Sabtu, 23 Juli 2016

Akad Indrii :')


Kusimak tumbuh kembangnya..
Berproses dari musim ke musim hingga mekar.
Hingga ia kokoh berdiri menjadi pundak orang-orang terkasihnya.
Kusebut "pengorbanan" nama keputusannya.


Di sinilah aku, menunaikan hak yang dipintanya.
Melangitkan doa dan menyaksikan hari bahagianya.

Masih lekat di memori;
Caranya menyikapi uji diri
Caranya berdiri di atas kaki sendiri.
Ekpresinya menyembunyikan luka diri.
Caranya mengadu dan menyimpan haru
Caranya menangis dalam isak dan sendu.

Ah, banyak sudut kampus jadi saksi.
Tempatku dan dia saling berbagi
Tempatku dan dia saling temu dan mencari.
Sekedar melepas rindu, merancang masa depan, menghitung batas masa perjuangan, atau mengisi perut yang keroncongan.
Sudut itu, biarlah jadi kenangan untuk esok-esok hari jika perlu.

Membekas pula di hati, kala ia menjadikan diri sebagai teman dekat bercurah hati.
Tempatnya meminta putusan perkara itu dan ini.

Sayangnya yang melimpah, menyejuk di dada.
Terasa jua rasa kasihnya yang terkadang pilih-pilih; ia utamakan diri ini daripada saudari lainnya
Diam-diam, jiwa membatin haru.
Meski merasa tak pantas menerima perlakuan cintanya yang berlebih.

Sekarang dia di sana. Cantik. Senyumnya jelita seperti parasnya.
Balasan Allah atas sabarnya, mempesona di hari akadnya.

Semoga, hari esok Allah selalu menyayanginya. Hingga Jannah.
Diberkahi Allah amalannya
Menjadi pasangan penguat jiwa bagi pendampingnya.
Dititipkan pula keturunan sholih-sholiha penyejuk mata
Untuk agama. Untuk Allah.

Karena ia saudari tulus.
Saudari paling hormat dan santun dalam persaudaraan
Saudari yang selalu membuat hati tersenyum karena ungkapan cintanya saban hari.

Semoga ia masih saja sama.
Tetap istiqomah, seistiqomah panggilan sayangnya padaku. Panggilan saat marah, kesal, kecewa, bahagia yang selalu satu. Tak berubah seperti orang-orang kebanyakan.

Barakallahulakumaa yaa, Indriikuu :')


Senin, 18 Juli 2016

Syafakallah

Semalam dapat pelajaran dari seorang adik. Beliau minta alamat lengkap kakak taukhtinya. Taukhtinya sedang sakit, sudah 4 hari. Iseng nebak, pasti beliau mau ke sana jengukin. Benar ternyata. Dan saya pribadi jadi kelabakan sendiri mencari alamatnya. Blm pernah ke sana juga soalnya, padahal udah bersaudari dengannya sejak 2012 lalu.

Well, mungkin izin Allah beda antara adik ini dan saya. Saya mencari alamatnya satu persatu nanyain ke teman seangkatan. Nanya ke fakultas lain juga.  Japri maupun nanya di grup. Sempet berkali2 salah kirim gegara semalem lagi riweuh di beberapa grup. Hampir nyerah juga. Banyak yang belum tau alamat lengkap beliau.

Sayapun coba ingat2 siapa teman terdekat beliau hingga teman liqonya. Alhamdulillah dapat. Sengaja ga minta bantuan saudari lain buat nyari alamatnya, meski sedikit dikodein awalnya supaya bantu. Haha

Then, saya japrian dg teman liqonya ternyata beliau juga kurang tau dg lengkap. Dapet rekom ke teman lainnya. Pas dihubungi, beliau rekom ke saudari lainnya. Pas ngubungin ke yg direkom, taunya dibales begini *"Yah, kurang tau Ziah, coba kamu hubungi si A, nah si A ini nnti bakal minta  ke si B. Nah si B punya nomer C, dan C pasti tau alamatnya. Eh engga deh kayanya, mungkin si D punya lebih lengkap. Hubungi aja dulu ya via si C. Tapi, aku gapunya nomer si A. Coba kamu hubungi fulanah yaa, fulanah itu temen deketnya si D looh. Hehe.."*

Gubrak! Yaa Allah,  kenapa jadi ribet klimaks begiini sempet saya membatin.
Endingnya, saya dapat juga tuh nomer melalui rekomendasi terakhir. Saya ga persingkat atau akali jadi sederhana rute linknya, karena tetiba tertantang menggunakan saran tadi. Hubungi si A hingga fulanah. You know, niatnya kenalan dan silaturahim. Alhamdulillah misi done. Si Adik dari seberang sana barangkali senang. Semoga, biar dowline pahalan saya nambah, gitu kalkulasinya. Haha.

Seba'da itu saya jadi refleksi pula. Dan agak terharu dengan niat si Adik ini. Sejujurnya sejak di Jakarta saya belum pernah menemukan budaya begini. Budaya yang sudah jadi tradisi di daerah saya, yang kalo denger org sakit terlebih itu saudara seperjuangan, maka dia akan rela menghabiskan waktu berjam2 di perjalanan demi menjenguk saudaranya.

