Minggu, 05 Maret 2017

Getar tanpa Nada,

@Ziahbisa
Dengan mengesakanMu dalam berharap.
Karena kami makin tahu,
Berharap pada manusia, pada sosok maupun kelompok, atau menggantungkan diri pada mereka adalah luka bagi iman kami. Juga kekecewaan yang bertubi.

Dengan mengesakanMu sebagai pemilih da'wah ini, 

Lalu kami terus melangkah tanpa henti mentarbiyah Ummat ini.
Memperbanyak yang putih dalam jamaah ini
Agar Engkau bersihkan yang hitam dengannya
Atau setidaknya, menjadikan yang hitam itu bagai najis yang tak menodai dua qullah.


Karuniakanlah kami kepekaan agar saudara kami tak perlu berteriak saat menyampaikan cinta dalam nasehatnya
Tapi cukup dengan isyarat mata, raut muka, atau bisik kecil yang menggetarkan.. 

-Salim A. Fillah-

Atau, berikanlah kami keluasan sabar dalam membersamai saudari kami. 
Agar tak perlu sempit saat nasehat terlihat pahit..

Left-------

Ada baiknya memang, menarik diri sejenak. Mengamati sesaat. Ber-jeda sementara. Terkesan membutakan mata, menulikan telinga, mematikan rasa. Selagi di hatimu ada peka, tetap saja kau sendiri yang tersiksa; mendiamkan terlalu lama.

Tapi untuk apa turut serta menyepikan ruh jiwa, hingga berkilah tak terima atas takdir Allah? Untuk apa? Kau bilang, sementara kau butuh waktu meredam gejolak jiwa. Sampai kapan? Sampai Allah berbicara merasuk ke jantung? Atau sampai Allah menggantikanmu dengan yang lebih tangguh? Mau?

Seseringnya kau menularkan apa-apa yang kau kira benar sesuai sunnatullah, selagi di hatimu masih peka, tetap saja kau tersiksa membiarkan terlalu lama. Iya, itu maksudnya. Pengamat yang berguguran di jalan dakwah.

Kau yang mencoba bijak, tetap tegak disaat yang lain terserak. Adakah yang mau menemanimu, di sini? Jika tak ada, tak mengapa. Ada Allah di sisi, percayalah. Tetap melangkah, sambil menunggu yang terlelap, jaga semangat.

Ada pesan buatmu, barangkali berguna.
Kau tahu,
Jika hatimu samudera, sekilo garam tidak akan terasa. Iya. Coba saja. Jangan terlalu banyak merasa hingga kau sendiri yang terluka. Jika pada akhirnya kau tetap terluka, obatilah segera. Jangan biarkan menganga terlalu lama. Karena akan ada bakteri dan virus yang sedia menambah parah. Virus lesu dakwah misalnya. Bakteri perusak jamaah juga ada.

Menurutmu, sekaliber Umar ra kala ditinggal Rosulullah untuk selamanya, tidakkah ia menangis dan tidakkah ia mempercayai takdir yang tertera? Iya, begitu. Umarpun menangis meratap. Umarpun histeris hingga sembab. Hingga sosok yang paling teduh dan terpaut hatinya oleh qodarullah berkata, Muhammad itu hanya seorang Rosul. Maka apakah jika ia mati atau terbunuh kau akan berpaling/murtad? Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sungguh dia telah wafat. Barangsiapa menyembah Allah. Maka Allah kekal. Umarpun terkulai lesuh. Ya, yang dicinta telah pergi. Yang biasa membersamai dipanggil Illahi. Perih. Hingga langit Mekkah mendung sejagat raya membumi.


