Manis. Apanya? Awal, tengah, hingga akhir dari skenario sebuah madah. Atas apa? Reaksi binaan terhadap alur dramatisasi yang dibelajarkan. Sukses? Yap. Satu babak. Semua lulus? Belum, semua tertarbiyah lewat dinamika. Ceritanya? Panjang.
Binaanmu investasi dunia akhiratmu. Suka sugesti itu dibanding dengan semboyan: Binaanmu cerminan dirimu. Agaknya terlalu sering kita berkicau hal ihwal risalah dahsyat seorang Murabbi dalam membina yang terkadang berending membinasakan. Nyata hingga maya, dari data bereferensi hingga skenario ber-dramatisasi, di mana-mana kisah perjuangan heroik Murabbi tidak luruh terhasut zaman. Sekarang marilah menyimak sejenak. Membaca perlahan bahwa dalam hal perjuangan, binaanpun ikut ambil peran.
Jika syaikhuna almarhum ust Rahmat Abdullah pernah merindukan binaan yang peka atas lalai dan khilafnya sebagai binaan, maka saya beritahu; Sayapun punya rindu yang sama. Sama seperti Murabbi yang lainnya. Rindu atas binaan yang menangis karena tidak bisa hadir halaqoh. Rindu binaan yang menyesal karena hadir terlambat. Rindu binaan yang adabnya mendahului ilmu. Rindu binaan hadir halaqoh dengan antusias, raut wajah serta menyejarahkan setiap madah lewat catatan. Rindu. Menuntaskan rindu yang ada bukan perkara mudah. Jika rindu terbalas, redalah semua rasa. Jika terhempas, di situ letak manisnya. Loh? Iya. Syaratnya, rindukanlah binaan karena Allah. Rindu tumbuh kembangnya, mekar dan wanginya karena Allah. Jika suatu waktu belum diijabah, yang tersisa hanya sabar. Sabar, anda hanya belum beruntung. Coba bina lagi. Pertama-tama, binalah rasa sendiri. Terakhir, ya pikir mau ngapain lagi. Progress binaanmu adalah hasil dari ikhtiar kreatifitasmu. Bukan daya pikir orang lain. Meneladani kisah orang lain ya perlu.
Terkadang kita perlu pembiaran. Tidak menindaklanjuti sebuah perkara dengan segera. Bukan menunda, bukan menyepelekan, tapi himpunlah semua kekuatan dari sang Maha dengan mengamati, menganalisa, meramu tindakan, serta atur nafas yang mulai terbata-bata. Mungkin menimbulkan prasangka, di situ letak kerjanya. Kerja siapa? Ya Murabbi. Rabu kemarin adalah tuntasnya sebuah misi. Memastikan realisasi sebuah madah tertanam ke hati binaan. Berawal dari hal sepeleh. Pasalnya, beberapa binaan minim menuju lost of ruhul istijabah serta terkesan abai atas panggilan dakwah. Ini penyakit. Menanti dan menanti, inisiatif binaan untuk memperbaiki diri belum terasa. Bahkan, model ukhuwah selintas teori mulai terbaca. Ketsiqohan mulai berubah arah. Buktinya? Masing-masing menunaikan tugas tanpa jadi alarm bagi saudarinya. Heuh. Egois? Tidak juga, toh selamatkan diri terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain. Tapi ko ya, effort nyelamatin saudarinya ga hadir-hadir dari beberapa orang. Mengertikah bahwa hal nyata dalam ukhuwah jama'iyah itu ya ikhtiar mengajak saudarinya menunaikan kewajibannya.
Jadilah actingku kambuh. Sengaja left grup tanpa pamit. Menghitung menit menit yang berlalu. Satu persatu binaan mulai menghubungiku. Menyampaikan seberkas maaf dan untaian penyesalan. Berhari-hari kudiamkan. Sengaja tidak membalas dan membiarkan hingga pesan-pesan itu menumpuk. Ada yang meminta jadwal untuk bertemu, hingga inisiatif mendatangi kosanku. Kali kedua, jelang isya mereka berkunjung setelah kunjungan pertama mereka gagal menemuiku. Membaca ekspresi, menafsir bahasa gerak, menerjemah setiap diksi yang mereka persiapkan, serta menakar makna yang mereka sampaikan adalah yang tertangkap malam itu. Akhir ikhtiar, mereka pulang. Membawa gejolak tanya atas sikapku yang menutupi semua. Sengaja. Menikmati kesan tangis yang mereka tumpahkan. Tangisnya sang binaan. Ah, kalian hanya belum merasakan, bagaimana harus memburu murabbi karena sebuah kekhilafan hingga tidur di depan rumah beliau berjamaah. Tangis itu, bukan hanya airmata. Tapi tangisnya sang binaan yang sesungguhnya. Biarlah malam menyaksikan, bahwa binaan-binaan seperti ini aset masa depan. Muharrikah peradaban. Dan, gantian. Kepulangan mereka sesuatu menyesak di dada. Kenapa? Karena kesan keberjamaahan dalam ukhuwah lagi-lagi belum terasa menyatu. Buktinya, kesalahan dalam lingkup yang dilakukan berjamaah, hanya mengandalkan permohonan maaf yang diwakilkan. Terlepas ahsan atau tidaknya, tetaplah menjadi catatan kecil yang harus disembuhkan. Mengingat mereka adalah generasi yang harus dipersiapkan dengan matang. Sosok-sosok qiyadah di semua lini dakwah.
Pekan berikutnya aku sengaja meminta mereka rehat. Rehat dari rutinitas halaqoh. Kususul dengan pernyataan, barangkali mereka lelah. Pilihan berikutnya, kuserahkan keputusan agar mereka liqo mandiri. Dan ternyata mereka memilih liqo mandiri ketimbang rehat. Wis, ada haru dan senang meskipun tidak membersamai, tapi terlihat jeli dalam memilih. As always, sebelumnya sebagian mereka menyusulku dengan harapan masih liqo bersamaku. Karena malam saat mereka berkunjung, sempat kuutarakan untuk mencarikan Murabbi baru untuk mereka. Tentu kalimat itu seolah menyudutkan kesalahan selaku binaan, tapi bukan itu niatku. Lagian, siapa sih yang tega melepas binaan begitu saja? Menjaring mereka hingga titik ini bukanlah perkara mudah, masing-masing pernah diperjuangkan dengan cerita berbeda. Semua. Tanpa pilih kasih, meskipun mata hati mereka berbeda rasa dalam menanggapi dan merasa. Tak terbalas dengan cinta dari merekapun bukan bencana, itu bukan obsesiku.
Di hari yang sama, aku mengisi binaan yang lainnya. Kusaksikan dari tempat yang tak jauh, mereka liqo mandiri. Sesekali curi-curi pandang, jangan kira tak rindu. Mereka manis. Serius. Haha. Hingga penghujung Maghrib, salah seorang dari mereka menghampiriku dengan sepaket air mata. Air mata penyesalan seorang binaan. Semua ungkapannya tulus. Air mata itu deras disertai sesenggukan. Kesempatanku untuk 'menyusup' ke bilik imannya secara tersirat: bahwa aku rindu sosoknya yang dulu. Secara adab, prioritas, bersikap dan lain sebagainya. Rindu kondisi imannya sebelum mengenal dakwah lebih dalam dan luas. Jadilah kalimatku membuatnya sulit meredakan gejolak tangis itu.
