Sabtu, 28 Januari 2017

As Always,


Biasanya, ada dia dan dia yang selalu menawan dalam pelayanan.
Paling mengerti saat hati bergemuruh.
Paling sedia dalam peluk dan pundak, bahkan sebelum lembaran bening merayap hebat. 
Jadinya manja.
Ada suguh asupan bergizi yang disukai untuk tubuh yang terlalu pilih-pilih.
Tapi ia mengerti. Ia punya solusi. 
Bukan memarahi meski dibumbui omelan yang menguras fikriy..

Ada pula pangkuan dengan belaian tulus,
Saat lelah atas perkara-perkara duniawi, atau ngebut berlari dari problematika. 
Mampirlah ke pangkuan dan peluknya, rehat sejenak di sana.
Ada sensasi iman yang terperbaharui, ini sungguh.


Kini, iapun dirindui.
Dengan setrilyun penggugah diri,
Bukan memarahi. Karena marahnya adalah saat diri berleha-leha kala yang lain sibuk merengkuh perjuangan bercitarasa surga.

Nak, lelahmu jangan sampai dipanggilNya dalam rehat yang kau atasnamakan. 
Begitu nasehatnya seringkali. 
Di depannya ada jemu, 
Namun di hati bergemuruh sahut; tak ku dustakan nasehatmu, bunda..
Akhirnya, terbiasa. Benar, lelah lillah selalu senikmat ma'Allah dalam ilallah..
Bunda, terimakasih.

Dan, dia inipun punya tabiat yang sama.
Paling rupawan dalam pandangan kasih.
Paling teduh dalam marahnya: oh dia telah pergi. 
Biarpun Mentari terbenam lagi, 
ketahuilah kau tak pernah tenggelam dari hati ini, Ayah..


Keduanya sama: sama-sama rela andai putrinya menjadi syahidah dalam dakwah. 
Istiqomah dalam amanah. Sempurna dari segala sisi. Lagi-lagi begitu harapan keduanya.
Tega sekali dulunya kukira. Haruskah mati muda demi menjadi Syahidah?
Tidak sekarang nak. Jadilah Mujahidah sebelumnya. Jangan rehat berlama-lama meski lelah. 
Jadilah Qiyadhah dalam amanah atau jundi paling tsiqoh diantara lainnya, begitu adalah jabatanmu yang membuatku bangga.


Ayah. Mengapa pintamu syarat makna?
Sekarang mengertilah aku, bahwa dalam kondisi apapun dakwah selalu menghibur. 
Ukhuwah dalam dinamikanya adalah prolog ketsabatan paling sederhana.
Alhamdulillah, inilah titik bersama dakwah selalu mendewasa.
Begitu aku memprasangkainya.
Maka jadilah, merindukan rumah penuh aroma Tarbiyah itu..

Cermin Rasa




Pada akhirnya kita rasakan, kesedihan terdalam dari hati seorang Murabbi,
ialah menyaksikan;

Binaannya tumbuh tanpa mekar
Berakar tanpa daya untuk menjulang
Rimbun namun tak berdaya guna
Berputik tak menjadi bunga
Berbuah tapi kecut rasa
Tertiup angin gamang dan gugur


Termaknai pula, bahwa hidayah tetaplah Allah yang punya.
Tak terbeli dengan sentuhan yang berkali kali.
Tak terbayar dengan pengorbanan yang seringkali.
Dibalik itu, Murabbi yang tulus selalu menggandeng sabar dengan ikhlas.
Mendampingi tegar dengan ikhtiar.

Seiring jalannya takdir langit, mari terus membersamai binaan, 
Meluruskan niat setulus-tulusnya ketulusan
Mari menjadi binaan yang peka sentuhan
Sadar siraman cinta sang Murabbi; Agar segera mekar, 
wangi, semerbak ke taman-taman yang dirindu peradaban..
Karena benar, ujaran Murabbi peradaban;

Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan.
Aku rindu zaman ketika seorang binaan MENANGIS karena tak bisa hadir di liqo’.
Aku rindu zaman, hadir liqo adalah kebutuhan, dan terlambat adalah kelalaian



---

Selamat serius Membina.

Semangat untuk dibina.