Rabu, 27 Mei 2015

Ahahahahaa:::


Yesterday, di Kelas temen deketku mengadu (curhat) padaku. Biasalah urusan hati, emang aku banget dah tong sampahnya dia. Haha. Trus nyangkut-nyangkut deh kita ngomongin sesuatu. “Kayak kisahnya Azzam dan Anna ya…blablabla…”kata temanku itu. Kalau kataku, “lebih mirip kisahnya Fahri dan Nurul “AAC”. Hooo, terserahlah apa kata lu dan apa kata gw. Owh ya. Setelahnya, aku jadi ingat sesuatu. Nyadar gak, kisah cinta ala Kang Habiburrahman Elshirazy tu mesti deh, ada beberapa karakter kisah yang menggemaskan. Dua diantaranya yang kuperhatikan selalu ada dalam kisah cinta ala Kang Abik adalah:
1.     Bahwa laki-laki sholih itu, kisahnya selalu dipinang/dilamar. Fahri AAC, dipinang sama Omnya Aisya. Azzam KCB di’minta’ oleh ayahnya Anna. Ealah, ternyata Bang Samsul DMC juga dilamar papanya Vivi. Coba pikir, kenapa kira-kira alur kisah cinta Kang Abik sering begitu? Hmmm, semacam mengindikasikan mindset beliau bahwa ikhwan sholih itu aset, harus segera diambil tuh rezeki. Ngarang banged gw! Sotoy.
2.     Mesti wes…selalu ada cerita ketlisipan alias kelewatan alias keduluan. Nurul, kelewatan untuk menyampaikan perasaannya pada Fahri, ealah, ternyata sudah dipinang si Fahri-nya. Si Azzam, ealah, keduluan Furqon ternyata, teman dekatnya sendiri malah. Parah! Haha. Si Zizi (bukan gw pastinya, haha) yang naksir Samsul (Dalam Mihrab Cinta) keduluan keluarganya Vivi pula… hufffft! Kata temenku, di Bumi Cinta begitu juga ceritanya, aku sih belum baca bukan pencinta novel soale, hehehe. Oalah Pak, Pak…kenapa musti begitu kisah cintamu…! Tapi ternyata cerita-cerita macam itu benar-benar terjadi dalam kisah nyata lhow. Bahkan ada yang lebih dramatis dibanding kisah-kisah yang sudah ditulis Kang Abik.Hoooo? Masa siii? Iya, tunggu deh aku setorin kisahku ntar ke Kang Abik buat dibikin novel, ntar judulnya: “Just Like a Saintis Negarawan (Emang Muslim Negarawan!) :Ketika Takdir Cinta (read: revisi) Begitu Ruwetnya” *ganyambung? Biarin!* hehehehehe.
Sudahlah, segera tinggalkan postingan gaje inih, persiapkan diri sesiap mungkin dan pantaskan diri sepantas mungkin ::mrggg::  karena apa, karena Ramadhan sudekat!. *alaaaah kaya ada yang baca ajahhaha*

Sabtu, 16 Mei 2015

Dariku,

Hei, berasa tidak?
Jelang dua kali pekan berganti silih.
Rindu ini makin semenggebunya.
Salahmu, tak terlalu peduli dengan diamku.
Harusnya kau tau, sepekan adalah janji untuk temu.
Egois ya??
Harusnya tidak ya:p
Kau kan tahu, ini temu untuk bermutu, bersepakat dan berlomba untuk taat.

Kau tau dik, kau dan mereka adalah istimewa, hingga aku sebegininya memendam.

Memang tak biasa mengumbar cinta
Pun tak suka mengobral basa-basi.
Terlalu gengsi bilang 'kangen dan sayang'. Haha. Dasar!
Tidak sedang marah sih,
Hanya sedikit memendam kecewa. Haha.

Sudahlah, ini ada hadiah buatmu:

Dituturkan dalam hening, dilafazkan dengan sendu,
Wajahmu beradu
Melintas batas di garis tipis Keimanan yang menyala,

Ya Raaabb..,

"Lapangkanlah dadanya dengan limpahan 
Iman dan keindahan tawakkal kepadaMu,
Hidupkanlah ia dengan pengenalan padaMu,
Da wafatkanlah ia dalam keadaan syahiid di JalanMu..".


.....

Rabu, 13 Mei 2015

Ayat penguat hati !


Kenapa menjadi pemimpin orang yang bertakwa itu penting ya, sehingga harus dimintakan dalam sebuah doa untuk pasangan dan keturunan kita…?

“Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama” (yaa Allah, karuniakanlah kepada pasangan-pasangan kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa)


Sembari merenung aku ingat masalah-masalah di dakwah kampus. Iya ya, repot memang kalau punya jundi rewel, susah diatur, susah taat, berbuat menyimpang atau bahkan melanggar larangan Allah.
Repot! Sungguh merepotkan qiyadah dan menghambat progresivitas dakwah. Nah, bener lah kalau begitu, salah satu kenikmatan yang diberikan Allah kepada seorang qiyadah/pemimpin adalah memiliki jundi-jundi muttaqiin, orang-orang yang bertakwa/taat. Tentu saja taat pada Allah dan Rosulullah menjadi modal pertama. Orang yang bertakwa itu, insyaa Allah akan lurus. Lurus hatinya, pikirannya, lisannya, dan perbuatannya. Jikapun dalam khilafnya ia menyimpang, insya Allah akan mudah pula diluruskan. Insyaa Allah.


Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami“. (Thaahaa: 25-35)


*efekbutuhkawanJalanyangBener.