Dalam setiap muamalah kita dengan setiap insan, selalu ada tragedi
yang menghubungkan di dalamnya. Tragedi sederhana hingga tragedi yang syarat penuh makna. Setiap
interaksi antara kita dan saudara kita, selalu ada ujian di dalamnya. Maka
benarlah, setiap diri adalah ujian bagi diri-diri lainnya. Dari ujian kesabaran hingga ujian pemakluman.
Berada di titik pemakluman hanyalah bentuk dari kumpulan2 kesabaran dan
ketegaran. Dan tak mungkin sia-sia andai berdiri di titik pemakluman tersebut. Pemakluman
itu bertetangga dengan ke itsaran.
Karena itsar mengutamakan saudaranya
melebihi dirinya sendiri, sudah tentu ini ujiannya kesabaran. Mengutamakan
memberi pemakluman meski diri menahan keterlukaan. Karena jalan tempuh dalam
kesabaran itu sendiri adalah janjiNya yang akan terus membersamai; Innallaha
ma’ashshobiriin. Maukah engkau bersabar?
Meski kau luka sekalipun.
Pahamilah, setiap kesalahan adalah kesalahan pada masanya. Namun
di masa kemudian, ia adalah pelajaran . Marilah meresapi sebuah makna. Dalam
tragedi, jangan sangka yang terluka hanya orang yang tersakiti. Tapi yang
menyakiti pun, terluka. Dia terluka oleh
kesalahannya. Dia terluka oleh beban rasa bersalah. Dia terluka oleh sesal yang
kadang masih saja menyesak. Yang kadang tak cukup lega dengan kemaafaan yang ia
terima. Karena bisa jadi dia sendiri tak mudah memaafkan dirinya sendiri.
Barangkali, ia menganggap itu adalah hukuman atas kesalahannya.
Sama halnya kisah haru biru dari seorang budak yang awalnya ditakdirkan menentang
islam. Ketika membaca shiroh pertaubaatanya, maasyaa Allah hati siapa yang
takkan tergugu merasai perasaannya menemui orang yang pernah ia lukai dengan
strategi dan makarnya. Ini memang tentang luka yang pernah ia torehkan dalam
sejarah peradaban islam dan membekas di hati sang kekasihnya Allah, Muhammad
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Bagaimana gelisahnya ia kala harus menghadap
Rosulullah dan menyatakan taubatnya. Dalam hati ia bahkan telah pasrah,
Muhammad pasti membunuhku. Namun lihatlah, ia tetap memberanikan diri. Meski praduga
menyelubungi hatinya.
Ahya, kita tak mungkin lupa bagaimana Rosulullah pernah menangis
atas meninggalnya sang singa Allah; Hamzah bin Abdul Muthalib di tangan budak
ini. Kita juga ikut merasakan betapa kehilangannya kita atas Hamzah, salah satu
paman yang selalu ada untuk Muhammad di waktu sulit dan melarat sekalipun. Paman
yang membuat Muhammad Saw disegani oleh kafir2 Quraisy kala itu. Kita juga
jangan lupa, bagaimana jasad syahid Hamzah dibawa ke hadapan Rasululllah tanpa
jantung. Dadahnya dibelah dan organel jantungnya dikunyah lahap mulutnya Hindun
yang mengiming-imingi kemerdekaan bagi
budak tadi andai ia berhasil membunuh Hamzah. Ya dia berhasil. Ini
prestasi bagi seorang budak. Betapa banyak yang tak lihai sepertinya. Betapa
ratusan orang yang jadi pesaingnya dalam membunuh Hamzah ra berdecak kagum.
Bersorak sorai. Singa Allah tumbang di
tangan budak. Bukan di tangan bangsawan. Ia berhasil. Ia merdeka setelahnya.
Hindun bersuka cita. Balas dendamnya untuk Hamzah, paman Rosulullah yang pernah
membunuh anak dan suaminya di perang Badar terlampiaskan. Ia puas. Bahagia.
Rasulullah terluka.
Tapi lihatlah. Lihat dan renungilah cara bersikap seorang muslim
yang terluka. Inilah yang si budak tadi dapatkan dari teladan sepanjang zaman.