Dan sore ini kutemui mereka dengan alasan pertemuan halaqoh terakhir. Perpisahan. Setelah panjang lebar menyampaikan madah Tarbiyah, pamitlah aku beserta semua kata maaf dalam membersamai di waktu-belakangan ini. Masih acting. Ingin mengeja rasa mereka satu persatu. Sudah sedewasa apa. Ada yang tak urung meneteskan air mata. Ada yang masih bisa tersenyum dan tertawa. Dan hanya ada seorang adik yang menyusul langkah pergiku dengan tangis manjanya. Sengaja tidak mendekapnya. Karena semua skenario ini bukanlah perpisahan. Tapi awal dari pembaharuan. Awal langkah. Awal pemahaman. Awal pemaknaan madah; 'Adamul Inadh dalam dakwah. Madah yang menjadi salah satu penyakit aktivis dakwah hingga kini. Yang siklusnya di kemudian hari menjadi patokan iman dalam bersikap. Menambal yang buruk di masa lalu. Dan tentu, masih aku nahkodanya. Lagian, emang ada Murabbiyah yang mau nerima kamu pas dilepas dariku? *Eh
Dear, shaliha.
I know, sometimes I was annoying and Im sorry. But everything in the past always taste sweet for now. A great lesson we never can go back. Yakan?
*Bigsmile
"Seseorang yang deskripsi hidupnya seperti Puzzle. SeMerah Hitam dan Biru. Sesegar Semangka. Sebanyak Amoeba. Seeksklusif Embun, Serusuh Hujan; Bisasajakan?!".
Jumat, 14 April 2017
Sabtu, 01 April 2017
RANDOM
Terkadang kita memang tidak membutuhkan banyak telinga untuk berkeluh kesah selagi hati masih bisa menguatkan dirinya sendiri. Bukan karena kita tak butuh orang lain. Namun seringkali ada masalah yang selesai dengan nalar dan keimanan kita sendiri sebelum ia berhasil diutarakan kepada orang lain. Saya memprasangkai orang-orang seperti ini menjadi Empat macam. Pertama, mereka orang yang tertutup. Hanya bercerita seperlunya, terbuka atas kulit luarannya saja. Dan tentu, memaksanya untuk bercerita bukanlah perkara mudah. Belakangan, orang-orang akhirnya menyerah menghadapi mereka. Karena apa? Mereka sudah terbiasa dengan prinsipnya.
Kedua, orang yang sengaja menutupi beban hidupnya. Sesekali mereka terbuka, namun kebanyakan menyimpan secara dalam masalahnya. Mereka akan memilih orang-orang tertentu untuk dipercayai kemudian berbagi. Standarisasi mereka tentu orang-orang yang kapabel serta bertitel cerdas secara ruhiyah. Bukan sembarang orang. Bagi mereka, salah orang dalam mengutarakan kesah hanya menambah perkara yang ada. Itupun, jika masalahnya melampaui titik rumit yang berefek atas maslahat orang lain, maka berceritalah mereka. Atas nama masalah pribadi, dipastikan mereka lebih suka menikmatinya sendiri. Saat yang lainnya menangis, kita sering menyaksikan mereka tertawa. Mereka punya waktu dan tempat khusus untuk mengekspresikan gemuruh jiwanya. Seikhtiar mungkin orang seperti ini lebih dulu mencari solusi dengan cara dan nalarnya. Karena konon, bagi mereka menceritakan beban ke sembarang orang seperti membuka auratnya sendiri. Menyesal pada akhirnya. Lambat laun, orang semacam ini terdidik tangguh dan enjoy dengan ujian hidupnya. Lebih suka menyederhanakan masalahnya dengan menjadi problem solver bagi orang lain.
Ketiga, adalah orang-orang yang tidak mengerti cara membagi bebannya. Tidak mengerti cara menyampaikan keluh kesahnya. Memaksanya untuk bicara perlu teknik menarik. Sebagai sosok yang peduli, kau harus cari cara agar ia tertolong untuk katarsis. Memintanya untuk meluapkan beban lewat tulisan, barangkali bisa dijadikan solusi. Atau, kau perlu membiarkannya sejenak, mengenali titik kenyamanannya dalam berbicara, dan menyabarinya sepanjang tulus tanpa sisa. Percayalah, dia ingin berbagi, namun kehilangan diksi. Percayalah, dia butuh untuk didengar, kau hanya perlu bersabar dengan ikhtiar. Dia ingin sekali bercerita, sesekali ajaklah kemana saja, rihlah misalnya. *Lah?
Keempat, orang sungkanan. Mereka ingin bercerita, namun memilah-milah kondisi dan situasi lingkungan serta orang tempatnya bercerita. Mereka ingin sekali meluapkan beban jiwanya, namun memilih urung karena sungkan melampaui canggung. Jika tidak jeli dan tak peka, orang-orang semacam ini banyak yang tidak tertolong. Sungkan, mereka seolah bisa menyelesaikan bebannya. Padahal belum tentu, melainkan menambah keruh masalah yang ada. Kau akan temui mereka di lingkup sosial dan amanah, mereka acapkali kehilangan eksistensinya. Memilih menepi, hingga tenggelam dan roboh ditimpa masalahnya sendiri. Saat itu kau baru sadar, kau tak sempat memberinya ruang untuk bersandar.
Pada akhirnya, bersahabatpun kita dengan banyak orang, hati akan memilih pada siapa ia berbagi nasib dan membuka diri. Jiwa akan memilah siapa kawan yang paling nyaman untuk mengobati diri. Ia akan mengikuti arah kompas yang digerakkan Allah setelah mengutamakan Rabbnya dalam bercerita. Di sini letak navigasi iman yang bijak dan dewasa. Karena seringkali, kedekatan antara seorang hamba dengan Rabbnya dapat dilihat dari ikhtiarnya membiasakan kening bersimpuh di sajadah. Sujud ke sujud hingga tengadah ke tengadah. Hingga lembaran lembaran mushaf yang dilahap setiap waktunya terasa. Maka mendekatlah, agar perhatianNya lebih istimewa. Kau bisa maknai ini dalam tingkat perhatian khusus dari Allah lewat madah tarbiyah Ma'iyyatullah. Belum ngena? Liqo yang bener coba :p
Qodarullah, saya adalah tipikal yang mewakili semuanya. Bukan besar kepala. Hanya ingin menjelaskan secuplik ke 'diri'an saya yang sering jadi pusat prasangka. Bukan sedang membela diri karena sering tersudutkan atas ketidaktahuan orang lain karena ke'mengapa'an saya. Bukan pula tidak percaya uluran tangan orang lain, bukan tidak ingin membebani orang lain, bukan sungkan, bukan menakar kebisaan orang lain. Jauh dari itu, saya memang lemah untuk tidak menutup diri. Saya tidak Asertif dalam berbagi beban. Tidak pula ekspresif atas kelukaan saya sebagai hamba biasa. Bukan introvert. Tapi tertantang atas masalah hidup yang ada lalu menyelesaikannya. Hanya terlalu asik menantang ketangguhan orang lain dalam menyabari saya dan selektif memilihnya sebagai kawan terdekat. Sangat dekat. Emang ada yang nanya? XD
Karena benarlah, setelah kesulitan ada kemudahan. Setiap kedukaan bersanding dengan kebahagiaan. Hanya saja, sebagai manusia, kita terlalu sering menyoroti letak perih dan beban yang ada. Terlalu membesarkan luka yang menganga. Menggaraminya dengan sengaja. Tak jarang, menceritakannya dari telinga ke telinga. Menebarkannya dari tiap mata ke mata lainnya. Jika tak didengar, kita begitu mudah terhempas. Padahal siapa yang salah? Seolah-olah, hanya beban kita yang melampaui berat gunung Tursina dan orang lain tidak. Dan parahnya, kita lupa bagaimana caranya tersenyum lagi membagi tawa. Nilai kita di sisi Allah terletak "dari dan bagaimana" cara kita menyelesaikan masalah yang ada. Hendaknya, sikap ini tertanam setiap ujian hidup yang menimpa.