Rata2, org Aceh terkhusus kadernya kalo jenguk org sakit sudah jadi prioritas. Sama seperti hadir HALAQOH.
Ga peduli hujan badai, ga peduli minimnya transportasi, ga peduli jaraknya jauh melewati lembah ngarai, hutan belantara, sungai ataupun samudera luas. Dia akan rela menempuh semuanya hanya ingin menjenguk saudaranya.

Sebenernya simpel, barangkali ini memang budaya di Aceh tapi mengakar di iman2 org2 yg paham. Jadinya bertradisi dari generasi ke generasi. Alhamdulillah. Misal  dia paham tentang pesan Rosulullah yg barangsiapa menjenguk org sakit, maka Allah merahmati perjalanannya dari rumah sampai balik lagi ke rumah. Dan mungkin pula ia ngerti protesnya Allah langsung di hadits qudsi *"Wahai hambaKu, aku sakit tapi kenapa kau tak berada di dekatku?. Dijawab oleh si hamba: Wahai Rabbku, Engkau kan Tuhan, bagaimana Engkau bisa sakit?. Sesungguhnya apabila hambaKu sakit, aku berada di dekatnya".*

Wallahu 'alam. Barangkali, Allah cuma lagi negur dengan halus aja. Khususnya ke saya. Bahwa, syafakillah dan doa aja terkadang bukan sebuah bukti konkret dalam sebuah muamalah. Bukan rukhshah pula atas nama jarak dan waktu yang tak kita punya. Betapa banyak kabar dan peristiwa jarak dan waktu yang terkalahkan oleh sebuah niat dan tekad membaja. Atau, betapa sebuah KETIDAKDEKATAN bukanlah penghalang berenggan-enggan menyambung hak saudari seiman yang terabaikan.


Bahkan kita pun bisa berkaca dari sosok bijak yang terlukai namun tetap berlaku adil dengan sesosok yang belum menjadi kawan. Dialah org yang pertama kali bersegera dan cari tau kala kehilangan perlakuan tak beradab sang lawan kepadanya. Ia mencari-cari, kemanakah perginya sosok yang menyemburkan kepadanya air liur dengan sengaja di saban hari untuknya.
Usut punya usut, si lawan terkapar sakit di rumahnya. Kita tau, karena akhlak penjenguklah yang menjadikannya terkagum-kagum hingga memeluk Islam.

Lalu, ada di mana kita yang sekarang?
Atas nama sibuk, macet, aktivitas yang padat, keluarga yang super ketat pengawasannya jadilah kita generasi
"Syafakillah". Syafakillah untuk jarak dan waktu yang selalu dikeluhkan. Mohon berkabar ya kalau ada apa2. Nah, ini juga sering.

Rasionalnya kan harusnya yang sakit fokus dengan sakitnya. Bukan update diri dan berinfo-info ke yang sehat. Haha, barangkali begitu juga ngurangin rasa sakit ya? Entahlah, yang jelas ini bicara kemanisan iman. Halawatul Iman. Cuma orang2 tertentu yang dizinkan beroleh ini. Semoga nanti, kita pun termasuk bagiannya.

-SFW-

Rabu, 13 Juli 2016

Semangka, jawabannya!


Ada kalanya, aku hanya diam dengan diriku, memendam dengan manis segala rasaku tanpa hendak bercerita pada manusia. Menyederhanakan segala rasaku. Yah, lagi-lagi rasa memang.


Banyak berjalan dan lama hidup semakin banyak hal yang dirasa. Sebuah kaidah indah dari Bunda. Itu tertanam sejak aku mengerti bahasa "peduli" dalam omelannya yang begitu bawel (ups) dan berkali-kali. Ehehe.
Dan bila dipikir-pikir lagi, ada untungnya juga.

Then, inilah yang kumaksud adakalanya. Eh tiba2 Allah mendatangkan penghibur hati dari pesan2 sederhana yang kutangkap dengan mata seorang yang berpikir a.k.a over mikir lalu kuabadikan dengan hati dan jadilah ia mendekam di memoriku. Diam di sana, kemudian membatin syukur. Alhamdulillah. Alhamdulillah, saat hati menyendu, Allah selalu punya cara2 unik dan berkesan menghiburku.


Beginilah cara Allah menghiburku. Entah itu lewat apa yang kulihat dengan sengaja dan sepintas, lewat curcolan dan kicauan dari makhluk yang tak sengaja kusimak  atau pemberian tulus dari seseorang tanpa kuminta.
Inilah senyumku hari ini, lewat pemberian seorang adik yang pernah jujur bahwa aku sosok kakak yang menakutkan baginya (hah?).
-Syukron Nilam, sosok pengamat hebat! :D


::Sejujurnya, arti semangka bagiku salah satunya adalah kembali memaknai surat Al-Mudatssir: 1-7.
Tidak berputus asa dalam memberi peringatan, kembali bangkit, kembali sabar, kembali serius, kembali berdakwah!.
Dan pict ini tepat dikirimkan Allah lewat seorang adik saat hatiku memendam gemuruh rasa perjuangan. Hehe.

