Senin, 28 Maret 2016

Bisa jadi, bukan hanya kau yang terluka..

Dalam setiap muamalah kita dengan setiap insan, selalu ada tragedi yang menghubungkan di dalamnya. Tragedi sederhana hingga  tragedi yang syarat penuh makna. Setiap interaksi antara kita dan saudara kita, selalu ada ujian di dalamnya. Maka benarlah, setiap diri adalah ujian bagi diri-diri lainnya.  Dari ujian kesabaran hingga ujian pemakluman. Berada di titik pemakluman hanyalah bentuk dari kumpulan2 kesabaran dan ketegaran. Dan tak mungkin sia-sia andai berdiri di titik pemakluman tersebut. Pemakluman itu bertetangga dengan ke itsaran. Karena itsar mengutamakan saudaranya melebihi dirinya sendiri, sudah tentu ini ujiannya kesabaran. Mengutamakan memberi pemakluman meski diri menahan keterlukaan. Karena jalan tempuh dalam kesabaran itu sendiri adalah janjiNya yang akan terus membersamai; Innallaha ma’ashshobiriin.  Maukah engkau bersabar? Meski kau luka sekalipun.

Pahamilah, setiap kesalahan adalah kesalahan pada masanya. Namun di masa kemudian, ia adalah pelajaran . Marilah meresapi sebuah makna. Dalam tragedi, jangan sangka yang terluka hanya orang yang tersakiti. Tapi yang menyakiti pun, terluka.  Dia terluka oleh kesalahannya. Dia terluka oleh beban rasa bersalah. Dia terluka oleh sesal yang kadang masih saja menyesak. Yang kadang tak cukup lega dengan kemaafaan yang ia terima. Karena bisa jadi dia sendiri tak mudah memaafkan dirinya sendiri.
Barangkali, ia menganggap itu adalah hukuman atas kesalahannya. Sama halnya kisah haru biru dari seorang budak yang awalnya ditakdirkan menentang islam. Ketika membaca shiroh pertaubaatanya, maasyaa Allah hati siapa yang takkan tergugu merasai perasaannya menemui orang yang pernah ia lukai dengan strategi dan makarnya. Ini memang tentang luka yang pernah ia torehkan dalam sejarah peradaban islam dan membekas di hati sang kekasihnya Allah, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Bagaimana gelisahnya ia kala harus menghadap Rosulullah dan menyatakan taubatnya. Dalam hati ia bahkan telah pasrah, Muhammad pasti membunuhku. Namun lihatlah, ia tetap memberanikan diri. Meski praduga menyelubungi hatinya.
Ahya, kita tak mungkin lupa bagaimana Rosulullah pernah menangis atas meninggalnya sang singa Allah; Hamzah bin Abdul Muthalib di tangan budak ini. Kita juga ikut merasakan betapa kehilangannya kita atas Hamzah, salah satu paman yang selalu ada untuk Muhammad di waktu sulit dan melarat sekalipun. Paman yang membuat Muhammad Saw disegani oleh kafir2 Quraisy kala itu. Kita juga jangan lupa, bagaimana jasad syahid Hamzah dibawa ke hadapan Rasululllah tanpa jantung. Dadahnya dibelah dan organel jantungnya dikunyah lahap mulutnya Hindun yang mengiming-imingi kemerdekaan bagi  budak tadi andai ia berhasil membunuh Hamzah. Ya dia berhasil. Ini prestasi bagi seorang budak. Betapa banyak yang tak lihai sepertinya. Betapa ratusan orang yang jadi pesaingnya dalam membunuh Hamzah ra berdecak kagum. Bersorak sorai.  Singa Allah tumbang di tangan budak. Bukan di tangan bangsawan. Ia berhasil. Ia merdeka setelahnya. Hindun bersuka cita. Balas dendamnya untuk Hamzah, paman Rosulullah yang pernah membunuh anak dan suaminya di perang Badar terlampiaskan. Ia puas. Bahagia. Rasulullah terluka.
Tapi lihatlah. Lihat dan renungilah cara bersikap seorang muslim yang terluka. Inilah yang si budak tadi dapatkan dari teladan sepanjang zaman. Tak ada dendam. Terluka iya, namun mampu memaafkan.   Yang dia dapati dari manusia mulia bernama Muhammad; “Pergilah engkau, jangan sampai aku melihatmu lagi.” Rosulullah memaafkannya, membebaskannya, membiarkannya pergi, tanpa luka bahkan tanpa sedikitpun celaan. Juga saat dia berhasil menombak Musailamah Al Kadzab dalam perang, berat nafasnya ia berkata, “Tombak inilah dulu yang membunuh sebaik-baik manusia: Hamzah bin Abdul Mutholib, kini tombak ini menghabisi manusia paling jahat zaman ini: Musailamah Al Kadzab”. Tombak itu menembus jantung manusia yang mengaku nabi di Era kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Derai air matanya dan keharuan menyesaki dadanya, terduduk bersandar dalam lamunan hingga ia tertidur. Ketika bangun, ia berteriak lantang kegirangan, “Allahuakbar, Allahuakbar!” Ia bercerita pada para sahabat yang heran melihatnya, bahwa seseorang menemuinya dalam mimpi, memeluk dan menciumnya, serta ia katakan bahwa ia akan bersamanya di surga.
Siapakah yang menemuinya dalam mimpi itu?