Cerdas. Saya menyebutnya demikian. Bukan saya telah akrab dengan kecerdasan itu. Hanya saja, ingin meng-ikhtiari potensi yang Allah titipkan menghujam di iman saya. Sehingga tak perlu sibuk mencari sandaran hati dan menuntut saudari-saudari yang biasa membersamai. Meskipun nyatanya, saya sering berharap lebih. Hanya harapan sebagai seorang saudari, terlebih jika sosok saudari itu telah menjadi bagian dari diri saya. Namun ujungnya, ingin berkata tolongpun semua diksi kelu di ujung batin. Berat untuk diungkapkan. Minta tolong jangan kapok menyabari saya misalkan, itu terlalu berat. Kesannya seolah sengaja membuat orang lain terpaksa agar bertahan. Padahal bisa jadi 'ia'nya telah jengah. Jika begitu, tak perlu pamit, pergi saja. Haha
Kedua, orang yang sengaja menutupi beban hidupnya. Sesekali mereka terbuka, namun kebanyakan menyimpan secara dalam masalahnya. Mereka akan memilih orang-orang tertentu untuk dipercayai kemudian berbagi. Standarisasi mereka tentu orang-orang yang kapabel serta bertitel cerdas secara ruhiyah. Bukan sembarang orang. Bagi mereka, salah orang dalam mengutarakan kesah hanya menambah perkara yang ada. Itupun, jika masalahnya melampaui titik rumit yang berefek atas maslahat orang lain, maka berceritalah mereka. Atas nama masalah pribadi, dipastikan mereka lebih suka menikmatinya sendiri. Saat yang lainnya menangis, kita sering menyaksikan mereka tertawa. Mereka punya waktu dan tempat khusus untuk mengekspresikan gemuruh jiwanya. Seikhtiar mungkin orang seperti ini lebih dulu mencari solusi dengan cara dan nalarnya. Karena konon, bagi mereka menceritakan beban ke sembarang orang seperti membuka auratnya sendiri. Menyesal pada akhirnya. Lambat laun, orang semacam ini terdidik tangguh dan enjoy dengan ujian hidupnya. Lebih suka menyederhanakan masalahnya dengan menjadi problem solver bagi orang lain.
Ketiga, adalah orang-orang yang tidak mengerti cara membagi bebannya. Tidak mengerti cara menyampaikan keluh kesahnya. Memaksanya untuk bicara perlu teknik menarik. Sebagai sosok yang peduli, kau harus cari cara agar ia tertolong untuk katarsis. Memintanya untuk meluapkan beban lewat tulisan, barangkali bisa dijadikan solusi. Atau, kau perlu membiarkannya sejenak, mengenali titik kenyamanannya dalam berbicara, dan menyabarinya sepanjang tulus tanpa sisa. Percayalah, dia ingin berbagi, namun kehilangan diksi. Percayalah, dia butuh untuk didengar, kau hanya perlu bersabar dengan ikhtiar. Dia ingin sekali bercerita, sesekali ajaklah kemana saja, rihlah misalnya. *Lah?
Keempat, orang sungkanan. Mereka ingin bercerita, namun memilah-milah kondisi dan situasi lingkungan serta orang tempatnya bercerita. Mereka ingin sekali meluapkan beban jiwanya, namun memilih urung karena sungkan melampaui canggung. Jika tidak jeli dan tak peka, orang-orang semacam ini banyak yang tidak tertolong. Sungkan, mereka seolah bisa menyelesaikan bebannya. Padahal belum tentu, melainkan menambah keruh masalah yang ada. Kau akan temui mereka di lingkup sosial dan amanah, mereka acapkali kehilangan eksistensinya. Memilih menepi, hingga tenggelam dan roboh ditimpa masalahnya sendiri. Saat itu kau baru sadar, kau tak sempat memberinya ruang untuk bersandar.
Pada akhirnya, bersahabatpun kita dengan banyak orang, hati akan memilih pada siapa ia berbagi nasib dan membuka diri. Jiwa akan memilah siapa kawan yang paling nyaman untuk mengobati diri. Ia akan mengikuti arah kompas yang digerakkan Allah setelah mengutamakan Rabbnya dalam bercerita. Di sini letak navigasi iman yang bijak dan dewasa. Karena seringkali, kedekatan antara seorang hamba dengan Rabbnya dapat dilihat dari ikhtiarnya membiasakan kening bersimpuh di sajadah. Sujud ke sujud hingga tengadah ke tengadah. Hingga lembaran lembaran mushaf yang dilahap setiap waktunya terasa. Maka mendekatlah, agar perhatianNya lebih istimewa. Kau bisa maknai ini dalam tingkat perhatian khusus dari Allah lewat madah tarbiyah Ma'iyyatullah. Belum ngena? Liqo yang bener coba :p
Qodarullah, saya adalah tipikal yang mewakili semuanya. Bukan besar kepala. Hanya ingin menjelaskan secuplik ke 'diri'an saya yang sering jadi pusat prasangka. Bukan sedang membela diri karena sering tersudutkan atas ketidaktahuan orang lain karena ke'mengapa'an saya. Bukan pula tidak percaya uluran tangan orang lain, bukan tidak ingin membebani orang lain, bukan sungkan, bukan menakar kebisaan orang lain. Jauh dari itu, saya memang lemah untuk tidak menutup diri. Saya tidak Asertif dalam berbagi beban. Tidak pula ekspresif atas kelukaan saya sebagai hamba biasa. Bukan introvert. Tapi tertantang atas masalah hidup yang ada lalu menyelesaikannya. Hanya terlalu asik menantang ketangguhan orang lain dalam menyabari saya dan selektif memilihnya sebagai kawan terdekat. Sangat dekat. Emang ada yang nanya? XD
Karena benarlah, setelah kesulitan ada kemudahan. Setiap kedukaan bersanding dengan kebahagiaan. Hanya saja, sebagai manusia, kita terlalu sering menyoroti letak perih dan beban yang ada. Terlalu membesarkan luka yang menganga. Menggaraminya dengan sengaja. Tak jarang, menceritakannya dari telinga ke telinga. Menebarkannya dari tiap mata ke mata lainnya. Jika tak didengar, kita begitu mudah terhempas. Padahal siapa yang salah? Seolah-olah, hanya beban kita yang melampaui berat gunung Tursina dan orang lain tidak. Dan parahnya, kita lupa bagaimana caranya tersenyum lagi membagi tawa. Nilai kita di sisi Allah terletak "dari dan bagaimana" cara kita menyelesaikan masalah yang ada. Hendaknya, sikap ini tertanam setiap ujian hidup yang menimpa.
Cerdas. Saya menyebutnya demikian. Bukan saya telah akrab dengan kecerdasan itu. Hanya saja, ingin meng-ikhtiari potensi yang Allah titipkan menghujam di iman saya. Sehingga tak perlu sibuk mencari sandaran hati dan menuntut saudari-saudari yang biasa membersamai. Meskipun nyatanya, saya sering berharap lebih. Hanya harapan sebagai seorang saudari, terlebih jika sosok saudari itu telah menjadi bagian dari diri saya. Namun ujungnya, ingin berkata tolongpun semua diksi kelu di ujung batin. Berat untuk diungkapkan. Minta tolong jangan kapok menyabari saya misalkan, itu terlalu berat. Kesannya seolah sengaja membuat orang lain terpaksa agar bertahan. Padahal bisa jadi 'ia'nya telah jengah. Jika begitu, tak perlu pamit, pergi saja. Haha
Seorang hamba yang dibekali jatah muamalah terhadap sesama, adalah penting untuk mentarbiyah dzatiyah dirinya sendiri perihal mendengar dan bercerita. Mendengar semaksimalnya, bercerita sebatas perlunya. Adalah lucu jika pada akhirnya dalam dialog kita di forum-forum, berdua-dua, serta bersama-sama; berlomba menjadi pembicara. Ada intonasi yang tak senada, saling sahut dan tak maksimal saling sambut. Mungkin kita pernah mendengar suara Katak di tengah hujan. Dari ujung ke ujung, mereka lomba menyuarakan pesan. Dalam Islam kita tidak dididik demikian. Jika kita terobsesi menjadi pembicara yang baik semua, lalu siapakah yang menjadi pendengar? Tembok? Iya. Lalu kepada siapa makna kata yang kita bicarakan tujuannya? Kepada benda mati? Diciptakan dua telinga salah satu fungsinya adalah agar kita memperbanyak dengar daripada bicara. Hikmahnya? Carilah.