Tak ada dendam. Terluka iya, namun mampu memaafkan. Yang dia dapati dari manusia mulia bernama
Muhammad; “Pergilah engkau, jangan sampai aku melihatmu lagi.” Rosulullah
memaafkannya, membebaskannya, membiarkannya pergi, tanpa luka bahkan tanpa
sedikitpun celaan. Juga saat dia berhasil menombak Musailamah Al Kadzab dalam
perang, berat nafasnya ia berkata, “Tombak inilah dulu yang membunuh
sebaik-baik manusia: Hamzah bin Abdul Mutholib, kini tombak ini menghabisi
manusia paling jahat zaman ini: Musailamah Al Kadzab”. Tombak itu menembus
jantung manusia yang mengaku nabi di Era kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.
Derai air matanya dan keharuan menyesaki dadanya, terduduk bersandar dalam
lamunan hingga ia tertidur. Ketika bangun, ia berteriak lantang kegirangan, “Allahuakbar,
Allahuakbar!” Ia bercerita pada para sahabat yang heran melihatnya, bahwa
seseorang menemuinya dalam mimpi, memeluk dan menciumnya, serta ia katakan
bahwa ia akan bersamanya di surga.
Siapakah yang menemuinya dalam mimpi
itu?
Dialah Hamzah bin Abdul Muthalib! orang
yang terkapar syahid dengan ujung tombaknya. Hwuaaaa, menangislah. Menemani si
mantan budak ini yang menangis haru. Merasai ke jantungmu, bahwa rasa
bersalahnya benar2 rasa bersalahnya mukmin sejati. Dialah Wahsy ra. Yang akan sesurga
dengan Hamzah kelak.
Begitulah. Rasul kita bukan sembarang orang. Meneladaninya dalam
memaafkan adalah perlu. Karena apalah dan siapalah kita ini yang merasa layak
dan berhak menghakimi kebersalahan orang2 atas diri kita. Andai terluka,
cukuplah bekasnya disapu dengan memaafkan dan mengikhlaskan. Jika tak cukup dan
hati masih saja terasa sempit, maka lapangkan dengan janji-janjiNya yang pasti.
Pulangkanlah sifat diri yang merasa
benar kepangkuanNya. Mintalah hati yang tidak sombong. Tirulah ucapan Yusuf
Aalaihiisalam’ Sesungguhnya aku tidak
menyatakan diiriku terlepas dari kesalahan. Karena nafsu itu selalu mengajak
pada keburukan. Kecuali nafsu yang dirahmati Allah. Sekaliber Yusuf yang
pernah dilukai oleh saudara kandungnya saja mampu memaafkan. Bagaimana dengan
kita? Kita bukan Nabi atau orang yang shalih sekali memang. Tapi semoga kita
adalah orang yang bersegera pada saranNya; memaafkan meski terluka.
Bgitulah, andai kau terluka, ingatlah bahwa dia saudaramu, selalu
akan begitu sedari mula hingga akhirnya. Jikapun pernah ada perkara, semoga
tidak jauh lebih penting dari persaudaraanmu dan dia. Bagaimanalah kau dan dia
mau meninggi ego, bahkan para sahabat terbaik pun, Abu Bakar dan Umar ra…pernah
berseteru. Ketersinggungan yang menegang hingga Umar tak membuka pintu untuk
panggilan Abu Bakar. Hingga membuat Abu Bakar tergopoh-gopoh mendatangi
Rosulullah dan dengan cemas mengadu “Wahai Rosulullah…Umar tidak memaafkanku.”
Begitulah, gelisahnya hati yang merasa bersalah.
Maka
apalah kita ini.
Resapilah
jalan juangmu dengannya. Dia saudaramu, selalu akan begitu sedari mula hingga
akhirnya. Semoga itu surga. Jangan menambah bebannya karena lambatnya
pemaafanmu. Jangan. Segerakanlah memaafkannya. Jangan tangguhkan. Karena dia
saudaramu. Saudara juangmu. Saudara yang kalian pernah bercita-cita menjadi
pelayan Allah..
#DasarCurhat! Segalanya jadi ibroh.