Maka sebenarnya, kau yang masih tak terima atas kehilangan dan dipisahkan, tidakkah mengerti tentang batas kebersamaan? Tentang perjuangan yang berbeda ladang? Semacam takdir yang tak boleh ditolak. Apalagi tak sanggup kembali bangkit dan bergerak. Padahal kau tau, perjalanan masih panjang. Ada kawan yang butuh dipapah. Ada sahabat yang ingin dibersamai. Tengoklah sejenak ke sebelah, barangkali kawanmu sekarat menunggu uluran. Jelilah, ada kawan di sebelahmu. Sadarlah. Jangan mengingkari takdirNya.

Lapangkanlah hatimu. Lapang selapang Sabana.
Sekalipun di sana ada gajah, harimau, jerapah. Sabana itu akan tetap terlihat luas.
Tetapi jika hatimu sempit, lebih sempit dari kamar tidur, jangankan gajah, seekor ayampun akan membuatnya sempit.

Luaskanlah hatimu. Luas, seluas Samudera.
Sebanyak apapun sampah masuk dari muara sungai-sungai, ia kan tetap jernih.
Tetapi jika hatimu sempit, sesempit air dalam gelas, jangankan sampah dari sungai, setetes dari tinta saakan membuatnya kotor..

Sejatinya, andai kau mau mendidik diri, takkan ada perih yang terlalu perih. Tak kan ada sakit yang terlampau sakit. Semua sesuai takaran sanggupmu. Allah itu, selalu mencintaimu dengan caraNya, kau saja yang tak terbiasa.

Sejatinya memang, tak terim itu hanya sebatas pengertian pahammu. Kau tak terima karena kau tak mau memahami kenapa diberi. Diberi takdir yang meluapkan emosi.

Percayalah, takdir Allah itu menentramkan.
Ikhlaslah atas perpisahan. Biarkan kawanmu melanjutkan perjalanan, toh kau masih bisa menyapanya di kemudian hari. Kau masih bisa merangkulnya dengan sedikit kasta dewasa. Percayalah, kau belum benar-benar kehilangan. Bukan seperti kehilangannya Umar. Jangan sedih.

Ujian Shiroh

Perjalanan realita aksara kali ini menghantarkanku pada episode memukau atas flash back di beberapa pekan belakangan dalam membina. Sedikit tragis namun berharmoni romantis. 
Tragis, apa yang kuperjuangkan masih nihil hasilnya. Bisa jadi 'amilatunnashibah. Berbuah melelahkan. Romantisnya adalah, belakangan di sepenggal Maghrib berjamaah, sang Imam melantunkan ayat penguat; Alladzi kholaqol mauta wal hayaataa liyabluwakum ayyukum ahsaanu amalaa.

Etah! Hanya sedang diuji. Sejauh apa baik buruknya amalan yang ditekuni. Barangkali salahku di situ. Hingga terisaklah aku pada akhirnya disertai tetesan mimisan yang kuhindari. Bukan perkara terhempasnya atas apa yang ku beri, yang dalam takaran logikaku telah kuikhtiarkan di batas mastatho'tum selama ini. Berburu waktu, tak peduli sakit tak peduli terik, atas nama membina semua penderitaan sering hilang tersapu angin yang membersamai, tapi mencoba melirik dengan mata hati; "duh Zi. Inikah ikhtiarmu selama ini? Hello, jangan-jangan ada yang terlewati. Kau belum merekam pesan siap dari hati binaanmu, bahwa sudah waktunya berilmu mendewasa. Belajar dan belajar. Menebarkannya menyegera, mengharumkannya mengangkasa. Barangkali, obsesimu yang terlalu tinggi. Sampai tak sadar, kau sendiri yang terjatuh ke dasar bumi. Atau, navigasi adab menuntut ilmu belum terwarisi. Sehingga, tak berkesanlah apa yang kau beri selama ini."