Ini sebenarnya mau nulis apa sih? Ga tau juga. Yg jelas bahagia itu bisa disederhanakan. Ga perlu ribet menjelaskan maunya kita atau mau taunya orang lain. Karena Allah telah menakdirkan di hidup kita seorang saudari yang paling peka tanpa kau bercerita. Tak perlu diminta, paling tahu titik jatuh dan lemahmu di batas apa. Selalu ada dekap hangatnya yang menenangkan. Selalu ada rangkul tulusnya yang menguatkan, dan pula, traktirannya yang menyegarkan. Hahaha.
Dear u. Saat jatuh dantersakiti seperti ini, selalu saja teringat namamu. Doakan, semoga gengsi dan jaimku segera lenyap, supaya tak perlu membatasi jarak darimu yang terbatasi pulau dan samudera. Hingga tak perlu merayakan sepi sendirian. Hingga segera jujur atas rinduku Atau, haruskah aku kembali ke jaman putih abu-abu itu? Zaman yang membuatku lebih abstrak dalam merindu? Zaman yang hanya ada obsesi seimbang antara duniawi dan ukhrawi, bersamamu.
Ini sebenarnya mau nulis apa sih? Ga tau juga. Yg jelas bahagia itu bisa disederhanakan. Ga perlu ribet menjelaskan maunya kita atau mau taunya orang lain. Karena Allah telah menakdirkan di hidup kita seorang saudari yang paling peka tanpa kau bercerita. Tak perlu diminta, paling tahu titik jatuh dan lemahmu di batas apa. Selalu ada dekap hangatnya yang menenangkan. Selalu ada rangkul tulusnya yang menguatkan, dan pula, traktirannya yang menyegarkan. Hahaha.
Dear u. Saat jatuh dan
Kau tahu, di sini sulit mencari penggantimu. Atau memang kornea mataku yang kian sekarat hingga tak jeli kehadiran seseorang yang akhir-akhir ini, mengisi hari-hariku dengan ke-reaktif-annya sebagai saudari? Seseorang yang mulai meluluhkan gunung es dalam diriku?
DARI EKSPEDISI KE EKSPEDISI
Benarlah, kalau ingin mengenali saudaramu, hendaklah salah satunya kamu pernah beperjalanan dengannya. Dari perjalanan kita mengenali karakter teman seperjalanan. Ada yang setia memberikan arahan, memperhatikan teman, ada yang suka meninggalkan rombongan, suka ngilang, suka nelat, yang rewel gini gitu, suka ngomel, yang mengeluh kena asap dan macet, atau yang suka bikin atraksi maut di jalanan. Grrh. Penundaan keberangkatan di awal perjalanan saja telah sukses membuatku seyum manyun optimum. Kemarin adalah atraksi motoran paling nekat yang pernah kulakukan. Motoran ber-ekspedisi di wilayah pelosok Medan. Ikhwan-ikhwan gila-gilaan naik motor, kebut-kebutan, menyalip sembarangan, nerabas dan belok-belok ga karuan. Ya Rabb. Ggeregetan. Kadang aku bisa mengimbangi, meski ngos-ngosan juga ngikutin mereka. Tapi lama-lama, lelah juga ngikutin gaya ikhwan. Sampai akhirnya aku ikut menyalip Bus besar dan panjang. Sudah hampir mencapai setengah badan bus aku menyalipnya, si Bus pake acara menyalip kendaraan di depannya pula. Jadilah aku semacam dipepetin ke kanan sama si bus. Mau ngerem ndadak, belakang ada kendaraan. Mau terus nyalip tapi sepertinya aku akan semakin mepet ke kanan atau malah diserempet bus ini. Daripada dijatuhkan, aku menjatuhkan diri ke ruas jalan sebelah kanan. Jadilah aku terlempar dari aspal. Haaaah. Ga kerenn.
Jatuhnya sih emang ga sakit. Sama kaya dijatuhi amanah. Buktinya ga ada lecet sedikitpun di sekujur tubuhku. Termasuk pakaian yang kukenakan. As always, remuknya terpendam. Kepala tepatnya. Jadilah pingsan akhirnya. Darah mimisan kabarnya terus mengalir. Ditindaklanjuti via CT-scan. Daaan, seketika terjaga sepasca pernyataan dokter; harus ditangani dengan bedah. Tentu karena aku punya riwayat sakit di kepalaku. Semacam ada sugesti seruan; bangun. Bersihkan pakaianmu. Berilah peringatan. Sehatlah. (Hah?) Akan panjang perkaranya bila harus berujung klimaks di sini. Sementara ini misi ekspedisi amniyah, tanpa boleh diberitahu dan diketahui siapapun serta untuk apa belum selesai. Kan ga lucu, saat keluarga atau siapapun tau ternyata aku sedang mendekam di sepetak rumah sakit. Gosipnya sih 2 jam perjalanan motoran ke TKP yang dituju, karena itulah aku mau mencoba ikut motoran. Alasan khususnya, ya aku memang lebih hoby motoran daripada kendaraan lainnya. Naik motor itu something special buatku. Apalagi kalau di situasi batin berceloteh. Logika protes dan iman sendu-sedan, jadilah ngebut berpacu. Nyatanya hampir 7 jam kami beperjalanan. Itu sih teorinya 2 jam. Mungkin benar bisa 2 jam dengan catatan: ditempuh dengan kecepatan ekstra, plus tidak dengan rombongan rewel. Eyel-eyelan, bertengkar kecil, saling sebal, yah biasalah. Begitulah kalau amal jama’i, selalu butuh pengorbanan untuk saling bersabar pada saudara.
Di perjalanan, kutemui banyak hikmah manis bergaram (Bener bergaram ko, bukan beragam:p). Pemandangan sepanjang perjalanan menyuarakan kesan. Memasuki sebuah desa, batin dan lisan tawazzun mengumandangkan kuasa Allah. Desa ini, sebut saja taman surga kata warganya. Aneka tumbuhan hingga ternak tumbuh sehat ceria. Buaaah, dan buah dan buah dan buah dan buah dan buah dan buaaaaaaaah serta sayuran aneka rasa ada di sana. Pun petani, berjejer pesta panen di seluruh sudut dan pekarangan desa. Ah, bagaimana dengan surga yaa Rabb, jika pemandangan begini saja sudah membuatku meleleh karena cinta bertemu buah Dikau kelaknya(?)
Sambil mengendarai motor, otakku sibuk berpikir. Di sini ratusan rumah yang kulewati tidak ditemui adanya warga muslim-muslimah. Sedih, ada. Miris, ya begitulah; bergaram. Jarak lima rumah hingga sepuluh rumah selalu dibatasi gereja. Tiap rumah memiliki design tersendiri. Yang menjadikan sama, ada kepala Banteng di tiap atap rumahnya. Hatiku memang bersahabat dengan alamnya. Tapi mati rasa dengan Gereja dan aura keimanan penghuninya. Penghujung jalan, barulah ketemu satu warung yang pemiliknya pake kerudung. Rasanya batin menitik haru. Mungkin begitulah kisah para Mujahidin Palestina dan negara lainnya yang ketika ditawan di dalam penjara, tanpa penerangan cahaya, bertahun-tahun disiksa lalu suatu ketika dari balik terali besi ada yang menyapa salam. Sujud syukurlah sang tawanan sembari sesenggukan berteriak Asma Allah. Tekagetlah seluruh isi penjara. Kenapa, bertahun-tahun sudah tak pernah mendengar kalimat thoyyibah tadi, rindu pastinya. Jika dibandingkan dengan rasa yang kupunya atas apa yang kulihat, barangkali masih jauh. Tapi bersyukurlah yang kubatin akhirnya. Turut membayangkan bagaimana saudari muslimahku ini hidup di tengah mayoritas berbeda dengan akidahnya.
