Entah, ini episode ke
seberapa kian kulalui.
Sering terasa ngilu-ngilu
dalam getar.
Gigil dalam panas-panas.
Ada yang bilang aku
hebat.
Ada yang merasa aku
nekad.
Ada yang menuding aku
pembangkang.
Kuceritakan pada Dia..
Hatiku sesekali redup. Sesayup
kubasuh lagi-lagi lewat wahyuNya.
Kupaksa langkah dengan
ruteNya.
Dan inilah, episode
sekian kulalui dari kumpulan tahun belakangan..
Menit menit kini bagai
saga sore di ujung senja nan gempita oleh gemuruh kilat.
Aku pernah
mengemis-ngemis supaya detik ada yang gratiskan..
Aku pernah meraung-raung
agar mereka tak keterlaluan menghamburkan waktu.
Kudengar di bilik-bilik,
disayat-sayat, di cermin-cermin.
Di sana ada wajahku
Wajahku yang memancar
tawa di depan orang-orang
Suaraku yang terlalu
sunyi dari ribuan hati untuk merayu kelu
Dan di sana juga ada
semangatku yang memudar pudar.
Hanya saja orang lain enggan ku beri tahu.
Aku memang pelit. Tak suka
berbagi bila di pundakku ada berkilo beban.
Aku hanya menghidari rumit. Ahya, sok kuat tepatnya.
Aku hanya menghidari rumit. Ahya, sok kuat tepatnya.
Aku tak terlalu suka
warna, namun tikunganku dihujani pelangi
Aku selalu suka dingin,
bagai kata orang-orang.
Tapi tetap saja geliatku
selalu kepanasan.
Barangkali aku merasakan sakit
Aku, lebih suka membungkusnya dengan jaket di
tengah terik.
Aku hanya tertarik menangis
di setiap sujud-sujud.
Merayu-rayuNya supaya tak
jatuh.
Inilah episodeku kesekian,
mendesau-desau sedih di pangkuanNya
Meng-iri-iri mereka yang
bebas
Berdegup kencang dalam
dadaku
Berirama pelan manakala
terlepas dari hukuman.
Ya, hukuman.
Aku sering dihukum oleh pandangan manusia
Dan tiada yang lebih sakit melebihi kata-kata
#EdisiAksiAleppo
#EdisiAksiAleppo