Pekan Maret pertama di hari ini. Rentetan tugas berderet rapi. Rutinitas subuh tadi dimulai dengan bergegas kembali ke Jakarta. Berkemas dari tuntutan amanah, hingga tibalah di Bandara Soehatta tepat pukul 12. lewat dua. Tak perlu dibayangkan betapa tersengalnya. Karena niat di hati jangan ada jedah yang terlalu lama, maka dimudahkan pula segala perkaranya. Yaps. Bis Damri arah Rawamangun tersedia tanpa menunggu lama, berangkatlah aku hingga ke tujuan; Kosan Pemuda. 

Perjalanan terik, bapak sopir yang ramah itu paling mahir mengendalikan mesin kemudi. Hingga terbawalah aku ke alam lain bernama intuisi. Menikmati laju turunnya merdu suara Shia dengan Chandelier dalam raungannya yang diputar keras oleh bapak sopir. Then, kau dan aku tegak berdiri melihat hutan yang menjadi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin. Ah, bapak sopir, kita berbeda dalam semua, kecuali dengan cinta. (backsound puisi Soe). Dalam selera musik maksudku. Haha. Okelah, ini tidak penting

Rawamangun mulai semerbak. Siang sebagai latar perjuangan panjang makhluk Allah segala jenis rupa. Karena malam, terlalu bersekat untuk sekedar berdiskusi, rapat hingga mengkaji bagi para Mahasiswa yang hilir mudik memasuki gerbang kampus Hijau aroma Tarbiyah. Di sinilah aku, tertatih-tatih mengejar seorang saudari.

Melihatnya dari kejauhan membuatku urung menikmati langkah kaki yang sedikit berintonasi. Efek sepatu aneh yang belum sempat beli pengganti. -_- Sempat terbesit, mungkin nanti aku harus merubah kebijakan baru; dihalalkan memakai sandal gunung dan sejenisnya, demi kemaslahatan selera para pendaki? Biar sedikit bergengsi, dan menjauhi list iqob bagi para akhowaty. (Hah?)

Setelah salam dan setor wajah sumringah, merekap sedekah versi Rosulullah dengan tersenyum di depan saudari, kami beriringan ke tempat yang sama; MNI. Banyak diskusi seputar dakwah yang dibagi. Ujung obrolan kami tak jauh dari perkara pembinaan dan regenerasi. Aku dan dia, berdiri di titik yang sama. Dan punya obsesi berapi di Fakultas yang kami cintai. 

MNI masih ramai. Dan terlihat banyak yang baru menunaikan sholat ashar. Ahya, ini awal perkuliahan kan ya?. Banyak wajah yang tak kukenal meski banyak yang mengenalku. Maksudnya menyapaku. Tapi tak apa, secicip ujian bagi alumni tua yang disiram santunan ihtirom oleh para pemuda pemudi dengan sebutan kak dan umi. Haha. Gaje!

Menghampiri binaan yang sudah berformasi. Di hati tersusupi rasa teduh dan.... apa ya?. Sayang barangkali. Melihat mereka, rasa lelah efek perjalanan jauh dan nafas tersengal tak terasa. Terlebih terhadap dua orang adik yang ku hampiri di selasar MNI. Sore ini, ada dua lingkaran yang kuisi. Salah satunya, ya mereka ini. Sambil bagi waktu, kuajak mereka masuk MNI, sedikit nego bahwa aku harus bagi diri. Tak keberatan, hanya kesepakatan manis dari pancaran ketaatan. Meski baru berdua, halaqohpun dibuka. Entah, akhir-akhir ini mereka kerap ingin ku dekati. Lebih dekat dari biasanya. Dan ada sayang yang kalau ditakar, sepertinya bertambah pula.