Seketika ingat, dulu di Jakarta pernah nyasar di sebuah desa bersama seorang adik manis. Iya manis. Karena terlalu sering menawarkan diri jadi kawan jalan ke manapun. Saat penat atau saat tak berminat sekalipun. Selalu punya cara agar ukhuwah yang terbatas jadi terbalas. Rasa yang berjarak kian dekat. Manis, karena aku lebih suka dipaksa daripada memaksakan diri. Niatnya mencari Masjid numpang sholat, dan akhirnya nyasar di lorong-lorong, di gang-gang, di jalan-jalan, muter sana sini hingga Anjing milik warga menggonggongi. Di sana, hidup bertetangga puluhan rumah dengan keyakinan yang sama; Nashrani dan seperangkat keimanannya. Kusam dan gersang. Jadilah aku tak betah nyasar di sana (emang nyasar bikin betah? Iya. Kalo temen nyasarnya seru diajak dakwah susah). Kembali ke topik. Di rumah sakit, menginaplah aku beberapa waktu. Semacam panggilan iman dalam bingkai ukhuwah, ketika terjaga kutemui pemandangan gratis. Menurutku, di jagat ini tak ada yang paling romantis saat kau sembunyikan kelu dan batinmu menyimpan gemuruh, ternyata ada sosok-sosok yang tahu dan tidak berpaling meski kau acuh. Lebih tahu perih dan hal dirimu, dan bahkan mengorbankan dirinya untukmu, untuk mencintaimu.
Ada ya ternyata orang-orang seperti ini. Aku menyebut mereka; orang orang tulus meski terhempas. Orang-orang berjiwa besar meski terpapas. Aku, selalu suka cara mereka mencintai. Kehadiran mereka selalu jadi cermin datar yang terlalu besar untuk aku berkaca, memantulkan bayanganku yang kecil tenggelam debu dosa. Memuaskan keimanan jika dibersamai mereka. Asertif dalam keitsaran. Jika ke sesama aktivis saja mereka setangguh ini, bagaimana mereka bertahan ditolak oleh objek dakwah di luar sana? Pasti lebih tangguh, maybe kan? Maka jadilah ruang rawatku disambangi silih berganti mujahid-mujahidah dakwah segala penjuru Indonesia. Jadilah silaturahim. Jadilah menyambung sayang. Jadilah seketika segar dan sehat. Jadilah akhirnya aku harus pulang dadakan ke Aceh hanya karena berkas pengobatanku harus dilampirkan dengan riwayat penyakit lainnya. Membawa catatan kronologis kecelakaan 3 tahun yang lalu. Ah, masalalu memang kadang tidak bisa dihapus sekalian. Selalu ada sebab untuk muncul ke permukaan.
Tak ada pilihan. Misi tidak bisa ditunaikan dengan maksimal, sesuai arahan aku harus pulang. Surprise. Tiba di pekarangan rumah, sepi. Tak ada suara penghuni rumah. Tak ada wajah keluarga. Yang ada hanya wajah ibu paman-paman yang biasa bekerja di rumah. Mereka masih hangat seperti dulu. Dan tentu terkaget dengan wajah pucatku. Kutangkap kekhawatiran mereka, jadilah aku dipapah menuju kamar rehatku. Wangi. Wangi masa lalu maksudku. Rebah sejenak di kasur empuk yang seketika mengingatkanku; Rosulullah terbiasa tidur tanpa alas hingga tubuhnya membekas. Jadilah aku urung merebahkan diri. Lirik angka jam di tanganku, waktuku hanya hari ini, sorenya harus balik lagi ke Medan. Ah, tak sempatkah kau menatap wajah keluarga satu-persatu?
Menyusuri rak buku, di sana ratusan buku tertata rapi. Yang kusuka dari perpustakaan koleksiku adalah lemari yang dikhususkan untuk diary tempo dulu. Jangan harap disini tertulis lembaran melankolis atau kisah roman picisan masa puberitas remajaku. Isinya ratusan lembaran mutaba'ah yaumiyah dan segala quotes tiap evaluasinya. Btw, entah kenapa siapapun yang dekat denganku, pasti kebanyakan hadiah yang diberikan adalah diary. Inilah tumpukannya. Tumpukan Mutaba'ah. Ahaha. Karena boring is bored, berkehendaklah aku menyusuri rumah tetangga. Tadi niat naik motor saja, saat bertemu Paman Abay (yang biasa kerja bantu2 di rumah) di parkiran mobil. "Bunda ga bawa mobil, Paman?" "Engga Zi, Bunda pake mobil dinas." "Ooh." "Ziah mau dianterin?" Oh engga Paman, Ziah mau jalan kaki aja. Motor Ziah diparkir di mana ya?" "Wah, masih dipinjem sama Bang Ridwan, kata Bunda biar pahalanya ngalir ke yang punya.. "Mau dianterin ke sana?" "Jzk paman, mau jalan aja, sambil sapa2 fans. Haha." "Bisa aja, sakit2 masih rakus becanda. Beneran ga mau dianterin?" Gausah Paman, Paman lanjut kerja aja, Ziah mau ke rumah nenek deh. Hehe."
"Bunda kapan pulang?" Dua hari lagi insyaa Allah. Kenapa sayang?" "Gpp, bunda jaga kesehatan ya." Pengen bilang kangen, masih aja jaim. Hahaha. Beliau sibuk. Sibuk kampanye. Handphone kututup saat disapa seorang ibu, bergamis syar'i lengkap dengan kaos kaki. Ummahat bangetlah pokonya mah. Aku lupa siapa, tapi beliau kenal lekat wajahku. "Ini Ziah kan? Maasyaa Allah. Kapan pulang? Amanah di Jkt udah selesai?". Sedikit linglung, secara ditabrak pertanyaan berderet dengan orang yang rasanya baru kenal kemudian pakai nanya amanah segala. Setelah menjawab seperlunya barulah kuketahui ternyata ummahat ini adalah sosok yang dipilih Allah dalam berhidayah. Kita punya kisah menarik tentang Hindun yang jadi musuh dakwah awalnya. Perempuan penebar makar dan perancang skenario terbunuhnya Hamzah ra, singa Allah. Kisah beliau mirip. Next time insyaa Allah kalau sempat kita bercerita. Sekarang beliau adalah Hawariyyun dakwah. Maasyaa Allah pokonya. Inspiring. Murabbi pemegang halaqoh dari Senin hingga Ahad. Kalah deh samakita, saya yang masih ada jatah hari tanpa membina.
Anyway, it’s exciting! Alhamdulillah, perjalanan pulangpun tak kalah seru dan penuh hikmah. Ketemu obek dakwah, memuallafkan seorang saudari, hingga tragedi sakaratul maut di udara (pesawat). Selalu ada pesan dakwah di sana. Aceh-Medan-Semarang-Makassar-Jogja-Ramawangun, kupesankan menjadi saksi. _Bahwa ada sesosok Ziah yang pernah melintasi pelosoknya hanya demi membekali diri ingin menjadi Da'iyah dan Jundi Muttaqin. (Gaya!)
