Minggu, 08 Mei 2016

Prolog KABUR

Entah, ini episode ke seberapa kian kulalui.
Sering terasa ngilu-ngilu dalam getar.
Gigil dalam panas-panas.
Ada yang bilang aku hebat.
Ada yang merasa aku nekad.
Ada yang menuding aku pembangkang.

Kuceritakan pada Dia..
Hatiku sesekali redup. Sesayup kubasuh lagi-lagi lewat wahyuNya.
Kupaksa langkah dengan ruteNya.

Dan inilah, episode sekian kulalui dari kumpulan tahun belakangan..
Menit menit kini bagai saga sore di ujung senja nan gempita oleh gemuruh kilat.
Aku pernah mengemis-ngemis supaya detik ada yang gratiskan..
Aku pernah meraung-raung agar mereka tak keterlaluan menghamburkan waktu.
Kudengar di bilik-bilik, disayat-sayat, di cermin-cermin. 
Di sana ada wajahku
Wajahku yang memancar tawa di depan orang-orang
Suaraku yang terlalu sunyi dari ribuan hati untuk merayu kelu

Dan di sana juga ada semangatku yang memudar pudar. 
Hanya saja orang lain enggan ku beri tahu.
Aku memang pelit. Tak suka berbagi bila di pundakku ada berkilo beban.
Aku hanya menghidari rumit. Ahya, sok kuat tepatnya.
Aku tak terlalu suka warna, namun tikunganku dihujani pelangi
Aku selalu suka dingin, bagai kata orang-orang.
Tapi tetap saja geliatku selalu kepanasan. 
Barangkali aku merasakan sakit
Aku, lebih suka membungkusnya dengan jaket di tengah terik.
Aku hanya tertarik menangis di setiap sujud-sujud.
Merayu-rayuNya supaya tak jatuh. 

Inilah episodeku kesekian, mendesau-desau sedih di pangkuanNya
Meng-iri-iri mereka yang bebas
Berdegup kencang dalam dadaku
Berirama pelan manakala terlepas dari hukuman.
Ya, hukuman.
Aku sering dihukum oleh pandangan manusia
Dan tiada yang lebih sakit melebihi kata-kata

#EdisiAksiAleppo