Dialah Hamzah bin Abdul Muthalib! orang yang terkapar syahid dengan ujung tombaknya. Hwuaaaa, menangislah. Menemani si mantan budak ini yang menangis haru. Merasai ke jantungmu, bahwa rasa bersalahnya benar2 rasa bersalahnya mukmin sejati. Dialah Wahsy ra. Yang akan sesurga dengan Hamzah kelak.

Begitulah. Rasul kita bukan sembarang orang. Meneladaninya dalam memaafkan adalah perlu. Karena apalah dan siapalah kita ini yang merasa layak dan berhak menghakimi kebersalahan orang2 atas diri kita. Andai terluka, cukuplah bekasnya disapu dengan memaafkan dan mengikhlaskan. Jika tak cukup dan hati masih saja terasa sempit, maka lapangkan dengan janji-janjiNya yang pasti.  Pulangkanlah sifat diri yang merasa benar kepangkuanNya. Mintalah hati yang tidak sombong. Tirulah ucapan Yusuf Aalaihiisalam’ Sesungguhnya aku tidak menyatakan diiriku terlepas dari kesalahan. Karena nafsu itu selalu mengajak pada keburukan. Kecuali nafsu yang dirahmati Allah. Sekaliber Yusuf yang pernah dilukai oleh saudara kandungnya saja mampu memaafkan. Bagaimana dengan kita? Kita bukan Nabi atau orang yang shalih sekali memang. Tapi semoga kita adalah orang yang bersegera pada saranNya; memaafkan meski terluka.
Bgitulah, andai kau terluka, ingatlah bahwa dia saudaramu, selalu akan begitu sedari mula hingga akhirnya. Jikapun pernah ada perkara, semoga tidak jauh lebih penting dari persaudaraanmu dan dia. Bagaimanalah kau dan dia mau meninggi ego, bahkan para sahabat terbaik pun, Abu Bakar dan Umar ra…pernah berseteru. Ketersinggungan yang menegang hingga Umar tak membuka pintu untuk panggilan Abu Bakar. Hingga membuat Abu Bakar tergopoh-gopoh mendatangi Rosulullah dan dengan cemas mengadu “Wahai Rosulullah…Umar tidak memaafkanku.”

Begitulah, gelisahnya hati yang merasa bersalah.

Maka apalah kita ini.

Resapilah jalan juangmu dengannya. Dia saudaramu, selalu akan begitu sedari mula hingga akhirnya. Semoga itu surga. Jangan menambah bebannya karena lambatnya pemaafanmu. Jangan. Segerakanlah memaafkannya. Jangan tangguhkan. Karena dia saudaramu. Saudara juangmu. Saudara yang kalian pernah bercita-cita menjadi pelayan Allah..
#DasarCurhat! Segalanya jadi ibroh.