Maret, 2017
Jatuhnya sih emang ga sakit. Sama kaya dijatuhi amanah. Buktinya ga ada lecet sedikitpun di sekujur tubuhku. Termasuk pakaian yang kukenakan. As always, remuknya terpendam. Kepala tepatnya. Jadilah pingsan akhirnya. Darah mimisan kabarnya terus mengalir. Ditindaklanjuti via CT-scan. Daaan, seketika terjaga sepasca pernyataan dokter; harus ditangani dengan bedah. Tentu karena aku punya riwayat sakit di kepalaku. Semacam ada sugesti seruan; bangun. Bersihkan pakaianmu. Berilah peringatan. Sehatlah. (Hah?) Akan panjang perkaranya bila harus berujung klimaks di sini. Sementara ini misi ekspedisi amniyah, tanpa boleh diberitahu dan diketahui siapapun serta untuk apa belum selesai. Kan ga lucu, saat keluarga atau siapapun tau ternyata aku sedang mendekam di sepetak rumah sakit. Gosipnya sih 2 jam perjalanan motoran ke TKP yang dituju, karena itulah aku mau mencoba ikut motoran. Alasan khususnya, ya aku memang lebih hoby motoran daripada kendaraan lainnya. Naik motor itu something special buatku. Apalagi kalau di situasi batin berceloteh. Logika protes dan iman sendu-sedan, jadilah ngebut berpacu. Nyatanya hampir 7 jam kami beperjalanan. Itu sih teorinya 2 jam. Mungkin benar bisa 2 jam dengan catatan: ditempuh dengan kecepatan ekstra, plus tidak dengan rombongan rewel. Eyel-eyelan, bertengkar kecil, saling sebal, yah biasalah. Begitulah kalau amal jama’i, selalu butuh pengorbanan untuk saling bersabar pada saudara.
Di perjalanan, kutemui banyak hikmah manis bergaram (Bener bergaram ko, bukan beragam:p). Pemandangan sepanjang perjalanan menyuarakan kesan. Memasuki sebuah desa, batin dan lisan tawazzun mengumandangkan kuasa Allah. Desa ini, sebut saja taman surga kata warganya. Aneka tumbuhan hingga ternak tumbuh sehat ceria. Buaaah, dan buah dan buah dan buah dan buah dan buah dan buaaaaaaaah serta sayuran aneka rasa ada di sana. Pun petani, berjejer pesta panen di seluruh sudut dan pekarangan desa. Ah, bagaimana dengan surga yaa Rabb, jika pemandangan begini saja sudah membuatku meleleh karena cinta bertemu buah Dikau kelaknya(?)
Sambil mengendarai motor, otakku sibuk berpikir. Di sini ratusan rumah yang kulewati tidak ditemui adanya warga muslim-muslimah. Sedih, ada. Miris, ya begitulah; bergaram. Jarak lima rumah hingga sepuluh rumah selalu dibatasi gereja. Tiap rumah memiliki design tersendiri. Yang menjadikan sama, ada kepala Banteng di tiap atap rumahnya. Hatiku memang bersahabat dengan alamnya. Tapi mati rasa dengan Gereja dan aura keimanan penghuninya. Penghujung jalan, barulah ketemu satu warung yang pemiliknya pake kerudung. Rasanya batin menitik haru. Mungkin begitulah kisah para Mujahidin Palestina dan negara lainnya yang ketika ditawan di dalam penjara, tanpa penerangan cahaya, bertahun-tahun disiksa lalu suatu ketika dari balik terali besi ada yang menyapa salam. Sujud syukurlah sang tawanan sembari sesenggukan berteriak Asma Allah. Tekagetlah seluruh isi penjara. Kenapa, bertahun-tahun sudah tak pernah mendengar kalimat thoyyibah tadi, rindu pastinya. Jika dibandingkan dengan rasa yang kupunya atas apa yang kulihat, barangkali masih jauh. Tapi bersyukurlah yang kubatin akhirnya. Turut membayangkan bagaimana saudari muslimahku ini hidup di tengah mayoritas berbeda dengan akidahnya.
Seketika ingat, dulu di Jakarta pernah nyasar di sebuah desa bersama seorang adik manis. Iya manis. Karena terlalu sering menawarkan diri jadi kawan jalan ke manapun. Saat penat atau saat tak berminat sekalipun. Selalu punya cara agar ukhuwah yang terbatas jadi terbalas. Rasa yang berjarak kian dekat. Manis, karena aku lebih suka dipaksa daripada memaksakan diri. Niatnya mencari Masjid numpang sholat, dan akhirnya nyasar di lorong-lorong, di gang-gang, di jalan-jalan, muter sana sini hingga Anjing milik warga menggonggongi. Di sana, hidup bertetangga puluhan rumah dengan keyakinan yang sama; Nashrani dan seperangkat keimanannya. Kusam dan gersang. Jadilah aku tak betah nyasar di sana (emang nyasar bikin betah? Iya. Kalo temen nyasarnya seru diajak dakwah susah). Kembali ke topik. Di rumah sakit, menginaplah aku beberapa waktu. Semacam panggilan iman dalam bingkai ukhuwah, ketika terjaga kutemui pemandangan gratis. Menurutku, di jagat ini tak ada yang paling romantis saat kau sembunyikan kelu dan batinmu menyimpan gemuruh, ternyata ada sosok-sosok yang tahu dan tidak berpaling meski kau acuh. Lebih tahu perih dan hal dirimu, dan bahkan mengorbankan dirinya untukmu, untuk mencintaimu.
Ada ya ternyata orang-orang seperti ini. Aku menyebut mereka; orang orang tulus meski terhempas. Orang-orang berjiwa besar meski terpapas. Aku, selalu suka cara mereka mencintai. Kehadiran mereka selalu jadi cermin datar yang terlalu besar untuk aku berkaca, memantulkan bayanganku yang kecil tenggelam debu dosa. Memuaskan keimanan jika dibersamai mereka. Asertif dalam keitsaran. Jika ke sesama aktivis saja mereka setangguh ini, bagaimana mereka bertahan ditolak oleh objek dakwah di luar sana? Pasti lebih tangguh, maybe kan? Maka jadilah ruang rawatku disambangi silih berganti mujahid-mujahidah dakwah segala penjuru Indonesia. Jadilah silaturahim. Jadilah menyambung sayang. Jadilah seketika segar dan sehat. Jadilah akhirnya aku harus pulang dadakan ke Aceh hanya karena berkas pengobatanku harus dilampirkan dengan riwayat penyakit lainnya. Membawa catatan kronologis kecelakaan 3 tahun yang lalu. Ah, masalalu memang kadang tidak bisa dihapus sekalian. Selalu ada sebab untuk muncul ke permukaan.
Tak ada pilihan. Misi tidak bisa ditunaikan dengan maksimal, sesuai arahan aku harus pulang. Surprise. Tiba di pekarangan rumah, sepi. Tak ada suara penghuni rumah. Tak ada wajah keluarga. Yang ada hanya wajah ibu paman-paman yang biasa bekerja di rumah. Mereka masih hangat seperti dulu. Dan tentu terkaget dengan wajah pucatku. Kutangkap kekhawatiran mereka, jadilah aku dipapah menuju kamar rehatku. Wangi. Wangi masa lalu maksudku. Rebah sejenak di kasur empuk yang seketika mengingatkanku; Rosulullah terbiasa tidur tanpa alas hingga tubuhnya membekas. Jadilah aku urung merebahkan diri. Lirik angka jam di tanganku, waktuku hanya hari ini, sorenya harus balik lagi ke Medan. Ah, tak sempatkah kau menatap wajah keluarga satu-persatu?