Alhamdulullah 'ala kulli hal.

Bercermin

Kau bilang kau mencintainya, Berjanji hidup mulia ataupun mati terhormat bersamanya.
Kau bilang, kala ia dinista oleh musuh-musuhnya kaulah yang berdiri paling depan untuknya.
Kau terobsesi jadi teladan yang pantas membersamainya.
Kau bilang, kau rela mengorbankan segalanya deminya. Deminya.

Tak mengapa menyeret paksa tubuh lelahmu. Tak mengapa mengorbankan usia mudamu.
Tak mengapa terluka dan tersayat membelanya hingga tetes nafas peluhmu menderai-derai.
Kau berjanji akan berdamai dengan segala suka dukamu.
Meski zaman menimpakan kemarahannya padamu.
Meski semua orang-oramg bersepakat mencelamu.

Namun bersamaan, kau tabrak ia dengan maksiatmu.
Kau sakiti ia dengan pembangkangamu.
Kau kecewakan ia dengan ketidaktaatanmu.
Lagi2 kau ingkari ikrar setiamu terhadapnya.
Lagi-lagi, kau abai manakala kau diseru untuk menolongnya dengan semua amalanmu.

Jika begitu,
Rasa malumu, kau kemanakan ia?
Rasa takut kehilangannya, kau apakan ia?
Masihkah kau pantas memperjuangkannya?

Wakafaa billahi syahiidah
Wakafaa billahi 'alimaan
Wa kafaa billahi nashiroh

Pada akhirnya, jalan ini hanya mampu dibersamai oleh orang2 yang bersungguh2.
Orang2 yang mengerti artinya 'dibutuhkan'
Bukan orang-orang yang manja dan banyak mengeluh, apalagi takut susah dan minim pengorbanan.
Menyesallah, jika orang2 itu bukan lagi kita.

Yaa Rabb,
Tsabbits qolby, 'ala da'watik

Minggu, 03 Juli 2016

Menyederhanakan Rasa

Mari menyempurnakan ikhtiar. Membersamainya hingga penghujung.
Memapah segala keluh dan harap tentang problema; rasa bosan, rasa benci, rasa lemah, rasa yang tak layak untuk dirasa.
Rasa yang tak sepadan untuk dipelihara.

Mari memperbanyak pengaduan paling jujur padaNya.
Tentang sakitnya ditolak.
Tentang perihnya pembangkangan.
Tentang adab2 yang semena-mena.
Tentang protes2 yang tak sewajarnya.
Tentang tak kuasanya mengemis ketaatan.
Dan juga adukan tentang ngilunya harus bertahan. Haha.
Lengkapi pula dengan munajat penuh harap,
Tentang makhluk2 titipan yang semoga terus taat. Terjaga. Dipelihara. Disayangi, hingga dicintai di setiap lini ia berada.

Mari menyederhanakannya. Bersama kata maaf paling tulus.
Bersama memaklumi yang paling luas.
Memahami yang paling dalam.
Maka lepaskanlah. Lepaskan dengan mengadu dan bercerita kepadaNya.
Malam ini, karena esok belum pasti milik kita..

-Allohumma innaka tuhibbu 'afuwwu fa'fuanni-

Sabtu, 02 Juli 2016

Kau kira

Kau kira, hanya dirimu yang diam-diam berjuang?
Diam-diam mengelus dada?
Diam-diam terseok melanjutkan langkah?
Diam-diam gemetar menahan lelahnya berdiri?
Diam-diam tersenyum dan  menangis sendiri?
Diam-diam ingin didengar?
Diam-diam ingin diperhatikan?
Diam-diam mengernyitkan dahi?
Diam-diam bangun sendiri?
Diam-diam terhempas dan terkapar?

Keliru!
Ada banyak orang yang diam-diam melebihi apa yang kau rasa.
Mereka selalu begitu. Mempercayai takdir langit menyejukkan jiwanya.
Meyakini, bahwa setiap jengkal perihnya perjalanan akan terbayar dengan mahar keikhlasan.
Meredamnya bersama keimanan;
"Bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu".

Itulah mereka.
Diam-diam menikmatinya.
Diam-diam merayakannya dengan kesabaran.
Diam-diam mensyukurinya.

Dan kau?
Selalu menyuarakannya di depan yang tak punya kuasa.
Menyebarkannya dari telinga ke telinga.
Mempertontonkannya dari mata ke mata.
Mengekspresikannya dari rasa ke rasa.
Meng-olah logika ke logika, seakan- akan pembelaanmu benar adanya.


Harusnya kau tahu, sebaik-baik pemahaman adalah memahami ketidak pahaman orang-orang terhadapmu.
Sebaik-baik pemakluman adalah memaklumi masalahmu.
Sebaik-baik penerimaan adalah menerima dengan dada lapang, bahwa kau hanya sedang disayangi dengan uji.