"Seseorang yang deskripsi hidupnya seperti Puzzle. SeMerah Hitam dan Biru. Sesegar Semangka. Sebanyak Amoeba. Seeksklusif Embun, Serusuh Hujan; Bisasajakan?!".
Minggu, 07 Juni 2015
Di tahun cahayamu,
Mungkin dulu pernah kau minta hal ini; dibersamai dan duduk bersama orang-orang Shalih.
Mungkin, kau pernah merayu Rabbmu untuk diberikan kelezatan dalam beramal-amal shalih
Atau mungkin lagi kau pernah membisiki hatimu pada sang Ilahi agar dikuatkan dalam barisan ini..
Satu persatu,
Rabbmupun telah penuhi.
Bersyukurlah, agar ditambahkan nikmat itu
Benarlah, Ia tak pernah kecewakanmu, apalagi menyalahi janji.
Tak pernah. Kaupun sadari itu
Tahukah kau, Allah selalu mencintaimu dengan caraNya.
Membatin saja Ia selalu mendengarmu.
Bersyukurlah, yang dengannya Rabbmu menyukaimu.
Bertumbuh kembanglah dengan ridhaNya.
Tak perlu sedih-sedih.
Ini tahun cahaya bagimu.
Semoga keberkahan, keistimewaan,
SayangNya, cintaNya, dan pertolonganNya selalu tercurah buatmu.
Berbahagialah dan bermanfaatlah untuk semesta..
Be fastabiqul khairot, be UNICK:)
Saturday, Juni 06 th 2015.
Tahun ketiga
Tahun pertama.
Melangkahkan kaki dengan berat.
Berat sekali. Memasrahkan diri pada takdir. Merasa tak sepadan.
Bertolak dari segala harapan.
Tak ada pilihan. That's a pity u know. Melepas mimpi itu pedih sekali.
Pupus dan merasa terhempas.
Jauuh. Jauh sekali hingga Ia berbicara lembut merasuk ke jantung.
Plak! Mungkin sakit bila ditampar:
"Tidaklah pantas laki-laki mukmin dan perempuan mukmin apabila Allah dan Rasulullah sudah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain mereka atas urusan mereka". (Al-ahzab:36)
Betapa sebagai makhluk tak punya kuasa. Jika punya, keterbatasan adalah sebuah keniscayaan. Tersadar.
Tahun ke dua.
Berjalan, sesekali berlari. Tersungkur, jatuh.
Bangun, bangkit.
Sakit sedikit. Hingga sedikit-sedikit sakit. Membukit.
Hingga semua memanis.
Tsiqoh, mempercayai yang terbaik.
Masih saja sama.
Berperan sebagai hamba, yakarena memang hamba=D
Hingga ujian digandakanNya lagi:
Kullu nafsin dzaaiqotul maut.
Final. Fixed.
Yang dijaga demi dakwah, yang didambah tersembahkan untuk dakwah kini terserak. Miris.
Jiwa meraung, batin tersayat.
Tahun ketiga.
Harus memulai dari awal.
Menyadari dan menyadarkan.
Mengubah haluan.
Menegarkan diri,
Menyandarkan harapan pada penggenggam hari.
Memupuk tunas-tunas baru dalam iman.
Merayu hati-hati yang tumbuh dalam luka.
Bersama, membersamai.
Ah, jarak pula yang membatasinya.
Memberi izin diri menikmati lelah.
Harus nikmat!
Sampai jiwa-jiwa titipan itu terbekali jejak sang Nabi.
Sulit memang.
Membentang samudra raya,
Doa-doa semakin menggebunya.
Akhir ikhtiar,
Hingga dibatas ini,
Terbayar dengan surya di ufuk Serambi Mekah; Mereka terbingkai dengan Tarbiyah. Subhanallah.
Jiwa-jiwa itu kembali beriman dengan segenggam tabah.
Selesai?
Belum.
Ada tuntutan baru dengan memburu strategi untuk dicintai; jadi GURU.
Bukan ilmuan atau saintis. Haha
Syaratnya harus segera dilunasi:
--:: Skripsi!
Langganan:
Komentar (Atom)