Sementara lingkaran yang satunya telah dibuka, sambil bolak balik dari sebelah ke sebelah, setor materi hingga terakhir penugasan khusus adalah mengkaji ulang materi. Menuliskannya kembali sesuai yang dipahami. Mulai dari Bi'tsah hingga Pemboikotan zaman Rosulullah. Tertangkap pesan kaget dari masing-masing wajah. Dihiasi dengan tawa dan sedikit nego yang manja, tak ada pilihan selain mengikuti seluruh arahan; tidak open book, Googling apalagi. Diskusi tidak boleh, saling taawun juga haram. Haha. Tugas lebih sejam itu akhirnya selesai. Di penghujung waktu yang habispun masih ada yang belum siap mengumpulkan. "Duh dik, kalian seolah sedang mengajarkan, nanti begitulah Zi kalo maut menjemput, tak ada penambahan atau pengurangan waktu. Tidak nego, bahkan tak bisa ralat amal. Kalo waktu habis, ya habis. Jadi beramallah yang benar. Ontime dalam bersegera." 

Ngecek lembaran satu-persatu. Terbaca pesan-pesan unik. Dua lembar yang ku beri ke masing-masing diri, masih ada yang tidak terisi. Ada yang mengakhiri dengan emot dan istighfar, ungkapan cinta, bahkan penyesalan yang memintaku bersabar. Macam-macam. Yang sedikit membuat hati tergesek, jawaban yang ku telusuri masih jauh dari harapan yang seharusnya. Seolah ada Shiroh baru di zamannya Nabi. Misalnya begini, "Pemboikotan itu ya pemberian makan, diperbolehkan makan, pembagian makanan gratis di rumah Khadijah, hingga Rosul menikah dengan banyak wanita dari kaum Quraisy." Ini kan? Ckck

Ada lagi yang menuliskan; "Dakwah sirriyah itu historisnya begini kak, masuk Islamnya Umar bin Khattab, asbabun Nuzul turunnya surat Al Lahab, hingga Dakwah fardiyahnya Rosul terhadap paman-pamannya, termasuk abu Jahal."_ Nah nah, ini ngawur pisan. Tapi aku tersenyum sendiri jadinya. Bagaimana tidak, setiap ujung kalimat, selalu disusul dengan kosa kata interaktif, ada yang masih bertanya; _benar ga ya kak?, CMIIW, kalo ga salah, astaghfirullah, duh parah, dll."

Ada pula yang berkisah, tentang pengangkatan Rosul seperti dongeng sebelum tidur. Tentang masa kecilnya hingga di gua Hira. Masa Rosul jatuh cinta dengan Aisyah hingga menikah. Manis. Tapi jauh dari referensi, dik. Huft-_-!

Lembaran demi lembaran kubaca ulang setibanya di kosan. Dan maasyaa Allahnya memang, apa yang ku sampaikan selama ini belum terlihat dan tertulis di sana dari mayoritas mereka. Di kertas itu. Pahit sih, seperti menelan sekilo pare yang dibeli ke abang-abang Somay. Haha. Tapi mau bagaimana lagi. Setidaknya ada hal yang harus diluaskan, kesabaran namanya. Pemakluman akhirnya. Kalau begini teringat pesan bunda; "Yang manis jangan langsung ditelan. Yang pahit jangan langsung dibuang".

Terkadang kita, ingin orang lain segera tumbuh dengan kadar waktu yang cepat. Padahal bisa jadi, tumbuhnya hanya karena pestisida paksaan semata yang karena tak ingin kita kecewa. Sisi lainnya, ada yang memang menyegerakan tumbuh dan matang mendewasa, tapi barangkali karena faktor karbitan semata. Akhirnya merekalah yang terluka. 

Terkadang kita, terlalu berharap lebih progress orang lain. Dengan dalil yang klasik versi kita, memaksakan kehendak diri atas orang lain. Atau kita sampaikan ketegasan yang menjadikan mereka seolah tersangka dan terdakwah. Bisa jadi memang, niat di hati adalah karena Allah. Tapi mereka yang berjiwa lembut, tidak biasa beradaptasi akhirnya sulit menerima. Maka sadarlah, mungkin rasa cinta yang model begini yang membatasi kapasitas orang lain. Maybe.