Menyusuri rak buku, di sana ratusan buku tertata rapi. Yang kusuka dari perpustakaan koleksiku adalah lemari yang dikhususkan untuk diary tempo dulu. Jangan harap disini tertulis lembaran melankolis atau kisah roman picisan masa puberitas remajaku. Isinya ratusan lembaran mutaba'ah yaumiyah dan segala quotes tiap evaluasinya. Btw, entah kenapa siapapun yang dekat denganku, pasti kebanyakan hadiah yang diberikan adalah diary. Inilah tumpukannya. Tumpukan Mutaba'ah. Ahaha. Karena boring is bored, berkehendaklah aku menyusuri rumah tetangga. Tadi niat naik motor saja, saat bertemu Paman Abay (yang biasa kerja bantu2 di rumah) di parkiran mobil. "Bunda ga bawa mobil, Paman?" "Engga Zi, Bunda pake mobil dinas." "Ooh." "Ziah mau dianterin?" Oh engga Paman, Ziah mau jalan kaki aja. Motor Ziah diparkir di mana ya?" "Wah, masih dipinjem sama Bang Ridwan, kata Bunda biar pahalanya ngalir ke yang punya.. "Mau dianterin ke sana?" "Jzk paman, mau jalan aja, sambil sapa2 fans. Haha." "Bisa aja, sakit2 masih rakus becanda. Beneran ga mau dianterin?" Gausah Paman, Paman lanjut kerja aja, Ziah mau ke rumah nenek deh. Hehe."
"Bunda kapan pulang?" Dua hari lagi insyaa Allah. Kenapa sayang?" "Gpp, bunda jaga kesehatan ya." Pengen bilang kangen, masih aja jaim. Hahaha. Beliau sibuk. Sibuk kampanye. Handphone kututup saat disapa seorang ibu, bergamis syar'i lengkap dengan kaos kaki. Ummahat bangetlah pokonya mah. Aku lupa siapa, tapi beliau kenal lekat wajahku. "Ini Ziah kan? Maasyaa Allah. Kapan pulang? Amanah di Jkt udah selesai?". Sedikit linglung, secara ditabrak pertanyaan berderet dengan orang yang rasanya baru kenal kemudian pakai nanya amanah segala. Setelah menjawab seperlunya barulah kuketahui ternyata ummahat ini adalah sosok yang dipilih Allah dalam berhidayah. Kita punya kisah menarik tentang Hindun yang jadi musuh dakwah awalnya. Perempuan penebar makar dan perancang skenario terbunuhnya Hamzah ra, singa Allah. Kisah beliau mirip. Next time insyaa Allah kalau sempat kita bercerita. Sekarang beliau adalah Hawariyyun dakwah. Maasyaa Allah pokonya. Inspiring. Murabbi pemegang halaqoh dari Senin hingga Ahad. Kalah deh sama
Anyway, it’s exciting! Alhamdulillah, perjalanan pulangpun tak kalah seru dan penuh hikmah. Ketemu obek dakwah, memuallafkan seorang saudari, hingga tragedi sakaratul maut di udara (pesawat). Selalu ada pesan dakwah di sana. Aceh-Medan-Semarang-Makassar-Jogja-Ramawangun, kupesankan menjadi saksi. _Bahwa ada sesosok Ziah yang pernah melintasi pelosoknya hanya demi membekali diri ingin menjadi Da'iyah dan Jundi Muttaqin. (Gaya!)
Maret, 2017
SESEORANG
"Susah ya Zi, berbuat baik sama kamu."Jawabnya tenang. Entah, kalimat itu sedikit menggesek fokusku. Fokus untuk tidak peduli terhadap tawaran kebaikan orang lain, termasuk dia, yang sore ini memintaku agar bersedia tanpa paksa dihantar olehnya menuju pulang. Lampu lalu lintas cukup tertib dengan jedanya. Semua pengendara transportasi sibuk dengan urusannya; menunggu. Serupa denganku, masih terpaku dengan kalimatnya. Hening tanpa kata di atas sepeda motor miliknya. Diapun sama. Sesekali sayup bersuara, namun tak kutimpali karena suaranya terhempas angin sore yang menyapa."Apa iya, aku menyulitkan orang lain atas kebaikan mereka? Apa iya, menolak tawaran kebaikan orang lain pertanda aku payah dalam hal memudahkan? Jika begitu, ada ratusan orang yang telah kusulitkan sepanjang usia. Ada ribuan kebaikan yang telah kuhempas tanpa merasa berdosa. Atau mungkin pula telah banyak hati yang terluka. Allah, benarkah? Bagaimana dengan alasan yang jadi penguat prinsipku, apakah jadi hujjah atas semuanya?"
Akhowat ini, belum lama aku mengenalnya. Jika Nabi pernah menganjurkan untuk mengenal kawan adalah dengan bermalam atau tidur bersama, bermuamalah, dan bahkan bepergian bersama, maka pasti banyak agenda kebaikan yang telah mewakili semuanya. Di mana letak kesannya? Bukankah saudariku yang lainnyapun pernah di semua lini atas pesan Nabi tadi dalam hal membersamai? Barangkali, setiap agenda yang telah ditunaikan terlewat oleh anjuran Nabi, terlupa. Hanya terlalu sibuk dengan program dakwah dengan terseret menunaikannya. Kesan ukhuwah memang ada, tapi tidak sekadar pesan Nabi, seniat taaruf hingga memahami. Harusnya begitulah Ukhuwah, menyengaja dekat sesuai standarisasi. Belakangan ini, mendapatinya dengan segudang Metamorfosa. Lekat di ingatan atas tumbuh kembangnya. Bagaimana Allah menulis takdir untuknya berhimpun dalam jamaah. Dari terbata-bata hingga berlari paksa. Belajar dan belajar. Merendah dan merendah. Kubahasakan tawadhu namanya. Kupanggil asy-syaja'ah untuk mendoakannya. Lembaran-lembaran ukhuwah mulai berisi babak; melampaui tangga-tangga terendah dalam ukhuwah. Rotasi amanah mulai menghempas keegoisan diri masing-masing jiwa. Kusebut itsar namanya. Dalam lelah dan suka, ia mulai akrab dengan sifat itu. Terkhusus untukku, atau jangan-jangan hanya aku yang merasa? Bukankah ia juga punya saudari lainnya? Terhadap siapapun ia berlaku kata, tak mengurangi penamaanku padanya; itsar dalam bermuamalah.
Dari jauh, sering kuamati ia. Dari dekat, mencoba memahaminya sebagai 'siapa'. Wajah lelah pejuang hidup, begitu kesanku untuknya. Bukan untuk hidupnya saja, tapi untuk kelurganya juga. Menjadi tulang punggung keluarga. Menguras pikiran, membanting perasaan atas anggapan orang-orang; kerja yang tak berkah. Terkadang pulang hingga larut. Membelah diri bersama dakwah. Ah, kerjanya pun bagiku adalah dakwah. Membagi waktu dengan syuro dan amanah. Di tiap lini itu, selalu kudapati ia ada. Dan hebatnya, selalu ada sapa ramah, senyum canda yang ikut serta bertemu saudara saudarinya. Dari dia. Suatu hari ia mengadu. Dan aku senang terlibat di titik ini. Berkesah risau, merasa sedikit kacau. Menurutku, hal wajar. Karena justru jika ia tak bercerita, tentu menjadi beban baru buatku. Kutangkap pesan iman di sana. Kekhawatiran seorang hamba yang beriman. Takut manakala kerja-kerjanya hanya menjadikan Allah tak meliriknya dalam hal berkah. Sedikit penguatan ala aku. Hanya berharap, agar bertahan jika memang orientasinya adalah dakwah. Meski sebenarnya hatiku berat memintanya demikian. Miris dengan kondisi medan juang di sana. Bukan apa-apa, hanya saja terlalu tak ringan resikonya. Mengingat alasannya dalam bertahan, tentu kalimat kelu yang ingin kusampaikan tertahan di ujung batin. Hanya doa dan doa terus yang bisa kuhaturkan. Sembari menyusulnya dengan referensi petuah Nabi; Bertahan demi kebermanfaatan.
