hangat bagi kawan jalannya
Menawarkan bantuan dengan ikhlas pada saudara yang membutuhkan sebelum diminta.


Tiap diri adalah Qiyadhah bagi dirinya sendiri.
Maka, jadilah yang terbaik siapapun engkau adanya..
BerFastabiqul Khoirotlah tanpa jeda..