Akhirnya merenung-renunglah aku, "apakah Shiroh Rosul serumit ini?" Hingga di akhir kalimat seorang adik manis berpesan; 
"Aku mau belajar lebih kak. Bimbing aku." Ketika buka handpone pun beberapa pesan permohonan maaf terlayangkan. Yang bikin hati sejuk ketika seorang adik menuliskan; "Sepertinya Shiroh ini mengajarkan, bahwa akupun ujian kak, untukmu selaku murabbiku." Tulisnya. "Bukan hanya kamu, dik. Akupun ujian buatmu, jadi memang kita tak hanya sedang belajar Shiroh terdahulu, sekarangpun sedang menyejarahkan Shiroh baru. Bersabarlah".


Malam 1 Maret 2017,

PEKA #1

@Ziahbisa
Saat yang lain tersenyum puas menakbirkan hamdalah, hanya ada satu jiwa yang terkoyak lesu bersahaja. Tangisnya menggugu isak tersuarakan, bahunya berguncang seolah ada beban yang ingin disampaikan. Semua mata beralih padanya melayangkan tanya. "Ada apa? Bukankah harusnya berbesar hati, merayakan bahagia atas pesan Allah di surat AnNashr ini?. Ada apa? Tidakkah kau bahagia? Kenapa berduka di saat yang lain bersuka cita?" Tanya mereka, para sahabat terkasihnya.
"Bagaimana mungkin kan bahagia, bagaimana bisa menggembirakan rasa. Bukankah pesan itu, isyarat tanda bahwa sang Rosul selesai beban dakwahnya membersamai kita? Bukankah Wahyu kan segera terhenti? Bukankah Rosul kan segera menghadap Illahi dalam waktu dekat?" Jawabnya sembari mengusap bening merayap hebat.

Semua sahabat melangitkan mendung dalam hati. Dan dialah Abu Bakar. Yang karena bashirohnya semua tersadar. Ya, Sang kekasih akan segera pergi. Jauuuh, jauh sekali. Terbatasi fisik dan indera. Terhalang jarak dan segalanya. Tawa dan sumringah berubah jadi pilu. Kelu. Tak tersampaikan lewat kata, menangislah akhirnya semua jiwa. Dialah Abu Bakar radhiallahu anhu. Yang Paling peka perasaannya atas Nabi. Yang paling setia membersamai Nabi. Yang paling tahu perih dan hal Nabi. . Andai bumi dan seisinya ditakar perkara setia dan cinta, niscaya dialah yang paling yang berat timbangannya. Begitu kata Nabi. maka tak heran jika Nabi mencintainya di atas lebih, hingga banyak hati hati mengulum lirih, andai aku bisa mengunggulinya.

Maka kitapun merindukannya, merindukan insan-insan yang mengikuti jejaknya.

Sabtu, 04 Maret 2017

Jangan dipaksakan


Akan menjadi luka jika harap sehatmu di tangan manusia, sekalipun kau mencintainya
Akan menjadi kecewa, manakala penawar dari manusia menambah luka lama yang serupa
Bukankah dulu kau pernah patah dengan drama yang sama?
Bukankah dulu kau pernah terhempas dengan skenario ukhuwah yang tak beda?
Bukankah dulu, pernah hadir sesosok yang sepertinya lalu kau terluka karena perginya?
Bukankah dulu kau berjanji, tak tergesa membuka lembaran ukhuwah yang istimewa?

Jadi mengertilah, terlalu sempurna menginginkan persaudaran seperti Harun dan Musa
Terlalu tak pantas menginginkan saudarimu berperan ukhuwah bak Abu Bakar dan Muhammad
Karena sejatinya, mengharap lebih kepada saudarimu hanya menambah luka dalam iman sendiri
Membuat sakit bertambah parah manakala yang dicintai tak menngerti bagaimana menyabarimu..
Jangan dipaksakan, mulailah melepaskan tanpa harus melukai yang tak terpertahankan..