Bagaimana tidak, wilayah kerjanya bukan sembarang area aman. Ada perjuangan di sana. Atas apa? Tentu sebagai da'iyah. Untuk siapa? Untuk orang-orang yang belum mengenal Allah. Mengondisikan, atau bahkan menyelamatkan dirinya sendiripun barangkali mengulum air mata. Siapa yang tahu? Aku tak tahu. Sering kubayangkan bagaimana menjadi dia. Pulang dengan badan remuk redam, perasaan tak karuan, mungkin tak jarang ia menangis di perjalanan sendirian. Mungkin membayangkan wajah ibu dan ayahnya, keluarganya, adalah hiburan baginya untuk melanjutkan perjalanan. Siapa tahu kan? Setidaknya kehadirannya dalam jamaah ini mengurai pesan; dia seseorang yang pantas untuk diteladani. Perjuangannya yang kumaksud. Seberat apapun beban hidup, bukan alasan untuk mengalah pada takdir. Berbicara amanah, tentu karena adab dan sambutannya yang menjadikanku percaya memilihnya sebagai 'apa, menjadi siapa, berperan apa'.
Di kemudian hari, sekarang semua tersingkap. Dia selalu mastatho'tum untuk meng-ikhtiari panggilan dakwah. Selalu ada celah untuk menyambut seruan dakwah. Bukan seperti aktivis kebanyakan. Beralasan kerja, berudzur sakit, bertingkah atau hal lainnya yang padahal masih bisa bertadhiyah. Apapun. Belum pernah kutemui ia egois, membuat batin miris teriris. Mengecewakan sih pernah. Haha. Hanya kekecewaan manusia biasa yang terlalu berharap pada saudarinya. Ini letak salahku. Tapi itu tak lama. Tak menunggu musim berganti hingga maaf untuknya menyerta. Maafku menyegera, insyaa Allah. Apapun, dia istimewa karena imannya. Karena caranya bertahan. Caranya menyebar cintapun, salut!
***
Dear, u
Happy millad. Barokallah fii umrik.
Stay strong for your self.
Akhowat ini, belum lama aku mengenalnya. Jika Nabi pernah menganjurkan untuk mengenal kawan adalah dengan bermalam atau tidur bersama, bermuamalah, dan bahkan bepergian bersama, maka pasti banyak agenda kebaikan yang telah mewakili semuanya. Di mana letak kesannya? Bukankah saudariku yang lainnyapun pernah di semua lini atas pesan Nabi tadi dalam hal membersamai? Barangkali, setiap agenda yang telah ditunaikan terlewat oleh anjuran Nabi, terlupa. Hanya terlalu sibuk dengan program dakwah dengan terseret menunaikannya. Kesan ukhuwah memang ada, tapi tidak sekadar pesan Nabi, seniat taaruf hingga memahami. Harusnya begitulah Ukhuwah, menyengaja dekat sesuai standarisasi. Belakangan ini, mendapatinya dengan segudang Metamorfosa. Lekat di ingatan atas tumbuh kembangnya. Bagaimana Allah menulis takdir untuknya berhimpun dalam jamaah. Dari terbata-bata hingga berlari paksa. Belajar dan belajar. Merendah dan merendah. Kubahasakan tawadhu namanya. Kupanggil asy-syaja'ah untuk mendoakannya. Lembaran-lembaran ukhuwah mulai berisi babak; melampaui tangga-tangga terendah dalam ukhuwah. Rotasi amanah mulai menghempas keegoisan diri masing-masing jiwa. Kusebut itsar namanya. Dalam lelah dan suka, ia mulai akrab dengan sifat itu. Terkhusus untukku, atau jangan-jangan hanya aku yang merasa? Bukankah ia juga punya saudari lainnya? Terhadap siapapun ia berlaku kata, tak mengurangi penamaanku padanya; itsar dalam bermuamalah.
Dari jauh, sering kuamati ia. Dari dekat, mencoba memahaminya sebagai 'siapa'. Wajah lelah pejuang hidup, begitu kesanku untuknya. Bukan untuk hidupnya saja, tapi untuk kelurganya juga. Menjadi tulang punggung keluarga. Menguras pikiran, membanting perasaan atas anggapan orang-orang; kerja yang tak berkah. Terkadang pulang hingga larut. Membelah diri bersama dakwah. Ah, kerjanya pun bagiku adalah dakwah. Membagi waktu dengan syuro dan amanah. Di tiap lini itu, selalu kudapati ia ada. Dan hebatnya, selalu ada sapa ramah, senyum canda yang ikut serta bertemu saudara saudarinya. Dari dia. Suatu hari ia mengadu. Dan aku senang terlibat di titik ini. Berkesah risau, merasa sedikit kacau. Menurutku, hal wajar. Karena justru jika ia tak bercerita, tentu menjadi beban baru buatku. Kutangkap pesan iman di sana. Kekhawatiran seorang hamba yang beriman. Takut manakala kerja-kerjanya hanya menjadikan Allah tak meliriknya dalam hal berkah. Sedikit penguatan ala aku. Hanya berharap, agar bertahan jika memang orientasinya adalah dakwah. Meski sebenarnya hatiku berat memintanya demikian. Miris dengan kondisi medan juang di sana. Bukan apa-apa, hanya saja terlalu tak ringan resikonya. Mengingat alasannya dalam bertahan, tentu kalimat kelu yang ingin kusampaikan tertahan di ujung batin. Hanya doa dan doa terus yang bisa kuhaturkan. Sembari menyusulnya dengan referensi petuah Nabi; Bertahan demi kebermanfaatan.
Bagaimana tidak, wilayah kerjanya bukan sembarang area aman. Ada perjuangan di sana. Atas apa? Tentu sebagai da'iyah. Untuk siapa? Untuk orang-orang yang belum mengenal Allah. Mengondisikan, atau bahkan menyelamatkan dirinya sendiripun barangkali mengulum air mata. Siapa yang tahu? Aku tak tahu. Sering kubayangkan bagaimana menjadi dia. Pulang dengan badan remuk redam, perasaan tak karuan, mungkin tak jarang ia menangis di perjalanan sendirian. Mungkin membayangkan wajah ibu dan ayahnya, keluarganya, adalah hiburan baginya untuk melanjutkan perjalanan. Siapa tahu kan? Setidaknya kehadirannya dalam jamaah ini mengurai pesan; dia seseorang yang pantas untuk diteladani. Perjuangannya yang kumaksud. Seberat apapun beban hidup, bukan alasan untuk mengalah pada takdir. Berbicara amanah, tentu karena adab dan sambutannya yang menjadikanku percaya memilihnya sebagai 'apa, menjadi siapa, berperan apa'.
Di kemudian hari, sekarang semua tersingkap. Dia selalu mastatho'tum untuk meng-ikhtiari panggilan dakwah. Selalu ada celah untuk menyambut seruan dakwah. Bukan seperti aktivis kebanyakan. Beralasan kerja, berudzur sakit, bertingkah atau hal lainnya yang padahal masih bisa bertadhiyah. Apapun. Belum pernah kutemui ia egois, membuat batin miris teriris. Mengecewakan sih pernah. Haha. Hanya kekecewaan manusia biasa yang terlalu berharap pada saudarinya. Ini letak salahku. Tapi itu tak lama. Tak menunggu musim berganti hingga maaf untuknya menyerta. Maafku menyegera, insyaa Allah. Apapun, dia istimewa karena imannya. Karena caranya bertahan. Caranya menyebar cintapun, salut!
***
Dear, u
Happy millad. Barokallah fii umrik.
Stay strong for your self.
Langganan:
Komentar (Atom)